NovelToon NovelToon
Our Destiny : Your Eyes

Our Destiny : Your Eyes

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:176.4k
Nilai: 5
Nama Author: Theofanny

Apakah kau percaya pada cinta?

Morgan dipertemukan dengan Vivian, seorang wanita yang pernah dia cintai dulunya. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu.

Perjalanan cinta mereka menghadapi banyak sekali tantangan, hingga jarak dan waktu benar-benar memisahkan mereka.

Namun semakin jauh mereka dipisahkan, mereka semakin menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.

Apakah mereka berhasil dipersatukan kembali? Bagaimana perjalanan cinta mereka akan terjadi?

Penuh dengan nuansa romantis bercampur pelajaran hidup yang menarik, ikuti kisahnya disini!

Update setiap hari pukul 23:00 - 02:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theofanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Bersalah

Perjalanan pulang kembali ke kamp utama akhirnya selesai tepat saat matahari mulai terbenam.

Vivian segera meminjam kendaraan untuk pergi ke kota terdekat agar dirinya dapat mengabarkan Morgan sesegera mungkin.

Sepanjang perjalanan, Vivian ditemani oleh seorang jagawana wanita yang kebetulan akan ke kota sebentar dan kemudian kembali ke kamp utama keesokan harinya.

Sepanjang perjalanan sekitar tiga jam menuju kota, Vivian merasa bersalah tidak mengabari Morgan apapun karena keadaan memang ponselnya tidak memiliki sinyal sama sekali.

Vivian memikirkan bagaimana perasaannya pada Morgan, Vivian merasa bahwa perasaannya tetaplah setia pada Morgan meskipun kehangatan dari Alex sedikit mengganggu pikirannya.

Permintaan maaf Vivian kemarin malam adalah karena Vivian tidak memberikan kabar apapun pada Morgan selama sebulan penuh, hingga menimbulkan rasa bersalah yang mendalam pada Vivian.

Akhirnya Vivian tiba di kota terdekat. Sebelum Vivian keluar dari mobil untuk membeli logistik, Vivian langsung membuka ponselnya untuk melihat notifikasi dari Morgan.

Banyak sekali pesan masuk dari Morgan ke ponselnya. Semua berisi curhatan Morgan dan kekhawatiran Morgan pada Vivian.

“Vivian, apa kau baik-baik saja?”

“Aku merindukanmu.”

“Kuharap kau baik-baik saja. Segera hubungi aku jika semua sudah selesai, aku akan menunggu.”

Vivian tersenyum membaca semua pesan dari Morgan yang memenuhi notifikasi ponselnya.

Dengan kerinduan yang mendalam setelah sebulan penuh tidak berhubungan, Vivian segera menghubungi nomor Morgan.

Telepon dari Vivian sempat terlewat hingga dua kali panggilan, namun ketika panggilan yang ketiga, Vivian mendengar suara seorang wanita yang mengangkat telepon darinya,

“Halo, ada apa?”

“Halo, mengapa ponsel Morgan ada padamu?”

“Morgan tidur bersamaku dan dia tidak dapat bangun sekarang. Kau siapa?”

Mendengar hal itu diucapkan oleh seorang wanita, Vivian langsung mematikan teleponnya.

Bagaimana bisa seorang wanita yang mengangkatnya? Dan bagaimana bisa wanita itu mengatakan Morgan bersamanya?

Vivian duduk termenung, menangis, memandang keluar dengan perasaan yang terluka.

Hati Vivian serasa seperti ditusuk dan diiris hingga berkeping-keping.

Padahal Vivian hanya ingin melepas kerinduannya pada Morgan dan menceritakan semua yang Vivian temui selama berada di hutan.

Air mata Vivian mulai membasahi pipinya. Vivian sebenarnya tahu bagaimana Morgan mencintainya, namun Vivian juga tahu bahwa semua bisa berubah diluar kemampuannya.

Namun Vivian tetap berusaha berpikir positif, mungkin saja Morgan sedang mabuk dan tidak sadarkan diri, mungkin saja Morgan diberikan semacam obat tidur, tapi tetap saja … itu cukup melukai perasaan Vivian.

Vivian memandang keatas dan menarik nafasnya dalam-dalam.

Akhirnya Vivian memutuskan untuk tetap berpikiran bahwa itu hanyalah kecelakaan, hanyalah ketidaksengajaan.

Vivian lalu menghapus air matanya, keluar dari mobil, dan mulai membeli beberapa logistik untuk bulan berikutnya.

*****

Sebulan berlalu semenjak Morgan pertama kali menggelar konser bersama kru Autumn Music.

Kali ini Morgan sedang berada di Amsterdam, Belanda. Setelah sebelumnya konser di kota Morgan sendiri, Paris, Prancis.

Malam hari setelah konser Morgan yang melelahkan di Amsterdam, Morgan yang sedang galau karena kekhawatirannya pada Vivian selama ini, membawa dirinya ke sebuah bar dan berniat untuk mabuk disana.

Morgan berjalan dengan santai sambil menikmati suasana malam di Kota Amsterdam.

Kota Amsterdam yang indah dipenuhi dengan pepohonan, bunga-bunga tulip, hingga kanal indah di pinggiran jalannya.

