NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem / Tamat
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 sisa bau darah dan bayangan awan

​Fajar menyingsing dengan warna ungu kemerahan yang dingin. Cahaya itu menerobos masuk melalui pintu Aula Utama yang kini menganga tanpa daun pintu, menyinari bercak darah Zhao Hu yang telah membeku di atas lantai kayu. Bau amis darah yang bercampur dengan aroma daging terbakar semalam masih menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang mencekam di tengah kesunyian pagi.

​Su Lang berdiri di tengah aula. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Kotoran hitam berminyak yang keluar dari pori-porinya semalam telah mengeras, membuat kulitnya terasa gatal dan lengket. Namun, di bawah lapisan kotoran itu, dia bisa merasakan denyut energi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

​Dia mengangkat tangan kanannya. Kulit baru yang tumbuh di sana terasa sangat sensitif terhadap udara dingin. Dengan satu pikiran, dia mencoba menggerakkan kabut putih di perutnya—Dantian-nya.

​Wusss.

​Arus hangat mengalir dari perut, melewati meridian di lengan, dan berakhir di ujung jarinya. Itu bukan sekadar kekuatan otot; itu adalah Qi. Meski hanya setipis benang, energi itu membuat jarinya terasa sekeras batu.

​[Ding.]

[Status Pengguna Diperbarui.]

[Nama: Su Lang]

[Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 1]

[Poin Dedikasi: 7]

[Manual Tersedia: Langkah Bayangan Awan (Belum Dipelajari)]

​"Hanya tingkat satu," gumam Su Lang. Suaranya terdengar lebih jernih, memiliki resonansi yang tidak dimiliki manusia biasa. "Zhao Hu dan temannya hanya berada di tahap Penempaan Tubuh, namun mereka hampir membunuhku. Jika Sekte Besi Hitam mengirim murid resmi yang sudah berada di ranah Pemadatan Qi... aku tetap akan tamat."

​Dia tahu kemenangannya semalam adalah murni karena keberuntungan dan kenekatannya. Pil Bening Embun pemberian Lin Xiaowan adalah kunci keselamatan yang tak terduga. Tanpa itu, dia sekarang hanyalah mayat yang membeku.

​Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan diri.

​Su Lang berjalan ke halaman belakang. Salju di sana sangat tebal. Tanpa ragu, dia melepas jubahnya yang sudah hancur dan penuh noda, lalu menyiramkan seember air sumur yang sedingin es ke seluruh tubuhnya.

​"Ssshh..."

​Kulitnya memerah seketika. Namun, berbeda dari sebelumnya, rasa dingin itu tidak lagi membuatnya mati rasa. Qi di dalam tubuhnya secara otomatis bergerak ke permukaan kulit, menyeimbangkan suhu tubuhnya. Dia menggosok lapisan kotoran hitam itu hingga bersih, menyingkap kulit yang kini lebih cerah dan otot-otot yang meskipun masih kurus, kini tampak jauh lebih padat dan efisien.

​Setelah berpakaian kembali dengan jubah cadangan yang penuh tambalan, Su Lang kembali ke aula. Matanya tertuju pada panel sistem.

​"Sistem, berikan aku teknik Langkah Bayangan Awan."

​Seketika, sebuah aliran informasi membanjiri benaknya. Itu bukan buku fisik, melainkan serangkaian gambar bayangan manusia yang bergerak di dalam pikirannya. Gerakan itu aneh; tidak linier, melainkan berputar dan bergeser seolah-olah penarinya tidak memiliki berat badan.

​[Teknik Bela Diri: Langkah Bayangan Awan]

​Peringkat: Kuning Tingkat Rendah (Dapat ditingkatkan dengan Poin Dedikasi).

​Deskripsi: Menggunakan Qi untuk meringankan beban tubuh dan memanipulasi bayangan udara di sekitar kaki untuk menciptakan ilusi gerakan.

​Tingkat Penguasaan: 0/100 (Pemula).

​Su Lang menarik napas panjang. Dia mulai mempraktekkan gerakan pertama. Dia melangkah maju, mencoba mengalirkan Qi ke titik Yongquan di telapak kakinya.

