Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Dewi
Bab 22
Sore harinya, Bambang dan Ucok berdiri di depan bengkel milik Bang Anton. Bengkel itu terletak di pinggir kota, tidak jauh dari terminal bus. Dindingnya dari papan kayu yang sudah lapuk. Atapnya seng berkarat. Di halaman depan, beberapa sepeda motor tua terparkir dalam kondisi setengah bongkar. Bau oli dan bensin menyengat di hidung. Tapi Bambang tidak keberatan. Setelah berminggu-minggu mencium bau anyir di pabrik dan bau tanah basah di hutan, bau oli ini terasa seperti parfum mahal.
Bang Anton menyambut mereka di pintu. Wajahnya masih ramah seperti kemarin, tapi ada sedikit kegugupan di matanya. Dia menatap ke kiri dan ke kanan sebelum mempersilakan mereka masuk.
"Masuk, cepat. Dia sudah datang."
Mereka masuk ke dalam bengkel. Di belakang, ada ruangan kecil yang digunakan sebagai kantor. Meja kayu, dua kursi, lemari arsip, dan sebuah komputer tua. Di salah satu kursi, seorang perempuan duduk dengan tenang. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Rambutnya pendek, sebahu. Wajahnya tegas. Matanya tajam. Dia mengenakan kemeja lengan panjang warna krem dan celana jins hitam. Di pangkuannya, ada tas selempang coklat yang tampak berat.
"Dewi, ini dia," kata Bang Anton. "Bambang dan Ucok."
Dewi berdiri. Tangannya diulurkan. Jabatannya kuat. Tidak seperti perempuan kebanyakan. Matanya menatap Bambang dan Ucok bergantian, seperti sedang membaca sesuatu dari wajah mereka.
"Saya Dewi. Anton sudah cerita sedikit tentang kalian. Tapi saya ingin dengar langsung dari kalian. Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi."
Bambang menarik napas panjang. Ini adalah saat yang menentukan. Wartawan ini mungkin satu-satunya harapan mereka. Jika dia tidak percaya, jika dia mengusir mereka, maka tidak ada lagi jalan.
"Kami siap cerita, Bu," kata Bambang.
"Panggil Dewi saja. Tidak usah Bu-bu."
Bambang duduk di kursi seberang Dewi. Ucok duduk di kursi plastik di samping pintu. Bang Anton berdiri di dekat lemari arsip, tangannya bersedekap di dada.
"Jadi, ceritanya dimulai dari SMS," kata Bambang.
Dia bercerita. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Tentang SMS dari nomor tidak dikenal. Tentang wawancara dengan Pak Toni. Tentang kontrak dengan denda lima ratus juta. Tentang perjalanan ke Kalimantan. Tentang mobil box gelap. Tentang pabrik yang sunyi. Tentang aturan-aturan aneh. Tentang monitor CCTV. Tentang makhluk di hutan. Tentang Joni yang mulai berubah. Tentang Dul yang menghilang. Tentang Herman yang tewas. Tentang kabur ke hutan. Tentang desa pertama. Tentang kepala desa yang kehilangan anak. Tentang kantor polisi yang mengkhianati mereka. Tentang perjalanan menyusuri sungai. Tentang pondok di tepi sungai. Tentang malam-malam yang panjang penuh teror. Tentang mushola. Tentang Bang Anton yang baik hati.
Dewi mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia mencatat di buku kecil. Sesekali dia mengangguk. Sesekali alisnya berkerut. Tapi tidak sekali pun dia memotong cerita Bambang.
Ketika Bambang selesai, Dewi meletakkan pulpennya. Matanya menatap Bambang dengan sorot yang berbeda. Tidak lagi tajam. Ada rasa iba di sana. Juga rasa marah. Marah yang terpendam.
"Kalian mengalami semua itu?" tanya Dewi pelan.
"Iya. Setiap kata benar."
"Dan kalian punya bukti?"
Bambang mengeluarkan buku harian Dul. Juga kontrak kerja. Juga foto-foto yang sempat dia ambil dengan ponselnya sebelum baterainya habis. Foto pabrik. Foto monitor CCTV. Foto makhluk dari kejauhan. Buram. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di pabrik itu.
Dewi mengambil buku harian Dul. Dia membacanya dengan saksama. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Sesekali dia berhenti, menghela napas, lalu melanjutkan lagi.
"Ini ditulis oleh Dul?"
