Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: GOSIP PANTRY
Hari Senin pagi di kantor pusat Bimantara Group selalu berjalan dengan ritme yang super padat. Namun, bagi Anaya, pagi ini rasanya jauh lebih berat dari biasanya. Efek sisa kejadian Jumat malam di rumah utama masih membekas nyata, menyisakan debaran aneh yang belum sepenuhnya reda.
Sambil membawa cangkir keramik hitam kesayangan bosnya, Anaya melangkah menuju pantry utama lantai tiga puluh lima. Dia juga butuh asupan kafein dosis tinggi, bukan cuma untuk menahan kantuk akibat dua malam berturut-turut gagal tidur memikirkan ancaman terselubung Bima, tapi juga untuk menenangkan jiwanya yang mendadak gelisah tak karuan.
Baru saja jemari Anaya menyentuh gagang pintu kaca pantry yang tidak tertutup rapat, telinganya menangkap suara bisik-bisik tetangga yang sangat familier. Suara tiga serangkai dari divisi finansial dan admin umum—Rika, Tika, dan ketua gank mereka, Mbak Amel—sedang mengudara dengan penuh semangat.
"Eh, kalian sadar gak sih? Si Big Bos narsis kita belakangan ini agak geser dikit otaknya," bisik Rika dengan nada tertahan, diiringi bunyi sendok yang mengaduk teh.
"Bukan geser lagi, Rik! Sudah pindah orbit!" sahut Tika heboh. "Kamu lihat kan pas rapat pleno divisi properti hari Jumat kemarin? Sepanjang manajer presentasi grafik laba kuartal dua, mata Pak Bima bener-bener gak fokus ke proyektor. Pandangannya melipir terus ke arah Mbak Anaya!"
Anaya yang berdiri di balik pintu langsung membeku. Langkah kaki dan napasnya tertahan di udara, sementara cangkir di tangannya mendadak terasa lima kali lebih berat.
"Iya, ih! Saya juga lihat!" Mbak Amel ikut menyambar umpan gosip dengan antusiasme tinggi. "Dan yang paling bikin merinding, Pak Bima itu sering kedapatan bengong sambil menatap lekat-lekat ke arah bibir Mbak Anaya. Tatapannya itu loh... dalem banget, kayak singa lagi kelaparan tapi ditahan-tahan. Serem tapi bikin mleyot!"
"Jangan-jangan..." Rika menjeda kalimatnya sengaja, membuat suasana di dalam pantry makin mencekam. "Mbak Anaya pakai jaram-jaram ya? Alias pelet jalur hitam khas daerah!"
"Hah?! Ngaco kamu, Rik?!" Tika memekik pelan. "Tapi masuk akal sih. Secara, Pak Bima kan tingkat narsisnya sudah di luar nalar manusia purba. Laki-laki secakap dan seangkuh itu mana mungkin bisa takluk sampai bengong-bengong begitu kalau gak kena guna-guna."
Detik itu juga, dari balik pintu Anaya bener-bener ingin menelan blender heavy duty yang terdisplay di atas konter pantry. Pelet dari Hongkong?! batin Anaya menjerit frustrasi. Jangankan pakai pelet, bertahan hidup menghadapi omelan Bima setiap hari saja sudah mukjizat terbesar dalam kariernya!
"Apa minyak bulus ya? Atau susuk kantong semar?" tebak Mbak Amel makin melantur kemana-mana.
"Gak usah mistis begitu. Saya cuma pakai pelet air shower dingin, Mbak," potong Anaya santai sambil mendorong pintu kaca pantry hingga terbuka lebar.
KREK.
Tiga wanita di dalam ruangan seketika membeku bagai manekin etalase mall. Rika hampir saja menjatuhkan toples gulanya, Tika mendadak tersedak ludah sendiri, sementara Mbak Amel langsung pura-pura sibuk mengelap konter marmer yang sebenarnya sudah kinclong berkilau.
"E-eh, Mbak Anaya... Pagi, Mbak! Hehe, ini... kita lagi bikin teh herbal buat metabolisme tubuh," ujar Rika dengan tawa canggung yang bener-bener gagal total.