​Brak!

​Dia tersandung kakinya sendiri dan hampir menghantam pilar.

​"Sial," umpatnya pelan. Qi-nya masih terlalu liar, dan tubuhnya belum terbiasa dengan koordinasi baru ini.

​Dia tidak menyerah. Dia kembali ke posisi awal. Sekali lagi.

​Langkah, putar, alirkan Qi.

​Dua jam berlalu. Su Lang terus mengulang satu gerakan yang sama. Keringat kembali membasahi jubahnya. Meskipun dia sudah menjadi kultivator, kelelahan mental dari mengatur aliran Qi jauh lebih berat daripada kerja fisik menambal atap. Setiap kali dia gagal, dia menganalisis kesalahannya. Tidak ada jalan pintas. Sistem memberinya manual, tetapi tubuhnya yang harus menguasainya.

​[Poin Dedikasi +0.1 (Latihan Tekun)]

​Su Lang berhenti sejenak, matanya berbinar. "Jadi latihan rutin juga memberikan poin, meski sangat sedikit?"

​Ini adalah kabar baik. Itu berarti dia tidak hanya bergantung pada misi berbahaya untuk berkembang.

​Namun, perutnya kembali berbunyi. Rasa lapar seorang kultivator tingkat rendah ternyata jauh lebih hebat daripada manusia biasa. Tubuhnya membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menyeimbangkan proses pembersihan meridian semalam.

​Dia pergi ke dapur. Kosong. Hanya ada sedikit sisa beras dari dua hari lalu yang tersembunyi di sudut lemari.

​"Aku harus berburu," putusnya.

​Gunung Qingyun tidak hanya dihuni oleh salju. Di hutan pinus bagian bawah, ada hewan-hewan liar yang dagingnya mengandung sedikit energi spiritual karena menghirup udara pegunungan.

​Su Lang mengambil busur tua milik gurunya yang talinya sudah hampir putus. Dia memperbaikinya dengan serat tanaman yang dia temukan di gudang, mengalirkan sedikit Qi untuk memperkuat strukturnya.

​Dia melangkah keluar melewati pintu aula yang rusak. Dia menatap pintu itu sejenak.

​"Aku butuh pintu baru. Dan aku butuh murid."

​Menjalankan sekte sendirian bukan hanya sulit, tapi mustahil untuk jangka panjang. Dia butuh mata dan telinga. Namun, siapa yang mau bergabung dengan sekte yang bahkan tidak punya pintu?

​Su Lang menuruni lereng gunung menuju hutan bagian bawah. Langkahnya kini lebih ringan. Setiap kali dia melompat melewati batu besar, dia menggunakan Langkah Bayangan Awan. Meski masih kasar, dia bisa merasakan tubuhnya melayang sejenak lebih lama dari biasanya.

​Di tengah hutan, dia menemukan jejak kaki di salju. Bukan jejak hewan.

​Itu jejak kaki kecil, tidak beraturan, dan tampak terburu-buru.

​Su Lang mengikuti jejak itu dengan waspada. Dia menyelinap di antara pepohonan, gerakannya kini hampir tidak bersuara—sebuah kemajuan dari latihannya pagi tadi.

​Di sebuah ceruk di bawah akar pohon raksasa, dia melihat sesosok kecil yang meringkuk. Seorang anak laki-laki, mungkin berusia sepuluh tahun, dengan pakaian yang hanya berupa potongan kain goni yang diikat tali. Wajahnya biru karena kedinginan, tangannya menggenggam erat sepotong akar kayu yang sepertinya sedang ia coba makan.

​Anak itu gemetar hebat. Di sampingnya, ada seorang gadis kecil yang lebih muda, mungkin enam tahun, yang sudah tidak sadarkan diri.

​Mata Su Lang menyipit. "Pengungsi?"

​Biasanya pengungsi tidak akan berani naik setinggi ini ke Gunung Qingyun karena takut pada hewan buas. Kecuali jika apa yang ada di bawah sana jauh lebih menakutkan daripada serigala gunung.

