Aku masih mengingat beberapa bulan yang lalu, aku bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi. Setelah mengalami patah hati terburuk sepanjang hidup aku, 5 hari lamanya aku berteman alkohol, dan air mineral, tidak sesuap nasi pun masuk ke lambung ku. Tiba-tiba aku suka membenturkan kepalaku ke dinding agar aku bisa lupa tentangmu.
Aku Farel pria dari keluarga biasa, hidup susah memiliki pacar bernama Joanna yang kemudian meninggalkan aku dan memilih Dave pria kaya, aku memiliki banyak kenangan dengan Joanna, bahkan Ibu dan Ayahku sudah sangat sayang kepadanya.
Aku patah hati setelah dia meninggalkan aku, seorang perempuan bernama Naina yang sudah lama memendam cinta kepadaku mengobati kesepian dan sakit hatiku, Ibuku dan Ayahku mendukung aku untuk menikahi Naina.
Aku mencoba mencintai Naina, apakah aku bisa mencintai Naina seperti saat aku mencintai Joanna?
Aku bekerja dengan Seorang Mafia Kaya raya, dan aku baru tahu kalau Joanna menikah dengan anak Bos ku, aku berniat balas dendam untuk menghancurkan mereka, apakah bisa aku menghancurkan Mafia besar seperti Pak March? Pak March memilik Putri yang sangat sombong dan jutek, bagaimana kisahku dengan Paula nanti? Jangan lupa like yah.terimahkas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartinA Felicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka
Aku membawa Bu Karmila malam-malam sekali beserta sebuah tas tempat pakaian dan barang yang mungkin dia perlukan, aku sengaja mengenakan masker agar orang tidak mengenaliku, aku menutupi plat motorku agar tidak ada yang tahu akulah yang membawanya keluar dari rumah itu.
“Bu, aku tidak bisa mengobati luka di kaki ibu dulu, nanti saja yah sesampainya di rumah Naina.” Ucapku sambil mengemudi motorku.
“Ya Nak, terimahkasih banyak.” Ucapnya.
Setibanya di rumah Naina, Naina langsung membukakan pintu setelah mendengar suara motorku, dia melihat dengan perasaan sangat iba.
“Silahkan masuk Bu, Mas.” Ucapnya.
Aku dan Ibu Karmila masuk ke dalam rumah Naina, aku pandangi tidak ada satupun orang di dalam rumah Naina.
“Nek Sum dimana?” Tanyaku.
“Dia tidur di rumahnya, dia tidur di sini hanya saat aku minta tolong doang untuk ditemani.” Ucap Naina.
“Berarti aman.” Jawabku sambil menutup pintu rumah Naina, Naina sedikit heran dan bingung kenapa sepertinya aku tampak takut.
“Ada apa Mas?” Tanyanya lagi.
“Naina, ini adalah ibu Karmila, tapi mas mohon jangan sebut namanya Bu Karmila di depan orang lain, sebut saja namanya Bu Ani, dia disiksa oleh saudaranya, dan anaknya saat ini sakit dan berada di Rumah Sakit Jiwa, Mas minta tolong jangan ceritakan hal ini kepada siapapun termasuk Nek Sum.” Ucapku.
“Memangnya kenapa Mas?” Tanya Naina penasaran.
“Karena pasti ada orang jahat yang akan mencari Bu Karmila sampai ketemu, aku tidak mau keselamatanmu jadi taruhannya, dan Mas minta tolong... supaya Bu Karmila tidak keluar dari rumah tanpa penyamaran, Bu Karmila bisa pakai hijab atau tahi lalat dan kacamata agar tidak ada yang mengenalinya.” Ucapku lagi.
“Baik Mas, Naina akan mengusahakan agar Bu Karmila aman di sini, Mas juga hati-hati dan jaga keselamatan Mas yah.” Ucap Naina.
“Iya Naina, Mas beruntung sekali punya calon isteri yang seperti kamu, oh ya Bu... kenalin ini Naina, calon isteriku.” Ucapku memperkenalkan Naina kepada Bu Karmila.
“Salam kenal Bu.” Sapa Naina.
“Makasih Nak, kamu sudah berikan ibu tumpangan di rumah kamu ini, kalau gak ada kamu... ibu bingung mau tinggal dimana sementara ini.” Ucap Ibu Karmila.
“Bu, jangan cemas yah, saya akan lindungin ibu di rumah ini, ibu jangan sungkan yah sama Naina, Naina akan carikan kacamata besok di pasar untuk penyamaran ibu.” Ucap Naina.
“Terimahkasih Nak, tapi kamu cuma seorang diri di rumah ini?” Tanya Bu Karmila.
“Kedua orangtuaku sudah tiada Bu, Ayahku meninggal dan ibuku juga sudah meninggal tapi aku tidak tahu bagaimana rupa ibuku, yang aku tahu kata ayahku, dia meninggal.” Ucap Naina.
“Yang sabar ya Nak, Tuhan pasti punya rencana untuk hidupmu, ibu sangat yakin itu.” Ucap Bu Karmila.
