NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

***

Suasana di luar pondok kayu itu berubah mencekam. Kaelen, tangan kanan Arthur yang dikenal karena efisiensinya yang tanpa belas kasihan, tidak membuang waktu. Ia tidak percaya pada kebetulan. Baginya, racun yang hampir membunuh Putra Mahkota adalah sebuah deklarasi perang.

Ibu tua yang malang itu orang yang sama yang kemarin siang tersenyum manis saat memberikan rajutan bayi pada Lilianne kini tersungkur di tanah bersalju, tangannya diikat erat ke batang pohon pinus. Kaelen berdiri di depannya dengan pedang yang ujungnya masih basah oleh sisa sup beracun.

"Siapa yang membayar upeti padamu untuk melakukan ini?" tanya Kaelen dingin. Suaranya datar, namun tatapannya seolah ingin menguliti wanita tua itu hidup-hidup.

"T-tuan, saya tidak tahu! Saya hanya... saya hanya diminta meletakkan mangkuk itu di depan pintu..." rintih wanita itu. Tangisannya pecah saat Kaelen menempelkan ujung pedang ke pipinya.

"Pilihanmu hanya dua: bicara siapa orangnya, atau aku akan memastikan cucumu yang bermain bola kemarin tidak akan pernah melihat matahari esok hari."

"KAELEN! BERHENTI!"

Suara itu membelah udara musim dingin yang membeku. Lilianne muncul di ambang pintu pondok, tubuhnya terbungkus jubah bulu tebal, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat dengan otoritas yang tajam. Ia berjalan tertatih, tangan kanannya menopang perutnya yang membuncit, sementara tangan kirinya mencengkeram kusen pintu.

Kaelen menoleh, ekspresinya tidak berubah. "Yang Mulia Putri Mahkota, kembalilah ke dalam. Udara ini terlalu dingin untuk kondisi Anda. Saya sedang melakukan interogasi demi keselamatan Anda dan Yang Mulia Putra Mahkota."

"Interogasi?" Lilianne tertawa sinis, langkahnya mendekat ke arah Kaelen. "Kau sedang melakukan pembantaian terhadap wanita tua yang bahkan tidak tahu cara memegang belati, Kaelen! Turunkan pedangmu!"

"Dia adalah ancaman!" balas Kaelen, suaranya sedikit meninggi. "Jika Yang Mulia Putra Mahkota mati di tempat ini, rahasia identitas kita akan terbongkar. Kekaisaran akan langsung menuduh keluarga Utara keluarga Anda sebagai pihak yang bertanggung jawab atas konspirasi ini. Kita harus menemukan dalangnya sekarang juga, dengan cara apa pun!"

Lilianne berhenti tepat di depan Kaelen. Ia tidak terlihat seperti gadis enam belas tahun yang takut. Ia terlihat seperti seorang Ratu yang siap memenggal kepala siapa pun yang menghalangi hukumnya.

"Jika kau terus menyiksanya, dia akan mati sebelum memberikan informasi yang berguna," desis Lilianne. "Dan jika kau membunuhnya, kau memutus satu-satunya jejak yang kita miliki. Kau pikir kau bisa menyelesaikan ini dengan otot? Kau salah besar."

Kaelen memandang Lilianne dengan keraguan yang kentara. Ia selama ini menganggap Lilianne hanyalah pion yang dipatuhi Arthur karena obsesi semata. Namun, kilatan di mata gadis itu saat ini dingin, penuh perhitungan, dan mematikan membuat sang komandan perang itu tertegun.

"Lalu, apa saran Anda, Yang Mulia?" tanya Kaelen dengan nada yang kini lebih berhati-hati.

Lilianne menoleh ke arah wanita tua yang gemetar itu. "Bawa dia ke dalam gudang, beri dia minum, dan pastikan dia tidak bertemu siapa pun. Jangan lukai dia lagi."

"Tapi Yang Mulia—"

"Dengarkan aku, Kaelen," Lilianne memotong, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dalang di balik racun ini tidak akan datang untuk bertanya apakah misi mereka berhasil. Mereka akan memantau. Mereka akan menunggu kabar bahwa Arthur telah menjadi mayat."

Kaelen mengerutkan kening. "Apa maksud Anda?"

Lilianne mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik tepat di telinga Kaelen. "Kita akan menyebarkan rumor bahwa Arthur sudah tidak bernapas. Kita akan membiarkan musuh berpikir bahwa mereka telah menang."

Kaelen tersentak. "Itu terlalu berisiko! Jika ada yang tahu Yang Mulia Putra Mahkota masih hidup, kita semua akan dianggap pengkhianat!"

"Justru itu kuncinya," ujar Lilianne dengan senyum yang menakutkan. "Hanya kau, aku, dan tabib tua yang tahu bahwa Arthur masih hidup. Jika ada kurir yang datang dari ibu kota untuk memberikan selamat pada sang dalang, atau jika ada pergerakan mencurigakan di luar perimeter kita untuk melaporkan kematian ini... kita akan menangkap mereka hidup-hidup."

Lilianne menatap Kaelen dengan tajam. "Kau komandan perang, bukan tukang jagal. Gunakan otakmu. Biarkan musuh datang ke sarang kita untuk memastikan kematian Arthur. Dan saat mereka lengah... kau akan mencincang mereka dan menyeretnya ke hadapan Arthur saat ia sadar nanti."

Kaelen terdiam cukup lama. Ia menatap Lilianne dari atas ke bawah, seolah baru pertama kali melihat siapa sosok yang dinikahi oleh majikannya. Ia membungkuk dalam, kali ini bukan karena hormat pada posisi Lilianne, melainkan karena rasa hormat pada kecerdasan yang baru saja ia saksikan.