Anaya berjalan elegan menuju mesin kopi otomatis, memasang wajah selempeng mungkin meskipun batinnya sudah menangis darah. "Pagi. Lanjutkan saja diskusinya. Saya cuma mau bikin kopi hitam buat Pak Bima. Oh ya, sekadar informasi, Pak Bima bengong kemarin karena dia lagi menghitung efisiensi anggaran yang kalian potong di laporan keuangan. Jadi, siap-siap saja kena revisi massal ya."
Mendengar kata 'revisi massal', wajah ketiga penggosip itu langsung pucat pasi. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka buru-buru menyambar gelas masing-masing dan melesat pamit keluar dari pantry secepat mobil F1, meninggalkan Anaya yang akhirnya menghela napas panjang sambil bersandar di konter.
"Sialan kamu, Pak Bima... gara-gara kelakuan bengong Bapak, saya yang dituduh main dukun," gerutu Anaya kesal, menyendok bubuk kopi dengan emosi jiwa yang meluap-luap.
Sepuluh menit kemudian, Anaya melangkah masuk ke dalam ruangan megah sang CEO dengan nampan berisi kopi hitam pekat tanpa gula. Di balik meja kerja jatinya, Bima sudah duduk tegak dengan kemeja biru laut yang kontras dengan kulit bersihnya. Tampak luar biasa tampan!
Anaya menghela napas, sebuah usaha keras untuk menepis pikirannya soal ketampanan Bima pagi ini.
"Ini kopi hitam Bapak," ujar Anaya formal, meletakkan cangkir tersebut dengan sedikit sentakan pelan di atas meja.
Bima mendongak, menatap sekretaris utamanya dengan senyuman tipis yang langsung membuat Anaya waspada. "Kamu kenapa, Anaya? Pagi-pagi wajahnya sudah ditekuk seperti laporan rugi laba kuartal buruk."
"Saya kesal sama Bapak!" ketus Anaya, melupakan sejenak batasan profesionalitas karena emosinya sudah di ubun-ubun.
Bima menaikkan sebelah alisnya, meletakkan pena Montblanc-nya santai. "Kesal karena apa? Karena saya terlalu tampan pagi ini? Atau karena kamu merindukan kemeja abu-abu saya yang kemarin?"
"Bapak stop bercanda!" desis Anaya, melangkah lebih dekat ke meja. "Bapak tahu gak? Di pantry bawah, anak-anak finansial menggosipkan saya pakai pelet jalur hitam! Katanya Bapak belakangan ini hobi bengong menatap... hmmm...." Tenggorokan Anaya tiba-tiba tercekat, enggan melanjutkan kalimatnya karena mendadak tengsin.
"Anu apa, Anaya? Yang jelas kamu kalau ngomong," sela Bima, menatapnya dengan binar jenaka yang menyebalkan.
"Emmm... anu, Pak... Bapak terpantau suka lihat ke arah bibir saya pas rapat pleno!"
Mendengar aduan penuh kejengkelan dari Anaya, Bima bukannya merasa bersalah atau panik. Pria itu justru menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia terkekeh rendah—suara tawa bariton yang selalu berhasil membuat pertahanan Anaya agak goyah.
"Oh, jadi mereka sadar ya?" duga Bima santai. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap Anaya dengan tatapan elang yang sangat intens.
"Pak Bima!" Anaya menggeram tertahan.
"Anaya, saya bengong itu bukan karena pelet dukun," aku Bima, suaranya merendah menjadi sangat intim dan kasual.
Pria itu perlahan bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja kerja hingga jarak di antara mereka kembali mengikis habis. "Saya bengong karena saya lagi berpikir... bagaimana caranya mengeksekusi kalimat yang tertunda di kamar mandi kemarin malam."
Anaya mundur satu tapak, namun Bima dengan cepat menangkap pergelangan tangan sekretarisnya dengan lembut namun kokoh. Dia mengunci langkah pelarian Anaya di antara konter dokumen dan tubuh tegapnya.
"Jadi," bisik Bima, wajahnya mendekat hingga Anaya bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan maskulin di kulit wajahnya. "Kamu mau tanggung jawab karena sudah membuat bos kamu ini beneran kena pelet pesona kamu, hmm?"
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...