Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Titah Abah Ishak
Suara mesin pesawat terasa menggelegar di telinga Rayya. Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya kembali pada kenangan-kenangan yang baru saja ia tinggalkan. Wajah Adam, kanal-kanal Amsterdam, dan aroma kopi di kafe, semua itu kini hanya menjadi bagian dari masa lalu. Ia menatap tiket di tangannya. Satu arah. Tanpa jalan kembali. Rayya tahu ia tidak akan lagi melihat Amsterdam, kota yang dulu memberinya kebebasan untuk bermimpi.
Pesawat mendarat. Rayya disambut pelukan hangat ibunya, dan tatapan penuh haru ayahnya, Kyai Rahman. Ia melihat kelelahan di mata ayahnya, kelelahan yang sama yang ia bayangkan beberapa malam lalu. Ia tahu, ayahnya menanggung beban yang tak kalah berat.
"Terima kasih sudah pulang, Nak," bisik Kyai Rahman, suaranya parau.
"Aku merindukan Ayah," jawab Rayya, menenggelamkan wajahnya di bahu sang ayah, air matanya tak lagi bisa ia bendung. Ia merasa seperti anak kecil yang baru pulang dari medan perang, mencari perlindungan. Rayya juga memeluk ibunya dengan erat. Airmatanya tak terasa menetes deras. Kerinduan pada ibunya seolah menghempas semua keresahan yang ia rasakan.
Di rumah, Kyai Rahman menceritakan semuanya, tentang janji yang ia buat dengan Abah Ishak, tentang perjodohan yang ia harapkan, dan tentang betapa pentingnya penyatuan dua pesantren ini. Rayya mendengarkan, hatinya kosong. Ia telah mengorbankan segalanya, lalu harus apalagi selain hanya bisa pasrah.
“Apakah… dia sudah tahu, Ayah?” tanya Rayya pelan, suaranya bergetar.
“Sudah, Nak. Abah Ishak sudah memberitahukan semuanya. Kau akan bertemu dengannya besok. Kami akan mengurus semuanya,” jawab Kyai Rahman, mengusap kepala putrinya.
Rayya hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahu harus merasa apa. Sedih, lelah, atau kecewa. Yang ia tahu, ia akan menikah dengan seorang pria yang bahkan belum ia kenal.
Di pesantren, Alfarizqi sedang duduk di ruang kerja ayahnya. Ia masih termenung. Abah Ishak telah membuat keputusan.
“Alfarizqi, kau tetap harus menikah dengan Rayya” Ucap Abah Ishak, suaranya tegas.
Alfarizqi terkejut. “Kenapa, Bah?”
Alfarizqi terkejut akan keputusan sepihak abahnya yang sedikit tiba-tiba.
“Ini takdir, Nak. Kita tidak bisa menolak takdir. Kyai Rahman meyakini bahwa perjodohan ini adalah takdir dari Allah. Abah juga berpikir demikian. Ada hal yang lebih besar dari perasaan pribadi. Ini adalah amanah. Amanah yang harus kau pikul.” Alfarizqi menunduk. Ia merasa seperti dihantam batu. Ia tidak bisa melanggar janji ayahnya. Ia tidak bisa mengkhianati amanah yang diberikan padanya. Hatinya hancur. Ia tahu ia akan melukai Sarah. Gadis yang sudah ia janjikan untuk ia nikahi. Ia merasa menjadi pria terburuk di dunia.
“Bagaimana dengan Sarah, Bah?”
“Abah akan urus semuanya. Ummi mu juga mengatakan bahwa kita akan bantu Sarah. Kita akan mencarikan tempat tinggal yang aman untuknya, Ummi akan membantu mengurus Sarah dan anaknya di Bustanul Huffazh ini. Abah akan pastikan ia dan anaknya memiliki kehidupan yang layak. Kita akan bantu dia sebagai manusia, bukan sebagai suami,” jawab Abah Ishak. Tak terbantahkan.
Alfarizqi menarik napas panjang, berat. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Ia harus memilih takdir yang sudah digariskan untuknya. Ia harus mengorbankan perasaannya demi kebaikan yang lebih besar.
Malam hari, Rayya sedang duduk di kamarnya. Ia memandang keluar jendela, memandangi bintang-bintang yang berkelip. Bintang yang sama yang ia pandangi di Amsterdam. Namun, rasanya berbeda. Malam ini, ia tidak lagi merasa bebas. Malam ini, ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh takdir. Berulang kali Adam menghubunginya. Rayya bukan tidak menggubris, namun
Sementara itu, Alfarizqi juga sedang memandang bintang-bintang di luar kamarnya. Hatinya begitu sakit. Ia tahu, besok ia akan bertemu dengan seorang gadis yang akan ia nikahi, seorang gadis yang tidak ia cintai. Ia merasa begitu bersalah pada Sarah, dan juga pada Rayya. Lamunannya buyar ketika pesan dari Sarah masuk.
