NovelToon NovelToon
Pak Direktur Mengejar Cintaku

Pak Direktur Mengejar Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.

Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.

Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.

Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

merasa bersalah

Koridor rumah sakit yang sejak tadi dipenuhi kecemasan mendadak menjadi lebih hening ketika pintu ruang penanganan terbuka.

Seorang dokter keluar bersama dua perawat.

Wajahnya terlihat serius.

Ayah dan mamah Raffa segera mendekat

Dokter melepas masker medisnya perlahan.

"Keluarga pasien?"

"Saya ayahnya."

Dokter mengangguk.

"Kami sudah melakukan penanganan darurat. Kondisi pasien saat ini sudah stabil, tetapi..."

Kalimat itu membuat semua orang menahan napas. "Tetapi pasien mengalami benturan yang cukup keras."

Wajah mamah Raffa langsung memucat. "Maksud dokter?"

Dokter menarik napas panjang sebelum menjelaskan. "Selain beberapa luka luar dan patah tulang ringan, Pak Raffa mengalami luka dalam yang cukup serius akibat benturan saat kecelakaan."

Ayah Raffa langsung menggenggam bahu istrinya.

"Apakah berbahaya, Dok?"

"Kami sudah melakukan tindakan yang diperlukan. Saat ini kondisi beliau masih dalam pengawasan intensif."

"Tapi anak saya akan baik-baik saja kan, Dok?" suara mamah Raffa mulai bergetar.

Dokter tidak langsung menjawab. "Kami akan berusaha ibu."

Kalimat itu membuat suasana semakin menegangkan.

Di sudut koridor, Shintia yang sejak tadi berdiri bersama Tari dan Andreas langsung menutup mulutnya.

Air matanya kembali jatuh.

Dokter melanjutkan.

"Saat ini pasien belum sadar."

"Asumsi sementara akibat benturan yang cukup keras di kepala serta kondisi tubuh yang mengalami trauma berat."

Ayah Raffa mengangguk pelan.

"Lalu kapan dia bisa sadar?"

Dokter terdiam beberapa detik.

"Kami belum bisa memastikan."

"Mungkin satu atau dua hari."

"Mungkin juga empat hari."

"Bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai satu minggu."

Tubuh mamah Raffa langsung melemas.

Beruntung suaminya segera menopangnya.

"Ya Allah..."

Air mata wanita itu akhirnya jatuh. Dokter kembali berbicara dengan nada tenang.

"Yang terpenting sekarang kondisi pasien stabil. Kita hanya perlu menunggu respons tubuhnya."

"Dan berdoa."

Setelah memberikan beberapa penjelasan tambahan, dokter akhirnya pamit.

Suasana kembali sunyi. tidak ada yang berbicara. Semua orang larut dalam pikiran masing-masing.

Di sudut ruangan, Shintia menggenggam kedua tangannya erat.

Empat hari, bahkan satu minggu. Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ia bahkan tidak sempat mendengarkan penjelasan Raffa, tidak sempat mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Dan sekarang... Laki-laki itu terbaring tak sadarkan diri. Perlahan air mata kembali mengalir.

Andreas yang melihat adiknya hanya bisa menghela napas. Ia mulai memahami semuanya.

Memahami kenapa Raffa begitu nekat mengejar mereka..Memahami kenapa pria itu terlihat sangat putus asa.

Dan untuk pertama kalinya... Andreas merasa dirinya mungkin telah salah menilai.

...

Beberapa jam kemudian.

Raffa dipindahkan ke ruang ICU, Keluarga hanya diperbolehkan melihat dari luar melalui kaca.

Mamah Raffa kembali menangis saat melihat putranya terbaring dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya.

Ayah Raffa mencoba tetap kuat meski wajahnya terlihat jauh lebih tua dalam beberapa jam terakhir.

Sementara Shintia berdiri jauh di belakang. Ia tidak berani mendekat. Tidak berani bertanya.

Tidak berani mengakui bahwa hatinya terasa sangat sakit melihat kondisi itu.

Tari menatap sahabatnya prihatin.

"Shin..."

Shintia menggeleng. Air matanya jatuh lagi.

"Aku jahat ya, Tar?"

"Jangan ngomong gitu."

"Aku bahkan nggak kasih dia kesempatan bicara."

Tari terdiam.

Karena kali ini ia tidak tahu harus menjawab apa.

...

Malam mulai turun, Namun Shintia tetap tidak mau pulang. Andreas beberapa kali membujuknya.

"Shintia, ayo pulang dulu."

Shintia menggeleng. "Nanti."

"Kamu dari tadi belum makan. Mau apa kamu di sini terus? Kita bisa besok ke sini lagi."

"Nanti."

"Shintia."

"Aku cuma mau tahu dia sadar atau enggak."

Andreas menatap adiknya lama, Lalu akhirnya merendah membujuk Shintia hingga mau ikut.

Ia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusan Shintia saat gadis itu sudah keras kepala.

...

Tiga hari berlalu... Shintia kembali menjenguk Raffa, Kondisi fisiknya mulai sedikit membaik.

Namun matanya tetap tertutup.

Di hari ketiga itu pula, beberapa kali dokter harus menangani kondisi Raffa yang mendadak memburuk.

Bahkan sempat terjadi muntah darah akibat trauma dan luka dalam yang masih dalam pengawasan.