"Baik, Yang Mulia. Rencana ini akan segera dilaksanakan," jawab Kaelen.

Malam tiba dengan badai salju yang semakin menggila. Di dalam pondok, suasana sunyi dan mencekam. Arthur masih terbujur kaku di ranjang, wajahnya yang pucat pasi sesekali terdistorsi oleh rasa sakit akibat racun yang masih bersarang di sarafnya. Napasnya dangkal, namun stabil.

Lilianne duduk di sampingnya, membasahi kain dengan air dingin dan mengompres dahi Arthur dengan telaten. Tidak ada rasa cinta dalam tindakannya; hanya ada sebuah misi.

"Kau pikir kau bisa menguasai dunia, Arthur," bisik Lilianne pada Arthur yang tidak sadar. "Tapi kau hanya pria kecil yang takut akan kegelapan. Lihat betapa lemahnya kau sekarang. Jika aku ingin, aku bisa saja membiarkanmu mati dan membiarkan sejarah menuliskan kematianmu sebagai sebuah tragedi."

Lilianne menempelkan tangannya pada dada Arthur, merasakan detak jantungnya yang berdenyut lambat namun pasti.

"Tapi kau harus hidup," lanjutnya, suaranya berubah menjadi bisikan yang sedingin es. "Kau harus hidup untuk melihat bagaimana aku akan menggunakan otoritasmu untuk menghancurkan mereka yang telah mencoba membunuhku. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh anak ini, dan aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum kau melihat bagaimana aku membalikkan keadaanmu."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar pondok. Langkah yang terburu-buru, diikuti suara bisikan samar.

Kaelen muncul di ambang pintu, matanya berbinar dengan kegilaan yang sama dengan Arthur. "Yang Mulia, rencana Anda berhasil."

Lilianne berdiri dengan tenang, meski perutnya terasa kencang. "Apa yang terjadi?"

"Seseorang baru saja mendekati gerbang desa, mencoba memberikan pesan kepada salah satu pengawal yang saya tugaskan untuk menyamar," lapor Kaelen. "Mereka yakin Putra Mahkota sudah mati. Mereka mengirimkan seorang utusan untuk memberikan konfirmasi."

"Di mana utusan itu?"

"Sudah diikat di gudang."

Lilianne mengangguk pelan. Ia menatap Arthur yang masih terlelap dalam racunnya. "Jangan sakiti dia. Bawa dia ke sini. Aku sendiri yang akan mematahkan lidahnya dan mencari tahu siapa tuan yang ia layani."

Kaelen tampak terkejut. "Yang Mulia, itu terlalu berbahaya. Biarkan saya—"

"Lakukan saja!" perintah Lilianne dengan aura yang begitu dingin hingga Kaelen tidak punya pilihan selain patuh.

Lilianne berbalik ke arah cermin yang retak di sudut ruangan. Ia melihat wajahnya sendiri—wajah seorang gadis berusia enam belas tahun yang telah kehilangan seluruh kepolosannya dalam hitungan hari. Di dalam cermin, ia tidak lagi melihat Putri Mahkota yang ketakutan, melainkan seorang wanita yang siap memimpin pasukan di atas mayat musuh-musuhnya.

Saat utusan itu dibawa masuk ke dalam pondok dengan karung di kepalanya, Lilianne menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil belati kecil milik Arthur yang tergeletak di atas meja perak.

Ia akan menggunakan belati itu untuk membelah kebenaran dari musuh-musuhnya. Jika Arthur adalah monster yang dikirim untuk menghancurkannya, maka Lilianne adalah mawar yang tumbuh di atas tumpukan bangkai, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mencabut akarnya.

"Buka karungnya," perintah Lilianne.

Kaelen menarik karung itu, dan seorang pria berpakaian hitam dengan lambang keluarga bangsawan yang familiar terlihat di balik ikatan tali. Lilianne tersenyum tipis—senyuman yang membuat utusan itu gemetar ketakutan.

"Mari kita bicara," bisik Lilianne. "Dan pastikan kau tidak berbohong, karena aku tidak memiliki kesabaran seperti suamiku."

Di luar, badai salju menutupi jejak-jejak konspirasi, namun di dalam pondok itu, sebuah perang baru saja dimulai perang yang dipimpin oleh sang Putri yang seharusnya menjadi pion, namun kini telah memegang bidak caturnya sendiri.

Bersambung...

1
meymonic
smengat trs Thor,aku baca semua karia kamu kok😍
Anggye syahab
sangat jelas alur ceritanya
Anggye syahab
suka sekali sm alurnya kak..🤗
Runi Mayantri
akhirny trketuk jga hatimu yg dingin arthur 😄
Runi Mayantri
mkin seru !!!!💪💪💪💪
Runi Mayantri
knpa kaisarny kejem bget,arthur jga kan anakny
Runi Mayantri
kereeeeen
Runi Mayantri
semangat ya thor
Runi Mayantri
mantul bgt critanya
Runi Mayantri
waaaw,baru pembukaan udah seru
Runi Mayantri
aduh,sakitnya
meymonic
syukur dh mulai warasssss🤭
meymonic
aaaa hal hal yang seru akan segera di mulaiiiiiiii🤭😍
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune ya 🫶😚
total 1 replies
meymonic
alur nya bagus
Heresnanaa_: maaciw kak🫶🥰
total 1 replies
meymonic
ga sabarrr thorrrr, lanjuttt dongggg😍🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶🥰
total 1 replies
meymonic
bagussssssssssss👍👍👍👍👍😍😍
meymonic
thorrr bagusss bngtttttt😍😍😍😍
Heresnanaa_: hai Kaka, makasih yaaa🫶
happy reading 🥰🫶
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!