NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Batas Terakhir Sang Tirani

Suasana di dalam kabin mobil Rolls-Royce yang melaju membelah jalanan kota malam itu terasa begitu mencekam. Hujan di luar telah mereda, menyisakan rintik tipis yang membasahi kaca jendela, merefleksikan lampu-lampu jalanan metropolitan yang tampak buram.

Alana duduk menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk, namun tubuhnya masih gemetar hebat. Ia sengaja memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong ke luar untuk menyembunyikan riak air mata yang terus menggenang di sudut matanya. Bibirnya terasa sedikit perih dan membengkak—jejak dari ciuman brutal Devano di dalam VIP Lounge beberapa menit yang lalu masih terasa begitu nyata, membakar seluruh permukaan kulitnya.

Di sampingnya, Devano Adhitama kembali menjelma menjadi sosok patung es yang tak tersentuh. Pria itu duduk di kursi rodanya yang terkunci di lantai mobil, dengan pandangan lurus ke depan. Rahangnya yang tegas mengeras sempurna, memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat hingga supir di depan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Keheningan di antara mereka bukan keheningan yang menenangkan, melainkan keheningan sebelum badai besar menyapu bersih apa pun yang ada di sekitarnya. Alana tahu, kepemilikan Devano atas dirinya telah bergeser dari sekadar urusan bisnis menjadi sebuah obsesi gelap yang mengikat seluruh kebebasannya.

Begitu mobil berhenti di lobi utama mansion keluarga Adhitama, pintu langsung dibukakan oleh barisan pelayan yang sudah berdiri menyambut. Devano menggerakkan kursi rodanya keluar terlebih dahulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Alana.

Alana melangkah turun dengan lutut yang masih terasa lemas. Gaun hijau zamrud yang dikenakannya terasa sangat berat. Namun, kejutan baru telah menunggu mereka di dalam aula utama mansion.

Nyonya Besar Sandra sudah berdiri di ujung tangga dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajah wanita paruh baya itu tampak merah padam penuh amarah yang meluap-luap. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang menampilkan artikel berita kilat dari media daring mengenai insiden di pameran bisnis tadi.

"Devano!" pekik Sandra, suaranya yang melengking tajam seketika memecah kesunyian malam di dalam mansion. Ia melangkah menuruni anak tangga dengan cepat, menghentakkan sepatu hak tingginya ke atas lantai marmer.

"Ibu sudah melihat beritanya! Apa-apaan kelakuanmu di depan publik tadi?! Kau membelanya lagi? Dan apa ini? Berani-beraninya jalang kecil ini membuat kegaduhan dengan Julian Mahendra?!" Sandra menunjuk wajah Alana dengan telunjuknya yang dipenuhi cincin berlian, matanya berkilat penuh kejijikan yang mendalam.

Alana menghentikan langkahnya, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tahu, di mata Nyonya Sandra, apa pun yang terjadi selalu menjadi kesalahannya.

"Dia mempermalukan nama baik keluarga Adhitama, Devano! Baru beberapa hari menjadi menantu pengganti, dia sudah berani menggoda rival abadimu di depan ratusan pasang mata! Wanita murahan ini benar-benar membawa sial bagi rumah ini!" bentak Sandra tanpa ampun, menyulut emosi pembaca yang menyaksikan ketidakadilan ini.

Alana menggigit bibir bawahnya erat-hidup. Rasa sakit hati dan amarah bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tidak menggoda Julian. Julian yang dengan sengaja memanfaatkan kehadirannya untuk memprovokasi Devano. Namun di rumah ini, suaranya tidak akan pernah didengar.

"Sudah selesai bicaranya, Ibu?"

Suara bariton Devano yang sangat rendah dan sedingin es memotong kalimat Sandra dengan mutlak. Pria itu memutar kursi rodanya perlahan, menghalangi pandangan Sandra dari sosok Alana yang berdiri di belakangnya. Aura tirani dari tubuh kekar Devano seketika mengintimidasi seluruh pelayan yang ada di aula tersebut.

"Devano, kau masih ingin membela—"

"Aku tidak membela siapa pun," potong Devano kejam, matanya menatap ibunya sendiri dengan kilat yang tak terbantahkan. "Tapi aku sudah pernah mengatakannya sekali, Ibu. Alana adalah urusanku. Julian Mahendra mencoba menyentuh apa yang menjadi milikku, dan aku akan menghancurkannya dengan caraku sendiri. Jangan mencampuri urusan kamarku jika Ibu tidak ingin aku memindahkan Ibu ke mansion pinggiran kota besok pagi."

