Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
...~•Happy Reading•~...
Ekspresi wajah Laras membuat Pak Yafeth terdiam. Pak Yafeth tidak menyangka Laras berkeinginan untuk menikahi Rafael dalam waktu dekat dan sudah berbicara dengannya.
Pak Yafeth jadi khawatir dan berpikir keras, sebab sudah tahu sifat Laras dan kepribadian Rafael.
Laras jadi was-was melihat Papanya hanya diam dengan raut wajah yang tidak biasa, kalau dia meminta tolong sesuatu. Padahal dia sedang berharap Papanya bisa berpihak padanya.
"Laras, kau bilang menyayangi dan mencintai Rafa. Tapi sepertinya kau belum mengenal Rafa dengan baik." Ucap Pak Yafeth setelah lama berpikir.
"Apa maksud Papa?" Laras terkejut.
"Kalau kau menyayangi Rafa, mengapa kau tempatkan dia pada posisi yang sangat sulit?" Papanya bertanya pelan.
"Maksud Papa gimana? Rafa bilang serius berpacaran denganku. Jadi cepat atau lambat kami akan menikah. Jadi mengapa tidak bisa sekarang saja, Pa?" Laras bertanya tanpa mengerti maksud pertanyaan Papanya.
Hhhhhmmmm.... Pak Yafath menarik nafas panjang berulang kali. "Justru dia serius, itu bisa jadi jaminan buatmu untuk bersabar. Menunggu waktu yang tepat dan siap bagi kalian berdua." Ucap Pak Yafeth tegas.
"Mungkin kau sudah siap, tapi bagaimana dengan Rafa? Sedangkan untuk menikah, kedua pihak harus sudah siap."
"Rafa bukan pemuda kampung yang tidak berpendidikan. Dia sarjana sepertimu juga. Kalau pemuda lain, mungkin akan sorak bergembira menerima permintaanmu tanpa menunggu persetujuan kami."
"Tetapi bagi Rafa, dia akan memikirkan dan mempertimbangkan baik buruknya kalau harus menikah..." Pak Yafeth menjelaskan berdasarkan pengamatan akan sikap Rafael dalam menghadapi suatu masalah. Tidak grasak grusuk dalam ambil keputusan.
"Tapi, Pa. Laras gak mau pisah lama sama Rafa." Ucap Laras dengan wajah mulai sedih.
"Laras, keinginanmu ini menempatkan kami sebagai orang tua pada posisi sama sulitnya." Ucapan Papanya membuat Laras heran.
'Kalau kau minta menikah dengan Jarem, tanpa perlu berpikir, kami akan mengatakan tidak. Tapi dengan Rafa, kami tidak bisa mengatakan tidak dan iya tanpa berpikir.' Pak Yafeth meneruskan dalam hati.
"Kami berharap dan berdoa, semoga suatu hari kelak kalian bisa menikah. Tapi tidak untuk sekarang."
"Apa bedanya, Pa?" Laras mulai panik, Papanya tidak setuju.
"Laras, kau putri kami. Itu tidak bisa dirubah. Tapi Papa tidak bisa tutup mata dan mengabaikan, Rafa adalah lelaki seperti Papa."
"Papa mengerti kalau Rafa agak keberatan. Ini bukan urusan hati, sayang atau tidak. Seorang lelaki yang mau jadi suami memikirkan pondasi finansial yang kuat. Kau sendiri tahu, Rafa belum siap dalam hal itu."
"Tapi Laras kerja, Pa. Penghasilan Laras lebih dari cukup untuk hidupi kami." Laras masih tidak bisa terima dan belum mau menyerah.
"Laras, seperti tadi Papa bilang. Rafa lelaki yang berpendidikan dan bertanggung jawab dengan keputusannya. Mana mungkin dia membiarkan kau bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga kalian?"
"Bukan berarti dia tidak mengijinkan kau bekerja, tetapi dia sebagai laki-laki harus punya pegangan juga, seperti Papa."
"Itu karna Mama tidak bekerja di kantor, Pa. Aku berbeda. Sekarang sudah moderen, sama saja. Banyak teman wanita bekerja, tidak jadi masalah dalam keluarganya." Laras terus berusaha meyakinkan Papanya.
