**
Luna tak pernah bahagia dalam hidupnya. Ia selalu merasa, kesialan yang menimpa keluarganya disebabkan keluarga sepupunya, Tina dan Bianca. Ia bahkan harus bekerja sebagai bawahan ayah Tina. Ketika membuat sepatu untuk pernikahan Tina, Luna tidak sengaja bertemu dengan Ariel, si playboy yang suka mempermainkan wanita. Awalnya, Luna tak mau meladeni playboy tampan itu, hingga akhirnya dia luluh pada rayuannya.
**
Ariel memutuskan untuk tidak menganggap serius cinta sejak dikhianati oleh perempuan yang pernah dicintainya. Lalu ia bertemu Ayu, wanita misterius yang membuatnya penasaran karena sepertinya gadis itu tak jatuh dalam pesona rayunya. Namun, Ayu ternyata menyimpan rahasia besar tentang hidupnya, rahasia yang membuat Ariel harus mempertanyakan kejujuran wanita itu.
Setelah kebenaran terungkap, Luna--;yang semula mengaku bernama Ayu-- dan Ariel harus mempertanyakan apakah cinta sanggup menjadikan mereka orang yang lebih baik untuk satu sama lain.
**
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Surabaya, 18 September 2009
Begitu pintu lift khusus untuk lantai penthouse terbuka di depannya, Luna langsung menekuk wajahnya seserius mungkin sambil berkacak pinggang. Untuk beberapa detik ia terkejut mendapati Ariel yang sudah pasang badan gaya senyum super manis di depannya. Satu tangan mendekap dada sementara tangan yang lain memainkan telinganya yang bertindik.
"Ada apa menyuruhku datang kemari setelah jam pulang kerja?" ucap Luna ketus setelah menghela napas panjang.
Ariel melambaikan tangannya sambil lalu. "Ah... sudahlah, masuk dulu. Kamu ini sedikit-sedikit ketus." Sebelum pintu lift menutup kembali, Ariel cepat-cepat menekan tombol membuka, lalu dengan tangannya yang lain, ia menarik salah satu lengan Luna yang masih berkacak pinggang membuat Luna terpaksa melangkah masuk.
"Kamu lupa sekarang tanggal berapa?" tanya Ariel lembut tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia setengah menyeret Luna sampai mereka melangkah mendekati area ruang makan.
"Tanggal delapan belas."
"Kamu benar-benar lupa ini hari apa?"
Luna menghela napas kesal. Ia melangkah berat dan dengan tidak sabar menjawab pertanyaan Ariel asal-asalan. "Hari Kamis."
Tiba-tiba Ariel membalikkan tubuh dan menarik Luna hingga begitu dekat dengan tubuhnya.
Tanpa Luna sadari ia sudah berada di dalam pelukan Ariel. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Ariel. Ia bisa mencium aroma aftershave yang familiar. Luna terpaku menatap bibir Ariel, membayangkan momen terakhir kali lelaki itu menariknya seperti saat ini, membayangkan sapuan bibir Ariel di bibirnya, juga sensasi lembut saat lidah mereka saling menjelajahi...
"Hari ini kita sebulan loh," bisik Ariel membuyarkan bayangan Luna.
"Se-sebulan apa?" Luna tergagap dengan mata masih terpaku kepada bibir Ariel, sambil menelan ludahnya sendiri tanpa ia sadari.
Beberapa detik kemudian, apa yang Luna bayangkan menjadi kenyataan. Ariel mempererat dekapannya. Sedikit mengangkat tubuh Luna agar bibir mereka saling menyatu. Dan seakan Luna sudah terbiasa, kedua tangannya refleks terangkat dan bergelayut di leher Ariel.
Tas yang ia cangklongkan di bahunya tidak menjadi halangan baginya. Keduanya berciuman seakan mereka telah saling merindukan selama berpuluh tahun. Luna mengerang senang saat kedua tangan Ariel bergerak menyusuri tubuhnya. Rasanya ia benar-benar kehilangan kesadaran dan hanya tahu kalau napasnya mulai memburu.
Entah siapa yang mengakhiri, yang jelas Luna melenguh kecewa saat tautan bibir mereka terpisah. Dengan kedua tangan masih merangkul leher Ariel dan lengan Ariel memeluk erat tubuhnya, Luna menatap mata Ariel dengan tatapan mendamba.
Senyum lebar menghiasi wajah Ariel. "Hari ini peringatan sebulan kamu menjadi properti milikku, Ayu." Napas Ariel yang sedikit terengah tidak membuat lelaki itu menjijikan baginya. Luna malah semakin merasa Ariel semakin seksi.
Aduh? Apa? Seksi?
Tanpa sadar Luna menepuk dahinya sendiri. Pikirannya mulai gila! Semakin lama ia bisa semakin gila memikirkan laki-laki yang sudah mengambil miliknya yang paling berharga sebagai seorang wanita.
"Aku bukan propertimu. Dan jangan panggil akh Ayu!" Luna melepaskan rangkulannya dari leher Ariel dan memukul dadanya. Ia menggeliat, berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Ariel.