Alfa, how are you? Keluargamu telah menghubungiku! Maaf aku sangat merepotkan mu. Aku memutuskan untuk tidak lagi melibatkanmu dalam kepentinganku. Terima kasih untuk semua upaya yang kau lakukan! Aku akan mendoakan segala kebaikan untukmu! Jangan khawatir, jika manusia bisa kapan saja meninggalkan kami, tapi bukankah katamu Allah tidak akan meninggalkan kami? Aku akan baik-baik saja. Aku dan bayiku selamanya akan baik-baik saja.
Hati Alfarizqi mencelos. Perasaan bersalah semakin menyelimutinya. Ia menatap lama layar handphone. Kalimat-kalimat yang Sarah lontarkan sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik. Ada pukulan kuat yang terasa dari sana. Ada kepedihan yang tersirat.
Sarah hanya sebatang kara. Saat ini pun wanita itu masih tinggal di apartemen miliknya di kota Thaif setelah ia diusir oleh keluarganya. Alfarizqi masih mengiriminya uang secara rutin. Lalu Sarah memutuskan semua begitu saja? Apa yang ada di dalam benaknya?
Tidak Sarah. Kau harus ke Indonesia. Kita harus menyelesaikan semua ini dengan solusi dan cara terbaik! Tegas Alfa melalui pesan singkatnya. Ia pun mematikan ponselnya. Entah kenapa ada perasaan tak rela jika Sarah pergi. Apa itu artinya ia memang memandang Sarah seperti seorang laki-laki memandang seorang wanita?
Astaghfirullah… Alfarizqi beristigfar. Ia merasa setan semakin mempermainkan perasaannya. Ia harus ke mushala untuk shalat malam agar perasaannya tenang.
Alfarizqi melangkah keluar dari kamarnya menuju mushala. Udara malam pesantren terasa dingin, namun tak sedingin hatinya. Ia ingin menenangkan pikirannya, memohon petunjuk dari Allah. Di kejauhan, sebagian para santriwati yang juga akan shalat tahajud tak pernah absen memperhatikan Alfarizqi, sosok yang mereka kagumi.
"Gus Alfa lagi galau, ya?" bisik salah satu santriwati. "Biasanya kan malam-malam gini dia lagi di perpustakaan, bukan jalan sendirian."
"Hush, jangan asal ngomong, namanya aja seorang Gus, ya jam segini pasti shalat malam" timpal yang lain.
“Gus Alfarizqi kan manusia, wajar kalau ada masalah."
“Duuuh gantengnya masya Allah. Mau suami begitu satu ya Allah” Gumam lainnya.
“Hhhhh… Kuperingatkan agar kalian jangan banyak menghalu!! Kita kesini mau shalat bukan bergosip!” Rumanah yang tergabung bersama mereka mendesah panjang dan berlalu meninggalkan barisan.
“Rumanah kenapa ya?”
“Iya, memangnya salah kita apa?”
Yang lain mengangkat bahu tak mengerti. Mereka memilih bubar barisan dan kembali ke tujuan semula. Yaitu shalat tahajud bersama.
Alfarizqi masuk ke mushala setelah berwudhu’. Ia sedikit terkejut ada abah di sana. Biasanya Abah menghidupkan shalat malam di mesjid utama. Bukan di mushala dekat kamarnya. Setelah shalat tahajud ia menghampiri Abah dan melakukan salam takzim.
“Abah sengaja shalat di sini untuk menemuimu nak!” Buka abah.
“Abah bisa memanggil Alfa melalui telepon, Alfa akan langsung menemui abah. Malam ini sangat dingin, abah bisa masuk angin!”
“Tidak apa nak, biar abah yang menemuimu! Mari kita duduk di sudut itu sembari menunggu adzan subuh”
Alfarizqi mengikuti keinginan abahnya. Dengan penuh hormat ia menuntun tokoh sentral pesantren Bustanul Huffazh itu untuk duduk lesehan bersama.
“Nak, Ummi mu sudah membelikan tiket untuk Sarah! 3 hari lagi Sarah akan tiba di tanah air bersama para Khadimah yang abah tunjuk untuk menuntun nya kesini!”
Deg. Jantung Alfarizqi berdegup. Sebentar lagi ia akan bertemu Sarah.
“Kau jangan risau lagi! Besok kau hanya harus fokus pada persiapan pernikahanmu!” Titah Abah Ishak.
...****************...
IG: @alana.alisha
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