NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tanda Tangan dan Kabel Kehidupan

​Pukul enam pagi di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara langkah kaki perawat yang tergesa, bunyi mesin pel dan disinfektan lantai, serta denting pelan dari lift yang terus bergerak naik turun.

​Namun bagi Gani Raditya, lorong panjang di depan Ruang Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular (BTKV) itu terasa seperti ruang hampa udara.

​Ia duduk sendirian di atas kursi tunggu berbahan stainless steel yang dingin. Segelas kopi hitam instan dari mesin penjual otomatis tergeletak utuh di sebelahnya, sudah kehilangan uap panasnya sejak dua jam yang lalu.

​Pintu ganda ruang operasi yang terbuat dari baja dan kaca buram itu masih tertutup rapat. Lampu indikator di atasnya menyala merah terang, menampilkan tulisan: OPERATION IN PROGRESS.

​Gani menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya yang bertumpu di atas paha. Perban di telapak tangannya mulai terlihat kusam. Tangan ini bisa membelah batu kapur yang sekeras beton, bisa mendirikan pilar bambu petung yang tahan terhadap amukan badai, dan bisa mengetikkan perintah yang menghancurkan firma hukum raksasa dalam semalam.

​Tapi pagi ini, tangan itu sama sekali tidak berguna.

​Tiga jam yang lalu, sebelum Kirana dibius total, dr. Aryo Wibowo telah menyodorkan sebuah papan ujian berisi beberapa lembar kertas. Itu adalah formulir Informed Consent—persetujuan tindakan medis.

​Gani mengingat setiap kata mengerikan yang tertera di sana. Risiko perdarahan masif, risiko stroke akibat gumpalan darah dari alat mekanis, risiko infeksi sepsis, hingga risiko gagal sapih dari mesin pintas jantung-paru (Cardiopulmonary Bypass) yang berarti kematian di atas meja operasi.

​"Sebagai penanggung jawab penuh, Anda harus mengerti bahwa masinis dari kehidupan pasien saat ini adalah mesin," ucap dr. Aryo saat itu, menatap Gani dengan keseriusan absolut. "Kami akan membelah tulang dadanya, menghentikan jantung aslinya, lalu memasang pompa titanium ke bilik kirinya. Ini bukan operasi ringan, Pak Gani. Ini adalah upaya terakhir untuk melawan takdir."

​Saat itu, tangan Gani gemetar hebat ketika ia mengambil pulpen. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa takut membubuhkan tanda tangannya. Di masa lalu, salah tanda tangan berarti kerugian miliaran rupiah. Tapi tanda tangan di atas kertas rumah sakit itu... salah sedikit saja, berarti ia menyetujui kematian gadis yang dicintainya.

​Gani memejamkan mata, mengusir ingatan tentang lembar persetujuan itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menghirup oksigen dari udara rumah sakit yang berbau karbol dan alkohol.

​Di sudut ruang tunggu, sebuah televisi layar datar berukuran besar menayangkan program berita pagi. Volumenya dikecilkan, tapi teks berjalannya cukup besar untuk dibaca dari jarak jauh.

​"BURONAN RAKA PRADIPTA DITANGKAP DI BANDARA SOEKARNO-HATTA SAAT MENCOBA KABUR KE LUAR NEGERI. APARTEMEN EMERALD RESMI DISEGEL."

​Berita itu terus berulang. Gambar Raka yang mengenakan kemeja kusut, wajahnya ditutupi masker, dan tangannya diborgol oleh petugas kepolisian terpampang di layar. Sebuah akhir yang sangat memalukan bagi pria yang dulu begitu diagungkan di kalangan elit Jakarta.

​Gani menatap layar itu dengan ekspresi datar. Tidak ada sorak kemenangan di dalam hatinya, tidak ada senyum kepuasan yang terbit di bibirnya. Semua amarah dan dendam yang selama ini membakar dadanya telah padam, menyisakan abu yang terasa hambar.