"Schatz," bisik Ariel yang malah makin mempererat dekapannya. Alih-alih melepaskan wanita itu, Ariel malah mendaratkan bibirnya ke telinga kanan Luna yang sudah terhuyung.
"Apa sih?" geliat Luna geli.
Ariel makin menunduk dan menempelkan bibirnya ke balik telinga Luna. "Kamu nggak mau dipanggil Ayu, jadi sekarang aku panggil kamu 'schatz'."
Pasrah karena tidak bisa bergerak banyak, akhirnya Luna mendesah dalam pelukan Ariel. "Apa itu schatz?"
Melihat lawannya menyerah pasrah, Ariel terkikik geli. Ia makin mempererat dekapannya lalu mendaratkan kecupan ke pipi Luna sebelum wanita itu terperanjat kaget.
"Cari saja sendiri artinya." Ariel melepaskan dekapannya secepat ia menarik bibirnya dari pipi mulus Luna, membuat bibir Luna cemberut lagi.
"Hari ini aku merencanakan makan malam rumahan. Kita berdua akan berkolaborasi di dapur," kata Ariel, tubuhnya bergeser dari hadapan Luna agar wanita itu dapat melihat beberapa bahan makanan mentah yang sudah ia siapkan diatas meja dapur.
Kerutan yang muncul akibat Luna terperanjat kaget membuat Ariel tersenyum.
"A-aku nggak bisa masak..." kata Luna menunjuk bahan makanan mentah tersebut. Luna mengalihkan pandangannya ke Ariel. "Aku nggak pura-pura. Aku benar-benar nggak bisa masak."
"Sama sekali nggak pernah?" Ariel menatap tidak percaya.
"Iya. Mana pernah aku memasak. Mencuci piring aja nggak pernah. Jadi, aku harus memotong segala macam benda ini ya?"
Ariel beranjak meninggalkan Luna dan berdiri di balik meja dapur. Tangannya meraih seikat seledri yang tergeletak disebelah daging sapi beserta bahan-bahan lainnya. "Apa kamu nggak merasa romantis jika kita bisa masak bersama? Meski kamu nggak bisa masak, kan ada aku."
Luna memutar bola matanya seakan Ariel sangat menyebalkan. "Aku nggak bisa melakukan pekerjaan rumah! Harus kubilang berapa kali sih?" Untuk menunjukkan rasa kesalnya, Luna mengangkat kedua tangan dan memperlihatkan ekspresi seakan ingin meremas Ariel saat itu juga.
Tidak mau kalah setelah melihat ekspresi lucu Luna,. Ariel ikut-ikutan menunjukan kegemasannya. Sambil tersenyum manis, Ariel menghampiri Luna dan mencubit pipi gadis itu sampai memekik sakit. Dengan gerakan cepat, Ariel lalu mendaratkan ciuman ringan.
Luna mengerjap kaget. Bibirnya mau tidak mau berusaha keras menahan senyum. Sedikit demi sedikit Luna mulai menyukai tingkah rayuan yang Ariel tujukan padanya. Sambil mengulum senyum, Luna mengangkat dagunya ke atas agar tidak terlihat terlalu senang.
"Selama seminggu di Jakarta kamu asik dengan si Luna ceking ya? Sama sekali nggak ada kabar setelah kamu meneleponku dari Bali. Siapa ya yang berjanji bakal menelepon begitu mendarat di Jakarta? Eh, nggak tahunya malah menghilang seminggu. Tiba-tiba langsung muncul dan minta yang aneh-aneh," omel Luna sambil sengaja membanting pelan sikat sayuran yang ia tidak tahu apa namanya ke meja dapur.
"Aku harus menunggu Abel kembali, schatz. Dia membantu masalah yang sedang dihadapi Bayu dan juga membantu hubungan papaku dengan Om Hadi, orang tua Bayu. Mereka marah besar dengan apa yang sudah terjadi dengan Bella. Aku jadi harus menangani beberapa pekerjaan Abel."
Luna mengerutkan dahi penasaran. Ia tidak begitu mengenal Bella. Mereka hanya berbincang-bincang sebentar di hari pernikahan Tina. Ia hanya bisa menangkap kesan lamban dan lugu dari sosok Bella. Saat itu ia sedikit berharap bisa seberuntung Bella, mempunyai saudara perempuan dan keluarga lengkap, tidak perlu bersusah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan setelah menikah cukup berpangku tangan menunggu suami pulang dari mencari uang.
Sekarang setelah mendengar gosip terkini dari mama Lisa, yang sudah mendapat cerita lengkap dari Tante Laura, ternyata hidup Bella tidak sesempurna yang ia bayangkan.
"Nah!" Ariel menepukkan tangan di depan wajah Luna. "Sebelum aku lupa, sebaiknya aku mengatakannya sekarang..."
"Mengatakan apa?" tanya Luna pemasaran.
"Aku mau memesan sepasang sepatu handmade."
"Untuk siapa?" kening Luna berkerut curiga.
"Untuk mamaku," jawab Ariel cepat.
"Ukuran berapa? Biasanya aku ukur langsung kakinya karena kaki kanan dan kiri manusia itu tidak selalu sama. Terus mau model bagaimana? Bahan apa?"
****___****
Jangan lupa Like nya ya 🤗