Ketika Morgan sedang berjalan kaki ke sebuah bar didepan hotelnya, Morgan melihat Clara berlari dari belakang menyusul Morgan.

Mungkin Clara bermaksud untuk menemani kegalauan Morgan, meskipun Morgan tak pernah bercerita apapun mengenai kegalauannya, tampaknya Clara sudah tahu hanya dengan melihat ekspresi wajah Morgan yang selama sebulan ini kurang bersemangat.

"Ingin menyendiri lagi tuan?" Clara tersenyum menyapa Morgan dan langsung menggandeng tangan Morgan.

"Tidak, aku hanya ingin menikmati suasana malam kota ini sebelum kita pergi," jawab Morgan. Morgan sengaja membiarkan tangannya dirangkul oleh Clara, lagi pula takkan ada yang cemburu juga.

Akhirnya mereka tiba di sebuah bar kecil yang dihiasi dengan lampu neon redup, suasana yang sepi menemani Morgan dalam kegalauannya.

Mereka langsung duduk dipinggir kaca dan menikmati beberapa sajian bir dari bar itu.

Morgan merasa depresi karena tidak mendapatkan sedikitpun kabar dari Vivian selama sebulan penuh, ya, sebenarnya Morgan hanya khawatir bahwa kekasihnya akan mengalami kesulitan.

Dengan keadaan depresi seperti itu, Clara berusaha memanfaatkan keadaan ini dengan mendekati Morgan dan membuat Morgan sangat mabuk.

Setelah minum bir cukup banyak, Clara melihat Morgan sangat mabuk, akhirnya Clara memutuskan untuk membawa Morgan ke kamarnya dengan bantuan dari supir taxi yang dipesannya sebelumnya.

Ketika Clara telah melihat Morgan tidur pulas dan ingin segera tidur bersamanya, ponsel Morgan yang berada didalam kantong celana Morgan berdering.

Tidak hanya sekali, itu berdering hingga tiga kali.

Clara yang penasaran langsung membuka ponselnya dan melihat layar ponsel Morgan mendapatkan panggilan dari “Vivian” lengkap dengan emotikon hati diujung namanya.

Clara mengerutkan alisnya setelah melihat itu, mungkin saja wanita yang bernama Vivian ini yang membuat Morgan segalau ini, mungkin saja Vivian adalah kekasih Morgan.

Clara yang sejak dulu bermaksud untuk merebut Morgan yang saat ini terikat kontrak dengannya mengangkat telepon itu, dan Clara berencana untuk menyakiti hati wanita bernama Vivian ini agar dirinya segera menyerah dari Morgan hingga melepaskan Morgan.

“Halo, ada apa?”

“Halo, mengapa ponsel Morgan ada padamu?”

“Morgan tidur bersamaku dan dia tidak dapat bangun sekarang. Kau siapa?”

Telepon dari wanita itu tiba-tiba diakhiri. Dengan senyuman yang puas, Clara meletakan ponsel Morgan dan segera tidur.

….

Pagi yang hangat akhirnya telah terbit.

Morgan merasakan sakit kepala setelah terbangun dari tidurnya. Morgan baru ingat jika tadi malam dia sangat mabuk dan berada di sebuah bar kecil.

Namun mengapa saat Morgan membuka matanya dia ada didalam sebuah kamar hotel?

“Tunggu, ini kaki siapa?” Pikir Morgan setelah merasakan ada kaki yang menyentuh tubuhnya.

Morgan membuka selimutnya dan memandang wajah Clara ada disampingnya.

“Apa-apaan ini?!” Pikir Morgan kesal setelah memandang wajah Clara ada disampingnya.

Morgan segera memasang pakaiannya dan pergi dari kamar Clara.

Morgan kembali masuk ke kamarnya dan membuka ponselnya.

Alis Morgan meninggi setelah melihat beberapa panggilan dan pesan teks yang dikirimkan dari seorang wanita yang selama ini ada dalam pikirannya, Vivian.

"Hai Morgan, aku baik-baik saja."

"Aku merindukanmu juga."

"Jaga kesehatanmu ya!"

Morgan melihat log panggilannya, ternyata Vivian sempat menghubungi Morgan hingga tiga kali tadi malam.

Dua panggilan ditolak dan satu panggilan dari Vivian diangkat, satu-satunya yang Morgan ketahui adalah Clara yang semalaman bersamanya.

Morgan sebenarnya cukup muak dengan sikap Clara padanya, Clara kadang tiba-tiba datang langsung menggandeng Morgan, mencium pipi Morgan, dan melakukan semua hal yang disukainya pada Morgan seenaknya.

Namun Morgan tidak dapat berbuat banyak, karena Clara jugalah yang membantu Morgan mewujudkan impiannya selama ini, Clara jugalah yang banyak membantu Morgan melewati semua kesulitan selama Morgan melakukan konsernya.

Morgan lalu mencoba kembali menghubungi Vivian.

Alangkah bahagianya Morgan setelah panggilan dari Morgan sampai pada Vivian.

Setelah menunggu beberapa panggilan, akhirnya Vivian menjawab panggilan dari Morgan.

