Suatu hari Reka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Zikri, seorang laki-laki yang ia tolong karena memiliki penyakit gula atau diabetes.
Pertemuan kedua mereka berawal dari Reka diterima bekerja di perusahaan milik Zikri. Lalu mengetahui Zikri sudah memiliki istri dan anak perempuan yang menyebutnya "mamah". Namun setelah istrinya meninggal dunia, Zikri semakin ketat mendekati Reka.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Reka? akankah Reka melabuhkan hatinya pada Zikri?
"Maukah kamu menjadi ibu dari anakku?" tanya Zikri pada Reka.
Selamat membaca 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahilnya Seorang Zikri
Reka berjalan dibelakang Hansen melewati line tempat Dinda menjalani proses produknya. Namun saat Reka lewat, Dinda tengah fokus sehingga ia tidak melihat Reka keluar dari area produksi.
"Reka setelah ganti baju dan sepatu jangan lupa bawa tas ya, karena setelah ini kamu gak akan kembali ke produksi lagi."
"Emangnya mau kemana pak Hansen?"
"Lebih baik kamu segera mengganti baju dan sepatu karena pak Zikri tengah menunggu di ruangannya."
"Oh yasudah kalau begitu."
Reka hanya menghela nafas saat pertanyaannya tak dijawab oleh Hansen. Ia pun langsung mengganti pakaian dan sepatu antistatic nya dan memasukkannya ke dalam loker. Tak lupa ia pun membawa tasnya.
Setelah selesai Hansen membawa Reka ke ruangan Zikri. Reka pun masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Ade ape ye? ape aye dikeluarin dari pabrik enih? pan baru lamaran, kenape aye jadi dagdigdug begini ye?
Tak lama mereka pun sampai di depan ruangan Zikri. Hansen membukakan pintu untuk Reka yang sebelumnya ia ketuk terlebih dahulu.
"Silahkan."
"Terima kasih pak."
Reka pun langsung masuk ke dalam, terlihat Zikri baru saja selesai merapihkan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Zikri melihat sekilas ke arah Reka seraya tersenyum.
"Hansen, jam berapa kita berangkat?"
"Sekitar 15 menit lagi pak."
"Bahan-bahannya udah kamu siapkan?"
"Sudah pak, kalau begitu saya permisi pak sekalian memberitahu supir untuk bersiap."
"Okey."
Hansen pun yang sedari tadi berada diambang pintu langsung menutup pintunya kembali setelah berpamitan dengan Zikri. Kini hanya ada Zikri dan juga Reka di ruangan tersebut.
"Reka, sekarang kamu ganti pakaian yang ada di dalam ruangan sana ya. Saya tunggu disini, jangan lama karena seperti yang tadi Hansen bilang kita berangkat 15 menit lagi," tutur Zikri seraya menunjuk sebuah ruangan rahasia dibalik lemari hias yang terpajang disana.
Reka pun mengangguk paham karena ia tak kuasa menatap Zikri terlalu lama. Reka bahkan merasa seakan jantungnya ingin lepas akibat terlalu cepat berdetak. Reka mulai mendekati lemari tersebut dan mencari-cari letak pintunya.
Dia pasti bingung nih pintunya dimana.
Zikri terkekeh pelan kemudian berjalan perlahan menghampiri Reka. Tak disangka Reka pun membalikkan tubuhnya tepat saat Zikri berada di belakangnya. Reka tersentak kaget.
"Pak Zikri sejak kapan dimari?"
"Baru aja, kamu bingung kan dimana pintunya?" ide jahil Zikri pun muncul. Ia memajukan langkahnya dengan spontan Reka memundurkan langkahnya ke belakang hingga Reka terhenti karena sudah tidak bisa mundur lagi karena telah bersandar di lemari tersebut. Zikri memajukan wajahnya membuat Reka langsung memejamkan matanya rapat-rapat.
KLIK
Pintu pun terbuka, Zikri memundurkan tubuhnya seraya tertawa saat Reka masih memejamkan kedua matanya itu. Membuat Reka seketika langsung membuka matanya lebar-lebar sembari menatap tajam ke arah Zikri dan menoleh ke belakang.
"Kamu kira aku mau ngapain hem?"
"Ng.. anuu.. aih pak Zikri ngerjain aye nih."
