NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIBUT

Sesampainya di kelas...

Pemandangan yang tak kalah membingungkan kembali terlihat. Ravian dan Keira justru tampak jauh lebih akrab dibanding biasanya.

"Bukankah aku terlihat sangat cantik hari ini?" tanya Keira dengan mata yang berbinar-binar.

"Tunggu. Ada apa dengan wajahmu, Kak?" tanya Ravian.

"Wajahku kenapa?"

Keira segera mengambil cermin kecil untuk melihat wajahnya.

"Ba! Kau lihat sesuatu?" tanya Ravian.

"Apa?"

"Ada seekor monyet dibalik cermin itu."

"RAVIANN!!"

Beberapa siswa saling berpandangan bingung.

"Loh... Tadi di parkiran mereka renggang. Sekarang akur lagi?"

"Aneh."

"Mereka udah nggak canggung sama sekali."

"Tapi Ravian sama Viana juga deket..."

"Ini sebenarnya gimana, sih?"

Bel istirahat siang akhirnya berbunyi.

Suasana koridor yang semula tenang seketika dipenuhi langkah kaki para siswa yang berbondong-bondong menuju kantin.

Tak terkecuali mereka berlima.

Sejak kejadian pagi tadi, hampir seluruh siswa diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik Ravian, Keira, dan Viana.

Dan pemandangan berikutnya kembali membuat satu kantin heboh. Ravian dan Keira berjalan berdampingan. Bukan bergandengan tangan lagi, melainkan saling mengaitkan lengan seperti sedang menikah.

Begitu memasuki kantin, tatapan Keira langsung menemukan sosok yang dicarinya.

"Viaanaa!" panggilnya.

Viana yang baru saja datang bersama Aleta dan Aura spontan menoleh. Wajahnya langsung berbinar.

"Keiiraaa!" sahut Viana tak kalah nyaring.

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, keduanya berlari kecil lalu berpelukan erat.

"Yuk duduk!" Viana menarik pelan tangan Keira.."Kamu di sebelahku!"

Keira mengangguk sambil tersenyum. Keduanya lalu menyusul Aleta dan Aura yang lebih dulu mengambil tempat di meja langganan mereka.

Aleta memilih duduk di salah satu ujung meja. Di sebelah kanannya duduk Aura. Sementara di sisi kiri Aleta, Ravian langsung menarik kursi tanpa banyak bicara. Di samping Ravian duduk Viana. Sedangkan Keira memilih kursi tepat di sebelah Viana.

Beberapa saat kemudian...

"Permisi," Suara Gavin terdengar dari belakang.

Tanpa menunggu jawaban, inti Black Demon kembali bergabung seperti biasanya. Adrian menarik kursi di sisi kanan Aleta. Membuat Aura harus bergeser, karena dua kursi di samping Aleta ditempati oleh Adrian dan Zion. Ariana lalu duduk di sebelah kanan Aura. Gavin mengambil kursi di samping Ariana. Sedangkan Ezra memilih kursi yang tersisa, yaitu di samping Keira.

Meja yang awalnya sama kecilnya dengan meja-meja lain, kini benar-benar penuh. Meja besar itu memang dibuat khusus untuk mereka atas perintah dan ide Zion sendiri.

"Gila!"

"Itu meja isinya orang-orang paling terkenal semua."

"Kalau difoto, bisa jadi poster sekolah."

"Serius."

"Visualnya nggak masuk akal."

Namun, yang paling membuat seluruh kantin ribut bukanlah wajah mereka. Melainkan hubungan mereka yang semakin sulit ditebak.

"Tadi pagi Ravian mengantar Viana."

"Sekarang Keira justru terlihat paling lengket dengan Viana."

"Tapi Ravian tampak santai duduk di sisi lain meja. Ya walaupun sesekali ikut menimpali obrolan mereka."

"Ini sebenarnya siapa sama siapa sih?"

"Apa jangan-jangan selama ini Ravian dekati Viana agar Keira bisa dekat dengan viana?"

"Aku nyerah." Seorang siswi hanya bisa memijat pelipisnya. "Hubungan mereka lebih rumit daripada soal matematika."

Setelah jam makan siang berakhir, mereka pun bangkit hampir bersamaan setelah selesai makan. Satu per satu mulai berjalan meninggalkan kantin menuju kelas masing-masing.

Di barisan paling depan, Aleta, Adrian, Aura, Zion, Gavin, Ezra, dan Ravian berjalan santai sambil sesekali mengobrol.

Sementara itu...