​Su Lang melangkah keluar dari bayangan.

​Anak laki-laki itu tersentak, matanya yang besar dan penuh ketakutan menatap Su Lang. Dia mencoba berdiri, menghalangi gadis kecil di belakangnya dengan tubuhnya yang ringkih. Di tangannya, dia memegang sepotong batu tajam.

​"Jangan... jangan mendekat!" suara anak itu bergetar, hampir hilang tertiup angin.

​Su Lang berhenti tiga langkah di depannya. Dia tidak memancarkan aura membunuh. Sebaliknya, dia membiarkan sedikit kehangatan dari Qi-nya mengalir keluar, menciptakan zona kecil yang tidak terlalu dingin di sekitar mereka.

​"Siapa namamu?" tanya Su Lang tenang.

​Anak itu tertegun. Dia merasakan rasa dingin yang menusuk perlahan memudar sejak pemuda di depannya muncul. Rasa takutnya sedikit berkurang oleh kebingungan.

​"A-A-Li," jawabnya gagap. "Tuan... tolong adikku. Dia tidak bangun sejak tadi malam."

​Su Lang berlutut. Dia memeriksa nadi gadis kecil itu. Sangat lemah. Hipotermia dan kelaparan kronis. Jika dia tidak melakukan sesuatu, anak ini akan mati dalam satu jam.

​Su Lang merogoh sakunya. Dia sudah tidak punya pil lagi. Tapi dia punya Qi.

​Dia meletakkan telapak tangannya di punggung kecil gadis itu. Dia mengalirkan Qi-nya yang baru saja terbentuk dengan sangat hati-hati. Qi Tingkat 1 miliknya masih kasar, jadi dia harus membaginya menjadi aliran yang sangat tipis agar tidak menghancurkan organ internal anak yang rapuh itu.

​A-Li memperhatikan dengan mata terbelalak saat kabut putih samar muncul dari tangan Su Lang. Dia melihat warna kulit adiknya perlahan berubah dari biru pucat menjadi sedikit kemerahan.

​Setelah beberapa menit, gadis kecil itu terbatuk pelan dan mulai bernapas lebih teratur.

​Su Lang menarik tangannya. Dia merasa sedikit pusing. Mengeluarkan Qi untuk orang lain di tingkatnya saat ini sangat menguras energi.

​"Bawa dia," perintah Su Lang. "Ikuti aku."

​"Ke... ke mana, Tuan?"

​Su Lang menatap puncak gunung yang tertutup salju, di mana bangunan tua sektenya berdiri.

​"Ke Sekte Aliran Abadi. Rumahmu yang baru."

​A-Li tidak bertanya lagi. Dia menggendong adiknya dengan sisa tenaganya, mengikuti sosok Su Lang yang berjalan dengan tegap di depannya. Bagi A-Li, punggung pemuda ini tampak seperti gunung yang tidak akan pernah runtuh.

​Saat mereka sampai di gerbang sekte, Su Lang berhenti.

​[Ding.]

[Mendeteksi calon murid dengan potensi khusus.]

[Nama: A-Li]

[Bakat: Akar Roh Kayu Murni (Layu)]

[Kondisi: Membutuhkan nutrisi spiritual untuk membangkitkan bakat.]

​[Misi Baru: Membangun Harapan]

​Target: Selamatkan kedua anak ini dan jadikan mereka murid resmi pertama.

​Hadiah: 10 Poin Dedikasi, Resep "Bubur Sumsum Tulang Spiritual", Membuka Fitur: Sect Management (Manajemen Sekte).

​Hukuman Gagal: Bakat murid hilang, reputasi sekte turun ke titik nol.

​Su Lang menghela napas. Dia baru saja selamat dari kematian, dan sekarang dia harus memberi makan dua mulut tambahan. Namun, matanya berkilat saat melihat tulisan "Akar Roh Kayu Murni".

​Di dunia kultivasi, bakat adalah segalanya. Akar Roh Murni adalah sesuatu yang bahkan sekte besar seperti Sekte Pedang Awan Beku akan rebutkan. Dan sekarang, permata mentah ini jatuh tepat di depannya dalam kondisi sekarat.

