NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DELAPAN BELAS

Lukas tidak menjawab, senyumnya pecah pelan.

"Kelihatan banget, Bos. Tadi waktu pamitan juga kayak pasangan drama di film-film," lanjut Sean, menggoda.

Lukas tertawa kecil. "Bercanda aja kamu ini."

"Tapi serius, Bos," Sean melanjutkan. "Bos itu beruntung banget punya istri kayak Bu Adel. Bu Adel itu... ya ampun, cantik, lembut, perhatian. Jarang banget perempuan kayak dia."

Lukas mengangguk lambat. "Aku tahu."

"Kalau menurut aku-" Sean menunjuk kaca depan sambil tetap fokus menyetir. "-Bu Adel itu tipe perempuan yang kalau orang lain lihat aja langsung iri. Dia kayak... paket lengkap."

Pipi Lukas menghangat. "Nggak usah lebay."

Sean tertawa. "Lah kenyataannya begitu!"

Lukas tidak membantah lagi. Karena apa yang dikatakan Sean memang benar.

Adelia bukan hanya cantik-ia tulus, lembut, penuh perhatian, dan selalu berusaha membuat Lukas bahagia. Dan Lukas mengenal istrinya itu lebih baik dari siapa pun.

Ia hanya... tidak tahu bahwa meninggalkan Adelia pagi itu terasa lebih berat daripada biasanya. Ada sesuatu yang menggantung di hatinya-perasaan tidak nyaman, meski ia tidak mengerti sumbernya.

"Mungkin aku cuma kangen," gumam Lukas pelan.

Sean tidak mendengar, atau pura-pura tidak mendengar.

Begitu sampai di bandara internasional, Sean memarkir mobil, dan keduanya segera turun membawa koper masing-masing. Suasana bandara ramai-orang-orang berjalan cepat, petugas memanggil nomor penerbangan, aroma kopi dari kafe sekitar menguar.

Baru beberapa langkah masuk ke lobby keberangkatan...

Seseorang melambai ke arah mereka.

Ririn Tamara.

Sekretaris pribadi Lukas. Pakaian rapi, blazer cokelat muda, rambut disanggul setengah, dan riasan lembut yang membuat wajahnya tampak lebih segar dari biasanya.

"Pagi, Pak Lukas! Pak Sean!" Ririn menghampiri mereka sambil tersenyum lebar.

Sean langsung mengangkat alis. "Wih, rajin banget kamu. Datang duluan."

Ririn tertawa kecil. "Namanya juga profesional, Pak."

Namun, tatapannya kembali pada Lukas-lebih lama, lebih lembut, lebih penuh.

"Selamat pagi, Pak!" katanya sambil sedikit menunduk.

"Pagi, Rin!" jawab Lukas sederhana.

Mereka bertiga berjalan menuju pintu pemeriksaan, lalu ke ruang tunggu setelah semua proses selesai.

Sepanjang perjalanan, Ririn berjalan sedikit lebih dekat ke Lukas dibandingkan ke Sean. Sesekali ia mengajak Lukas bicara mengenai jadwal kerja nanti, bahkan menawarkan bantuan lebih dari yang biasanya ia lakukan.

Sean, yang fokus pada telepon dan urusan kerja lain, tidak menyadari perubahan kecil itu.

Ketika boarding diumumkan, mereka antre dan masuk ke dalam pesawat. Lukas dan Ririn mendapatkan kursi berdampingan, sedangkan Sean mendapat kursi berbeda beberapa baris di depan.

Ririn, tentu saja, tampak sangat senang.

Begitu duduk, ia membuka sabuk pengaman dan melonggarkan blazer, tampak sangat siap untuk menikmati kesempatan langka duduk dekat bos yang diam-diam ia kagumi.

"Pak Lukas," katanya sambil melirik. "Bapak capek? Wajah Bapak kelihatan lelah banget."

Lukas mengangguk kecil. "Sedikit, tadi malam saya kurang tidur."

Ririn menahan senyum. "Saya tebak pasti karena Bu

Adelia, ya?"

Lukas terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Begitulah."

Jawaban itu membuat dada Ririn sedikit sesak-tapi ia tersenyum tetap manis, menutupi semuanya.

Pesawat mulai bergerak menuju landasan, suara mesin menggetarkan kabin.

Ririn merapatkan sabuk pengaman, lalu mencuri pandang ke arah Lukas. Tatapan itu bukan tatapan profesional.

