[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tamu
Malam itu, gudang penyimpanan Aris terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma semen basah bercampur dengan bau karat besi memenuhi ruangan luas yang remang-remang tersebut.
Aris duduk di kursi kerjanya, menghitung tumpukan uang tunai yang baru saja ia peras dari korbannya hari ini.
Pikirannya tenang, merasa bahwa tidak ada seorang pun yang berani mengusik otoritasnya.
Tiba-tiba, lampu bohlam di atas kepalanya berkedip sekali, lalu padam. Seluruh gudang tenggelam dalam kegelapan pekat.
"Sapa yang mematikan lampu? Woi!" Aris membentak ke arah kegelapan. Tidak ada jawaban. Hanya suara tetesan air dari atap gudang yang bocor yang terdengar ritmis, seolah menghitung sisa waktu hidupnya.
Aris berdiri, tangannya meraba pistol di pinggangnya. "Budi? Jono? Cek saklar listrik sekarang!"
Hening. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada sahutan.
"Sialan," gerutunya. Ia meraba saklar lampu di dinding kantornya, tetapi sia-sia. Aris melangkah keluar dari ruang kantor menuju lantai gudang yang luas. Matanya mencoba beradaptasi dengan minimnya cahaya yang masuk dari celah atap.
Tepat saat ia melangkah, ia mendengar suara basah seperti daging yang diiris, disusul suara tubuh jatuh menghantam lantai beton dengan dentuman yang tumpul.
"Budi?" suara Aris bergetar, meskipun ia berusaha menutupi rasa takutnya dengan amarah.
Ia menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih yang menyilaukan itu menyorot ke arah gudang bagian tengah. Jantung Aris seakan berhenti berdetak.
Di sana, Budi, anak buahnya yang paling besar dan kuat, tergeletak di atas genangan cairan kental yang mulai meluas. Lehernya menganga lebar, sebuah lubang menganga yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebelum Aris sempat berteriak, bayangan hitam bergerak sangat cepat di sudut matanya. Seorang pria muda, berpakaian serba hitam, berdiri di atas tumpukan peti kayu.
Wajahnya tertutup bayang-bayang, namun matanya, mata itu bersinar dingin di bawah cahaya senter yang berguncang.
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!" teriak Aris sambil mencabut pistolnya.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru menghilang lagi ke dalam kegelapan sebelum peluru Aris sempat dilepaskan.
"Keluar kau, pengecut! Tunjukkan dirimu!" Aris mulai menembaki setiap sudut yang menurutnya mencurigakan. Dor! Dor! Dor! Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, namun hanya menghasilkan pantulan suara yang memuakkan di dinding gudang.
Tiba-tiba, dari arah belakang, ia mendengar teriakan melengking dari Jono. Aris berbalik, mengarahkan senternya.
Ia melihat Jono ditarik ke dalam kegelapan oleh sesuatu atau seseorang dengan kekuatan yang tidak manusiawi.
Tidak ada perlawanan. Hanya suara tulang patah yang terdengar jelas, diikuti keheningan yang mencekam.
Aris benar-benar ketakutan sekarang. Ia bukan sedang menghadapi lawan; ia sedang menghadapi iblis. Ia adalah predator, namun malam ini, ia menyadari bahwa ia hanyalah mangsa.
"Aku tidak takut padamu!" Aris berteriak, napasnya tersengal. "Aku punya banyak anak buah di luar! Mereka akan membunuhmu!"
"Mereka sudah tidak ada," sebuah suara dingin terdengar. Bukan berasal dari depan, melainkan tepat di samping telinganya.
Aris tersentak dan mencoba menembak, namun tangannya ditangkap dengan cengkeraman.
Pisau tajam berkilat di tangkapan tangan lawannya. Aris terhuyung mundur, punggungnya menabrak dinding beton.
Ia melihat sosok itu dengan jelas sekarang di bawah cahaya bulan yang masuk dari ventilasi. Pria itu, Luis berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Tidak ada napas terengah-engah, tidak ada tanda-tanda kecemasan.
"Apa mau kau? Uang? Ambil semuanya! Ambil seluruh hartaku!" Aris memohon, suaranya kini pecah karena teror.
"Aku tidak menginginkan uangmu," jawab Luis pelan. Ia melangkah mendekat, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas lantai yang berserakan pecahan kaca.
Aris mencoba berlari ke arah pintu keluar, namun Luis lebih cepat. Dengan satu gerakan licik, Luis menyapu kaki Aris, menjatuhkannya ke lantai. Sebelum Aris sempat merangkak pergi, Luis sudah berada di atasnya, menekan leher Aris dengan lututnya.
Aris menatap ke atas, ke arah Luis. Ia melihat pantulan wajahnya sendiri di mata Luis wajah yang dipenuhi ketakutan setengah mati, kontras dengan ekspresi Luis yang datar seperti batu.
"Kau merenggut nyawa orang lain demi keserakahanmu," bisik Luis. "Sekarang, rasakan bagaimana rasanya ketika hidupmu sendiri yang dipertaruhkan."
Luis menarik pisau di tangannya, ujungnya yang runcing kini menelusuri garis rahang Aris, meninggalkan goresan tipis yang mulai mengeluarkan darah. Aris merasakan dinginnya logam itu menembus kulitnya, mengirimkan gelombang horor ke seluruh sarafnya.
"Kumohon... jangan..."
"Kenapa tidak?" tanya Luis, suaranya sedatar permukaan danau yang tenang. "Bukankah kau yang selalu menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati di tempat ini?"
Aris tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa perlawanannya sia-sia.
Setiap kali ia mencoba menggerakkan tangannya untuk meraih sesuatu, Luis dengan lihai menekan luka di tangannya, membuatnya lumpuh oleh rasa sakit.
Luis sedang mempermainkannya, mengulur waktu untuk memaksimalkan rasa takut yang dirasakan Aris.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗣𝗥𝗢𝗠𝗢𝗦𝗜 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗟𝗔𝗜𝗡
𝗝𝘂𝗱𝘂𝗹: 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝙥𝙤𝙣𝙨𝙚𝙡 𝙥𝙚𝙩𝙚𝙧𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣
[100 𝙟𝙪𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙆𝙚𝙡𝙤𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙚𝙧𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡𝙣𝙮𝙖!]
𝙔𝙚 𝙁𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙨𝙬𝙖 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙖𝙮𝙖 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙞𝙗𝙪𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙞𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙙𝙞 𝙝𝙞𝙣𝙖 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙡𝙞𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖.
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙄𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢 𝙥𝙚𝙩𝙚𝙧𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙥𝙤𝙣𝙨𝙚𝙡𝙣𝙮𝙖. 𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙚𝙧𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙖.
𝙔𝙪𝙠 𝙞𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙠𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙔𝙚 𝙁𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞.