NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: Aroma yang Menempel dan Malam yang Berbeda

Matahari sore bersinar lembut, menyelinap masuk melalui celah-celah jendela pondok, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menari di lantai kayu.

Alexandria sedang duduk di dekat perapian, tangannya sibuk menjahit sepotong kain wol tebal yang akan ia jadikan selimut baru. Udara di luar semakin dingin seiring berjalannya musim gugur, dan ia ingin memastikan dirinya—dan juga temannya yang berbulu—tetap hangat di malam hari.

Di sampingnya, macan kumbang itu berbaring dengan tenang, kepalanya bertumpu nyaman di atas paha Alexandria. Matanya terpejam separuh, tampak sangat rileks, sementara tangan Alexandria yang bebas sesekali bergerak turun untuk mengusap kepala atau lehernya dengan lembut. Suasana di dalam ruangan itu begitu damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana, hanya milik mereka berdua.

"Kamu tahu, Kumbang," bisik Alexandria pelan, matanya tetap fokus pada jahitannya, tapi suaranya penuh kelembutan.

"Aku sering berpikir... bagaimana kalau aku tidak menemukanmu di hutan itu waktu itu? Apa yang akan terjadi padamu? Dan apa yang akan terjadi padaku?"

Macan itu menggerakkan telinganya sedikit, seolah mendengarkan dengan saksama. Ia tidak membuka matanya, tapi ia menggeser kepalanya sedikit, menyandarkannya lebih nyaman di paha Alexandria, seolah ingin mengatakan bahwa ia senang takdir mempertemukan mereka.

Alexandria tersenyum kecil, merasakan gerakan itu.

"Aku rasa... hidupku akan jauh lebih sepi tanpa kamu. Dulu, hutan ini terasa luas dan kadang menakutkan. Tapi sekarang, selama kamu ada di sampingku, aku merasa bisa menghadapi apa saja. Bahkan bayangan-bayangan aneh yang aku rasakan kadang-kadang pun tidak lagi terasa menakutkan."

Tangan Alexandria berhenti menjahit sejenak, ia mengusap pipi macan itu dengan lembut.

"Kamu adalah anugerah terbesar yang pernah aku terima sejak orangtuaku pergi. Kamu tahu itu, kan?"

Macan itu akhirnya membuka matanya. Mata keemasan itu menatap lurus ke mata Alexandria, dan dalam tatapan itu, ada begitu banyak emosi yang terpancar—rasa terima kasih, kasih sayang, perlindungan, dan sesuatu yang lain yang lebih dalam, sesuatu yang membuat jantung Alexandria berdegup lebih kencang tanpa alasan yang jelas.

Perlahan, macan itu mengangkat kepalanya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alexandria. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya menatapnya dari jarak yang sangat dekat, seolah ingin mengingat setiap detail wajah wanita di hadapannya ini. Aroma tubuhnya yang khas—bau musky yang hangat, bercampur dengan aroma tanah basah dan hutan—semakin terasa kuat di hidung Alexandria. Aroma itu bukanlah bau yang tidak sedap, justru sebaliknya, bagi Alexandria, aroma itu terasa sangat menenangkan, sangat akrab, dan anehnya... sangat menarik.

Tanpa sadar, Alexandria menarik napas panjang, membiarkan aroma itu memenuhi paru-parunya.

"Kamu punya bau yang unik, Kumbang," gumamnya pelan, hampir seperti bisikan.

"Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi bau ini... membuatku merasa aman. Membuatku merasa di rumah."

Mendengar kata-kata itu, ekor macan itu bergerak-gerak pelan di lantai, sebuah tanda kepuasan yang kini sudah Alexandria pahami. Ia pun kembali meletakkan kepalanya di paha Alexandria, memejamkan matanya lagi, tampak sangat tenang dan bahagia.

Namun, di dalam kesadarannya, Leonard merasa sesuatu yang berbeda. Setiap kali Alexandria menyentuhnya, setiap kali ia berbicara dengannya dengan nada suara yang begitu lembut, setiap kali ia menatapnya dengan mata penuh kasih sayang—sesuatu di dalam diri Leonard bergetar. Insting hewan dan kesadaran manusianya bersatu, menciptakan perasaan memiliki yang begitu kuat, perasaan bahwa wanita ini adalah miliknya, dan ia adalah milik wanita ini.

Tindakannya menandai Alexandria dengan baunya bukan hanya insting. Itu adalah cara jiwanya berteriak, memberitahu dunia bahwa ia melindungi apa yang menjadi miliknya. Dan setiap kali ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang menempel kuat pada pakaian atau kulit Alexandria, ia merasa bangga dan puas.

Malam pun turun lagi, menyelimuti dunia dalam kegelapan. Alexandria sudah selesai dengan jahitannya. Ia menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga daging segar untuk macan kumbang itu. Setelah kenyang, mereka pun bersiap untuk tidur.

Alexandria masuk ke kamarnya, sementara macan kumbang itu, seperti biasa, berbaring di ruang tengah, tidak jauh dari pintu kamar Alexandria. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Alexandria tidak bisa langsung tidur. Ia membolak-balik di atas kasurnya, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Udara terasa lebih berat dari biasanya, dan ada perasaan aneh yang menggelitik di hatinya.