"Iya. Dul sudah berubah sekarang. Dia jadi makhluk. Berdiri di tepi hutan bersama yang lain."
Dewi menutup buku itu. Tangannya gemetar. "Saya sudah dengar tentang pabrik ini dari sumber lain. Tapi tidak pernah sedetail ini. Tidak pernah sejelas ini. Kalian berdua sangat berani."
"Kami tidak berani," kata Ucok dari samping pintu. "Kami hanya tidak punya pilihan. Diam di pabrik berarti mati. Kabur berarti mungkin mati. Tapi setidaknya kami coba."
Dewi menoleh ke Ucok. "Kamu Ucok?"
"Iya."
"Anton bilang kamu sudah lima tahun di pabrik itu."
"Lima tahun. Saya lihat dua belas orang berubah jadi makhluk. Dua belas orang. Mereka masih hidup. Tapi tidak lagi punya ingatan. Tidak lagi punya siapa-siapa."
Dewi menggigit bibirnya. Tangannya yang memegang buku catatan itu mengepal. "Saya akan bantu kalian. Tapi saya harus jujur. Ini tidak mudah. Perusahaan ini besar. Mereka punya koneksi ke mana-mana. Polisi. Pemerintah. Bahkan tentara. Saya sudah coba meliput kasus ini tiga tahun lalu. Hampir mati. Mobil saya dihadang orang tidak dikenal. Saya diancam. Dibilang akan disekap. Saya berhenti karena saya takut untuk keluarga saya."
"Kenapa sekarang mau bantu lagi?" tanya Bambang.
"Karena kalian. Karena kalian berdua tidak takut. Karena kalian kehilangan teman-teman. Karena kalian masih mau berjuang meskipun semuanya melawan kalian. Saya malu kalau saya tidak berbuat apa-apa."
"Terima kasih, Dewi," kata Bambang dengan suara bergetar.
"Jangan berterima kasih dulu. Belum ada yang berhasil. Ini masih panjang. Pertama, saya harus memverifikasi semua yang kalian ceritakan. Saya harus ke pabrik itu. Saya harus lihat dengan mata kepala sendiri."
"Tidak!" potong Ucok cepat. "Kamu tidak bisa ke sana. Itu bunuh diri."
"Saya tidak akan masuk. Hanya dari luar. Saya akan foto. Saya akan rekam. Saya akan cari pekerja yang keluar. Atau mantan satpam."
"Kami mantan satpam," kata Bambang. "Kami yang selamat. Dua-duanya. Yang lain sudah berubah. Atau tewas."
"Itu sebabnya kalian sangat berharga. Kalian adalah saksi mata. Tapi saya butuh lebih dari dua orang. Saya butuh saksi dari pihak internal. Pekerja pabrik. Atasan. Siapa saja yang tahu tentang proyek ini."
"Pak Toni," kata Bambang. "HRD. Dia yang merekrut kami. Dia tahu semuanya. Tapi dia juga dalangnya."
"Pak Toni. Saya catat. Siapa nama lengkapnya?"
"Tidak tahu. Dia hanya perkenalkan sebagai Pak Toni. Tidak pernah kasih nama lengkap."
Dewi menulis di buku catatannya. "Baik. Saya akan cari tahu. Saya punya sumber di perusahaan. Bukan di pabrik itu, tapi di kantor pusat. Mungkin dia tahu."
"Mungkin juga dia akan mengkhianati kita," kata Ucok.
"Semua mungkin. Tapi kita tidak akan tahu sebelum mencoba."
Dewi memasukkan buku catatan dan pulpen ke dalam tas selempangnya. Dia berdiri. "Saya harus pergi sekarang. Saya akan hubungi kalian lagi dalam satu atau dua hari. Jangan ke mana-mana. Tetap di mushola. Anton akan jaga kalian."
"Kami tidak bisa diam terlalu lama," kata Bambang. "Perusahaan pasti sudah tahu kami di sini. Mereka akan mencari."
"Anton punya saudara di desa sebelah. Kalau situasi terlalu berbahaya, kalian bisa pindah ke sana. Tapi untuk sekarang, tetap di sini dulu. Saya akan coba bekerja cepat."
Dewi berjabat tangan dengan Bambang, lalu dengan Ucok. Jabatannya masih kuat. Matanya masih tajam. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada tekad. Ada api kecil yang menyala di sana.
