"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."
Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?
.
.
.
Publish: 20 Januari 2021
>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WIH #30
Happy Reading!
Beberapa waktu kemudian, tibalah mereka di depan rumah Diana. Perbincangan yang mengiringi langkah mereka membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
"Ah, jadi ini disini rumahmu ... baiklah, sampai jumpa, Diana." Sky melambaikan tangannya dengan senyum hangat.
"Dan terima kasih atas segala informasi mengenai sekolahnya," tambah Eve.
Diana tertawa kecil, "aku juga berterima kasih karena kalian telah mengantarkanku pulang. Sampai bertemu di Lobby Mall Town Square," balasnya, kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan, Rico menyembulkan kepalanya, memandangi mereka dari sebalik dinding. Lelaki itu bernafas lega mengetahui Sky dan Eve tidak melakukan hal apapun selain mengantarkan Diana pulang ke rumah. "Awas saja kalau sampai mereka berbuat macam-macam, aku tidak akan memaafkan mereka," gumam Rico tanpa melepas tatapannya dari Sky dan Eve yang masih berdiri di sana.
Melihat gerak-gerik Sky yang nyaris mengetahui keberadaannya, sontak Rico kembali menarik kepalanya. Tak ingin tertangkap basah, lelaki itu bergegas pergi menunggangi motor yang dibawanya.
Di sisi lain, pandangan Sky mengedar, pria itu sama sekali tak menemukan kecurigaan di sekelilingnya hingga sebuah panggilan menarik perhatiannya. Pria bersurai merah itu menatap Eve yang tak kunjung melepas pandang dari rumah di depannya.
"Menurutmu ... apa Yang Mulia ada di dalam sana?"
Hening. Tak mendapat jawaban, Eve menoleh ke samping. "Entahlah, sepertinya iya," jawab Sky setelah terdiam cukup lama.
"Kau tahu, aku sangat merasa bersalah di sini. Aku merasa bukan pengawal yang becus, baru sehari saja kita sudah gagal melindungi ratu. Jika Yang Mulia tahu, apa yang terjadi pada kita?" sesal Eve dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Kau benar, tapi dengan kegagalan hari ini, kita bisa menjadikannya pengalaman dan kewaspadaan yang lebih ketat. Toh, musuh kita hanya dua manusia ikan dan tiga gadis centil yang masih menjadi kecurigaan. Ingat, kita punya kekuatan yang lebih tinggi dari mereka, kita juga tidak boleh sia-siakan kekuatan ini, Eve. Kita pasti bisa." Sky menepuk pundak Eve di akhir kalimat.
Eve kembali mengarahkan matanya pada Sky yang memapar senyum simpul, ditatapnya dalam mata pria bersurai merah itu hingga akhirnya Sky mengalihkan pandangannya dengan deheman kaku.
"Woah, sejak kapan si rambut api ini menjadi bijak?" Eve tersenyum miring.
"Sejak kau nyaris putus asa, pak tua," balasnya sembari berpaling dari pandangan Eve.
"Oh, hey ... Kau mau kemana?" mata Eve mengekori kepergian Sky. Tak mendapat balasan, pria berambut silver itu bergegas menyamakan langkahnya dengan Sky, "asal kau tahu, nasehatmu baru saja merasuk dalam diriku meski belum mengurangi kekhawatiranku akan kemarahan Yang Mulia."
"Ah, aku harap Yang Mulia akan memberi kesempatan tentang ini."
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku, kemana tujuan kita sekarang?" ulang Eve.
"Tadi kau tidak bertanya itu. Yang kutahu, kau bertanya 'kemana aku pergi?"
"Sama saja, bodoh," ketus Eve seraya mendaratkan pukulan kecil ke belakang kepala Sky.
"Berbeda, pak tua!" nada bicara Sky meninggi sembari mengusap belakang kepalanya meski hanya sedikit rasa sakit yang menjalar di sana.
Di sisi lain, Diana menatap kepergian dua pria itu melalui kaca jendela sampai sebuah suara mengejutkannya. "Ah, kau ..."
"Apa yang kau lihat?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya melihat-lihat saja," jawab Diana kemudian berpaling dari hadapan Sean yang turut memandang ke luar jendela.
.
.
.
Diana menghampiri sekresek tanggung yang sempat ia taruh ke meja dapur dan mengeluarkan botol selai coklat dari sana. Saat hendak meraih mie instan, gadis itu menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan Sean tidak di sana.
Merasa aman, dengan cepat ia membuka salah satu jejeran lemari di atas dan menaruh semua belanjaan mie instannya ke dalam sana.
Blam.
"Fiuh ..."
"Diana ..."
Sontak gadis itu membalik tubuhnya, "ya?"
"Aku sudah membuatkan makan siang, pasti kau belum makan setelah pulang terlambat 'kan?" Sean yang berdiri di seberang Diana nampaknya belum curiga atas keterdiaman istrinya yang menyembunyikan beberapa bungkus mie instan di lemari dapur.
"Iya, aku belum makan. Terima kasih." Diana tersenyum lebar, kemudian mengangkat tudung saji di meja makan yang menyajikan sup rumput laut dan beberapa lauk lainnya. Saat gadis itu mendaratkan bokongnya ke kursi, kepalanya mendongak ketika Sean menarik kursi di seberangnya dan duduk di sana.