​Raka telah hancur. Sania telah pergi dengan rasa malu. Keadilan telah ditegakkan. Tapi Gani menyadari, dengan cara yang paling brutal, bahwa melihat musuhnya hancur ternyata tidak bisa membuat jantung Kirana berdetak lebih kuat. Balas dendam adalah hidangan yang sia-sia jika kau harus memakannya sendirian di ruang tunggu rumah sakit.

​Gani mengalihkan pandangannya dari televisi. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang ia nyalakan sebentar untuk memberi kabar ke desa. Ada ratusan pesan masuk, tapi ia hanya membuka satu obrolan dari nomor Pak Kades.

​Pak Kades: "Gimana Nduk Kirana, Mas? Warga Karangbanyu kumpul di Balai Desa dari subuh. Kami gelar doa bersama dan Yasinan. Bibi Ratna ndak mau berhenti nangis."

​Gani mengetik balasan dengan jari yang kaku.

​Gani: "Operasi sedang berlangsung, Pak. Masih di dalam. Tolong terus doakan. Katakan pada Bi Ratna, saya tidak akan pulang ke desa tanpa Kirana."

​Setelah pesan itu terkirim, Gani mematikan kembali ponselnya.

​Jam demi jam merangkak layaknya siput yang sekarat. Pukul delapan pagi. Pukul sepuluh pagi. Pukul satu siang.

​Gani tidak beranjak dari kursinya untuk mencari makan atau bahkan sekadar pergi ke toilet. Otot punggungnya kaku, perutnya perih karena asam lambung yang naik, tapi ia menghukum dirinya sendiri untuk tetap berada di sana. Ia merasa jika ia meninggalkan ruang tunggu itu sedetik saja, ia akan melewatkan sesuatu yang penting. Atau lebih buruk, ia merasa bahwa fokus dan energinya dibutuhkan untuk menjaga jiwa gadis itu dari luar pintu.

​Dalam kesunyian itu, Gani mulai berhalusinasi kecil akibat kurang tidur yang ekstrem. Saat ia menatap ubin putih rumah sakit, ia seolah melihat hamparan batu kapur Bukit Wadas. Ia bisa mendengar suara denting linggisnya. Ia mengingat wajah Kirana saat gadis itu meletakkan bibit beringin ke dalam lubang galian.

​"Hiduplah yang lama... tumbuhlah yang kuat... berikan napasmu untuknya saat aku sudah tidak bisa melakukannya."

​Bisikan doa Kirana di atas bukit itu kembali bergema di telinga Gani.

​"Kau tidak butuh pohon beringin untuk memberikan napas padaku, Tiran Kecil," gumam Gani parau, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Kau hanya perlu membuka matamu. Kumohon."

​Tepat pada pukul dua lewat lima belas menit siang—delapan jam setelah operasi dimulai—lampu indikator merah bertuliskan OPERATION IN PROGRESS itu padam dengan bunyi klik pelan.

​Gani tersentak. Kepalanya mendongak dengan cepat. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak lamban, tiba-tiba memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Ia melesat berdiri, matanya mengunci pintu ganda baja tersebut.

​Pintu itu terbuka.

​Dr. Aryo Wibowo melangkah keluar. Penampilan dokter bedah senior itu sangat jauh dari kata rapi. Baju scrub hijaunya basah oleh keringat, topi bedahnya dilepas sembarangan, dan matanya memancarkan kelelahan tingkat dewa.

​Gani tidak berlari, namun langkah lebarnya memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik.

​"Dokter?" Gani memanggil. Suaranya terdengar pecah. Ia nyaris tidak berani bernapas menunggu kalimat pertama yang akan keluar dari mulut pria itu.

​Dr. Aryo menatap Gani, menghela napas yang sangat panjang dan berat, lalu sebuah senyum tipis—sangat tipis namun bermakna segalanya—terbentuk di bibirnya.

​"Operasi pemasangan LVAD selesai, Pak Gani," ucap dr. Aryo, suaranya parau. "Kami berhasil menyapihnya dari mesin pintas jantung-paru. Jantung aslinya sudah mulai berdetak, didukung sepenuhnya oleh pompa mekanis yang kami tanamkan. Dia selamat dari meja operasi."