“Ya bu, ibu istirahat saja yah, sudah malam banget, besok saja baju-baju ibu kita beresin ke dalam lemari. Tapi kaki ibu terluka, memangnya mereka melukai kaki ibu juga?” Ucap Naina.
“Iya, anggota dajjal itu menyeret ibu ke dapur, membantingkan kepala ibu.” Ucap Bu Karmila.
Naina gak tahan mendengar kekerasan seperti itu, dia langsung mengambilkan obat luka dan mengobati luka Bu Karmila dengan penuh kasih sayang..
“Kalau begitu Mas pulang saja ya Naina, kalau ada apa-apa beritahukan Mas. Bu Kar, Farel pulang dulu yah.” Ucapku pamit.
“Ya Nak, terimahkasih banyak yah, sekarang ibu baru yakin kalau kamu anak yang baik, maafin ibu sempat tidak percaya, Nak... anak lelaki ibu saat ini sedang di asrama sekolah, ibu sengaja memasukkannya di asrama agar dia aman, dan tidak ada yang bisa menyakitinya, kalau kamu sempat... tolong jumpain anak ibu di asrama, katakan padanya kalau ibu sudah pindah dari rumah lama, atau sampaikan surat yang akan ibu tulis.” Ucap Bu Karmila.
“Baik Bu, nanti Farel atur waktu dulu yah, Farel kerja jadi gak banyak waktu... Farel pamit yah.” Ucapku lalu meninggalkan rumah Naina dan kembali ke rumah.
***
Aku telah sampai di rumah, Ayahku sudah tidur sedangkan ibuku masih berjaga menunggui aku, dia duduk di sebuah kursi untuk menanti kepulanganku, padahal tadi aku sudah mengirimkan dia pesan agar tidur duluan.
Saat mendengar suara motorku di depan rumah, dia langsung membukakan pintu untuk aku, dia tersenyum sama seperti Nainaku.
“Kamu lama sekali pulangnya Nak, ibu khawatir sama kamu, kamu masukkan motornya, di luar sangat dingin, ibu buatin teh hangat.” Ucapnya terdengar khawatir.
“Gak usah Bu, Farel mau langsung bersih-bersih dan tidur, gak usah buatin teh.” Ucapku menolak.
“Ibu takut kamu masuk angin, gak apa-apa. Kamu masuk dulu, ibu buatkan sebentar doang.” Ucapnya dengan sigap melangkah ke dapur menyeduh teh hangat untukku.
“Ibuku memang ibu paling baik di dunia.” Pujiku sambil memasukkan motor, dan mengunci pintu.
“Ini teh nya sudah siap, satu menit doang kan ibu buatkan, kamu minum yah mumpung hangat.” Ucap Ibuku.
Aku meminum teh buatan ibuku, aku menikmatinya, aku beruntung setidaknya aku masih bisa merasakan teh buatan ibu kandungku.
“Bu, terimahkasih yah... ibu adalah ibu terbaik di dunia ini, saat Farel down ibu ada untuk Farel, saat Farel bahagiapun Ibu selalu ada, Farel merasa kalau Ibu adalah harta yang paling berharga.” Ucapku.
“Kamu ini bisa aja yah, untungnya ibu ini bukan calon isterimu, mendengar gombalan seperti ini pasti Naina hanyut tenggelam.” Ucap Ibuku sambil tersenyum.
“Bu, Farel gak menggombal, Farel serius. Farel sayang Ibu.” Ucapku.
“Kamu bersih-bersih, lalu tidur ya Nak. Ibu juga mau tidur.” Ucap ibuku.
Aku menganggukkan kepalaku bertanda setuju, lalu aku masuk ke dalam kamar setelah menikmati teh sampai habis, aku mandi dan membersihkan tubuhku dari dosa Pak March Jacob, kemudian mengganti baju.
Aku merebahkan tubuhku di kasurku, aku mengingat Bu Karmila dan menbayangkan penderitaannya. Aku masih ingat saat dia menangis dan menceritakan tentang kehidupannya dan anak-anaknya.
“Bahkan Bajing*n itu tega memperk*sa anak saudara perempuannya, dimana letak hati dan otaknya? Kenapa dia bisa merusak masa depan anak Bu Karmila? Dan aku tidak akan membiarkan dia memperlakukan banyak orang seperti memperlakukan Bu Karmila.” Ucapku dalam hati.
Aku melirik jam sudah menujukkan pukul 11.40 malam, aku akhirnya memejamkan mataku untuk tidur, besok aku harus bekerja dan pagi-pagi harus bangun.
Tubuhku sangat penat mungkin karena bolak balik ke rumah Bu Karmila tadi, namun setelah bertemu kasur rasanya tubuhku sudah mulai tentram lagi, tubuhku merasa tenang.
Naina juga sudah tidur, Bu Karmila tidur di kamar yang berbeda dengan Naina, Naina mengirimiku pesan seperti biasa ucapan selamat tidur.
kamu baik baiknaja kan?