NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.

Sungguhkah aku untuk mu? Kenyataan masih untuknya. Ku cemburu, namun hanya sebatas itu. Kemana hati kau bawa? Tanpa pernah jelas akhirnya. Ku menunggu, kenyataannya kau di sana. Adakah hatimu masih hatiku?(Masih hatiku: Arsy Widianto & Tiara Andini)

Nyanyian lagu melankonis berputar lembut, mengiringi tangisan seorang gadis berambut panjang, yang tengah merayakan kehancuran.

"Kenapa nangis sih? Naysilla bodoh... Kita belum lama kenal, dia bahkan bukan siapa-siapa ku, kita tak punya ikatan apapun kecuali teman biasa. Tapi... Tapi kenapa sesakit ini sih...? Hatiku seakan terikat begitu erat dan sulit di lepas"

Naysilla menunduk dalam, menumpahkan kekecewaan lewat air mata yang tak berhenti jatuh, membasahi kertas kanvas dalam genggamannya. Setiap goresan kuas terasa berat, seolah hatinya ikut terkoyak bersama bayangan yang terus berputar di kepala.

Jemarinya dengan lihai melukis keindahan wajah Mohan. Matanya, hidungnya, alisnya, ia ukir dengan sempurna, namun setiap sapuan diikuti oleh tetesan air mata yang memudarkan tinta.

"Mungkin, memang aku yang belum sepenuhnya mengenalmu. Aku hanya tau tentang kulit luarmu, sifat dan sikap yang terlihat di permukaan, bukan tentang kedalaman hatimu yang sebenarnya"

Hatinya tak henti berteriak meminta kesadaran, namun kabut cemburu terus menguasai, apalagi ketika bayangan menyakitkan kembali menghantui. Adegan itu terputar berulang kali bagai mimpi buruk yang tak mau usai.

Ruang UKS yang remang, diterangi cahaya lampu yang terasa menyilaukan mata dan menyakitkan hati.

Di sana, sosok yang selama ini ia anggap satu-satunya tempat paling aman untuk pulang, kini duduk berdampingan dengan gadis lain, begitu mesra, persis seperti yang biasa ia lakukan dengannya.

Tangannya yang dulu ia percayai melindungi, kini tergambar begitu menjijikkan ketika menyentuh, membelai lembut, bahkan memuji gadis lain.

Ketika tangannya terulur ke depan dada gadis itu, dengan tatapan memuja, dan terlontar kalimat yang terdengar begitu lembut namun menusuk, terus terngiang di kepalanya, membentuk salah paham yang makin menyakiti hatinya.

“Cantik… gue suka…”

Berulang kali terngiang, menusuk, dan mengingatkannya kembali pada apa yang dilihatnya lewat celah jendela itu.

Rasa percaya yang selama ini ia bangun perlahan, hancur berkeping‑keping dalam sekejap. Yang tersisa hanyalah kekecewaan yang mendalam, rasa sakit yang membeku, dan pertanyaan yang tak terjawab. Apakah semua kelembutan itu hanyalah topeng semata?

Hatinya dibutakan oleh pikiran buruknya sendiri. Ia tak kuasa mencari tau kebenaran, karena menurutnya apa yang di lihat, itu lah yang harus ia percaya.

Tin...

Bagai angin segar, notifikasi pesan masuk dari Mamihnya seketika melegakan hatinya. Bagaikan obat penawar yang hadir di saat paling membutuhkan, isinya terdengar seperti jawaban atas kegelisahan yang membelenggu.

"Nay, Mamih pusing sekali nanggepin nenekmu yang cerewet itu. Nenek berkali-kali minta kamu pindah ke Batam, sekolah disana dan nemenin nenek. padahal Mamih udah bilang kalo kamu baru ajah pindah sekolah, tapi tetep ajah maksa. Semua terserah kamu ajah"

Ia tersenyum samar, dengan jejak basah dipermukaan pipinya. Jemarinya dengan cepat mengetik kata, membuat keputusan.

...****************...

Sore itu, di ruang UKS terbengkalai yang sunyi, kenyataan berjalan jauh berbeda dari apa yang terlihat mata.

“Bagus banget pilihan lo, gue cobain yah,” ucap Dewi dengan nada kagum yang terselip rasa iri di baliknya.

Tanpa menunggu jawaban, tangannya bergerak cepat mengambil sebuah liontin kupu-kupu itu dari dalam kotak, hendak melingkarkan di lehernya sendiri.

Namun secepat Dewi mengambilnya, secepat itu pula Mohan merebut kembali. Gerakannya tergesa hingga rantai halus itu tersangkut di helaian rambutnya. Mohan menariknya paksa, berusaha melepaskan jeratan itu secepat mungkin.

“Mohan… jangan…” pekik Dewi. Ia bergerak gelisah ketika Mohan menunduk di depan wajahnya, begitu dekat sampai dadanya berdebar kuat.

