Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Bagas
Tari tidak mempersilakan mereka masuk.
Ia berdiri di depan pagar besi rendah, tangan dilipat di dada, wajah penuh permusuhan. Bagas sudah masuk ke rumah, tapi Ratna masih bisa melihat bayangannya dari jendela. Anak muda itu berdiri di balik tirai, tidak benar-benar pergi.
"Mau apa?" tanya Tari.
Siska memperkenalkan diri. "Saya kuasa hukum Ratna. Kami ingin bicara soal kelahiran Bagas."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Ada," kata Ratna. Suaranya pelan, tapi cukup membuat Tari menoleh. "Kalau tidak ada, kamu tidak akan menyuruh dia masuk seperti itu."
Tari tertawa kasar. "Orang kaya memang suka merasa semua bisa dibeli. Ini rumah saya. Anak saya. Pergi."
Arga berdiri sedikit di belakang Ratna. Wajahnya tenang, tapi kehadirannya membuat beberapa tetangga mulai memperhatikan. Mobil hitam, pengacara, perempuan rapi dengan wajah pucat, semua itu terlalu mencolok di gang sempit.
Siska menurunkan suara. "Mbak Tari, lebih baik kita bicara di dalam. Kalau tetangga dengar, ceritanya tidak bisa dikendalikan."
Kalimat itu bekerja.
Tari membuka pagar dengan gerakan kesal. "Sepuluh menit."
Rumah itu panas. Kipas angin berputar lambat, mengeluarkan bunyi berdecit. Di dinding ada foto Darma, Hendra, dan Mama Sulastri bertahun-tahun lalu. Ratna menatap foto itu. Keluarga yang sama. Darah yang sama. Kejahatan yang sama-sama ditutup diam.
Bagas berdiri di dekat pintu dapur.
"Bu, ini siapa?" tanyanya kepada Tari.
"Bukan urusanmu."
Ratna menatapnya. "Bagas, boleh duduk?"
Bagas terlihat bingung, tapi ia menarik kursi plastik.
Tari membentak, "Kamu kerja saja ke bengkel."
"Dia tetap di sini," kata Ratna.
Tari mendelik. "Anda siapa berani mengatur anak saya?"
Ratna menatapnya lurus.
"Itu yang ingin saya tahu."
Keheningan jatuh.
Siska mengeluarkan salinan dokumen, foto dari Bu Nanik, dan catatan lama klinik. Ia menjelaskan singkat. Dua bayi. Malam hujan. Sulastri. Pertukaran.
Bagas mendengarkan seperti orang yang tidak paham bahasa sendiri.
"Maksudnya..." Ia menatap Tari. "Aku bukan anak Ibu?"
Tari langsung menjawab, "Omong kosong."
Siska berkata, "Kita bisa buktikan dengan tes DNA. Tidak perlu bertengkar."
"Tidak usah tes!" Tari membentak. "Anak yang saya besarkan, ya anak saya."
Bagas tertawa kecil. Bukan karena lucu.
"Dibesarkan?" katanya. "Bu, saya dari kecil disuruh kerja. Reno sekolah bagus, saya disuruh berhenti SMK. Kalau ada ayam satu potong, Reno dapat paha, saya dapat tulang. Kalau motor rusak, saya yang dipukul karena dianggap ceroboh. Itu namanya dibesarkan?"
Tari terdiam, lalu wajahnya merah.
"Kamu kurang ajar!"
Tangannya terangkat.
Ratna berdiri lebih cepat dari yang ia kira. Ia menangkap pergelangan tangan Tari sebelum tamparan jatuh.
"Jangan."
Tari mencoba menarik tangan. "Lepas!"
"Sekali lagi kamu angkat tangan ke dia di depan saya, saya laporkan hari ini juga."
Bagas menatap Ratna dengan mata melebar.
Ratna melepaskan Tari.
Tangannya sendiri gemetar.
Arga mendekat. "Ratna."
"Aku baik-baik saja."
Ia tidak baik-baik saja. Ia ingin memeluk Bagas dan meminta maaf untuk semua tahun yang hilang. Tapi ia tahu anak itu belum mengenalnya. Luka tidak bisa ditutup dengan pelukan mendadak dari perempuan asing.
Bagas duduk pelan. "Kalau ini benar, kenapa baru sekarang?"
Pertanyaan itu menikam tepat ke jantung Ratna.
"Karena saya juga baru tahu."
"Semua orang selalu bilang begitu kalau telat datang."
Ratna menerima kalimat itu. Ia pantas menerimanya.
"Kamu berhak marah."
