NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang ditelan Bumi

"Apa kamu sudah memikirkan kembali akibatnya kalau harus kembali ke kota itu, Santana?!"

Wajah yang penuh dengan penyesalan terlihat di raut muka Santana yang kini terlihat sedikit tampak keriput. 

"Pa, selama beberapa tahun ini aku sudah mengikuti perintah mu! Aku ke sana hanya ingin memastikan bagaimana keadaan istri dan anak ku saja."

Dengan nada tinggi Santana berusaha melawan Papanya yang selama ini mempunyai peran penting dalam hancurnya keluarga kecilnya bersama Santika. 

Setelah diam begitu lama, akhirnya Papanya mengijinkan Dia kembali ke kota itu dan menjalankan bisnis yang ada di sana. 

"Baiklah, kamu boleh ke sana tapi kamu harus menerima pertunanganmu dengan Anita sebagai kompensasinya."

Santana tidak berfikir panjang untuk sepakat dengan persyaratan dari Papanya. 

(tidak apa aku terima pertunangan itu untuk saat ini, kalau nanti aku sudah menemukan Santika dan putriku, aku pasti akan meninggalkannya)

"Baik Pa, aku terima syarat itu. Besok pagi aku akan terbang ke sana."

Ke esokan harinya, seperti apa yang sudah direncanakan Santana dengan ditemani asistennya Tio terbang ke kota yang penuh dengan kenangan dan cerita dengan pujaan hatinya. Hampir dua hari mereka baru tiba di Bandara kota tujuan. 

"Tuan Santan, apa perlu kita cari hotel untuk istirahat dulu?"

Sambil menikmati udara yang begitu berbeda saat Dia berada di Negeri orang, memori Santana terlihat begitu jelas saat pertama kali Dia bertemu dengan Santika dan bagaimana Dia meninggalkan orang-orang yang Dia sayangi. 

(Akhirnya aku tiba di kota ini lagi, dulu mungkin aku bukan siapa-siapa tapi sekarang aku sudah mempunyai kekuatan untuk mempertahankan kalian) 

"Tuan... apa Tuan baik-baik saja?"

Ucapan Tio begitu sangat mengagetkannya. Hingga Dia terperanjat dari lamunan dan tersadar dengan kedua mata yang berkaca. 

"A.. Aku baik-baik saja, kita langsung ke desa kecil."

Tio yang tidak pernah tahu tempat yang dimaksud Tuan nya pun hanya bisa bengong dan mengikuti arahannya. 

Di dalam mobil, Santana masih terlihat murung dengan kedua matanya yang sembab. Tio hanya bisa memantaunya dari kaca spion mobil sambil mengemudikan mobil milik perusahaan. Jarak yang ditempuh dalam waktu cukup lama membuat Tio menjadi ragu dengan kemudinya sendiri. 

"Maaf Tuan, apa benar ini jalannya?"

Santana mulai mengamati jalan sekitar yang dilaluinya. Agak sedikit bingung juga Dia dengan kondisi bangunan maupun jalanan yang sudah banyak berubah. 

(Kenapa semua berubah, sudah sangat jauh berbeda. Apa aku sudah cukup lama meninggalkan kota ini?) "Tio coba menepi sebentar, kita tanya pada pria yang ada di pinggir jalan itu!"

Sesuai perintah Santana, Tio menepikan mobilnya dan turun menghampiri seorang pria dengan motor pengangkut rumputnya. 

"Permisi Pak , mau tanya apa benar jalan ini menuju ke desa kecil?"

Setelah melihat tulisan yang ada di secarik kertas dari Tio, pria itu pun mulai menunjukan arah jalan untuk sampai ke desa yang di maksud. 

"Duh Pak... maaf sekali lagi, maukah Bapak menjadi penunjuk jalan bagi kami?"

"Oalah... Mas ini tidak paham ya dengan arahan saya tadi? Ya sudah mobil kalian bisa mengikuti motor saya, kebetulan desa yang di maksud cuma sebelahan dengan desa tempat tinggal saya."

Mobil yang ditumpangi Santana pun mengikuti motor pria tadi dari belakang sebagai penunjuk arah. 

Hanya sekitar 15 menit mereka sudah sampai di desa tujuan. 

"Mas ini desa kecil yang kalian cari, kalau desa saya ada di depan sana. Saya duluan ya Mas!"

"Ya Pak, Terima kasih banyak!"

Tio mulai masuk melewati jalan aspal yang hanya bisa dilalui satu mobil saja. Perlahan Dia mengemudikan mobilnya sambil mencari rumah yang di maksud Tuannya. Tidak ketinggalan pula Santana juga mengingat dan mencari rumah sederhana yang dulu pernah Dia sewa dengan istrinya. 

Tiba di depan gardu Santana meminta Tio menghentikan mobilnya. Dia merasa tidak asing dengan seorang pria paruh baya yang duduk di sana. Dengan cepat Santana membuka pintu mobil kemudian turun dan menghampirinya. 

"Pak Sastro...? Ini benar Anda kan? Masih ingat saya tidak Pak?"

Pria paruh baya yang bernama Sastro itu sangat terkejut dengan sosok pria yang terlihat bersih, berpenampilan rapi dan terlihat berwibawa. Pandangannya menelisik dari bawah sampai atas tubuh Santana. 