“Diam!” bentaknya singkat, berusaha melepaskan kaitan itu tanpa merusak perhiasan pilihannya.

“Tapi, aaah… Sakit Mohan, pelan‑pelan!” rintih Dewi menahan perih, karena tarikan itu malah membuat rantai makin menjerat, beberapa helai rambut ikut tercabut hingga ujungnya kembali tersangkut di kancing bajunya yang berada tepat di bagian dada.

Mohan pun terpaksa menunduk lebih dekat, tangannya terulur tepat di depan dada gadis itu untuk menjangkau dan melepaskan simpul yang rumit. Begitu rantai itu terlepas sempurna, ia mengangkatnya sedikit, membiarkan cahaya lampu menerangi kilauannya, lalu bergumam puas tanpa sadar.

“Cantik… gue suka.”

Dari luar jendela, posisi itu terlihat persis seolah ia sedang memuji dan mengagumi gadis di hadapannya dengan pandangan penuh hasrat. Padahal pujian itu murni tertuju pada liontin itu sendiri, hadiah yang ia dipersiapkan khusus untuk Naysilla.

Sebuah liontin kupu-kupu yang melambangkan transformasi dan pertumbuhan pribadi. Atau fase baru yang melambangkan keberhasilan seseorang dalam melewati masa sulit, seperti keteguhan nya menghadapi pembullyan yang sebentar lagi akan berakhir selamanya.

Setelah memastikan tidak ada kerusakan sedikit pun, Mohan tidak membiarkan benda itu mendekati Dewi lagi. Ia meraih sebuah boneka kecil yang tergeletak di meja, melingkarkan kalung itu pada lehernya, baru kembali menyerahkan pada Dewi.

“Bungkus rapi. Jangan sampai tergores atau kusut,” perintahnya tegas.

Namun di detik yang sama, seolah ada firasat yang menggelitik hatinya, Mohan menoleh tajam ke arah jendela.

Matanya menangkap sekilas bayangan yang bergerak cepat menjauh, lenyap dibalik kegelapan koridor. Dadanya terasa berdenyut nyeri, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang berharga tanpa sempat mencegahnya.

Ia tak tahu, diam-diam gadisnya pergi membawa luka yang tercipta semata dari pandangan yang salah.

...****************...

Di tempat lain, Satria berjalan terhuyung menembus rintik hujan. Tetesan air bercampur darah yang mengalir dari lukanya, menetes membasahi tanah, membekas menjadi jejak perih di sepanjang langkahnya.

Di tengah rasa sakit yang menyiksa, matanya tak henti meneliti setiap sudut, mencari sosok yang mungkin bersembunyi di antara deretan ruang kosong yang sepi.

“Nay… Naysilla…” panggilnya berulang dengan suara parau dan terputus‑putus.

Dan tepat saat itu, pintu ruang UKS terbuka. Mohan melangkah cepat ketika sayup-sayup mendengar seseorang menyebut nama gadisnya.

Pandangannya langsung bersitatap dengan Satria yang berdiri di ujung lorong itu. Mohan meneguk saliva, kondisi pemuda itu terlihat begitu menyedihkan dengan luka dan darah di sekujur tubuhnya, seketika ia mengaktifkan mode tanda bahaya.

"Lo liat Naysilla lewat sini?" ucap Satria dengan napas memburu. Diam-diam tangannya menyembunyikan pistolnya yang sedikit menyembul ke luar, dan semua itu tak luput dari perhatian Mohan.

"Apa yang terjadi?" wajah yang tadinya hangat, kini kembali dingin. Jantungnya berdegup kencang, rahangnya mengeras membayangkan segala kemungkinan buruk bisa menimpa gadisnya.

"Di sana..." jarinya menunjuk ke belakang, pada dinding tebal yang menyembunyikan akses jalan keluar.

Wajahnya seketika pucat pasi, saat tanpa diduga rombongan pria bertubuh kekar berwajah sangar berhasil mengejar hingga ke tempat mereka.

“Lari… cepat lari! Mereka bahaya!” serunya panik. Ia berusaha melarikan diri dengan sisa tenaga yang ada, namun tubuhnya yang sudah lemah tak sanggup bertahan lama, hingga akhirnya ambruk terjatuh di tempat.

Namun dari kejauhan, sekelompok pria itu justru perlahan berhenti dan mundur, menatap dengan rasa takut pada sosok pemuda berkacamata yang berdiri di sana, menatap mereka dengan pandangan sedingin es dan setajam pisau.

1
kelinci kecil
gemes banget sama kisah cinta mereka. suka banget sama ceritanya, ada manisnya, gregetnya, kecewanya, sakit hatinya semuanya jadi satu.
arina_ar: terimakasih sudah mampir, semoga suka.
total 1 replies
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
arina_ar: terimakasih sudah setia menunggu, terimakasih sudah mampir di novel pertama aku, semoga suka.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
arina_ar: terimakasih sudah mampir di novel pertama aku, semoga suka.
total 1 replies
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!