Bobby seorang pelajar SMA, umur 18 tahun. Jatuh cinta dengan Nia, 32 tahun. Sahabat dari Tante nya Bobby yang bernama Farah.
Tante Nia yang cantik, cuek,dan konyol mampu membuat Bobby jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayangnya Bobby harus bersaing dengan lelaki bernama Roy, yang juga menyukai Tante Nia.
Bagaimana Bobby bisa menaklukkan hati Tante Nia?
Ikuti kisahnya ya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29# Teman curhat
"Maaf Pak, ada kabar dari pengacara keluarga Bobby. Bahwa mereka ingin berdamai dan mencabut laporan kasus Siska."
Gunawan hampir saja melompat kegirangan mendengar kabar baik tersebut.
"Tetapi, ada syaratnya Pak." Ucap pengacaranya lagi melalui sambungan telepon.
"Apa syaratnya? saya akan memenuhi semua dan apapun permintaan dia." Ucap Gunawan.
"Ibu Farah ingin menyampaikan sendiri persyaratan damai tersebut kepada bapak dan keluarga Bapak." Gunawan tertegun mendengar permintaan Farah.
"Baik, akan saya rundingkan kepada istri dan anak saya terlebih dahulu." Ucap Gunawan. Lalu, ia mengakhiri panggilan telepon itu.
"Bagaimana, Apa kamu bersedia untuk bertemu dengan Farah? Ini semua demi anak kita Mi." Ucap Gunawan kepada istrinya.
"Aku tahu aku salah dan aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Aku tidak akan bersama Farah, dari dulu pun aku tidak berminat untuk bersama dengannya. Dari dulu aku memilih kamu Mi dan tidak akan pernah meninggalkan kamu." Ucap Gunawan dengan wajah yang memelas dihadapan istrinya.
"Demi Siska mi, aku mohon." Ucap Gunawan lagi.
"Baiklah, malam ini kita ke rumahnya. Yang penting, masalah ini selesai." Ucap istri Gunawan.
"Tetapi, aku mohon kepada Mami untuk menahan emosi sedikit saja. Agar masalah ini berakhir dengan mulus." Pinta Gunawan kepada istri nya.
Istri Gunawan, hanya mengangguk dengan wajah yang dingin. Walaupun hatinya terluka dan dirinya di pihak yang telah di khianati. Tetapi, mau tidak mau ia harus merendahkan harga dirinya di depan Farah.
Istrinya Gunawan pun beranjak dari hadapan Gunawan menuju kamarnya. Setelah berada di kamar, Ia pun mengunci pintu kamar dan mulai menangis di atas ranjangnya.
Sebagai seorang wanita, siapapun itu tidak akan pernah bisa menerima sebuah penghianatan. Tetapi, ia tidak mempunyai pilihan. Kemarin Siska menangis dihadapannya untuk memohon agar Mami nya tidak bercerai dengan Papi nya.
Walaupun sakit, ia bertekad untuk memberikan kesempatan kepada Gunawan. Selama ini Gunawan memang tidak pernah meninggalkan dirinya demi wanita lain. Dan ia mencoba meyakini, bahwa Gunawan dan Farah memang hanya sekedar khilaf saja.
Istri Gunawan mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan mempersiapkan dirinya untuk bertemu lagi dengan wanita yang telah melahirkan anak suaminya.
Istri Gunawan menangis sejadi-jadinya, mencoba untuk meluapkan segala emosi yang ada di dadanya. Sambil berharap kekuatan akan datang menghinggapi hatinya.
..
Nia termenung di kamarnya, setelah ia baru saja pulang dari makan malam bersama keluarga Roy. Ia tidak tahu keputusan yang ia ambil itu salah atau benar. Nia tidak tahu akan berbagi perasaannya ini dengan siapa. Hal ini terlalu dini untuk bercerita kepada sahabatnya.
Tiba-tiba saja, Nia teringat pesan misterius yang dikirimkan oleh seseorang. Beruntung, pesan tersebut belum dihapus oleh Nia.
Nia membuka blokir dari nomor ponsel tersebut. Lalu, ia memperhatikan kolom chat dengan orang tersebut. Di kolom aplikasi chat tersebut tertulis bahwa orang tersebut sedang online. Tanpa pikir panjang, Nia pun mengirim pesan kepada orang misterius tersebut.
"Malam, titisan Mama loreng. Lu bilang gue berjodoh dengan brondong. Tetapi, kok yang jadian sama gue malah boss gue sih."
Tulis Nia, lalu ia mengirim pesan tersebut. Pesan tersebut terlihat langsung dibaca oleh pemilik nomor ponsel tersebut. Nia pun merasa harap-harap cemas, menunggu balasan dari nomor tersebut.
Bobby terdiam saat membaca pesan dari Nia. Entah mengapa ia merasa patah hati membaca pesan dari Nia.
"Tante Nia sudah jadian sama Bossnya?" Ucap bobby, lirih.
"Hai cewek cantik, apa kamu merasa bahagia sudah jadian dengan boss mu?"
Balas Bobby.
"Sebelum gue cerita, boleh nggak gue tahu lu itu siapa?"
Balas Nia.
"Sebut saja, aku adalah orang dari masa depan."
Balas Bobby.
Nia mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari orang misterius tersebut.
"Okelah whatever, mau lu itu Jin atau lu itu alien, gue nggak peduli. Tetapi, gue benar-benar butuh teman curhat sekarang."
Balas Nia.
