NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Pagi itu, ballroom hotel bintang lima yang menjadi lokasi wisuda besok sudah dipenuhi oleh ratusan mahasiswa tingkat akhir. Hiruk-pikuk suara tawa, obrolan tentang toga, hingga arahan panitia melalui pengeras suara menciptakan atmosfer yang sangat berisik. Di tengah kerumunan itu, Arunika melangkah dengan penuh semangat, mengenakan pakaian kasual namun rapi untuk gladi bersih.

Di sampingnya, Thomas berjalan dengan langkah tegap. Meskipun hanya mengenakan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung hingga siku, aura kepemimpinannya tetap terpancar kuat. Ia sengaja mengosongkan jadwal paginya hanya untuk memastikan Arunika sampai di lokasi dengan aman—terutama setelah insiden Marcell tempo hari.

"Nika! Sini!" teriak seorang teman seangkatannya dari kejauhan.

Arunika melambai ceria. "Mas, aku ke sana ya! Temen-temenku udah kumpul."

Thomas hanya mengangguk kecil, mengikuti dari belakang dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Begitu sampai di kerumunan teman-temannya, Arunika langsung dikerubuti. Tiga orang mahasiswi, sahabat dekat Arunika, menatap Thomas dengan mata yang tidak berkedip, seolah-olah sedang melihat aktor papan atas masuk ke dalam kampus mereka.

"Nik! Demi apa lo bawa siapa ini?" bisik salah satu temannya, Tasya, sambil menyenggol bahu Arunika.

Arunika tersenyum bangga, ia menarik lengan Thomas agar berdiri lebih dekat. "Oh, kenalin. Ini Mas Thomas, suami aku."

Ketiga teman Arunika itu kompak menutup mulut dengan tangan, ekspresi mereka benar-benar dramatis.

"Halo, saya Thomas," ucap Thomas dengan nada bicara yang sopan namun formal. Ia memberikan sedikit anggukan yang sangat berwibawa.

"Halo, Mas Thomas... duh, Nik, suami lo beneran?" tanya mahasiswi lainnya, Sarah, dengan nada iri yang kental. "Ganteng banget, Nik! Kayak keluar dari drakor-drakor yang sering lo tonton itu. Tinggi, tajam, rahangnya itu lho... mahal banget kelihatannya!"

Thomas yang mendengar pujian itu hanya memberikan senyum tipis yang sangat terkontrol. Dalam hati, ada sedikit rasa bangga yang muncul. Siapa yang tidak senang dipuji di depan istrinya sendiri? Ia bahkan sempat memperbaiki posisi jam tangannya, sedikit menunjukkan sisi narsistik yang jarang ia perlihatkan.

Namun, jawaban Arunika berikutnya benar-benar seperti siraman air es bagi Thomas.

"Hah? Ganteng banget?" Arunika mengerutkan dahi, menatap wajah Thomas dari samping seolah-olah sedang memeriksa barang belanjaan yang kurang segar. "Biasa aja, nggak ganteng banget gitu. Perasaan Mas Thomas tiap hari mukanya ya begini, kadang malah mirip kulkas kalau lagi diem."

Senyum tipis di bibir Thomas seketika membeku. Ia melongo, menatap Arunika yang menjawab dengan wajah sangat polos tanpa beban.

"Biasa aja?" batin Thomas berteriak.

"Nik, lo sehat?" Tasya memegang dahi Arunika. "Ini spek dewa begini lo bilang biasa aja? Mata lo ketutupan debu skripsi ya?"

"Iya, beneran biasa aja," lanjut Arunika santai, sambil membetulkan tali tasnya. "Mas Thomas itu kalau belum mandi sama pas lagi masak semur tuh malah lebih berantakan. Gantengan aktor drakor itu tuh, yang kemarin kita tonton, siapa namanya? Ji Chang-wook? Nah, itu baru ganteng banget!"

Thomas menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak meledak di tengah kerumunan mahasiswa ini. Ia merasa harga dirinya sebagai pria yang selalu masuk daftar "CEO Paling Menarik" di majalah bisnis baru saja jatuh ke titik nol di hadapan istrinya sendiri.

"Arunika," panggil Thomas dengan nada yang sedikit ditekan.

"Iya, Mas? Kenapa? Mas laper?" tanya Arunika polos, menoleh ke arah suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.

"Tidak. Aku tidak lapar," sahut Thomas ketus. Ia kemudian menatap teman-teman Arunika. "Maaf, saya harus membawa istri saya ke depan panggung sekarang. Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan."

Thomas langsung menggandeng tangan Arunika dan menariknya menjauh dari kerumunan teman-temannya yang masih tertawa cekikikan.

"Eh, Mas! Pelan-pelan dong! Kenapa sih?" keluh Arunika sambil setengah berlari mengikuti langkah Thomas yang mendadak jadi sangat lebar.