Sandra seketika bungkam, wajahnya pucat karena terkejut sekaligus tak percaya bahwa putra kandungnya sendiri berani mengancamnya demi wanita seperti Alana. Dengan mendengus kasar, Sandra berbalik dan melangkah pergi naik ke lantai atas dengan amarah yang tertahan.

"Masuk ke kamar," perintah Devano tanpa menoleh ke arah Alana.

Alana tidak menjawab. Ia segera berjalan cepat menuju kamar utama di lantai bawah, membuka pintu, dan langsung menutupnya rapat-rapat. Di dalam kamar yang luas dan bernuansa gelap itu, Alana akhirnya luruh. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulus. Ia merasa begitu lelah, begitu tak berdaya menghadapi lingkaran setan yang mengurung hidupnya.

Klek.

Gagang pintu bergerak. Alana terperanjat dan buru-buru beringsut mundur ke tengah ruangan.

Devano masuk. Pria itu menutup pintu ganda dengan rapat dan menguncinya dari dalam. Keheningan kamar seketika berubah menjadi medan magnet yang sangat berbahaya.

Alana menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Devano perlahan melepaskan jas hitamnya, melemparkannya ke atas sofa dengan asal, lalu... pria itu bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya.

Tubuh tingginya yang tegap, dengan bahu lebar yang dibalut kemeja hitam melekat erat, melangkah maju mendekati Alana. Setiap derap langkah kaki Devano di atas lantai kayu kamar terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa kewarasan Alana.

"T-Tuan Devano... tolong, jangan mendekat..." cicit Alana, langkah kakinya mundur teratur hingga bagian belakang lututnya menabrak tepi ranjang berukuran king size. Ia terjebak.

Devano tidak mendengarkan. Pria itu terus maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Tubuh kekarnya yang besar langsung mengunci pergerakan Alana, menundukkan kepalanya hingga wajah tampannya berada tepat di hadapan wajah Alana yang basah oleh air mata.

Brak!

Devano mendorong bahu Alana dengan lembut namun tegas, membuat tubuh ringkih wanita itu jatuh telentang di atas kasur sutra hitam yang empuk. Sebelum Alana sempat berbalik untuk melarikan diri, Devano sudah merangkak naik, memosisikan tubuh kekarnya di atas tubuh Alana, mengunci pergerakan pinggang wanita itu di antara kedua lututnya yang panjang dan kokoh.

Kedua tangan Devano bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala Alana, memenjarakan wanita itu dalam dominasi mutlak yang sangat pekat. Aroma parfum maskulin yang sensual bercampur wangi tembakau mahal dari napas Devano langsung mengepung seluruh kesadaran Alana, memicu ketegangan yang membakar udara di sekitar mereka.

"Kau menangis karena mengkhawatirkan bajingan Mahendra itu, Alana?!" desis Devano dengan rahang yang mengeras sempurna menahan amarah cemburu yang masih bergejolak dahsyat di dadanya. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat ekstrem, menatap lekat-lekat pada bibir mungil Alana yang bergetar hebat.

"Tidak, Tuan! Saya bersumpah demi nyawa saya!" Air mata Alana semakin deras mengalir, kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Devano, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan konstan. "Saya menangis karena saya takut... saya takut pada Anda! Saya takut pada cara Anda menatap saya seolah saya adalah barang mati yang bisa Anda hancurkan kapan saja!"

Mendengar pengakuan jujur dari bibir Alana, kilat emosi yang tak terbaca melintas di mata pekat Devano. Seringai dinginnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kepemilikan yang jauh lebih dalam dan menggelapkan akal sehat.

Jemari tangan Devano yang besar bergerak naik, meraba perlahan pipi Alana yang basah, menghapus air mata wanita itu dengan ibu jarinya menggunakan gerakan yang kasar namun sarat akan kehangatan yang asing. Tangannya kemudian bergerak turun, mencengkeram tengkuk Alana dengan kuat, memaksa wajah cantik itu mendongak mutlak ke arahnya.

"Kau memang barang milikku, Alana," bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah dan seksi tepat di depan bibir Alana. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan barang milikku dilirik, disentuh, atau diimpikan oleh pria lain di dunia ini. Kau telah masuk ke dalam duniaku, dan batas terakhirmu adalah ranjang ini."

Sebelum Alana sempat mengeluarkan suara untuk memprotes, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut.

Alana melenguh pelan di dalam tenggorokannya, meremas kemeja hitam Devano seiring dengan rasa takut dan gairah asing yang mulai membakar habis seluruh sisa kewarasannya di bawah dominasi sang tirani yang tak menyisakan jarak sedikit pun di antara tubuh mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!