Di barisan paling belakang. Keira, Viana, dan Ariana tampak berjalan berdampingan. Keira berada di tengah, diapit oleh Viana dan Ariana.

Ketiganya terus berceloteh tanpa henti, membahas hal-hal receh yang bahkan tidak terlalu penting. Tawa mereka sesekali terdengar, membuat beberapa siswa ikut menoleh.

Di salah satu meja kantin. Seorang siswi bernama Debby memperhatikan mereka dengan tatapan sinis.

Saat Viana melintas tepat di samping mejanya...

Tangannya sengaja menyenggol mangkuk bakso yang masih menyisakan kuah panas.

Praanggg!

Byurr!

Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara. Kuah itu tumpah tepat mengenai kaki Viana.

"Aw!"

Viana refleks mundur sambil memegang betisnya.

"Panas..." lirihnya

"Viana, are you okay?" tanya Ravian panik sambil berlari menghampirinya.

"Panas..." lirih Viana menahan perih.

"Aku bawa ke UKS, ya."

Tanpa menunggu jawaban, Ravian langsung menggendong Viana ala koala dan berlari keluar kantin.

Semua siswa hanya bisa melongo melihatnya.

"Itu Ravian?"

"Serius dia gituin Viana?"

"Padahal dulu dia seromantis ini sama Kei–"

PLAAKK!!

PLAAKK!!

Tiba-tiba, suara dua tamparan keras menggema memenuhi kantin. Membuat kantin kembali hening dan semua kepala pun kembali menoleh.

Keira.

Gadis itu baru saja menampar kedua pipi Debby tanpa ampun. Belum selesai, tangannya langsung menjambak rambut Debby hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Keii... lepas..." ringis Debby.

"Lepas?" Keira menatapnya tajam.

"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja melakukannya pada Viana?" Jambakannya semakin kuat.

"Aku melakukannya karena tidak suka melihat kedekatannya dengan Ravian!" teriak Debby.

"Lalu?" balas Keira dingin. "Kau mau Ravian bersama perempuan rendahan yang hanya bisa iri sepertimu? Dalam mimpimu!"

"Bukan! Sama sekali bukan aku! Tapi aku ingin dia denganmu! Aku hanya mencoba membelamu!" jelas Debby.

Keira perlahan melepaskan jambakannya. Debby menghela napas lega.

"Kau lebih cocok dengan Ravian dibandingkan si miskin itu," ucap Debby lagi, membuat emosi Keira semakin menjadi-jadi.

PLAK!

Tamparan ketiga kembali mendarat. Debby memegang pipinya yang kini semakin memerah.

"Kenapa kau menamparku lagi?" tanya Debby heran.

"Satu, karena kau bersalah dan melukai Viana." Keira melangkah mendekat. "Dua, aku tidak suka Ravian. Apalagi jika ada orang lain yang berpikir kami berdua cocok. Kau salah. Kami berdua sangat tidak cocok."

Setelah mengatakan itu, Keira mendorong bahu kanan Debby menggunakan telunjuknya hingga gadis itu sedikit terhuyung. Keira pun berbalik pergi.

Belum sempat Debby bernapas lega, Ariana datang menghampirinya.

"Uang ganti rugi," ucap Ariana datar.

"Be-berapa?" tanya Debby.

"Kau pikir kau pantas bertanya berapa?" Ariana mencengkeram dagu gadis itu. Tatapan dinginnya membuat tubuh Debby gemetar.

Beberapa detik kemudian Ariana melepaskan cengkeramannya.

"Maaf..." Debby menunduk.

"Hanya ini yang kupunya. Ini sisa uang jajanku setelah makan tadi." Ia mengulurkan dua lembar uang lima puluh ribu.

Ariana melirik uang itu sekilas.

"Kau pikir kaus kaki dan sepatu Viana yang kubelikan itu hanya seharga seratus ribu? Lelucon macam apa itu?"

"Aku... benar-benar nggak punya lagi." Air mata mulai menggenang di mata Debby.

"Aku ambil setengahnya saja sebagai bentuk penyesalanmu. Memeras orang bukan gayaku. Aku anggap masalah ini selesai."

Ariana mengambil satu lembar uang lima puluh ribu, lalu berbalik meninggalkan Debby yang hanya mampu menundukkan kepala menahan malu.

Tak lama kemudian...

Aleta, Aura, Adrian, dan Zion ikut menghampiri. Aleta menatap Debby tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.

"Berhenti mengganggu temanku," ucapnya tenang.

Namun cukup membuat Debby bergidik. Zion kemudian melangkah maju.