Begitu mereka berada di sudut ballroom yang agak sepi, Thomas berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Arunika. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, menatap Arunika dengan tatapan yang sangat serius.

"Jadi... menurutmu aku biasa saja?" tanya Thomas menuntut penjelasan.

Arunika mengerjapkan mata. "Loh, emang kenapa, Mas? Kan setiap hari aku liat Mas. Masa aku harus histeris tiap pagi teriak 'Wah ganteng banget!' gitu? Kan aneh."

"Tapi setidaknya jangan bilang 'biasa saja' di depan teman-temanmu, Arunika. Kamu membuat harga diriku terluka," protes Thomas, suaranya terdengar seperti anak kecil yang merajuk namun dengan versi bariton yang berat.

Arunika tertawa geli melihat ekspresi Thomas. Ia berjinjit, lalu menepuk-nepuk pipi Thomas yang kaku. "Aduhh, Mas CEO kita tersinggung ya? Cup cup cup. Lagian kalau aku bilang Mas ganteng banget, nanti temen-temenku pada naksir. Bahaya tahu!"

Thomas terdiam sejenak. "Jadi itu alasanmu?"

"Ya salah satunya," Arunika menyeringai jahil. "Tapi emang jujur sih, Mas itu kalau lagi pake apron masak jauh lebih ganteng daripada pake jas begini. Kelihatannya lebih... manusiawi."

Thomas menghela napas, ia menarik Arunika ke dalam pelukan singkat, mengabaikan beberapa panitia yang lewat. "Dasar anak kecil. Kamu benar-benar tahu cara membuatku merasa berada di atas langit dan jatuh ke bumi dalam waktu satu detik."

"Tapi Mas tetep sayang kan sama si anak kecil ini?" goda Arunika sambil mendongak.

Thomas menjewer pelan telinga Arunika. "Kalau tidak sayang, aku sudah meninggalkanmu di sini bersama teman-temanmu yang aneh itu. Sekarang masuk ke barisan, gladi bersih mau dimulai."

"Siap, Suami yang 'biasa saja'!" seru Arunika sambil berlari menuju barisannya.

Thomas berdiri di sana, menatap punggung Arunika dengan senyum yang akhirnya benar-benar tulus. Ia menyentuh rahangnya sendiri, bergumam pelan, "Ji Chang-wook ya? Sepertinya aku harus mulai rajin ke gym lagi supaya tidak dibilang 'biasa saja' oleh istri sendiri."

Meskipun kesal, Thomas menyadari satu hal; kejujuran Arunika yang terkadang menyakitkan itulah yang membuatnya merasa hidupnya tidak lagi kaku dan penuh kepalsuan seperti di dunia bisnis. Di mata Arunika, ia bukanlah CEO hebat, ia hanyalah Thomas—pria yang masak semur dan terkadang kaku seperti kulkas—dan bagi Thomas, itu sudah lebih dari cukup.

***

Lampu-lampu lobi hotel yang megah perlahan menjauh saat mobil Thomas membelah jalanan sore yang mulai padat. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan menyelimuti mereka berdua. Arunika tampak lunglai, kepalanya bersandar pada kaca jendela, memperhatikan rintik gerimis tipis yang mulai membasahi aspal.

Thomas melirik sekilas ke arah istrinya. "Mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Thomas lembut sambil memutar kemudi dengan satu tangan.

"Langsung pulang aja, Mas. Capek banget," jawab Arunika dengan suara yang terdengar parau. "Gladi bersih ternyata lebih menguras tenaga daripada kuliah biasa. Berdiri berjam-jam pakai sepatu ini bikin kakiku mau copot."

"Ya sudah, kita pulang. Istirahatlah," sahut Thomas singkat.

Mobil melaju dengan tenang. Namun, di tengah perjalanan, Arunika tiba-tiba menegakkan punggungnya. Ia tampak gelisah, jemarinya saling bertautan dan meremas ujung bajunya sendiri. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak pengakuan Thomas semalam di meja makan.

"Eh, Mas... tapi..." Arunika menggantung kalimatnya.

"Apa?" Thomas menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depan.

Arunika menelan ludah pelan. Ia memberanikan diri menatap profil samping wajah Thomas yang tegas. "Kita... tetap nggak satu kamar kan, Mas?"

Pertanyaan itu membuat Thomas refleks mengendurkan injakan gasnya sejenak. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum bertanya balik dengan nada datar namun dalam, "Maksud kamu?"

Wajah Arunika seketika terasa panas, bahkan mungkin sudah semerah tomat matang. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak berani menatap Thomas.