(Benarkah Dia Santana, pria yang lari dari tanggung jawab dulu, tapi kenapa penampilannya berubah?)"Memang kamu siapa dan mau apa datang kemari?"

Santana lebih mendekat lagi ke tempat Sastro berdiri. 

"Saya Santana Pak, yang dulu pernah kontrak rumah didekat rumah nya Bapak. Gimana apa sudah ingat Pak?"

Dengan wajah garang dan sedikit menjauh dari Santana berdiri, Sastro siap dengan kuda-kudanya. 

"Ohh... kamu masih berani datang kemari, kamu benar-benar tidak punya malu sama sekali ya?!"

Tio yang kebingungan dengan adegan yang terlihat sengit antara keduanya, Dia melangkah berdiri diantara Tuannya dan Sastro. Santana pun sadar diri dengan perlakuan Sastro dan warga lain yang sempat melihat mereka. 

"Pak saya mengakui kalau saya salah dan dosa besar atas tindakan saya dulu. Saya datang kemari untuk menebus kesalahan saya itu . Kalau boleh tahu di mana sekarang anak saya?"

Sastro dengan beraninya mendorong tubuh Santana yang sekarang lebih kecil dari dulu. 

"Kamu masih punya nyali setelah membuang anak kamu dengan terang-terangan, jangan harap kamu bisa menemukan Dia lagi, pergilah percuma kamu mencarinya!"

Santana sama sekali tidak berani melawan Sastro karena Dia sangat sadar memang dirinya lah yang bersalah dan kejam. 

Bukan hanya Sastro saja tapi warga lain yang sudah tahu kalau yang datang itu Santana, mereka juga ikut berteriak mengusirnya. Dengan terpaksa Tio membawa Tuannya masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu. 

"Lebih baik kita sekarang ke hotel saja biar Tuan juga bisa tenang dan beristirahat."

"Iya Tio."

Sesampainya di hotel Santana meminta Tio untuk masuk ke kamarnya. Dengan kondisinya yang sekarang Dia tahu kalau tidak akan bisa mencari istri dan anaknya sendiri. Dia menceritakan pada Tio tentang kejadian sekitar 10 tahun yang lalu. Sambil berderai air mata Santana mencoba untuk tetap tegar. 

"Bantu aku Tio, aku hanya ingin bertemu mereka, aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah kubuat."

Dengan ragu Tio meng iyakan apa yang menjadi permintaan Tuannya. Meskipun itu sangat mustahil karena tidak ada petunjuk yang jelas untuk mencari mereka. 

"Apa Tuan masih menyimpan foto istri dan anak Tuan?"

"Tidak Tio, semua sudah dimusnahkan Papa sebelum aku berangkat ke luar negeri."

Tio mengerutkan keningnya entah karena bingung atau malah pusing mendengar cerita Tuannya. 

(Kalau seperti ini aku harus mulai dari mana, kalau aku datang lagi ke desa itu pasti akan memancing kemarahan warga lagi)... Heemm begini saja Tuan, malam ini istirahatlah dengan benar, besok saya akan coba mencari informasi tentang anak dan istri Tuan."

Sudah sedikit lega dengan ucapan Tio, Santana berjalan pelan menuju tempat tidur hotel. Demikian pula dengan Tio, Dia meninggalkan Santana di kamar hotel agar bisa istirahat malam itu. 

Di kamar lain, Tio mencoba menghubungi kakak perempuan Santana. Dia menceritakan kejadian yang dialami Tuannya di desa kecil. 

"Jadi begitu Nyonya kejadiannya."

{Aku tahu Santana pasti akan melakukan hal itu, makanya aku memintamu untuk mengawasinya. Biar kucoba cari foto istrinya siapa tahu ada yang masih tersisa, nanti aku kirim ke HP mu}

"Baik Nyonya, saya akan selalu melaporkan apapun yang dialami Tuan Santan."

Tio menutup teleponnya dan menunggu kabar dari Meri kakak perempuan Santana. 

Memang dari ketiga kakak Santana yang paling sayang dengannya hanyalah Meri. Mungkin karena kedua kakaknya yang lain laki-laki maka perhatian yang diberikan juga beda. 

Ke esokan paginya, Tio bangun lebih awal dari pada Santana. Dia bangun pagi karena memang berencana datang lagi ke desa kecil untuk mencari informasi tentang Santika. 

Santana terus mencari dan berusaha menghubungi Tio berulang kali tapi tetap tidak ada jawaban. 

"Kemana Tio, kenapa sampai sekarang belum kelihatan juga. Di kamarnya juga sudah tidak ada, kemana Dia pergi. Apa mungkin Dia keluar dan tersesat?.. Oh tidak mungkin!"

Bibir Santana tidak henti-hentinya berucap. Hingga dari kejauhan datanglah Tio dengan berlari kecil menuju restauran tempat Santana sarapan. 

"Tuan... maaf Tuan saya ada sedikit kepentingan jadi tidak sempat bilang saat mau pergi."

"Huh... Tio, kamu membuatku panik saja. Aku pikir kamu tersesat dan hilang. Sepertinya kita tidak ada waktu lagi untuk sarapan, klien sudah menunggu di kantor, kita harus segera ke sana!"

"Baik Tuan, saya mengerti."

Keduanya bergegas menuju mobil dan berangkat ke kantor. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!