NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8. Topeng

Pagi itu, mansion Dirgantara tampak seperti sebuah lukisan yang sempurna. Matahari bersinar cerah, memantul di atas kolam renang yang jernih, dan aroma kopi mahal menyeruak di ruang makan. Namun bagi Alya, setiap kemewahan yang ia lihat pagi ini adalah properti panggung yang harus ia gunakan dalam sandiwara paling menyakitkan dalam hidupnya.

Sesuai perintah Arka, Alya tidak diperbolehkan mengenakan seragam pelayan abu-abu itu hari ini. Sebagai gantinya, di atas ranjang telah tersedia sebuah dress selutut berwarna peach yang lembut, lengkap dengan perhiasan mutiara yang sederhana namun berkelas. Penata rias kembali datang, bekerja ekstra keras untuk menutupi kulit Alya yang pucat dan memar-memar halus di tangannya akibat cairan kimia pembersih lantai kemarin.

"Ingat, Alya," Arka muncul saat penata rias baru saja selesai. Ia mengenakan kemeja kasual yang membuatnya tampak seperti suami idaman yang santai. "Satu tetes air mata, satu keluhan, atau satu tatapan sedih di depan ayahmu, maka detik itu juga aku akan menelepon rumah sakit untuk menghentikan prosedur operasi ibumu. Kau paham?"

Alya menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—sosok wanita cantik yang tampak sangat dicintai. Sebuah kebohongan visual yang sempurna.

"Aku paham, Arka," jawabnya lirih.

"Bagus. Tersenyumlah. Latih otot wajahmu itu agar tidak terlihat seperti orang yang sedang menuju tiang gantungan."

Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil taksi berhenti di depan gerbang. Prasetyo turun dengan langkah yang sedikit tertatih. Wajahnya tampak jauh lebih segar daripada saat hari pernikahan, sebuah tanda bahwa bantuan finansial Arka memang telah mengangkat beban berat dari pundaknya.

Alya berdiri di teras bersama Arka. Saat melihat ayahnya, kerinduan yang membuncah hampir saja meruntuhkan pertahanannya. Ia ingin lari, memeluk ayahnya, dan berteriak minta dibawa pulang. Namun, ia merasakan remasan kuat di pinggangnya. Tangan Arka melingkar di sana, posesif namun memberikan tekanan peringatan yang nyata.

"Alya! Putriku!" Prasetyo tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca melihat putrinya yang tampak begitu anggun.

Alya memaksakan kakinya melangkah maju. Ia memeluk ayahnya, membenamkan wajahnya di bahu pria itu untuk menyembunyikan getaran di bibirnya. "Ayah... Alya kangen."

"Ayah juga, Nak. Lihat dirimu, kamu tampak sangat cantik. Arka benar-benar menjagamu dengan baik, ya?" Prasetyo melepaskan pelukan, menatap Alya dengan bangga sebelum beralih pada Arka. "Terima kasih, Arka. Terima kasih sudah membahagiakan putriku."

Arka tersenyum—senyum yang sangat meyakinkan hingga Alya pun hampir tertipu jika saja ia tidak tahu monster di balik senyum itu. "Sudah kewajiban saya, Yah. Alya adalah segalanya bagi saya sekarang."

Mereka menuju ruang makan untuk makan siang. Meja sudah penuh dengan hidangan favorit Prasetyo. Nyonya Ratna juga hadir, bersikap sangat manis dan ramah, seolah-olah ia tidak pernah mengumpat Alya dengan sebutan "Anak Pencuri".

"Bagaimana kabar Ibu di rumah sakit, Yah?" tanya Alya, mencoba mengalihkan pembicaraan dari dirinya sendiri.

"Membaik, Nak. Dokter bilang operasi minggu depan adalah langkah terakhir untuk pemulihannya. Semua berkat Arka. Kalau bukan karena dia..." Prasetyo menghentikan kalimatnya, matanya sedikit basah. "Ayah benar-benar merasa berdosa karena telah merepotkan menantu sehebat ini."

Alya menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Hatinya berteriak. *Ayah, pria di depanmu ini membencimu! Dia menyiksaku karena dendam padamu!*

"Jangan bicara begitu, Yah. Kita sekarang keluarga," sahut Arka santai sembari memotongkan daging untuk Alya dan meletakkannya di piring gadis itu. "Makanlah, Sayang. Kau harus banyak makan agar tidak terlalu kurus."

Perlakuan manis Arka terasa seperti racun bagi Alya. Setiap suapan daging itu terasa hambar.

"Oh ya, Alya," Prasetyo tiba-tiba teringat sesuatu. "Rumah yang Ayah beli atas namamu itu... Ayah dengar dari Sisil, ada sedikit masalah dengan administrasinya? Ayah harap itu tidak mengganggu kalian."

Suasana di meja makan mendadak mendingin selama satu detik. Alya melirik Arka. Rahang pria itu mengeras, namun ia segera mengendalikan ekspresinya.