“Halo Vivian. Aku sangat merindukanmu disini.”

“Hm. Terima kasih Morgan.”

“Bagaimana keadaanmu disana?”

“Aku baik. Sudah dulu ya, aku akan pergi.”

Panggilan dari Morgan tiba-tiba diputuskan oleh Vivian.

Perasaan senang setelah mendengar bahwa Vivian baik-baik saja bercampur dengan sedikit kekesalan, bagaimana bisa setelah sebulan tidak ada kabarnya namun setelah di telepon Vivian terasa begitu cuek? Aneh.

“Apa dia kesal padaku? Tapi karena apa?” Pikir Morgan dan mulai menelaah kesalahannya pada Vivian.

Sontak Morgan teringat tiga panggilan dari Vivian tadi malam. Dua terlewat dan satu terangkat.

“Clara! Sudah pasti adalah dia!” Morgan segera beranjak dari kamarnya dengan maksud ingin bertanya pada Clara apa yang dilakukannya pada Vivian tadi malam.

Morgan keluar kamarnya dan berjalan menuju kamar Clara yang berada 10 lantai diatas kamar Morgan.

Ketika Morgan tiba didepan pintu kamar hotel Clara, Morgan mendengar ada suara tangisan dari kamar Clara.

Suara tangisan itu seperti suara Clara, entah apa yang dilakukan Clara, Morgan tidak perduli dan tetap akan menanyakannya tentang tadi malam.

Morgan ingin mengetuk, namun pintu kamar Clara tidak terkunci sehingga Morgan bisa masuk dengan mudah.

Morgan berjalan melewati lemari dan Morgan melihat Clara duduk sendirian disudut kamarnya menghadap ke luar jendela.

Clara menutup wajahnya dengan tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Morgan yang sebelumnya kesal pada Clara merasa kasihan setelah melihatnya menangis seperti itu.

“Clara … ada apa?” Morgan mendekat lalu duduk diatas kasur yang berada dibelakang Clara.

Clara membuka tangannya, memandang Morgan dan memeluk Morgan dengan erat.

“Aku ….”

1
Saputrii
kak bagus karya mu

yuk mampir juga di novel ku
yang berjudul
SAMA RUPA BEDA NASIB
syafridawati
aku mampir salinh dukung ya makasih
Whiteyellow
likr you
SyaSyi
hai k aku mampir membawa like utk mu
aku nyicil baca dan like nya y, aku jadikan favorite dulu
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Ayuwidia
Tiga like

Semangat Up Kak 🌸🌸
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Jeremy bisa aja nyuruh² william 🤭

Eh, ada si Gwen, Aerin ikut gk?

Morgan cepat sembuh ya...
kasihan vivian, apalagi dia sedang hamil 😢
kok jd kesel ya sama william😌
Hayaku Gaya
Gwen! 😱😍Woahh.. Gwennya steph bukan nih.. haha
Wah wah, pesen ngga sepanjang biasanya aja harus diselidiki.. wah 😆🤣
Hayaku Gaya
Nah bener yang ngelakuin William, ya ya alasan itu kalau aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama..

wah wah, Cie yang di temenin Jeremy.. Cie Cie.. yang dimasakin..
YonhiarCY (Hiatus)
biasanya cewe yang susah melupakan cinta nya, tapi kalo cowo yang susah melupakan cintanya itu adalah hal yang langka sih, kesetiaan itu diliat dari cowo nya dulu, cowonya cinta sih hubungan akan baik baik saja, sabar ya Jeremu huhu😢
YonhiarCY (Hiatus)
akhirnya Vivian punya debay😭 senneg deh huhu, sudah ya sedih sedih nya, saat nya pelangi bersemi setelah badai oke huhu😭
YonhiarCY (Hiatus)
dipukul begitu tuh sakit nya ga sebanding dengan sakit hati didalam hati Jeremy tuh, huhu terluka tanpa di sentuh, menyakitkan😭
YonhiarCY (Hiatus)
menyebalkannya Morgan tuh sampe kesini lho kak, nyebelin banget, greget bgt aku sama Morgan lah😒
uhh indah bgt oemandangannya suka deh huhu😢

hai kakak, maaf ya aku baru mampir lagi huhu😭
ACILMEY
lanjut dek 👍👍
ACILMEY
aku like 👍
Jessica Jennie
Omo itu ada Gwen dari novel sebelah 😍
Elina Kauntu
Wah ternyata william pelakunya yaa 😭
Adudu Will kamu itu keren masa gitu 😭
Leni Latifah
2 like untuk karya bagusmu Pow 🥰
Machan
cepet sembuh morgan.
angela, masalah lacak melacak emang jagonya. tapi maaf, vivian udah tau.

kaget juga dia ternyata william yang melakukannya
Rola
Like hadir kk, Semongko
di tunggu respek nya. 2 like 👍👍
~Lord Biawak~
lain dimulut lain dihati,dasar angela😑😑
(Baru kali ini liat Wiliam di suruh suruh)🤣🤣

Semoga penyakit Morgan cepet sembuh,biar Vivian gak nangis-nangisan lagi🙂🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!