Ia akhirnya bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan menuju pintu kamar dan membukanya sedikit. Cahaya bulan masuk melalui jendela ruang tengah, menerangi sosok besar macan kumbang yang sedang berbaring. Namun, macan itu tidak tidur. Ia sedang duduk, menatap lurus ke arah pintu kamar Alexandria, seolah ia sudah tahu bahwa Alexandria akan keluar.

Alexandria tersenyum tipis, lalu berjalan keluar mendekatinya.

"Kamu juga belum tidur, ya?" bisiknya. Ia duduk di lantai di samping macan itu, bersandar pada tubuh besar yang hangat itu.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi malam ini aku merasa tidak bisa tidur. Perasaanku agak aneh."

Macan itu menggeser tubuhnya, membiarkan Alexandria bersandar lebih nyaman, lalu ia meletakkan kepalanya di bahu Alexandria. Ia mengeluarkan suara dengungan rendah yang menenangkan, seolah sedang menyanyikan lagu pengantar tidur khusus untuknya.

Alexandria tertawa pelan, tangannya mengelus leher macan itu.

"Kamu selalu tahu cara membuatku tenang, ya. Terima kasih, Kumbang."

Mereka duduk seperti itu untuk waktu yang lama, menikmati kebersamaan di bawah sinar bulan. Alexandria merasa perasaan gelisahnya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa damai yang luar biasa. Namun, di saat yang sama, ada perasaan lain yang mulai muncul—perasaan rindu yang aneh, rindu pada sesuatu yang ia tidak tahu apa itu.

Rindu pada sebuah sentuhan yang berbeda, rindu pada sebuah suara yang mungkin pernah ia dengar dalam mimpi, rindu pada seseorang yang mungkin belum pernah ia temui.

Ia menatap wajah macan kumbang itu di bawah cahaya remang.

"Terkadang... aku membayangkan kamu adalah manusia," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

"Aku tahu itu terdengar gila, tapi kadang, saat aku menatap matamu, aku merasa seolah-olah ada seorang pria di balik wujud ini. Seorang pria yang... yang aku kenal."

Macan itu menegang sedikit di sampingnya. Matanya yang keemasan menatap Alexandria lekat-lekat, seolah terkejut atau terharu dengan kata-kata itu.

Alexandria menyadari perubahan pada tubuh macan itu, dan ia segera tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Ah, maaf, aku bicara omong kosong lagi. Kamu kan Kumbang-ku, hewan pelindungku yang hebat. Bukan manusia. Tapi... ah, sudahlah. Kadang imajinasiku terlalu liar."

Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran aneh itu. Tapi macan kumbang itu tidak membiarkannya begitu saja. Ia mengangkat kepalanya dari bahu Alexandria, lalu dengan lembut, ia menjilat pipi wanita itu—sebuah ciuman lembut dari seekor macan, tapi bagi Alexandria, rasanya begitu penuh makna, begitu penuh kasih sayang.

Alexandria menatapnya lagi, dan kali ini, ia tidak bisa menahan perasaan yang ada di hatinya. Ia memeluk leher macan itu dengan erat, membenamkan wajahnya di bulu yang halus dan hangat itu.

"Aku sayang kamu, Kumbang. Sangat sayang," bisiknya dengan suara bergetar.

Malam itu, akhirnya Alexandria bisa tidur dengan nyenyak, dipeluk oleh rasa hangat dan kasih sayang dari makhluk yang telah menjadi segalanya baginya. Namun, di luar sana, di kedalaman hutan yang gelap, angin malam berhembus membawa pesan yang tidak terdengar oleh telinga manusia biasa. Dan di dalam pondok itu, di samping wanita yang sedang tidur pulas, Leonard terjaga, matanya terbuka lebar menatap kegelapan.

Kata-kata Alexandria tadi malam terus berputar di kepalanya.

"Aku membayangkan kamu adalah manusia."

Jika saja ia tahu betapa benar kata-kata itu. Jika saja ia tahu bahwa di balik wujud macan ini, ada seorang pria yang juga mencintainya dengan segenap jiwanya, seorang pria yang juga merindukan sentuhan yang lebih dari sekadar belaian pada bulu, seorang pria yang ingin sekali berbicara dengannya, menceritakan segalanya, dan memeluknya sebagai seorang pria memeluk wanitanya.

Tapi kutukan itu masih ada. Masih ada batas yang memisahkan mereka. Namun, Leonard bisa merasakan sesuatu yang berubah. Ikatan di antara mereka semakin kuat, semakin tak terputuskan. Dan ia bisa merasakan bahwa waktu tidak akan lama lagi. Waktu di mana wujudnya yang sebenarnya akan terungkap, dan waktu di mana mereka harus menghadapi kebenaran—serta segala konsekuensi yang menyertainya.

Malam itu, di bawah sinar bulan, Leonard berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan melakukan apa saja untuk memecahkan kutukan ini. Ia akan berjuang agar bisa menjadi apa yang diinginkan hatinya, agar bisa bersama Alexandria sepenuhnya, sebagai dua jiwa yang saling mencintai, tanpa batas dunia, tanpa batas wujud.

Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa Alexandria juga merasakan hal yang sama. Bahwa apa yang ada di antara mereka bukan sekadar hubungan antara manusia dan hewan, tapi sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang ditakdirkan oleh semesta sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!