"Curhat saja, aku selalu mendengarkan kamu."
Balas Bobby.
"Jadi begini, umur gue sudah tidak muda lagi. Saat ini, gue bingung tentang jodoh. Satu-satunya orang yang mendekati gue saat ini, adalah Boss gue. Dia orangnya tampan, mapan dan serius sama gue. Sebenarnya dia orangnya agak posesif dan tidak sabar. Tadi, gue diajak bertemu dengan kedua orangtuanya. Orangtuanya asik dan sangat welcome sama gue. Tetapi, gue belum mencintai lelaki itu. Kata-kata orang tuanya membuat gue sadar, bahwa lelaki itu adalah orang yang tepat saat ini untuk gue. menurut lu gimana?"
Nia mengirim pesan tersebut.
"Kamu yakin yang mendekati kamu hanya dia? Aku rasa, ada lelaki lain yang sedang mendekati kamu. Hanya saja Mungkin kamu tidak menganggap dirinya."
Nia tertegun saat membaca jawaban dari pemilik nomor tersebut.
"Hmmm, yakin kok. Hanya Boss gue saja yang mendekati gue saat ini."
Balas Nia.
Bobby memijat kepalanya saat ia menerima kenyataan bahwa dirinya tidak dianggap sama sekali oleh Nia.
"Kalau tidak mencintai, jangan berikan harapan kepada orang lain. Usia tidak melulu menjadi patokan dalam pernikahan. Jodoh itu rahasia Tuhan, tidak perlu merasa putus asa. Mungkin saja kamu tidak menyadari bahwa ada cinta sejati di sekitar kamu. Tetapi, karena kamu putus asa. Kamu pun salah jalan dan mengorbankan perasaanmu sendiri."
Nia menghela napas saat membaca pesan dari orang tersebut.
"Iya sih."
Balas Nia.
"Aku sudah bilang, jodohmu itu brondong. Apakah kamu merasa sedang didekati oleh brondong?"
Nia mengangkat kedua alisnya saat membaca pesan tersebut.
"Brondong? ada sih. Tetapi, masa anak SMA. Ih, gak mau lah. Anaknya tengil, bandel dan ngeselin."
Nia mengirim pesan tersebut sambil bersungut-sungut.
Bobby tertawa saat membaca pesan yang baru saja ia terima. Ia sudah menyangka bahwa penilaian Nia akan seperti itu kepadanya.
"Yang kamu lihat kan hanya luarnya saja. Tetapi, tidak dalamnya."
Balas Bobby.
"Tetapi, dia terlalu kecil untuk gue. Lagian dia keponakannya sahabat gue. Tapi, yang gua rasa, dia hanya main-main sih. Sepertinya dia memang iseng. Tidak mungkin lah bocah ingusan mau sama Tante-tante kayak gue."
Balas Nia.
"Kalau dia beneran serius sama kamu Apa kamu mau menerima dia?"
Balas Bobby.
"Lu sebenarnya siapa sih? Jawab dong. Gue beneran enggak tahu lo siapa. Lu asyik diajak curhat, sebenarnya nama lu siapa? dan jenis kelamin lu apa?"
Balas Nia.
"Aku laki-laki, sebut saja Aku adalah masa depan."
Balas Bobby.
"Sorry ya, kemarin gue bilang lu mabuk lem Aib*n. Ternyata lu asik juga diajak curhat. Oke deh, nomor lu gue simpan. Tetapi, lu tidak keberatan kan apabila gua menghubungi lu dan curhat dengan lu."
Balas Nia.
"Oke. Tetapi, jawab dulu pertanyaanku yang diatas."
Balas Bobby.
"Pertanyaan yang mana?"
Balas Nia.
"Kalau dia beneran serius sama kamu Apa kamu mau menerima dia? - pertanyaan seputar si brondong."
Balas Bobby.
"Untuk saat ini, gue tidak bisa berpendapat tentang dia. Karena gua merasa anak itu hanya iseng. Sorry, gue orang nya tidak geer-an. Jadi biasa saja, dan tidak menganggap dia sedang mendekati gue."
Balas Nia.
"Hmmmm, dalam waktu dekat dia pasti mendekati kamu lebih giat lagi. Lihat saja."
Balas Bobby.
"Wuihhh, kalau ramalan lu benar, gue angkat jempol kaki gue buat lu."
Balas Nia.
"Kamu nendang saya dong kalau begitu ceritanya."
Balas Bobby.
Nia pun membalas pesan tersebut dengan emoji tertawa terbahak-bahak. Chat mereka hanya berakhir sampai disitu. Karena Nia sudah terlalu lelah, ia pun memilih untuk tidur.
Bobby tersenyum getir saat membaca kembali chat nya dengan Nia. Selama ini ia merasa agak kesulitan agar bisa di anggap "seorang lelaki" oleh Nia. Karena perbedaan usia yang cukup jauh dan kenyataan bahwa Nia adalah sahabat Tante nya, membuat Bobby menjadi dilema.
Tetapi dengan cara diam-diam menjadi teman curhat Nia, adalah ide bagus bagi Bobby. Secara tidak langsung, ia jadi mengerti apa yang ada di dalam pikiran Nia. Bobby tahu ini curang dan membohongi Nia. Tetapi, ia pun putus asa bagaimana cara untuk mendekati wanita idaman nya tersebut.
"Aku akan mendekati Tante lebih giat lagi..!" Ucap Bobby dengan bersemangat.