NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Melawan Orang Sendiri

Api kemarahan di dada Farzhan Ibrahim sudah membara hebat dan sulit dibendung. Namun, sebagai seorang pemimpin yang cerdas, tenang, dan selalu berpikir jernih, ia sadar bahwa berteriak atau meledak dalam amarah buta sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus bermain catur dengan strategi matang, menebak langkah lawan, dan memastikan setiap gerakannya membawa kemenangan. Dan kali ini, yang menjadi lawan bukanlah orang asing atau pesaing dari luar, melainkan orang-orang yang selama ini ia percayai, orang-orang yang bekerja di bawah naungan perusahaan yang ia kembangkan sendiri.

Perang melawan orang sendiri pun resmi dimulai.

Pagi itu, Farzhan memanggil seluruh jajaran manajer dan kepala divisi untuk mengikuti rapat darurat. Tidak ada pemberitahuan sehari sebelumnya, tidak ada agenda yang dikirimkan, dan tidak ada tanda-tanda apa pun. Ia sengaja melakukannya agar semua orang lengah, terkejut, dan tidak sempat menyusun alasan atau menyembunyikan jejak.

Saat semua orang berkumpul dan duduk di kursi masing-masing, suasana ruangan terasa berat dan penuh ketegangan. Farzhan berdiri tegak di depan papan tulis besar dengan wajah yang datar, dingin, dan tanpa ekspresi, namun sepasang matanya sedingin es, menatap tajam ke arah setiap wajah yang ada di sana. Di atas meja panjang di hadapannya, sudah tertumpuk rapi berkas-berkas tebal yang terikat rapi, berisi bukti-bukti yang ia kumpulkan diam-diam selama berminggu-minggu.

"Duduk," perintahnya singkat, namun suaranya cukup jelas dan membuat seisi ruangan seketika hening total.

"Hari ini kita tidak akan membahas target pemasukan, jadwal syuting, atau rencana pemasaran," kata Farzhan memulai, suaranya rendah namun berat dan menggema ke seluruh penjuru ruangan. "Hari ini kita hanya membahas satu topik saja: soal pengkhianatan."

Napas semua orang seakan tertahan di tenggorokan. Mereka saling pandang dengan bingung dan cemas. Di sisi seberang meja, Pak Herman — sosok yang menjadi otak utama di balik segala intrik dan rencana kotor itu — mencoba memasang wajah tenang dan bingung, meski di bawah meja kedua tangannya terlihat gemetar hebat dan berkeringat dingin.

"Selama beberapa bulan terakhir, tercatat ada aliran dana yang sangat tidak wajar keluar dari kas perusahaan," lanjut Farzhan, matanya tidak lepas menatap tajam tepat ke arah Pak Herman. "Uang yang seharusnya dialokasikan untuk keperluan produksi dan pengembangan proyek, ternyata masuk ke rekening pribadi beberapa orang yang duduk di ruangan ini. Benar bukan, Pak Herman?"

Pak Herman tersentak kaget, tubuhnya sedikit tersentuh ke belakang.

"E-eh... apa maksud pertanyaan Bapak? Itu... itu kan biaya operasional yang sah dan..." jawabnya terbata-bata, berusaha mencari kata-kata untuk membela diri.

"Operasional apa yang bisa menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk sewa alat yang harganya sudah ditetapkan standarnya?" potong Farzhan cepat, tajam, dan tanpa ampun. Ia mengambil satu berkas tebal di depannya, lalu melemparkannya dengan keras tepat ke hadapan Pak Herman.

BRAK!

"Itu adalah bukti transfer yang sah. Itu salinan percakapan pesan dan surat elektronik yang menyatakan kesepakatan. Dan itu..."

Farzhan menunjuk dokumen lain, "...adalah laporan lengkap dari tim keamanan internal soal pertemuan rahasia Bapak dengan perwakilan perusahaan kompetitor di sebuah hotel minggu lalu."

DEGG!

Wajah Pak Herman seketika berubah menjadi pucat pasi, darahnya seolah habis mengalir ke tempat lain. Keringat dingin mulai membasahi seluruh punggung dan dahinya. Orang-orang lain yang ternyata juga terlibat dalam konspirasi itu mulai saling pandang dengan wajah panik dan ketakutan. Mereka sama sekali tidak menyangka Farzhan sudah mengetahui segalanya, bahkan memiliki bukti yang sejelas dan selengkap ini.

"Jadi, jangan pernah coba-coba membohongi saya atau beralasan hal-hal yang tidak masuk akal," lanjut Farzhan dengan nada dingin dan tegas.

"Saya tahu segalanya. Saya tahu siapa yang berusaha mengubah naskah cerita tanpa izin. Saya tahu siapa yang sengaja menghambat pencairan dana. Dan saya tahu siapa yang bekerja sama dengan pihak luar untuk menjatuhkan perusahaan ini dari dalam."

Farzhan berjalan mondar-mandir perlahan di depan meja rapat yang panjang itu, tatapannya menyapu satu per satu wajah orang-orang yang duduk di sana, seolah sedang menghakimi mereka satu per satu.

"Kalian pikir saya ini buta? Kalian pikir karena saya kadang sibuk mengurus urusan pribadi dan rumah tangga, kalian bisa seenaknya mencuri, menipu, dan merusak apa yang saya bangun? Kalian salah besar."

Di luar dugaan semua orang, ternyata Nabila juga hadir di ruangan itu. Ia datang dengan wajah sombong dan angkuh, berpikir bahwa dengan kekuatan uang dan posisinya sebagai investor besar, ia bisa menekan Farzhan dan membuatnya tunduk.

"Semua ini kan sebenarnya demi kebaikan perusahaan juga, Pak Farzhan," potong Nabila dengan nada suara tinggi dan penuh tantangan.