"Kalau tidak ingin berurusan dengan Black Demon, jangan cari masalah lagi di sekolah ini. Apalagi dengan mereka."

Tidak perlu dijelaskan lagi siapa 'mereka' yang Zion maksud. Debby sudah tahu jika yang Zion maksud adalah Aleta dan teman-temannya.

Setelah itu, Gavin yang datang belakangan hanya mendengus sinis.

"Nggak usah cari perhatian, bitch."

Tanpa memberi kesempatan Debby menjawab, mereka semua berbalik meninggalkan kantin. Menyisakan Debby yang kini berdiri seorang diri.

Menanggung tatapan puluhan pasang mata yang sejak tadi menyaksikan seluruh kejadian itu. Bahkan mulut pedas yang membicarakannya juga ada dimana-mana. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, ia hanya bisa mengepalkan tangannya marah.

...****************...

Sesampainya di UKS...

Pintu ruangan itu terbuka pelan. Pemandangan di dalamnya langsung membuat inti Black Demon yang baru datang sedikit terkejut.

Terlihat Ravian sedang berjongkok di depan Viana. Dengan hati-hati, ia mengoleskan salep pada kaki Viana yang terkena kuah bakso panas.

"Masih sakit?" tanya Ravian lembut.

"Hmm..." Viana mengangguk pelan. "Perih."

Ravian meniup pelan bagian yang memerah sebelum kembali membalutnya dengan kasa tipis.

Pemandangan itu membuat semua orang terdiam beberapa saat. Mereka lalu menarik kursi yang tersedia dan duduk begitu saja, memperhatikan Ravian yang tampak sangat telaten.

"Buset... Ravian lagi cosplay bidan," bisik Gavin pelan. Ariana langsung menyikut lengan Gavin.

"Diam."

Sementara itu, Ezra memilih duduk di samping Keira. Ia melirik Ravian dan Viana beberapa detik, lalu mendekatkan wajahnya sedikit.

"Keii..." bisiknya pelan.

Keira tersenyum kecil.

"Cepat atau lambat... mereka berdua akan menjadi sepasang kekasih."

"Lalu bagaimana denganmu? Kalian sudah putus?" tanya Ezra.

"Dibilang putus juga bukan. Karena kami memang tidak pernah menjalin hubungan sejak awal. Bisa dibilang... kami hanya dijodohkan atas permintaan Ravian. Aku sadar, jika selama ini aku tidak pernah benar-benar memiliki perasaan padanya. Hingga akhirnya, Ravian juga hilang rasa. Itulah sebabnya pertunangan kami batal," bohong Keira. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

"Jadi..." Ezra menggantungkan ucapannya. "Sekarang dia sudah tidak punya hak lagi atasmu?"

Keira berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Dia tetap berhak menjagaku. Meskipun sekarang aku benar-benar single. Karena dia sudah berjanji di depan makam nenekku, dia harus tetap menepatinya untuk menghindari sial, right?"

Ezra mengangguk lalu tersenyum tipis.

"Berarti... aku boleh mendekatimu?" Ia menatap Keira cukup lama.

"Hah?"

...****************...

Di tempat lain...

Seorang wanita berusia sekitar dua puluhan baru saja tiba di depan sebuah sekolah dasar. Penampilannya begitu glamor, dengan riasan tebal yang tetap terlihat elegan. Lipstik maroon menghiasi bibirnya, sementara dress hijau yang dikenakannya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya tanpa terlihat mengembang.

Begitu melihat putranya keluar dari gerbang sekolah, senyum hangat langsung terukir di wajahnya.

"Hai, sayang... Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?"

Putranya mengangguk antusias.

"Nanti malam ulang tahun Celsy, kita datang, kan, Mom?" tanyanya sambil menyerahkan sebuah undangan.

"Tentu, sayang." Wanita itu menerima undangan tersebut. "Sekarang ayo pulang. Nanti sore kita beli pakaian baru untukmu. Kamu bisa memakainya nanti malam."

"Baik, Mom!"

Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman sekolah.

Sesekali, ia melirik putra kesayangannya yang duduk di kursi penumpang. Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum puas.

'Jika bukan karena Anneta yang menghalangi pernikahanku dulu, Chris pasti sudah dewasa sekarang.'

Tatapannya kembali tertuju pada jalan di depan.

'Syukurlah Anneta sudah tidak ada. Dengan begitu, aku bisa hidup tenang bersama suamiku dan dikelilingi harta yang berlimpah.'

Senyum puas kembali menghiasi wajahnya. Seolah kematian seseorang telah membuka jalan menuju kehidupan yang selama ini ia inginkan.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!