Zikri pun tertawa kembali. Sedangkan Reka langsung mengerucutkan bibirnya. Sekuat tenaga menghentikan tawanya hingga wajahnya menjadi merah. Setelah menghela nafas panjang, Zikri pun mampu menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Yasudah sana kamu ganti baju, bajunya ada di atas kasur. Jangan lama-lama ya nanti kalau lama aku akan masuk paksa ke dalam."
Perkataan Zikri lagi-lagi membuat Reka langsung memberinya tatapan tajam.
"Awas aje kalo berani," Reka mengepalkan tangannya dihadapan wajah Zikri. Setelah Reka masuk kedalam serta menutup pintunya, Zikri pun duduk kembali di kursi kebesarannya.
Didalam kamar rahasia, Reka menatap ke seluruh ruangan. Dirinya tak henti-henti berdecak kagum dengan interior yang ada di kamar itu yang sangat elegan serta aroma maskulin. Reka menghirup dalam-dalam udara yang ada di ruangan tersebut lalu menghembuskannya perlahan. Ia melihat di atas tempat tidur sudah ada satu set pakaian setelah kantor wanita, heels, aksesoris dan juga makeup.
Reka mengganti pakaiannya terlebih dahulu, setelah selesai ia melipat pakaiannya dan memasukkannya ke paperbag yang ada di ruangan itu. Ia mencoba memakai aksesoris seadanya hanya anting dan juga kalung berlapis emas 24 karat dengan design yang simpel. Kemudian, ia mulai memoleskan cream, bedak dan juga lipstik. Itupun ia pakai sebisanya saja, karena memang dasarnya Reka tidak pandai berdandan seperti wanita karir pada umumnya.
Ini mah kayak tuntutan banget pake beginian. Malah aye gak biasa. Ini sepatu kenape tinggi banget, ape karena pak Zikri tinggi jadi aye harus ngimbangin. Ih aye penasara mau diajak kemane, kalo makan romantis yang aye tau pasti pake gaun bukan pake setelan baju kantor kayak gini.
Setelah memakai heels, Reka mencoba berdiri dan mulai berjalan perlahan.
Ya Allah ngeri amat sih pake beginian kayak jalan pake engkrang. Kalo jalan aye begini kayak nenek-nenek jadinya haduuh.
Reka pun menepuk jidatnya saat ia sadar kalau ia berjalan agak tertatih dan sedikit membungkuk. Ia pun berusaha untuk tidak terbawa alur tubuhnya. Ia mulai membusungkan dadanya dan berjalan ala-ala wanita karir pada umumnya yang ia tahu.
Reka membereskan kembali makeup serta barang lainya dan menatanya kembali diatas tempat tidur. Hanya paperbag yang berisi seragam kerjanya yang ia bawa. Tak lupa Reka membawa tasnya kemudian ia pun keluar ruangan itu. Saat ia membuka pintu ternyata Zikri sudah berdiri disana. Mata Zikri bahkan sampai tak berkedip melihat penampilan Reka, baru kali ini ia melihat Reka dengan rambut yang tergerai sangat indah.
"Kamu Reka?"
"Iya, aneh ya pak?"
Zikri pun langsung berjalan mendekat ke arah Reka. Kemudian Reka langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat ia mendapat sebuah pelukan hangat dari Zikri.
"Aku beruntung, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya Reka Mahasti."
Jatung Reka semakin berpacu cepat saat ia mendengar ucapan Zikri.
Gak pernah aye bermimpi bakal punya suami kayak pak Zikri, tapi aye percaya Allah baik banget same aye. Semoga aye dan pak Zikri bagian dari dua insan yang bisa saling melengkapi baik kekurangan maupun kelebihan kita masing-masing. Aamiin..
"Ehem.."
Deheman Hansen yang telah berdiri didekat pintu pun menyadarkan keduanya dan saling melepaskan pelukan mereka.
"Maaf pak, mobilnya sudah siap dan kita harus berangkat sekarang."
Zikri pun mengangguk dan Hansen pun keluar dari ruangan Zikri lebih dulu. Setelah Hansen pergi, Zikri menatap Reka kembali sembari tersenyum.
"Tas sama paper bag kamu taruh aja disini ya dan sekarang kamu pakai tas ini aja. Masukkan barang-barang yang menurutmu berharga ke dalam tas ini," Zikri berjalan ke meja kerjanya seraya mengambil sebuah tas simpel nan cantik kemudian memberikannya pada Reka. Mata Reka langsung membulat dengan sempurna saat melihat tas tersebut dan dia pun teringat sesuatu.
"Pak, tas itu..."
Bersambung..
semangat 💪