NovelToon NovelToon
Putri Mawar Yang Dirindukan

Putri Mawar Yang Dirindukan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:828
Nilai: 5
Nama Author: Only'Rra

Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.

Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.

Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?


♡♡♡♡♡

Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memiliki Keluarga?

“Kau sudah dengar? Katanya semalam tuan menemukan anak itu!”

“Ssttt! Kau tidak boleh sembarang menyebutnya seperti itu. Dan juga, orang yang akan kita layani pagi ini kan beliau,” tegurnya. 

Dua wanita yang mengenakkan seragam pelayan keluarga grand duke itu menghentikan perbincangan yang mereka lakukan di depan sebuah pintu besar yang menjulang di hadapan mereka. 

Salah satu dari mereka berdehem pelan, keduanya mempersiapkan diri sebelum mengetuk pintu.

Tok, tok-

“Permisi, Nona. Kami pelayan yang akan membantu anda membersihkan diri.” 

Hening. Tidak ada sahutan maupun deheman yang menjadi jawaban untuk kedua pelayan itu. Kedua wanita pelayan itu beradu tatap, bingung. 

“Apa menurutmu nona belum sadarkan diri juga?” 

Memandang kembali pintu yang masih setia tertutup, ia menggeleng pelan menjawab dugaan rekannya. “Aku tidak tahu.”

“Bagaimana ini? Tuan sedang pergi keluar sejak matahari terbit. Bagaimana jika memang terjadi sesuatu lagi dengan nona?”

Kekhawatiran mulai muncul di raut wajah keduanya. Mereka dilanda perasaan bingung juga takut menjadi satu.

“Mari kita cek ke dalam,” putusnya tegas. “Kita yang bertanggung jawab merawat nona pagi ini, jadi kita juga harus menjaga beliau jika terjadi sesuatu selagi tuan tidak berada di kediaman.”

Anggukan tegas dari rekannya membuat kedua pelayan wanita itu pada akhirnya membuka pintu di depan mereka tanpa jawaban dari ijin yang sebelumnya terlontar. 

“Permisi Nona ... Kami masuk.” 

Tubuh mereka berdua menegang terkejut kala melihat ranjang yang terdapat seorang 

gadis kecil terbaring di atasnya kemarin, kini telah kosong. Bahkan bantal-bantal kembali tertata dengan selimut terlipat acak. 

Trang – 

Perlengkapan mandi yang sedari tadi di pegang oleh pelayan wanita itu terjatuh kala tangannya terasa lemas dan kehilangan tenaga.

Yang menjadi puncak keterkejutan mereka adalah, saat pandangan mereka tertuju ke arah satu titik di atas lantai, dimana seorang anak kecil yang tertidur di atas lantai dingin tanpa alas. Memeluk sebuah tas dan kain kumuh dengan saat erat seolah hanya itu yang ia punya.

“Ada apa ini?”

Derix yang memang tengah melakukan patroli jarak dekat di sekitar kamar tamu yang berharga bagi tuannya itu datang kala mendengar suara berisik dari dalam kamar. 

“Tuan Derix ... No, nona-“ 

Pandangan Derix yang awalnya menelisik raut terkejut dua pelayan wanita kediaman grand duke itu teralihkan saat sudut matanya menangkap pemandangan gadis kecil yang tertidur meringkuk di atas lantai.

“Nona!” Sontak dengan sigap Derix berlari mendekat.

Ella yang merasakan akan kehadiran orang lain serta kebisingan di sekitarnya pun perlahan  mengerjap terbangun. Ia mengusap kedua kelopak matanya sambil terduduk.

Pemandangan yang pertama kali tersaji adalah raut panik seorang pria--dengan pedang di pinggangnya--tengah berjongkok di depan dirinya. 

Serta dua orang wanita yang seperti mengenakan pakaian seragam senada, berdiri di belakang pria itu.

‘Pria dengan pedang? Seorang Ksatria? Tapi ... Dia tidak terlihat mirip dengan pria yang ingin menangis saat menolongku semalam.’ 

Ella mengernyitkan keningnya pusing.

Derix yang menangkap hal itu sontak meminta ijin dan segera menggendong tubuh Ella kembali ke atas kasur yang hangat dan nyaman, sebelum mendapat persetujuan dari Ella yang tersentak kaget kala dirinya kembali menduduki kasir besar semalam.

Ella yang panik saat tubuhnya dibawa kembali tidak bisa memberontak dengan jelas karena raut khawatir tiga orang asing yang bersamanya itu membuat perasaanya terasa aneh. 

“Nona, apa masih ada yang terasa menyakitkan di suatu tempat?”

'Ka-kakak itu bertanya padaku?' 

Meskipun kebingungan, Ella tetap menjawab dengan menggeleng pelan saat dirinya yakin pertanyaan itu tertuju untuknya. Ia melirik kecil ke arah Derix. “Tu-tubuhku ... “ 

“Ya? Apa ada yang sakit di tubuh Nona?” Derix semakin panik kala mendengar lirihan sayu gadis kecil itu, Ia dengan sigap langsung bertanya kembali. 

