NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKHIR CERITA?

Matahari tidak terlihat, hanya cahayanya yang bersinar menembus awan – awan. Cuaca yang tidak panas, tidak juga mendung, menciptakan suasana yang begitu nyaman. Burung – burung berterbangan dilangit, mereka terlihat sedang asik bermain – main, siulannya terasa seperti irama yang menenangkan jiwa. Perpaduan keduanya menghasilkan rasa kedamaian.

Suara orang tidak terlalu terdengar dari tempatku berdiri. Padahal sedang ada begitu banyak orang yang hadir dalam acara perpisahan. Mungkin masing – masing dari mereka sibuk menyimpan kenangan untuk masa depan. Membuat mereka tidak sadar kalau dari kejauhan ada tempat yang begitu sunyi. Tempat dimana aku biasa melewati hari – hari untuk makan siang sebelum bertemu Awan, tempat dimana aku menghabiskan waktu jika ada jam kosong, tempat dimana aku mati terakhir kali. Gudang belakang sekolah menjadi saksi perpisahanku dengan dunia.

Meski ketua kelas menyuruh semua orang dikelas untuk berkumpul foto bersama. Tidak semuanya langsung menuruti begitu saja. Pasti ada beberapa orang yang tidak langsung menghiraukannya, termasuk aku. Masih ada sesuatu yang perlu kulakukan. Begitu juga dengan orang yang ada dihadapanku sekarang. Mungkin ada sesuatu yang mau dia kerjakan. Pertemuan kami terjadi secara tidak sengaja. Aku tidak memintanya untuk bertemu denganku, begitu juga dia yang tidak memintaku untuk bertemu dengannya. Tampaknya pertemuan kami adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari. “Yasmine.” Dia tidak mengatakan apapun setelah kusebut namanya. “Ngapain kamu disini?”

Sebagai informasi tambahan, Yasmine sudah putus dengan Dimas sejak apa yang terjadi denganku, kasus penculikan. Aku tidak tau siapa yang mengakhiri hubungan mereka. Hanya itu informasi yang kudapatkan. Mereka tidak lagi bersama. Artinya, pengaruh yang dimiliki oleh Yasmine telah hilang. Tidak ada lagi kekuatan yang dia miliki untuk kembali memilki sifat arogan disekolah. Aku tidak tau bagaimana dia memandangku sekarang. Apakah sebagai orang yang kebetulan sekelas dan tidak berubah, ataukah sebagai orang yang menghancurkan kehidupannya? Kuharap dia tidak menyimpan dendam padaku.

Yasmine mengabaikanku. Dia lewat begitu saja untuk masuk ke pintu gudang yang ada dibelakangku. Jujur, jika harus memilih salah satu diantara orang untuk disalahkan atas apa yang terjadi padaku, pilihanku jatuh pada Yasmine. Meski Dimas berperan besar dalam kasusku, asal mula dia bertemu denganku, semua runtututan kejadian bermula dari Yasmine yang mengancam Nadhifa. Yasmine penyebab aku dikeroyok, Yasmine juga penyebab aku diculik, Yasmine yang membuatku harus dirumah sakit selama seminggu, semua terjadi karenanya.

Aku tidak bisa memaafkan Yasmine begitu saja. Melihat wajahnya sudah membuatku kesal. Sekarang dia mengabaikanku? Apa tidak ada hati nurani dalam dirinya? Dalam perasaan penuh amarah, kuikuti dia masuk ke dalam gudang. Kupegang ganggang pintu dan menariknya. Ruangan mulai terlihat secara perlahan. Saat pintu terbuka sepenuhnya, api didalam jiwaku padam. Rasanya seperti lilin menyala yang ditiup. Aku melihat Yasmine terduduk dipojokan. Dia sedang menangis.

“Apa maumu?” Suara pelan keluar dari mulut Yasmine saat dia menyadari kehadiranku. Dia menatapku tajam dengan air mata yang masih tersisa. “Silahkan bilang ke teman – teman kalau aku nangis! Silahkan kata – katain aku kayak yang lain!” Padahal aku belum bicara sama sekali. Sikapnya memang tidak pernah berubah. Dia bahkan membentakku tanpa sebab. “Kalau udah puas, tolong tinggalin aku sendiri ….” Dia menyembunyikan wajahnya.

Aku bisa saja meninggalkan Yasmine. Tidak ada hal yang ingin aku bicarakan. Dia juga tidak terlalu memperdulikanku. Keluar adalah pilihan yang terbaik. Tapi, tidak selamanya yang kita anggap terbaik adalah yang terbaik. Tergantung orang atau sudut pandang, pasti akan memiliki pemikiran tersendiri soal yang terbaik. Lagipula, apa sebenarnya pilihan yang terbaik? Apakah sesuatu yang melibatkan kualitas, tipe, efektif? Apakah sesuatu yang menguntungkan? Ataukah ada hal lain yang mewakilkan terbaik itu? Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh pemikiran manusia.

“Aku suka disini. Padahal gudang, tapi gak banyak debu. Tempatnya agak gelap sih, tapi aku masih bisa liat waktu makan siang. Aku sering habisin waktu disini sendiri. Gak banyak orang yang lewat sini, aku jadi bisa pakai matras buat baring. Kadang aku ketiduran saking tenangnya. Pernah aku ketiduran sampai pintu gerbang hampir ketutup. Untung aja masih ada satpam yang jaga.”