​"Masuk ke aula," perintah Su Lang.

​Dia membawa mereka ke dapur. Dia menyalakan api menggunakan sisa Kayu Besi yang dia miliki. Ruangan itu segera hangat.

​Su Lang mengambil busurnya lagi. "Tetap di sini. Jangan sentuh apa pun kecuali air. Aku akan kembali membawa makanan."

​Kali ini, perburuannya tidak boleh gagal.

​Dia berlari ke hutan dengan kecepatan penuh. Langkah Bayangan Awan dia gunakan tanpa henti. Di bawah tekanan untuk memberi makan murid-muridnya, pemahamannya tentang teknik itu melonjak.

​Lari, melompat, mendarat tanpa suara.

​Dia melihat seekor Rusa Salju di kejauhan. Hewan ini lincah dan sulit ditangkap. Su Lang menarik busurnya. Dia tidak hanya mengandalkan kekuatan otot; dia mengalirkan Qi ke ujung anak panah kayu buatannya.

​Anak panah itu bergetar, memancarkan cahaya putih samar.

​Syuuuut!

​Anak panah itu melesat lebih cepat dari suara angin. Rusa itu bahkan tidak sempat menoleh sebelum lehernya tertembus.

​Su Lang segera memikul rusa itu dan kembali ke sekte. Di dapur, dia membersihkan dagingnya dengan terampil. Dia membuat kaldu sederhana. Tanpa bumbu mewah, tapi daging Rusa Salju memiliki rasa manis alami dan sedikit energi spiritual.

​A-Li menatap mangkuk sup yang disodorkan padanya dengan mata berkaca-kaca. Dia meminumnya dengan rakus, namun tetap menyisakan bagian terbaik untuk adiknya yang baru saja siuman.

​Su Lang melihat pemandangan itu dari ambang pintu.

​"Mulai hari ini," suara Su Lang terdengar berat dan penuh wibawa. "Kau bukan lagi pengungsi. Kau adalah murid tertua dari Sekte Aliran Abadi. Namamu adalah Li Yun. Dan adikmu..."

​"Namanya Xiao Me, Tuan," sahut A-Li—atau sekarang Li Yun—sambil bersujud di lantai dingin.

​"Li Yun. Ingat ini. Sekte kita saat ini miskin. Kita tidak punya emas, kita tidak punya kemewahan. Kita hanya punya kerja keras dan satu sama lain. Jika kau tidak sanggup, kau bisa pergi saat badai reda."

​Li Yun menatap Su Lang dengan tekad yang tidak sesuai dengan usianya. "Guru! Saya sudah melihat kematian di bawah gunung. Orang-orang saling membunuh untuk sepotong roti kering. Di sini... Guru memberikan nyawa untuk adik saya. Li Yun bersumpah, seumur hidup ini saya milik Sekte Aliran Abadi!"

​[Ding.]

[Loyalitas Murid Li Yun: 90/100 (Sangat Setia)]

[Misi Selesai: Membangun Harapan.]

[Hadiah telah diberikan.]

​Su Lang merasakan kepuasan batin. Poin dedikasinya kini menjadi 17.

​Namun, kedamaian itu terganggu.

​Dari arah gerbang depan, terdengar suara langkah kaki yang ramai. Bukan dua orang. Kali ini lebih banyak.

​Su Lang berjalan keluar, berdiri di depan pintu aula yang rusak. Di halaman sekte, berdiri lima orang pria berpakaian hitam dengan lambang besi di dada mereka. Di depan mereka, Zhao Hu berdiri dengan tangan dibebat kain, wajahnya penuh dengan kebencian dan ketakutan yang bercampur.

​Di samping Zhao Hu, ada seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan mata yang sipit seperti ular. Pria itu memegang kipas lipat meskipun cuaca sangat dingin. Aura yang terpancar darinya jauh lebih kuat dari Zhao Hu.

​"Qi Condensation Tingkat 3," Su Lang membatin. Hatinya mencelos.