"Pak Lukas..." Ia bicara perlahan, suaranya dibuat seramah mungkin. "Kalau nanti Bapak butuh bantuan apa pun selama perjalanan, bilang ke saya saja ya. Saya siap bantu."

Lukas menoleh sekilas. "Terima kasih, Rin."

Ririn menatap wajah Lukas lama.

Ia tahu ini kesempatan paling dekat yang pernah ia dapatkan. Tidak ada Adelia di sana, tidak ada staf lain, tidak ada juga gangguan apapun.

Ia memanfaatkan suasana, menyandarkan kepala sedikit lebih miring agar dapat melihat Lukas lebih jelas.

"Saya serius, Pak. Saya senang bisa ikut perjalanan ini.

Bisa kerja langsung bareng Bapak... rasanya beda," ucap Ririn.

Lukas tersenyum kecil karena tidak paham maksud tersiratnya. "Fokus kerja ya, Rin! Itu sudah cukup."

Ririn mengangguk, tapi tatapannya menunjukkan hal yang tidak ia ucapkan bahwa rasa sukanya pada Lukas belum hilang dan bahkan tampak semakin menguat.

Sementara itu, Lukas memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya sebelum pesawat lepas landas.

Yang ada di kepalanya tetap sama.

Adelia.

Ia tidak tahu bahwa di rumah, orang yang ia percayakan untuk menjaga istrinya-Bastian-sedang menyusun jarak semakin dekat antara mereka.

Dan Ririn, yang kini duduk di sampingnya, adalah awal dari masalah lain yang tidak ia duga.

Pesawat pun akhirnya mengangkat tubuhnya dari tanah, meninggalkan kota-dan Adelia-di belakang.

Udara siang itu terasa hangat dan sedikit berangin.

Daun-daun kecil di taman samping rumah bergerak pelan, menciptakan suara gesekan lembut yang menenangkan.

Adelia melangkah perlahan di antara jalan setapak taman itu. Taman ini adalah salah satu tempat yang paling ia sukai-tempat yang ia dan Lukas bangun bersama dari nol.

Mereka menanam beberapa jenis bunga seperti

lavender, gardenia, mawar putih, dan melati.

Setiap sudut punya kenangan.

Di sini, ia merasa sedikit lebih aman. Walau hatinya tetap gelisah.

Ia menunduk, menghirup bau harum gardenia yang baru mekar. Aroma itu mengisi dadanya dan membuatnya sedikit bisa bernapas lega.

Mas Lukas suka bunga ini... Batinnya mengingat sesuatu yang membuat perasaan hangat muncul walau hanya sesaat.

Saat ia mengulurkan tangan ke kelopak bunga, sesuatu menyentuh kakinya.

Dug... dug...

Adelia terkejut dan mundur setengah langkah.

Seekor kelinci kecil berwarna cokelat muncul dari bawah pot besar di dekat kaki Adelia. Kelinci itu miliknya -hadiah ulang tahun dari Lukas beberapa bulan lalu.

Biasanya kelinci itu pemalu, tapi kali ini menempel manja di telapak kaki Adelia seperti sedang membawa pesan penting.

"Hh-hey, kamu dari mana?" Adelia tertawa kecil, mengelus kepala kelinci itu.

Namun, senyumnya langsung memudar ketika ia melihat sesuatu yang menggantung di leher kelinci itu.

Semacam... gulungan kertas.

Ditali dengan pita tipis.

Alis Adelia berkerut. Perlahan ia membuka gulungan itu, jari-jarinya gemetar.

Ketika kertas dibuka, tulisan tangan yang ia kenal langsung menyapa matanya.

Tulisan Bastian.

Tulisan yang rapi, sedikit miring, dengan tinta hitam pekat.

Ada beberapa kalimat singkat.

> "Adelia... kamu adalah cahaya di rumah ini. Papa sayang sekali padamu."

- Bastian

Adelia merasakan darahnya turun drastis.

Jantungnya berdegup keras di dada, memukul-mukul tulangnya. Tangan yang memegang kertas itu mulai gemetar.

"Apa... apa ini...?"

Ia menoleh Dan di belakangnya -Bastian berdiri.

Di bawah pohon rindang dekat pagar taman. Tidak bergerak, hanya menatap. Seolah ia sudah lama berada di sana.

Adelia langsung menjatuhkan gulungan kertas itu dari tangannya karena panik.

"Pa- Papa..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!