NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Besar di Balik Kedekatan

Sore itu, gurat-gurat jingga kembali melukis langit di atas atap penginapan, namun suasana di hati Senja tidak secerah warna cakrawala. Ada semacam kabut tipis yang mulai menyelimuti perasaannya, sebuah kegelisahan yang ia sendiri sulit untuk definisikan. Sejak kejadian di bawah pohon damar tadi siang, matanya tak henti-hentinya mengikuti gerak-gerik Arkala dan Arunika.

Ia melihat bagaimana Arkala dengan santainya mengacak rambut Arunika saat gadis itu salah meletakkan cangkir. Ia melihat bagaimana mereka tertawa lepas tanpa beban, saling melempar ejekan yang terasa begitu hangat, seolah memiliki bahasa rahasia yang tidak bisa ditembus oleh orang asing sepertinya.

Senja yang biasanya tenang, kini lebih banyak diam. Wajahnya tampak kaku, bibirnya terkatup rapat, dan tatapannya mendingin setiap kali melihat tangan Arkala mampir di bahu Arunika.

Senja, sang pria kota yang biasanya penuh perhitungan, kini merasa dadanya sesak. Ia merasa bahwa semua perubahan yang ia lakukan seolah tak mampu menandingi sejarah panjang yang dimiliki Arkala dan Arunika. Ia cemburu, namun harga dirinya memaksa perasaan itu tetap terkunci rapat di dalam hati, meski raut wajahnya yang cemberut dan dingin tak bisa berbohong.

Saat malam mulai jatuh dan lampu-lampu taman berpijar redup, Senja menemukan Arkala sedang duduk sendirian di bangku kayu, sedang membersihkan gergajinya. Arunika sedang berada di dalam rumah bersama Nenek. Inilah saatnya. Senja melangkah mendekat, langkahnya terasa berat.

"Kal," panggil Senja. Suaranya datar, tanpa basa-basi. Ia duduk di samping Arkala, namun pandangannya lurus ke depan, ke arah kegelapan yang menyelimuti batang-batang damar.

Arkala menoleh, menyeringai seperti biasa. "Kenapa, Senja? Muka lu kusut amat, kayak cucian nggak disetrika tiga hari. Tiba-tiba diem aja lu dari sore."

Senja menghela napas panjang. Ia mencoba menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar terlalu emosional, meski hatinya sedang bergejolak. "Gue cuma mau tanya sesuatu, Kal. Dan gue harap lu jujur sama gue."

Arkala meletakkan alat kerjanya, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius melihat ketegangan pada bahu Senja. "Tanya apaan? Serius amat gaya lu."

"Tentang lu sama Ika," Senja menjeda sebentar, tenggorokannya terasa kering. "Gue perhatiin kalian deket banget. Lebih deket dari sekadar temen atau tetangga. Sebenernya hubungan lu sama dia tuh apa sih? Gue nggak mau ada salah paham di sini."

Hening sejenak. Angin malam berdesir memainkan daun damar, menciptakan suara gesekan yang melankolis. Senja menanti jawaban dengan jantung yang berdegup kencang, menahan rasa sesak yang sedari tadi ia simpan sendiri.

Tiba-tiba, suara tawa yang sangat keras pecah dari bibir Arkala. Pemuda itu tertawa hingga bahunya berguncang hebat, bahkan ia harus memegangi perutnya. "Hahahaha! Aduh, Senja... lu ngomong apaan sih? Sumpah, muka cemberut lu dari sore itu ternyata gara-gara ini? Lucu banget asli!"

Senja mengerutkan kening, wajahnya semakin masam. "Gue serius, Kal. Gue nggak lagi bercanda."

Arkala mencoba menghentikan tawanya, menyeka air mata di sudut matanya. Ia menatap Senja dengan binar jenaka. "Oke, oke. Mumpung kita udah temenan nih, mumpung kita udah nggak berantem-berantem lagi kayak dulu. Gue bakal kasih tau lu sekarang."

Arkala menarik napas, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Sebenernya, Senja... gue ini sepupunya Arunika. Ibu gue itu kakak kandungnya ibu Arunika. Jadi, gue ini juga cucunya Kakek dan Nenek. Lu tenang aja, nggak bakal mungkin gue nikah sama Ika. Dia itu udah kayak adik kandung gue sendiri yang paling nyebelin sedunia."

Senja terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Rasa sesak di dadanya seolah menguap dalam sekejap, digantikan oleh rasa malu yang luar biasa karena sudah berpikiran yang bukan-bukan hingga wajahnya menekuk seharian.