"A-aku... aku belum siap buat 'gituan'," bisik Arunika dengan suara yang sangat pelan, namun masih bisa terdengar jelas di ruang kabin yang sunyi itu. "Maksudku, biarpun Mas bilang Mas sayang sama aku, dan aku juga... ya gitu... tapi kontrak kita kan awalnya bilangnya cuma tinggal bareng, bukan... ya, Mas tahu lah maksudku."

Thomas terdiam cukup lama. Ia mengarahkan mobilnya masuk ke area parkir apartemen yang remang. Begitu mobil terhenti sempurna di slot parkir mereka, Thomas mematikan mesin, namun ia tidak langsung turun. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan memutar tubuhnya menghadap Arunika.

"Arunika, lihat aku," perintah Thomas dengan nada yang rendah namun menenangkan.

Dengan sangat perlahan dan penuh keraguan, Arunika menoleh. Matanya yang bulat tampak bergetar, menunjukkan ketakutan sekaligus rasa malu yang luar biasa.

Thomas menghela napas panjang. Ia meraih tangan Arunika yang gemetar dan menggenggamnya erat. "Kamu pikir aku ini pria macam apa, Nika? Yang akan memaksamu melakukan sesuatu hanya karena aku sudah menyatakan perasaanku?"

"Bukan gitu, Mas... aku cuma takut kalau Mas berharap lebih karena kita sudah mulai jujur satu sama lain," sahut Arunika lirih.

Thomas tersenyum tipis—jenis senyum yang sangat jarang ia perlihatkan, yang hanya mengandung ketulusan tanpa ada sedikit pun kesan sombong. "Dengar. Aku memang bilang aku mau kita menjadi suami istri yang sebenarnya. Aku ingin menghapus batas 'kontrak' itu. Tapi 'sebenarnya' bagiku bukan berarti aku harus memilikimu secara fisik malam ini juga."

Arunika mengerjapkan matanya. "Maksud Mas?"

"Menjadi suami istri yang sebenarnya itu soal rasa aman, Nika. Soal kepercayaan. Soal bagaimana aku menjagamu dan bagaimana kamu merasa nyaman bersamaku," jelas Thomas. Tangannya bergerak mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya. "Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun saat kamu masih mengejar Marcell. Menunggumu beberapa waktu lagi sampai kamu benar-benar siap... itu bukan masalah besar bagiku."

Arunika merasa sebuah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Rasa haru menyeruak di dadanya, membuat matanya terasa panas. "Jadi... kita masih tidur di kamar masing-masing?"

Thomas terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang terlalu serius. "Kalau itu maumu, iya. Tapi kalau nanti malam kamu mimpi buruk atau takut petir, pintu kamarku tidak pernah dikunci. Kamu boleh masuk, tapi tetap ada batas guling di tengah. Bagaimana?"

Arunika tertawa renyah, meski sisa-sisa rasa malunya masih ada. "Gulingnya harus dua ya! Mas Thomas kan badannya besar, kalau cuma satu nanti gulingnya kalah."

"Dasar anak kecil," Thomas menjewer pelan hidung Arunika. "Ayo turun. Mochi pasti sudah kelaparan menunggu kita."

Mereka berdua berjalan menuju lift apartemen dengan suasana hati yang jauh lebih ringan. Kecanggungan yang tadi sempat menyelimuti kini berganti dengan rasa saling menghargai yang baru.

Sesampainya di dalam unit mereka, Mochi langsung menyambut dengan suara mengeong yang manja, menggosokkan badannya ke kaki Thomas. Thomas segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan kucing, sementara Arunika duduk di sofa sambil melepas sepatunya.

"Mas..." panggil Arunika lagi.

"Ya?" sahut Thomas dari arah dapur.

"Makasih ya, Mas. Makasih karena nggak maksa aku. Makasih karena mau nunggu," ucap Arunika tulus.

Thomas muncul dari dapur dengan piring makan Mochi di tangannya. Ia menatap Arunika sejenak sebelum meletakkan piring itu ke lantai. "Nggak perlu makasih. Itu tugasku. Tapi ingat satu hal, Nika."

"Apa?"

"Aku memang sabar. Tapi jangan terlalu lama juga memberiku batas, karena aku juga punya batas kesabaran sebagai seorang pria normal," goda Thomas dengan kedipan mata yang membuat Arunika langsung melempar bantal sofa ke arahnya.

"MAS THOMAS MESUMNYA KELUAR LAGI!" teriak Arunika sambil berlari masuk ke kamarnya, mengunci pintu dengan bunyi klik yang nyaring.

Thomas tertawa lepas di ruang tengah, suara tawa yang memenuhi seisi apartemen itu. Ia tahu, meskipun malam ini mereka masih tidur di kamar yang berbeda, namun di antara dinding-dinding itu, perasaan mereka sudah menyatu. Dan bagi Thomas, itu adalah kemajuan yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang tertulis di atas kertas kontrak mereka.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak 😘

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!