“Ko-kotor.”

Derix dan dua pelayan wanita itu saling tatap sesaat. Mencoba mengerti potongan kalimat yang terucap dari Ella. Sampai salah satu dari pelayan wanita yang lebih tenang memutuskan untuk lebih mendekat. 

Bertumpu dengan menggunakan lututnya di pinggir ranjang, wanita itu berujar dengan nada lembut. “Apa yang anda maksud kalau tubuh nona saat ini terasa kotor?”

Ia berpikir gadis kecil itu tidak nyaman karena belum membersihkan diri di pagi hari dan ini memang sudah waktunya. 

Ella mengangguk pelan dengan memeluk kedua lututnya. “Kasurnya, karena aku. Jadi, kotor,” serunya dengan perasaan takut.

Apa? Jadi yang membuat gadis kecil ini merasa tidak nyaman adalah dia merasa bersalah karena dia telah mengotori kasur? pikir ketiganya.

Derix menggeleng dengan tegas membantah perkataan Ella. “Nona, anda tidak perlu merasa segan dan bersalah hanya karena membuat sebuah kasur mejadi kotor.”

Ella menatap Derix dengan kedua matanya, mencoba mencari arti dari kalimat pria itu. Apakah maksudnya kasur ini memang kotor sehingga tidak apa-apa dirinya yang juga kotor untuk duduk bahkan tidur di atasnya? pikir Ella.

“Dan jika kotor. Para pelayan bisa membersihkannya kembali,” jelas Derix melanjutkan ucapannya. Dengan disertai anggukan dari dua orang pelayan wanita. 

“Kenyamanan Nona lah yang harus menjadi prioritas disini.” 

“A-aku? ... Kenapa?” 

Derix mengangguk. “Tidak mungkin tuan grand duke membiarkan begitu saja anggota keluarganya yang sedang sakit tidur di atas lantai yang dingin.”

Wajah Ella terlihat kebingungan. ‘Keluarga? Kata tetua panti, aku kan tidak memiliki keluarga’

Senyuman haru dari tiga orang dewasa di kamar itu yang ditunjukkan untuknya, menambah perasaan bingung Ella.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Aghasa melangkah memasuki sebuah ruangan pribadi di kediamannya dengan jantung yang berdebar. Mendapati tempat tidur yang semalam terdapat gadis kecil yang ia selamatkan kini kosong, ia sontak menatap gelisah kesekeliling. 

“Dimana gadis kecil itu?"

Derix yang berada di belakang sang tuan setelah menjemputnya, membungkukkan badan sopan untuk menjawab. “Mungkin beliau saat ini tengah berganti pakaian dengan para pelayan, Tuan.”

Aghasa yang mendengar jawaban ajudannya langsung menghembuskan napas lega. Ia memutuskan untuk menunggu dan duduk di sofa merah muda kamar itu. Diikuti Derix yang berdiri di sebelah sofa. 

“Hasilnya 99,9% akurat,” ucap Aghasa rendah.

Derix yang masih dapat mendengar lirihan sang tuan di karenakan indranya yang telah terlatih, lantas bersimpuh menggunakan kaki kiri dan kaki kanannya dijadikan sebagai tumpuan tangan. “Saya ucapkan selamat, Tuan Grand Duke.”

Aghasa tersenyum lirih. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. 

“Berdirilah,” perintahnya, yang langsung dipatuhi oleh sang ajudan. 

“Seharusnya yang mendengar ucapan itu adalah kakak.” Aghasa memandangi 

amplop cokelat besar yang mencatat hasil tes DNA menggunakan rambut gadis kecil itu yang sempat ia ambil dan rambut seseorang yang sangat berharga baginya. “Aku tidak sabar ingin melihat senyuman kakak.” 

Derix yang sedikit mengerti, ikut menimbuhi. “Apa anda ingin keberangkatan menuju Ibu Kota Kekaisaran Reis dipercepat beberapa jam, Tuan? Setidaknya, kini akan sampai pada malam puncak hari ketiga festival cahaya.”

“Itu akan sangat bagus.” 

Aghasa kembali melihat amplop cokelat di tangannya. “Tapi, gadis kecil itu terlihat tidak bahagia dan sangat ketakutan selama ini. Ini salahku karena terlambat menyadarinya berada di daerah kekuasaanku sendiri, bahkan selama ini."

Aghasa mengusap pelan gelang kecil dengan tali bewarna merah mengkilap bagaikan ruby yang saling terkepang membentuk sebuah simpul.

"Apakah kakak akan membenciku, Derix?”

1
Fre
Apa apaan sistemnya serakah gini
Alia Chans
keren
mary dice
😱😱😱 serem
mary dice
kembali ke tempat tidurmu Ella , Ksatria itu pasti tidak mau kamu jatuh sakit hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!