​Udara yang sejak tadi tertahan di paru-paru Gani akhirnya terlepas bersamaan dengan helaan napas yang luar biasa panjang. Kakinya goyah seketika. Gani terpaksa mundur selangkah dan menempelkan sebelah tangannya ke dinding agar tidak jatuh berlutut di lorong itu. Ia menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin.

​"Terima kasih..." bisik Gani, suaranya bergetar hebat. "Terima kasih, Dokter."

​"Ini baru langkah pertama, Pak Gani. Dan saya harus mengingatkan Anda, ini bukanlah garis finis," dr. Aryo memperbaiki letak kacamatanya, mengembalikan nada suaranya menjadi objektif dan klinis. "Kondisinya masih sangat rentan. 48 jam ke depan adalah masa paling kritis untuk melihat apakah tubuhnya menerima benda asing itu, dan apakah ginjalnya bisa berfungsi normal kembali setelah operasi besar ini."

​"Kapan saya bisa melihatnya?" desak Gani, sudah tidak sabar.

​"Saat ini dia sedang dipindahkan ke Ruang Isolasi ICCU VVIP," jelas dr. Aryo. "Dia berada dalam keadaan koma yang diinduksi secara medis ( medically induced coma ). Kami menidurkannya agar otaknya tidak trauma dan tubuhnya bisa fokus menyembuhkan luka sayatan sternum (tulang dada) yang sangat besar. Anda bisa masuk melihatnya satu jam lagi, tapi harus mematuhi protokol sterilisasi penuh."

​Gani mengangguk cepat. "Saya mengerti."

​Satu jam kemudian, setelah membersihkan diri seadanya dan mengenakan baju hazmat steril berwarna biru lengkap dengan masker N95, penutup kepala, dan sarung tangan medis, Gani diizinkan masuk ke ruang isolasi ICCU.

​Ruangan itu sangat berbeda dengan ruang ICCU di rumah sakit kabupaten. Ini adalah ruang bertekanan negatif dengan peralatan yang jauh lebih kompleks. Lampu di ruangan itu diredupkan, hanya menyisakan cahaya dari layar-layar monitor yang menampilkan puluhan grafik berwarna-warni. Suara bising mesin mendominasi—bunyi beep monitor jantung, desisan ventilator, dan yang paling baru: suara dengungan rendah namun konstan, seperti suara rotor baling-baling mini yang berputar terus-menerus.

​Gani berjalan mendekati ranjang pasien dengan langkah yang sangat pelan, seolah takut getaran langkahnya akan mengganggu mesin-mesin itu.

​Saat matanya akhirnya jatuh pada sosok yang terbaring di atas ranjang, pertahanan emosional Gani hancur sepenuhnya.

​Kirana terlihat luar biasa rapuh. Wajahnya bengkak akibat penumpukan cairan pasca-operasi. Selang endotrakeal yang menembus tenggorokannya terlihat jauh lebih menakutkan dari sebelumnya. Selimut rumah sakit hanya menutupi batas pinggangnya. Di atas dadanya, terdapat balutan perban bedah berukuran sangat besar yang menutupi bekas sayatan gergaji tulang yang membelah sternumnya.

​Namun, yang paling membuat napas Gani tercekat adalah sebuah kabel tebal berwarna hitam (driveline) yang menyembul keluar dari balik perban di bagian kanan perut Kirana.

​Kabel itu terhubung ke jantungnya di dalam sana, menjulur keluar dari tubuhnya, dan tersambung pada sebuah kotak perangkat eksternal (controller) yang dilengkapi dengan dua buah baterai lithium berukuran besar, yang saat ini digantung dengan aman di tiang infus. Dengungan rendah yang Gani dengar sejak awal berasal dari pompa titanium di dalam dada Kirana yang sedang memutar darahnya dengan kecepatan ribuan rotasi per menit.