"Kami hanya ingin melakukan efisiensi dan perbaikan. Lagipula, Bapak kan sudah punya istri dan keluarga, sebaiknya Bapak lebih fokus ke urusan rumah saja dan serahkan urusan bisnis ke orang yang lebih..."

"Berani sekali kamu berbicara seperti itu di tempat ini," potong Farzhan tiba-tiba, tatapannya begitu mematikan hingga membuat kata-kata Nabila terhenti di mulut. Ia berjalan mendekati wanita itu perlahan, membuat Nabila mundur selangkah karena ketakutan.

"Kamu datang ke sini sebagai mitra dan investor, tapi malah bermain politik kotor serta memelihara dendam pribadi. Hanya karena kamu ditolak oleh saya, kamu berniat menghancurkan perusahaan ini dan menyusahkan ratusan karyawan yang bekerja di sini? Itu cara berpikir orang yang bodoh sekali," kata Farzhan dengan nada pedas dan tegas.

"Dan ingatlah baik-baik, nanti kamu juga yang akan rugi besar. Uang yang kamu tanamkan di sini akan hangus habis kalau perusahaan ini kacau atau bangkrut karena ulahmu sendiri. Dan satu hal lagi: status saya sudah menikah itu sama sekali bukan kelemahan. Itu justru menjadi kekuatan terbesar saya. Karena saya punya alasan yang sangat kuat untuk menjaga segala sesuatu tetap berjalan benar, jujur, dan baik, demi masa depan saya dan demi istri saya."

Farzhan kembali berjalan tegap ke posisinya di depan ruangan, lalu menekan tombol interkom di meja.

"Zikri, masukkan tim hukum dan keamanan ke dalam ruangan sekarang."

Pintu ruangan terbuka lebar. Beberapa orang berjas hitam — anggota tim keamanan — dan dua orang pengacara perusahaan masuk dengan membawa berkas-berkas gugatan hukum.

"Pak Herman, dan rekan-rekan Bapak yang terlibat langsung maupun tidak langsung," ucap Farzhan tegas sambil menunjuk mereka satu per satu dengan jari telunjuknya yang kaku. "Dengan ini saya nyatakan kalian dipecat dengan tidak hormat, efektif mulai hari ini juga. Dan kalian akan segera menghadapi tuntutan pidana maupun perdata atas kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan pengkhianatan kepercayaan."

"AMPUN, PAK! TOLONG, PAK! BERIKAN KAMI KESEMPATAN SEKALI LAGI!" teriak Pak Herman panik, ia jatuh terduduk dari kursinya berusaha merangkak memohon ampun.

"KAMI MENYESAL! KAMI TERPAKSA MELAKUKANNYA KARENA TEKANAN EKONOMI!"

"Tidak ada ampun dan tidak ada kesempatan kedua," jawab Farzhan dingin tanpa ada sedikit pun rasa belas kasih di wajahnya. "Kalian sudah merusak kepercayaan yang saya berikan begitu besar. Dan orang yang sudah berkhianat sekali, pasti akan berkhianat berkali-kali kalau diberi kesempatan lagi."

Mereka pun digiring keluar oleh petugas keamanan dengan wajah hancur, menangis, dan terus memohon, namun tidak ada yang mendengarkan lagi. Nabila berdiri terpaku di tempat, tubuhnya gemetar hebat karena baru menyadari bahwa ia telah bermain api dengan orang yang salah. Ia baru benar-benar paham betapa besarnya kekuatan, kecerdasan, dan ketegasan Farzhan Ibrahim yang selama ini ia remehkan.

"Dan kamu, Nabila," Farzhan berbalik menatap wanita itu.

"Pilihan ada sepenuhnya di tanganmu sekarang. Mau kamu tarik kembali investasimu dan pergi dari sini dengan sisa harga dirimu, atau kamu mau ikut masuk ke ruang sidang pengadilan karena terbukti terlibat dalam konspirasi dan perusakan perusahaan ini."

Nabila menelan ludah susah payah, matanya berkaca-kaca antara rasa marah, malu, dan ketakutan yang luar biasa.

"S-saya... saya akan pertimbangkan keputusan itu dengan baik..." jawabnya terbata-bata.

"Pikirkan dengan cepat. Saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu," potong Farzhan dingin.

Rapat pun ditutup dengan kemenangan mutlak di pihak Farzhan. Musuh-musuh yang bersarang di dalam tubuh perusahaan sudah berhasil dibersihkan tuntas. Ibarat memotong benang yang kusut dan berantakan, ia memutuskan simpul-simpul itu dengan sangat tegas dan berani agar tidak merepotkan atau merusak apa pun lagi di kemudian hari.

Saat ruangan rapat sudah kosong dan sepi, Farzhan menyandarkan tubuhnya lemas ke kursi besarnya, lalu menghela napas panjang melepaskan segala ketegangan dan rasa lelahnya. Pertempuran ini memang sangat melelahkan, apalagi harus melawan orang-orang yang selama ini dianggap rekan dan teman sendiri. Tapi ia sadar, itu semua harus ia lakukan demi kebaikan bersama.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, lalu menatap lama foto Vira yang tersenyum manis dan tulus di layar kunci ponselnya.

"Vi... aku menang hari ini. Aku sudah membersihkan semua sampah dan kotoran itu supaya perusahaan ini tetap berjalan benar dan aman. Supaya nanti masa depan kita juga terjamin dan aman," bisiknya pelan, senyum tipis namun hangat terukir di wajahnya yang lelah.

"Dan buktinya... rasa sayang dan cintaku padamu itu tidak membuatku menjadi lemah. Justru sebaliknya, itu membuatku menjadi jauh lebih kuat, jauh lebih tegas, dan jauh lebih berani dari sebelumnya."

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!