"Kita akan berhasil," kata Dewi sebelum berbalik. "Saya tidak tahu caranya. Tapi kita akan berhasil."
Dewi keluar dari bengkel. Bang Anton mengantarkannya ke mobil. Sebuah mobil tua warna biru yang terparkir di depan. Dewi naik, menyalakan mesin, dan pergi meninggalkan debu di belakang.
Bambang dan Ucok kembali ke mushola. Mereka duduk di teras. Langit sore berwarna jingga. Awan-awan bergulung di kejauhan. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa bau masakan dari rumah-rumah di sekitar.
"Ucok, kamu percaya dia?" tanya Bambang.
"Aku tidak tahu. Tapi dia berbeda dari polisi itu. Matanya. Matanya jujur."
"Tapi dia bilang dia hampir mati tiga tahun lalu. Dia takut untuk keluarganya. Kenapa sekarang dia berani lagi?"
"Karena kita. Karena dia lihat kita tidak takut. Mungkin itu membuatnya malu."
Bambang tersenyum. "Jadi kita sudah jadi contoh keberanian?"
"Bukan contoh. Cuma orang bodoh yang tidak tahu kapan harus menyerah."
Mereka berdua tertawa. Tertawa kecil. Tertawa yang sudah lama tidak mereka lakukan. Tertawa yang terasa asing di tengah semua ketakutan.
Malam tiba. Mereka salat magrib berjamaah di mushola. Setelah itu, mereka makan malam dengan nasi bungkus yang dibelikan Bang Anton. Sederhana. Tapi cukup.
"Bang Anton," panggil Bambang sambil mengunyah nasi.
"Iya."
"Kami ingin tahu lebih banyak tentang Dewi. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia berani melawan perusahaan besar?"
Bang Anton duduk di samping mereka. Wajahnya yang ramah itu berubah serius. "Dewi dulu jurnalis di kota. Liputan biasa. Kriminal. Politik. Ekonomi. Tapi suatu hari, dia meliput kasus pencemaran lingkungan oleh perusahaan tambang. Perusahaan itu mengancamnya. Suaminya dipecat dari pekerjaan. Anaknya diancam di sekolah. Tapi Dewi tidak mundur. Dia terus tulis. Terus cari bukti. Akhirnya perusahaan itu ditutup. Pemiliknya dipenjara."
"Luar biasa," kata Bambang.
"Tapi itu tidak gratis. Suaminya meninggal karena stres. Anaknya trauma dan sekarang tinggal bersama neneknya di kampung. Dewi sendirian. Tidak punya siapa-siapa. Yang dia punya hanya pekerjaannya. Hanya kebenaran."
Bambang terdiam. Jadi Dewi juga punya luka. Juga punya masa lalu yang kelam. Mungkin itu sebabnya matanya tajam. Mungkin itu sebabnya dia tidak takut.
"Dia sudah kehilangan banyak," kata Ucok pelan. "Tidak heran dia tidak ingin kehilangan lagi."
"Iya," kata Bang Anton. "Jadi tolong jaga diri kalian. Jangan sampai dia kehilangan kalian juga. Karena kalian sekarang adalah harapannya."
Malam semakin larut. Bambang berbaring di karpet mushola. Ucok sudah tertidur di sampingnya. Bang Anton pamit pulang. Kini hanya mereka berdua. Dan kegelapan. Dan kesunyian.
Tapi tidak ada suara seperti karet diregangkan. Tidak ada bisikan dari hutan. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara sepeda motor lewat.
Bambang memejamkan mata. Pikirannya melayang ke Dewi. Ke Bang Anton. Ke semua orang yang membantu mereka tanpa pamrih. Mungkin masih ada kebaikan di dunia ini. Mungkin masih ada keadilan. Mungkin masih ada harapan.
Dia berdoa dalam hati. Doa untuk Dewi. Doa untuk Bang Anton. Doa untuk Ucok. Doa untuk Joni, Dul, Herman. Doa untuk semua korban yang tidak sempat kabur.
Dan doa untuk dirinya sendiri. Agar dia kuat. Agar dia bisa menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.
Bambang tertidur dengan senyum tipis di bibirnya. Untuk pertama kalinya, mimpinya tidak buruk. Dia bermimpi tentang sawah yang hijau. Tentang langit yang biru. Tentang Ibu yang tersenyum. Tentang Bapak yang memegang tangannya.
Dia bermimpi tentang pulang.