Mamah Raffa kembali menangis saat melihat dokter berlari masuk ke ruang ICU.

Ayah Raffa hanya bisa berdoa.

Sementara di luar ruangan, Shintia yang sejak tiga hari terakhir terus datang ke rumah sakit merasakan lututnya hampir lemas.

"Tari..."

Tari yang berada di sampingnya langsung menoleh.

"Aku takut."

Tari mengusap bahu Shintia pelan.

"Kita doakan dia, Shin."

"Aku takut dia nggak bangun."

Kalimat itu membuat Tari ikut terdiam.

Karena sebenarnya... Ia juga mulai takut. Dan jauh di dalam ruang ICU, Raffa masih terbaring tanpa sadar.

Tidak tahu bahwa di luar sana ada seseorang yang setiap hari datang.

Menunggu, Menangis. Dan berharap ia membuka mata. Meski hanya sekali.

Sampai ke empat harinya, Shintia mendapatkan kabar jika Raffa sudah membaik perkembangan nya, kabar itu membuat Shintia bersemangat dan meminta Andreas untuk menemaninya datang menjenguk.

Andreas yang merasa penasaran juga merasa sedikit bersalah, akhirnya menuruti kemauan Shintia .

***

Di dalam ruang ICU, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya.

Suara alat monitor jantung terdengar pelan mengisi ruangan.

Mamah Raffa yang sejak tadi duduk di samping ranjang langsung berdiri ketika melihat kelopak mata putranya bergerak perlahan.

"Raffa..."

Suara wanita itu bergetar.

Ayah Raffa yang sedang berbicara dengan dokter juga segera menoleh. Perlahan mata Raffa terbuka.

Pandangannya masih kabur.

Kepalanya terasa berat, seluruh tubuhnya seolah remuk. Ia mencoba menggerakkan tangannya namun rasa nyeri langsung menjalar.

"Ah..."

Suara lirih keluar dari bibirnya.

Aswin yang berdiri di belakang mamah Raffa langsung mengembuskan napas lega.

Raffa mengerjap beberapa kali, Langit-langit putih rumah sakit mulai terlihat jelas.

Lalu ia menoleh pelan, Mamahnya nampak menangis.

"Aku... Dimana?" tanyanya dengan suara serak.

Mamah Raffa segera menggenggam tangannya.

"Kamu di rumah sakit."

Raffa terdiam beberapa detik, Ingatannya perlahan kembali.

Mobil, Jalan raya, Shintia.

Lalu benturan keras. Mata Raffa langsung membesar.

"Shin..."

Semua orang di ruangan itu saling berpandangan.

"Shintia..."

Ia mencoba bangun. Namun dokter segera menahannya.

"Jangan bergerak dulu, Pak Raffa."

Raffa menggeleng pelan.

"Shintia..."

"siapa Shintia?"

"Aswin... Mamah"

Aswin langsung mendekat, mamah Raffa mendengarkan menggenggam tangan Raffa.

"Iya, Pak."

"Mana Shintia?"

Pertanyaan itu membuat Aswin menelan ludah.

Belum sempat ia menjawab, pintu ICU perlahan terbuka.

Dokter mengizinkan satu orang masuk selama beberapa menit.

***

Di luar...

Shintia yang belum sampai di rumah sakit begitu gugup, ingin sekali cepat sampai.

Perjalanan mendadak macat.

"kak, ada apa sih ko macet begini...?"

"ya namanya, jam sibuk shin... Ini untung kakak libur, kalau nggak... Mana bisa kakak temani kamu."

Shintia menoleh keluar jendela, menatap kedepan semua penuh dengan pengendara.

1
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa knp??
Raffa tertabrak.? 🥲🥲

di tunggu updatenya ya author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuuu🥰🤗💪
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh kasihan Raffa, gara-gara gosip itu, Shintia jadi salah paham🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Kasihan Raffa 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
makin seruuuu akhirnya Raffa tahu gosip hubungan nya dg Sella
tapi syg nya Shintia terlanjur marah 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Shintia salah paham...
kira² Andreas bakal cerita ke Raffa gk yaa??

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyyy quuu 🤗🥰💪
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh hati nya Shintia pasti hancur banget lihat berita tersebut dan salah paham🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh akhirnya Shintia tahu dan melihat berita tersebut🥲
pasti Shintia salah paham🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Dasar Sella licik.. .
duhhh kapan Raffa sadar akan berita itu yaaa
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Jefry bener stresss bin gila...
duhhh gmn nnt reaksi nya Raffa jika tahu yaaa
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh gmn yaaa jika nnt Shintia, Andreas, Raffa tahu berita tersebut?? gagal dong rencananya Raffa 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh knp gk Raffa saja ksh langsung ke Shintia
takutnya Shintia kecewa 🥲🥲

fuhhh Sella...
kasihan Andreas punya pacar kyak Sella
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Andreas tahu Raffa masih hidup..

kira² Andreas bakal kasih tau Shintia gk yaaa??
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa cepat dong temui Shintia...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa mau di jodohkan ke Sella 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhhh Shintia masih khawatir tuh sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Shintia kangen sama Raffa tuhhh
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa harusnya temui Shintia dong 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee ya tuh Raffa sebenarnya berarti buat shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia... Raffa itu masih hidup 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Sella ganggu Raffa mulu..

duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲

jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!