“Kamu bicara apa?”

Aku tidak bermaksud mengganggu Yasmine. Aku juga tidak ada niatan untuk menghiburnya. Padahal aku mau menghabiskan waktu sendiri jika memungkinkan, tapi Yasmine keburu datang. Aku pikir ada teman bicara lebih baik daripada kami saling diam. “Cuman ngasih tau alasanku suka disini. Kalau kamu?” Kutunggu Yasmine menjawab pertanyaanku. Ternyata dia kembali mengabaikanku. Aku pikir ada yang ingin dikatakan karena dia sempat menoleh padaku untuk sesaat. “Gak ada jawaban ya. Kalau gitu aku mau baring di matras ujung.”

“Terserah!” Dia tidak benar – benar mengabaikanku. Masih ada kata yang bisa dia ucapkan, meskipun bukan respon yang baik.

Berbaring di atas matras, menumpuknya dengan dua tumpukan agar lebih empuk. Menambahkan sarung raket yang tidak terpakai sebagai alas untuk kepala. Rasanya tidak begitu enak ketika disandarkan, biasanya aku menggunakan tas sendiri yang lebih empuk sebagai bantal, sayang aku tidak bawa hari ini. Meski begitu, rasa nostalgiaku sudah terobati. Aku sudah tidak pernah menghabiskan waktu disini sejak mempersiapkan ujian kelulusan. Aku tidak punya waktu bersantai saat itu. Berbeda dengan sekarang, aku bisa dengan sepuasnya menghabiskan waktu yang tersisa disekolah hanya dengan berbaring.

Gudang disekolahku menarik. Meski orang jarang datang, tempatnya sangat bersih untuk disebut sebagai gudang. Petugas sekolah pasti sangat rajin membersihkannya. Terkadang aku ikut membantu secara diam – diam ketika ada sampah digudang. Sayang kalau kerapiannya rusak hanya karena satu sampah plastik. Hal menarik lainnya adalah tempatku berbaring sekarang. Jika ada orang datang, hanya Yasmine yang akan terlihat dari pintu masuk. Aku sempat bersembunyi dan kabur secara diam – diam karena banyak tumpukan rak yang menghalangiku. Sebuah tempat persembunyian yang sempurna.

“Maaf.” Kata yang tidak pernah terbayang olehku akan keluar dari mulut Yasmine. Aku bangkit dari tidur santai hanya untuk memastikan kalau aku tidak salah dengar. “Pasti kamu benci banget sama aku, kan?” Ternyata dia sadar. Apa amarahku terlihat jelas ketika bertemu dengannya diluar tadi? Sepertinya begitu. Ekspresi kesalku tidak tertahan ketika melihat wajahnya. “Gakpapa kamu benci aku. Gakpapa kamu gak mau maafin aku. Kamu boleh marah ke aku sepuasnya. Asalkan, jangan ke orang lain.”

“Apa maksudnya?”

“Jangan salahin Nadhifa. Dia gak salah apa – apa. Dia orang baik yang kebetulan berteman denganku. Seharusnya aku gak bicara begitu dihadapannya.” Tanpa diberitau pun aku sudah melakukannya. Aku memang tau kalau Nadhifa bukan orang jahat. Tapi, memikirkan Yasmine yang masih peduli pada temannya dalam keadaan terpuruk, menunjukkan kemurahan hatinya. Dia juga tidak sejahat yang orang – orang kira. “Aku mau minta maaf padanya.”

Aku tidak tau apa yang Yasmine dan Nadhifa bicarakan berdua. Aku juga tidak tau bagaimana hubungan mereka sekarang. Aku hanya tau kalau mereka sebenarnya masih peduli satu sama lain. Bukan aku yang harus menyelesaikan masalah mereka. Mereka sendirilah yang harus menyelesaikannya. “Kalau gitu bilang aja langsung. Sekalian aku mau minta tolong sesuatu.” Aku pikir sudah waktunya. “Anggap aja balasan buat permintaan maafmu.” Yasmine melihatku kebingungan. Perlahan – lahan dia mulai mengerti apa yang kumaksud. Terlihat sedikit harapan dibalik kedua bola matanya.

“Aku harus apa?”

“Tolong jaga baik – baik temanmu.”

Bicara dengan Yasmine di gudang. Kejadian yang sebelumnya sudah pernah terjadi. Meski pembahasannya sedikit berbeda, peristiwanya tetap sama. Aku dan dia menghabiskan sedikit waktu bersama berdua. Bicara tanpa peduli apa yang terjadi dengan dunia luar. Jam menunjukkan pukul 10.00. Kami sudah ditunggu oleh teman sekelas untuk foto bersama. Seharusnya kami berlari dengan terburu – buru agar tidak perlu dicari. Seharusnya kami memberi kabar jika terlambat. Seharusnya kami hadir dalam foto bersama. Tapi, kenyataan berkehendak lain. Apa yang terjadi berikutnya sama persis dengan yang ada diingatanku. Seseorang masuk ke dalam gudang. Tanpa sepatah katapun, dia langsung berlari menuju Yasmine yang sedang rapuh. Sebuah benda tajam berada ditangan kanannya. Disaat itulah semua berakhir, aku mati karena tertusuk untuk melindungi Yasmine.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!