​Kirana bukan lagi sekadar gadis desa yang menyukai bunga krisan dan buku cerita. Saat ini, nyawanya secara harfiah ditenagai oleh listrik. Jika baterai itu dicabut, atau kabel itu terpotong, Kirana akan mati dalam hitungan menit.

​Ini adalah bentuk kehidupan yang sangat brutal, namun sekaligus menjadi keajaiban sains yang menakjubkan.

​Gani melangkah maju hingga tubuhnya menyentuh pagar ranjang. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks, mencari jemari Kirana di antara seliweran kabel infus, lalu menggenggamnya dengan sangat lembut. Tangan gadis itu terasa dingin, namun kali ini, ada aliran nadi yang kuat berkat bantuan pompa mekanis tersebut.

​"Aku di sini, Tiran Kecil," bisik Gani. Suaranya teredam oleh masker N95 yang ia kenakan, namun ia tahu Kirana tidak bisa mendengarnya karena obat bius.

​Gani menundukkan wajahnya, menyandarkan keningnya ke pagar stainless steel ranjang. Air matanya mengalir turun tanpa suara, membasahi bagian dalam maskernya.

​Pria itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendesain gedung-gedung yang mendominasi langit. Ia sangat mendewakan kemandirian dan kontrol absolut. Namun melihat gadis yang paling ia cintai harus bergantung pada sebuah mesin elektronik hanya untuk mengalirkan darah ke otaknya, membuat Gani menyadari betapa rapuhnya eksistensi manusia.

​"Kau gadis yang sangat tangguh," Gani melanjutkan bisikannya, mengangkat kepalanya untuk menatap wajah pucat yang sedang tertidur lelap itu. "Kau selamat dari hujan badai di Rawa Hitam, kau selamat dari jalanan berlubang di kabupaten, dan kau selamat dari pisau bedah dokter hari ini. Kau berutang satu janji padaku, Kirana. Kau harus bangun."

​Gani berdiri tegak. Ia menggeser sebuah kursi besi tanpa sandaran dan duduk tepat di sisi ranjang. Matanya mengunci monitor controller LVAD yang menampilkan angka kecepatan putaran pompa.

​Ia tidak akan tidur. Ia tidak akan pergi ke hotel mewah untuk beristirahat meski ia punya cukup uang untuk menyewa satu lantai hotel bintang lima di seberang rumah sakit.

​Mulai hari ini, Gani Raditya resmi menjadikan ruang isolasi berukuran tiga kali empat meter ini sebagai dunia barunya. Ia akan menjadi penjaga kabel kehidupan itu. Ia akan memastikan tidak ada satu pun alarm yang berbunyi merah, memastikan baterainya selalu terisi, dan memastikan bahwa saat Kirana akhirnya membuka mata nanti, wajah pertamanya yang gadis itu lihat adalah wajahnya.

​Ponsel Gani yang ia letakkan di saku jas hazmat bergetar pelan. Ia menariknya keluar dengan hati-hati.

​Sebuah pesan masuk dari Seno sang jurnalis investigasi.

​Seno: "Gani, konferensi pers Raka akan digelar besok pagi. Jaksa Agung ingin kau datang sebagai saksi kunci dan pahlawan. Kau tidak bisa menghindari kamera terus. Seluruh negeri menunggu arsitek jenius mereka muncul."

​Gani menatap pesan itu selama dua detik. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Dengan ibu jarinya, ia memblokir nomor jurnalis tersebut, lalu melempar ponselnya ke atas meja instrumen kosong di sudut ruangan.

​Arsitek jenius kebanggaan nasional itu sudah mati satu bulan yang lalu di ruang sidang.

​Pria yang saat ini sedang duduk memegang tangan Kirana hanyalah seorang pria Karangbanyu biasa. Seorang pria yang sedang menunggu senjanya menolak untuk pamit. Dan untuk saat ini, dunia di luar sana bisa hancur menjadi debu, karena seluruh sisa hidup Gani hanya berpusat pada dengungan pelan dari sebuah pompa jantung mekanis.

1
Quinza Azalea
lanjut thor😍
Quinza Azalea
luarbiasa
Quinza Azalea
lanjut thor
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!