​"Itu dia, Tetua Ketiga!" Zhao Hu menunjuk Su Lang dengan jarinya yang gemetar. "Bocah itu! Dia menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan bahuku!"

​Pria paruh baya itu, yang dikenal sebagai Tetua Ma dari Sekte Besi Hitam, menutup kipasnya dengan suara klik yang tajam. Dia menatap Su Lang dengan jijik.

​"Sekte Aliran Abadi memang sudah jatuh," suara Tetua Ma halus namun mengandung tekanan yang membuat dada Li Yun di dalam dapur terasa sesak. "Seorang ketua sekte yang hanya berada di tingkat pertama Pemadatan Qi... berani melukai muridku?"

​Su Lang melangkah maju satu langkah. Tekanan Qi dari Tetua Ma menghantamnya, tapi Su Lang berdiri tegak. Dia tidak bisa mundur. Di belakangnya ada dua anak yang baru saja ia selamatkan.

​"Muridmu mencoba menjarah altarku," kata Su Lang datar. "Aku hanya membersihkan sampah. Jika kau ingin menuntut balas, silakan. Tapi jangan salahkan aku jika hari ini Gunung Qingyun menambah koleksi mayatnya."

​Tetua Ma tertawa terbahak-bahak. "Nyali yang besar! Mari kita lihat apakah tulangmu sekeras mulutmu!"

​Tetua Ma bergerak. Dia tidak menggunakan senjata. Dia hanya meluncur maju dengan kecepatan yang jauh melampaui Zhao Hu. Tangannya membentuk cakar, diarahkan langsung ke tenggorokan Su Lang.

​Su Lang tahu dia tidak bisa menangkis secara langsung. Perbedaan dua tingkat kultivasi adalah jurang yang sangat dalam.

​Langkah Bayangan Awan!

​Su Lang bergeser ke samping. Tubuhnya seolah menjadi kabur sesaat. Cakar Tetua Ma hanya merobek udara tipis, menyisakan jejak angin yang tajam.

​"Hah? Teknik gerak?" Tetua Ma terkejut. "Sekte bangkrut ini masih punya teknik tingkat Kuning?"

​Keserakahan muncul di mata Tetua Ma. Jika dia bisa membunuh bocah ini dan mengambil manual teknik gerak itu, posisinya di Sekte Besi Hitam akan melonjak.

​"Mati kau!"

​Pertarungan hidup dan mati kembali pecah di bawah langit musim dingin. Kali ini, Su Lang tidak hanya bertarung untuk dirinya sendiri. Dia bertarung untuk sekte yang mulai memiliki "nyawa".

Hierarki Kultivasi Dunia Aliran Abadi

​Berikut adalah tingkatan kekuatan yang diakui di wilayah Pegunungan Utara:

​Body Tempering (Penempaan Tubuh): 10 Tahap. (Manusia biasa yang melatih fisik hingga batas maksimal. Belum memiliki Qi di dalam Dantian).

​Qi Condensation (Pemadatan Qi): 10 Tingkat. (Mulai menyerap energi alam ke dalam tubuh. Su Lang saat ini: Tingkat 1).

​Foundation Establishment (Pembangunan Pondasi): Awal, Tengah, Akhir, Puncak. (Tahap di mana Qi cair membeku menjadi pondasi yang kokoh. Umur manusia meningkat hingga 200 tahun).

​Core Formation (Pembentukan Inti): (Membentuk Inti Emas di dalam Dantian. Status sebagai ahli sejati).

​Nascent Soul (Jiwa yang Baru Lahir): (Jiwa meninggalkan tubuh fisik, hampir mustahil dibunuh).

​Spirit Severing (Pemutusan Roh): ... (Dan seterusnya).

​Setiap tingkatan memiliki hambatan besar yang membutuhkan pemahaman (insight) dan sumber daya yang sangat banyak.

1
Val's
masa sih kultivator pnempaan tubuh bisa slemah ituu
Wong Kito
ngaco nih Li Yun malah jadi wanita bukannya pemuda 10 th kakaknya Xiao Mei ???
Amrye Jhon
semangat
Peter 💫⚡
☁️☁️☁️☁️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!