"Sepupu?" bisik Senja memastikan.

"Iya, anak kota! Makanya gue bebas mau kapan aja ke rumah penginapan ini, mau makan masakannya Nenek sampai habis, atau mau tidur di beranda sekalipun, Kakek sama Nenek nggak bakal negur gue. Gue ini keluarga di sini," lanjut Arkala sambil menyeringai kemenangan. "Gue dulu juga kerja di kota, makanya gue jarang di rumah. Pas gue balik, eh tahu-ahu ada lu yang lagi mencoba mencuri hati adik sepupu gue."

Tiba-tiba, dari balik bayangan pintu dapur, terdengar suara tawa kecil yang sangat halus. Arunika muncul sambil membawa baki berisi kopi hangat. Wajahnya tampak memerah, namun ia tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Senja yang masih membatu dengan sisa-sisa wajah cemberutnya.

"Haha... Iya, maaf ya, Senja. Aku nggak bilang dari awal karena belum sempat saja. Lagipula, aku pikir melihat kalian berdua tegang begini lumayan menghibur," ucap Arunika sambil meletakkan kopi di atas meja. Matanya berbinar jenaka, membalas tatapan Senja yang kini penuh rasa bersalah.

Senja hanya bisa menghela napas pasrah, menyesali egonya yang tadi sempat melambung tinggi. "Harusnya Aku tanya saja dari awal."

Arunika tertawa lagi, sebuah tawa tulus yang menyejukkan hati. "Bukan salahmu, Senja. Hanya saja, kalian berdua ini memang sama-sama keras kepala."

Arkala menyambar satu cangkir kopi. "Lu harus tahu, Senja. Ika ini dari dulu memang suka ngerjain orang. Tapi beneran, gue seneng lu punya nyali buat tanya langsung ke gue. Itu artinya lu beneran peduli sama dia."

Senja menunduk, menatap pantulan cahaya lampu di permukaan kopinya. Rasa hangat perlahan menjalar di hatinya. Kesalahpahaman ini memang memalukan, namun di balik itu, ia merasa sebuah ikatan baru telah terbentuk. Ia tidak lagi merasa sebagai orang asing yang terasing.

"Maafin gue, Kal. Gue cuma... ya lu tau lah," ucap Senja lirih, masih merasa canggung dengan kecemburuannya yang baru saja terbongkar.

Muka Arunika kebingungan tidak mengerti dengan ucapan mereka, Karena Arunika hanya mendengar percakapan mereka tentang pengakuan Arkala bahwa mereka saudara sepupu saja. Tapi ia segera menepisnya dan segera melupakan omongan mereka berdua, mungkin hanya gurauan antara mereka berdua saja pikirnya.

Arkala menepuk bahu Senja dengan keras, kali ini dengan rasa persaudaraan yang kental. "Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang lu udah tahu."

Arunika duduk di samping mereka, di bawah pohon damar yang menjadi saksi betapa kejujuran telah meruntuhkan tembok kecurigaan. Mereka bertiga berbincang hingga larut malam. Arkala mulai bercerita tentang masa kecil mereka, tentang bagaimana Arunika pernah terjatuh karena mengejarnya, dan tentang betapa kaku dan galaknya Kakek jika ada pemuda desa yang mencoba mendekati cucu perempuannya itu.

Senja mendengarkan setiap cerita itu dengan penuh minat. Ia merasa sedang diajak masuk ke dalam sebuah buku sejarah keluarga yang sangat indah. Ia mulai memahami mengapa Arunika begitu mencintai tempat ini, dan mengapa Arkala begitu protektif. Mereka adalah bagian dari satu akar yang sama, akar yang tertanam kuat di tanah yang dinaungi pohon damar ini.

"Makasih udah jujur, Kal," ucap Senja saat malam semakin larut.

"Santai aja, Senja" jawab Arkala sambil bangkit berdiri, membawa gergajinya masuk ke gudang.

Kini tinggal Senja dan Arunika di bawah pohon damar. Suasana menjadi lebih tenang, hanya ada suara napas dan bisikan angin. Senja menoleh ke arah Arunika, menatap wajah polosnya yang tampak bercahaya di bawah lampu taman.

Malam itu, di bawah lindungan pohon damar yang kokoh, Senja menyadari satu hal. Rumah bukan hanya tentang bangunan yang indah atau sistem yang canggih. Rumah adalah tentang orang-orang yang jujur, tentang tawa yang dibagikan, dan tentang keberanian untuk mengakui keraguan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!