"Saya tidak tahu harus marah ke siapa." Bagas memandang Tari, lalu Ratna. "Kalau saya marah ke Ibu Tari, nanti katanya durhaka. Kalau saya marah ke Anda, Anda bilang baru tahu. Kalau saya marah ke orang yang menukar, dia nenek saya sendiri? Saya ini apa?"
Ratna menjawab dengan suara pecah. "Kamu anak saya. Kalau tes membuktikan itu, saya akan mengatakannya bukan untuk mengambilmu paksa, tapi supaya kamu tahu kamu tidak pernah dibuang."
Mata Bagas bergerak.
Untuk pertama kalinya, Tari terlihat takut benar.
Tes DNA dilakukan keesokan harinya. Bagas datang ke laboratorium dengan kemeja pinjaman yang kebesaran. Ia menolak diantar Tari. Arga mengirim mobil, tapi Bagas memilih naik ojek online sampai depan gedung.
"Saya tidak biasa naik mobil mewah," katanya saat Ratna menawari masuk dari lobi belakang agar tidak banyak dilihat orang.
"Tidak apa-apa. Kita lewat pintu biasa."
"Nanti orang kantor Bapak itu lihat."
Arga menjawab tenang, "Biarkan."
Bagas menatap Arga. "Bapak siapa?"
Ratna hendak menjawab, tapi Arga lebih dulu berkata, "Arga. Teman Ratna."
Kata teman membuat Bagas menoleh kepada Ratna. Ada pertanyaan di matanya, tapi ia tidak bertanya.
Pengambilan sampel hanya sebentar. Menunggu hasilnya yang terasa seperti hukuman.
Selama dua hari, Bagas tidak membalas pesan Ratna. Ratna mengirim satu pesan saja: "Kalau kamu butuh apa pun, kabari saya." Ia tidak menulis "Nak". Belum.
Raka justru datang ke apartemen setiap malam. Ia tidak selalu bicara. Kadang hanya duduk, memegang kepala, lalu pulang.
"Kalau Bagas anak Mama," katanya pada malam kedua, "aku harus panggil dia apa?"
"Kakak atau adik, tergantung menit lahir."
Raka tersenyum hancur. "Masih sempat bercanda?"
"Kalau tidak, Mama bisa gila."
Raka menunduk. "Aku takut dia benci aku."
"Dia mungkin benci keadaan."
"Tapi aku yang dapat hidupnya."
Ratna memegang tangan Raka. "Kamu juga korban."
"Aku korban yang nyaman, Ma."
Ratna tidak bisa menyangkal seluruhnya. Raka memang tumbuh dengan rumah, sekolah, makanan, kasih sayang Ratna. Bagas tumbuh dengan teriakan.
Hasil keluar pada Jumat sore.
Ratna, Bagas, Raka, Siska, dan Arga berkumpul di ruang kecil laboratorium. Hendra tidak diundang. Mama Sulastri tidak diberi tahu. Tari mencoba datang tapi Bagas menolak menemuinya.
Petugas menyerahkan hasil kepada Siska. Siska membaca, lalu matanya berkaca-kaca.
"Probabilitas hubungan biologis ibu-anak antara Ratna dan Bagas lebih dari 99,99 persen."
Tidak ada yang bicara.
Bagas menatap kertas itu.
"Jadi benar?"
Ratna mengangguk. Air matanya turun tanpa suara.
"Iya."
Bagas menatapnya lama. "Saya anak Ibu?"
Ratna melangkah setengah, lalu berhenti. Ia takut membuatnya mundur.
"Iya, Bagas. Kamu anak saya."
Bagas tertawa kecil. Lalu ia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Kenapa hidup saya begini?"
Ratna tidak tahan lagi.
"Boleh saya peluk kamu?"
Bagas tidak menjawab. Bahunya bergetar.
Ratna mendekat pelan. Saat tangannya menyentuh bahu Bagas, anak itu tidak menolak. Ia malah jatuh ke pelukannya dengan tubuh kaku, seperti orang yang lupa cara bersandar.
Ratna memeluknya erat.
"Maaf," bisiknya. "Maaf Ibu terlambat."
Bagas tidak memanggilnya Ibu. Belum.
Ia hanya menangis di bahu Ratna.
Di sudut ruangan, Raka memalingkan wajah. Maya yang datang menyusul memegang tangannya. Arga berdiri diam, menjaga pintu, membiarkan pertemuan itu tidak diganggu.
Ratna memeluk Bagas sambil melihat Raka dari balik air mata.
Dua anak laki-laki.
Satu ia besarkan.
Satu ia lahirkan.
Keduanya terluka karena dosa orang dewasa.
Dan mulai hari itu, Ratna tahu hidupnya tidak akan kembali sederhana.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