Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kruyuk Tapi Bukan Suara Ayam
Safira tidak bisa menaikan wajah barang sebentar, perempuan itu membuang muka ke arah jendela. Benaknya berkecambuk oleh perasaan bersalah karena telah menuduh sembarangan pada Ashqar juga Rahma. Dia merutuki kebiasaan buruknya yang mudah salah paham dan cepat menyimpulkan segalah sesuatu terburu-buru.
Safira membentuk garis-garis abstrak di kaca yang berembun dengan telunjuknya. Hujan tiba-tiba saja turun ketika mobil Ashqar baru akan keluar dari halaman panti asuhan.
“Minta maaf nggak, ya? Kalau minta maaf, gengsi, sih. Tapi … kalau nggak minta maaf rasanya kayak ada yang ngeganjel,” batin Safira galau. “Duh! Nggak tahu, ah!”
“Dasar nggak waras,” bisik Ashqar ketika melihat Safira mengacak surai ungunya.
Safira menoleh. “Hah? Kamu bilang sesuatu?” Dia sepertinya mendengar Ashqar bicara sesuatu. Namun, Ashqar kembali diam seakan-akan tidak pernah mengatakan apapun.
Safira melirik-lirik Ashqar bimbang ketika pria itu masih betah dalam bisunya. “Eum … itu, maaf.” Safira menarik napas dan mengehembuskannya cepat. “Aku minta maaf buat kemaren malam dan hari ini. Maaf udah nuduh sembarangan.”
“Baguslah kalau kamu sadar.”
Mendengar nada ketus Ashqar, Safira hanya bisa meringis. Dia tidak punya nyali mendebat Ashqar dengan posisinya sekarang. “Dan masalah polisi ….”
Ashqar melirik Safira dari sudut matanya. “Lihat aja nanti.”
Saat Ashqar melihat Safira merengut, dia menjadi tidak tega. Setidaknya perempuan itu sudah berinsiatif meminta maaf, terlebih dia juga sudah merawat Zain. “Nggak usah khawatir, aku nggak akan memenjarakan kamu.”
Safira tidak bisa menyenbunyikan senyum lega di wajahnya. Bayangan tentang baju tahanan, sel penjara, dan kehidupan sebagai narapidana seketika lenyap tak bersisa dari benaknya.
“Makasih,” ucap Safira, tidak menutupi perasaan hatinya.
Wajah Ashqar dipoles kemerahan ketika Safira memandangnya dengan senyum penuh dan bingar yang belum luntur dari wajah perempuan itu. Segera Ashqar mengalihkan pandangan kembali ke jalanan ketika gugup menyergap tanpa tedeng aling-aling.
Kesunyian menyelimuti Ashqar dan Safira untuk beberapa saat. Kemudian Ashqar bertanya ketika berbelok di pertigaan, “Zain … apa anak itu baik-baik aja?”
Safira menoleh, dahinya berkerut. Dengan siapa Ashqar bertanya? Dan apa maksud dari pertanyaannya? Jelas-jelas pria itu semalam bertemu dengan Alvin dan Zain.
“Apa yang sering dia lakukan? Apa makanan kesukaannya?”
Safira gelagapan ketika Ashqar menoleh ke arahnya. “Itu … dia hanya membuntuti Alvin ke sana kemari.” Safira mencoba mengingat apa saja yang biasanya kerucil-kerucil itu lakukan.
“Mereka terbiasa mencuci piring setelah makan, Alvin bagian menyabuni sementara Zain membilas. Lalu mereka paling suka tayangan kartun. Alvin paling suka kue pukis, sementara Zain kembang gula. Sebelum tidur mereka membaca hafalan surat pendek.”
Diam-diam Ashqar tersenyum tipis mendengar penjelasan Safira. Sepertinya perempuan menyebalkan ini cukup perhatian juga dengan anak-anak.
“Aku penasaran, kenapa Zain manggil kamu mamah?”
Safira menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kepala jok, memandang jalanan basah yang mendesah digilas roda-roda kendaraan. “Aku juga sama penasarannya, apa kamu pikir aku mirip dengan mamahnya Zain?” tanya Safira, menolehkan wajah tepat ketika Ashqar melakukan hal yang sama.
Keduanya tertegun untuk beberapa saat. Manik mata Ashqar yang tak sengaja bertemu dengan manik Safira menghantarkan gelenyar tak biasa, membuat suasana tiba-tiba rapat. Sampai suara klakson dari mobil di belakang menyadarkan Ashqar dan membuat pria itu refleks menginjak pedal rem.
Ashqar buru-buru menepikan mobil. Apa yang baru saja terjadi sangat berbahaya dan bisa-bisa membawa mereka berdua ke bangsal rumah sakit terdekat. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Ashqar setelah mobilnya berhenti di sisi trotoar.
Safira menggeleng, rasa kaget belum pergi dari dadanya. “Tadi hampir aja, untung—”
Kruyuk!
Safira dan Ashqar sama-sama saling lirik ketika suara perut Safira berbunyi nyaring. “Dasar dudul! Ngapain bunyi di saat begini, sih! Bikin malu aja,” batin Safira mengomel.
“Mau makan dulu? Aku yang traktir, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karena udah merawat Zain.”
Safira memandang Ashqar dengan tatapan tak terbaca. “Apa yang udah aku lakukan untuk Zain dan rasa sayangku untuk dia, bukan untuk ditukar dengan sepiring makanan.”