"Tidak ada masalah, Yah," potong Arka cepat sebelum Alya sempat bicara. "Hanya masalah kecil yang sudah saya selesaikan. Ayah tidak perlu khawatir."

"Syukurlah. Ayah membeli rumah itu dengan sisa tabungan Ayah selama bertahun-tahun. Ayah ingin Alya punya aset sendiri jika terjadi sesuatu pada bisnis Ayah. Ternyata firasat Ayah benar, bisnis Ayah hancur, tapi setidaknya Alya aman."

Mendengar kata "tabungan selama bertahun-tahun", Arka meremas garpunya hingga buku jarinya memutih. Di kepalanya, kata-kata itu terdengar seperti ejekan. Tabungan? Atau uang hasil curian dari ibunya?

Setelah makan siang, Prasetyo meminta waktu berdua dengan Alya di taman belakang. Arka mengizinkan, namun ia berdiri di balkon lantai dua, mengawasi mereka seperti elang yang siap menyambar jika mangsanya melarikan diri.

"Alya," Prasetyo menggenggam tangan putrinya. "Katakan sejujurnya pada Ayah. Apakah kamu benar-benar bahagia? Ayah merasa ada yang berbeda dari matamu."

Jantung Alya berdegup kencang. Ia melirik ke atas, ke arah balkon. Arka sedang menatapnya, tangannya memegang ponsel, seolah bersiap menekan nomor rumah sakit.

Alya menelan isaknya. Ia tersenyum paling lebar yang pernah ia buat. "Tentu saja, Yah. Alya sangat bahagia. Arka sangat memanjakan Alya. Lihat perhiasan ini, ini pemberiannya kemarin. Alya hanya... hanya masih merasa bersalah karena Ayah dan Ibu harus melewati masa sulit."

Prasetyo menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Ayah takut kamu terpaksa karena kondisi Ayah. Sekarang Ayah bisa pulang dengan tenang. Jaga dirimu baik-baik, Nak. Jadilah istri yang berbakti."

Alya mengangguk kaku. Saat ayahnya berjalan menuju mobil untuk pulang, Alya merasa separuh jiwanya ikut pergi. Ia melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di balik gerbang tinggi mansion.

Begitu mobil itu hilang dari pandangan, senyum di wajah Alya lenyap seketika. Tubuhnya luruh ke atas rumput taman.

"Akting yang luar biasa," suara Arka terdengar dari belakangnya.

Alya tidak menoleh. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan mengalir deras membasahi riasan wajahnya yang mahal. "Kau puas, Arka? Kau sudah melihat Ayahku memujamu seperti dewa, sementara kau menginjak-injak putrinya. Kau puas?"

Arka berjalan mendekat, menarik bahu Alya agar berdiri. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi Alya dengan kasar. "Aku tidak akan pernah puas sampai ayahmu merasakan apa yang aku rasakan. Tapi harus kuakui, melihatmu berbohong padanya demi uangku... itu pemandangan yang sangat menarik."

"Aku melakukannya demi Ibu! Bukan demi uangmu!" teriak Alya frustrasi.

"Sama saja. Kau menjual kejujuranmu padaku," Arka mencengkeram rahang Alya. "Sekarang, sandiwara selesai. Lepas pakaian mahal itu, kembali ke dapur. Nyonya Ratna bilang ada gudang di ruang bawah tanah yang harus dibersihkan sebelum malam. Dan jangan harap ada makan malam untukmu karena kau sudah makan terlalu banyak bersama ayahmu tadi."

Arka mendorong Alya hingga terjatuh kembali. Pria itu berbalik masuk ke dalam rumah, meninggalkan Alya di tengah taman yang indah namun terasa seperti kuburan.

Alya berdiri dengan sisa tenaganya. Ia melihat gaun *peach* yang ia kenakan kini kotor oleh tanah. Ia merobek mutiara di lehernya hingga butirannya berhamburan di atas rumput. Sandiwara telah usai, dan kini ia kembali ke perannya yang asli: seorang tawanan yang harus membayar utang nyawa dengan sisa-sisa napasnya.

Di kamar, ia segera mengganti pakaiannya dengan seragam abu-abu yang kusam. Ia tidak menangis lagi. Matanya kering, namun di dalamnya tersimpan luka yang kian menganga. Saat ia mulai menuruni tangga menuju gudang bawah tanah yang gelap dan pengap, Alya berbisik pada dirinya sendiri, "Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Arka Dirgantara."

Tanpa ia sadari, di balik pilar lantai atas, Arka berdiri memperhatikannya. Pria itu menatap butiran mutiara yang tercecer di taman dari balik jendela. Ada rasa pahit yang tidak bisa ia jelaskan di tenggorokannya, namun ia segera menenggelamkannya dalam kebencian yang telah ia pupuk selama bertahun-tahun. Perang ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!