"Ah, kau juga belum makan ya? Maaf, aku tidak menawarkanmu." tawa sungkan Diana mengudara.
"Santai saja, ngomong-ngomong ... siapa yang mengantarmu pulang?"
"Em, itu ... orang yang kau sebut pengawal." Diana menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya yang dibalas anggukan pelan oleh Sean.
"Baguslah, dengan begini hubungan Diana dengan pengawalku akan segera pulih. Jadi, aku bisa menjaga istana Blaxland lebih lama."
"Sean, kau tidak makan?" suara Diana membuyar lamunan Sean, "selama ini aku tak pernah melihatmu makan, apa orang sebangsa dirimu memang tidak butuh makan?" tanya gadis itu di tengah aktifitas mengunyahnya.
Mendengar ucapan Diana, raut Sean berubah terkejut, kepedulian Diana yang selama ini ia nantikan akhirnya meluncur mulus dari bibir gadisnya. "Kau baru saja peduli padaku, Diana?" Sean berucap tak percaya, Diana yang baru tersadar akan ucapannya, menautkan alis, "baiklah, aku akan makan," imbuh Sean.
"Benar juga, sejak dulu aku tak pernah peduli padanya sedikitpun, dan apa ini artinya aku mulai menaruh rasa padanya?" batin Diana dengan senyum tertahan.
Pandangan gadis itu kembali terangkat ketika Sean menyodorkan sepotong lauk di depannya, "em, Sean--"
"Makanlah ..." potong Sean dengan suara lembut.
Seketika Diana tersipu, sesaat kemudian ia melahap suapan Sean dengan gerakan pelan. Hancur sudah benteng yang menahan rasa malunya, bahkan kini hatinya berteriak histeris yang sekiranya menimbulkan semu merah di pipinya.
"Pipimu memerah, Diana. Kau tidak apa?" tanya Sean dengan sok polosnya, lalu melahap sesuap nasi yang disusul seringaian jahil.
"A,apa yang kau katakan, Sean? Aku tidak mengerti maksudmu," alibi Diana tanpa mempertemukan matanya dengan Sean.
"Sekarang aku terhimpit di antara rasa malu. Tenang Diana ... tenang ... bersikaplah biasa ... toh Sean juga pernah melakukan hal lebih dari ini."
Tanpa sepengetahuan Diana, pria itu tengah menahan tawa. Sean pribadi tak menyangka istrinya akan semalu itu akan tindakannya yang sejak lama tidak dilakukan.
.
.
.
Gadis itu membanting punggungnya ke kasur kemudian menindih wajahnya dengan bantal. Kelakuan Sean yang begitu romantis benar-benar membuatnya ingin melayang. Bagaimana tidak? Hanya dengan sebuah kalimat kepedulian yang biasa orang pakai, Sean menjadi begitu manis dengan tindakannya.
Flashback ON
Diana mencuci peralatan makan dengan gagap, pesona yang sejak tadi Sean tebar membuatnya terus salah tingkah. Bahkan sampai detik ini, ia yakin Sean tengah memperhatikannya dari belakang.
Sesaat setelahnya, gadis itu sedikit tersentak ketika Sean melingkarkan tangannya di pinggang Diana. Hembusan nafas dan kehangatan tubuh Sean yang menempel di punggungnya membuat Diana yakin bahwa sudah tidak ada jarak di antara mereka.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja kegiatanmu." bisik Sean membuat Diana tersadar akan pandangan kosongnya.
"A,ada apa denganmu, Sean??" tanya Diana ketika pria itu mengeratkan pelukannya sekaligus menaruh kepalanya ke pundak Diana.
"Tak apa, aku hanya merindukanmu." Sean mencium lama jenjang leher Diana kemudian turun ke pundaknya.
Oke, jangan harap Diana masih memiliki benteng yang akan membendung rasa malunya. Bahkan ia tak sadar telah memberhentikan aktifitas mencucinya karena kecupan Sean yang terasa menggelikan nan nyaman. Tak ingin Sean berbuat lebih, gadis itu berbalik dan sedikit menjauhkan Sean dengan lengannya.
"S,Sean ... Aku tak kunjung selesai mencuci piring ini. J,jangan begitu ..." gagapnya tak mampu fokus pada mata Sean yang berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Hening, hanya seringaian samar yang Diana peroleh. Di detik selanjutnya, pria itu mendaratkan bibirnya ke bibir Diana yang membeku di tempat.
Tindakannya yang tiba-tiba membuat nafas gadis itu tertahan oleh ciuman Sean yang mendalam. Sejenak, Diana hanyut dalam permainan pria itu sampai ia menepuk dan mendorong kecil dada Sean. Mengerti akan maksudnya, Sean melepas pagutan bibir mereka membuat Diana kembali bernafas meski terengah-engah.
Sean tersenyum simpul, "kau perlu berlatih lagi, Diana."
"Apa-apa'an kau ...!" ucap Diana pelan dengan kepala tertunduk. Mata gadis itu terpejam erat sebelum akhirnya berlari menutup wajahnya dengan kedua tangan menuju kamar.
Flashback OFF
...WHO IS HE?...
...To be continue ......
PANAS TOLONG
like dan fav uda mendarat.
salam dari "Pernikahan impian."
makasih😁😁
saling support yaa 🙏