Pak Yafeth memegang tengkuknya mendengar argumentasi Laras dan tidak mau menyerah. Kepalanya berdenyut, sebab sudah tahu sifat Laras kalau sudah menginginkan sesuatu. "Papa kira, cukup sampai di sini. Papa perlu isi perut supaya bisa berpikir." Pak Yafeth berdiri.
"Tapi nanti Papa bicara dengan Rafa, ya." Laras mengingatkan sebelum Papanya meninggalkan ruang nonton. Pak Yafeth hanya bisa mengangguk, lalu masuk ke kamar untuk mandi. Hati dan pikirannya sangat penuh mengetahui keinginan Laras yang tidak bisa dibendung.
Ketika tiba waktu makan siang, mereka berlima makan dalam diam. Juano yang biasanya makan sambil mengomentari atau memuji rasa masakan, ikut makan dalam diam. Begitu juga dengan Rafael, makan tanpa mengangkat wajah untuk melihat orang tua Laras. Ada perasaan tidak enak, walau Laras coba bersikap tenang.
~••
Setelah makan, Rafael kembali naik ke lantai atas, tanpa Juano. Dia duduk sendiri sambil melihat tanaman yang ditanam, tapi pikirannya tidak di sana. "Gimana, Rafa. Apa sudah ada yang dipanen?" Tiba-tiba terdengar suara Pak Yafeth. Rafael terkejut karena tidak menyadari kehadirannya.
"Sudah, Pak. Tadi Bibi sudah panen." Jawab Rafael sambil berdiri.
Pak Yafeth coba bersikap santai, sebab menyadari Rafael sedang tertekan. "Ternyata sangat nyaman duduk di sini setelah makan." Pak Yafeth duduk di salah satu kursi.
"Iya, Pak. Lumayan kalau hari cerah." Rafael jadi sedikit tenang melihat sikap Pak Yafeth.
"Iya. Kita duduk di sini, sambil ngobrol-ngobrol." Pak Yafeth meminta Rafael duduk dengan menggerakan tangan.
"Rafa, Laras tadi bicara tentang promosi jabatan baru, penempatan dan keinginannya mau menikah." Pak Yafeth langsung pada tujuan inti. Rafael hanya diam mendengar.
"Apa pendapatmu tentang keinginannya yang mau kalian menikah sebelum penempatan?"
"Itu yang sedang saya pikirkan, Pak. Agak sulit dan terasa berat, sebab saya belum siap membiayai keluarga baru. Bapak tahu sendiri, pekerjaan saya." Rafael menjawab perlahan, agar bisa dimengerti oleh Papa Laras. Dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab dan aji mumpung.
"Saya mengerti. Makanya sekarang mau ajak bicara. Kau tahu sendiri sifat Laras kalau sudah inginkan sesuatu, tidak berpikir panjang."
"Sekarang dia berpikir bisa menghidupi keluarganya, tanpa bantuan keuangan darimu..." Pak Yafeth menggantung ucapannya agar Rafael bisa berpikir.
"Apa Pak Yafeth bersedia menikahkan Laras dengan pria seperti saya? Maksud saya, pekerjaan saya jangankan mapan, stabil pun belum." Rafael memberanikan diri untuk bertanya. Agar dia bisa mengambil keputusan yang tepat.
"Kalau untuk pekerjaan, sebagai laki-laki, pasti tidak setuju. Tapi Laras sudah menyatakan itu tidak masalah. Kami sebagai orang tua mengerti maksudnya dan setuju."
"Tetapi sebagai sesama laki-laki, saya sarankan padamu, pikirkan lagi. Sebab yang akan jalani, bukan saya. Tetapi kau yang akan jalani sendiri keputusanmu."
"Jadi bapak dan Ibu bisa terima saya walau pekerjaan saya seperti ini atau tidak bekerja sesuai keinginan Laras?" Rafael bertanya lagi untuk meyakinkan hatinya.
"Rafa, apa pun pekerjaanmu, kami berharap suatu waktu kau bisa jadi menantu kami. Jadi tidak usah pikirkan kami dalam ambil keputusan. Pikirkan dirimu yang akan jalani dengan Laras." Pak Yafeth berkata penuh penekanan untuk meyakinkan Rafael.
Rafael menarik nafas lega, sebab dia ingin mendengar pendapat orang tua Laras. "Kalau Bapak dan Ibu berpikir begitu, saya minta tolong untuk akhiri pekerjaan saya di kantor. Saya mau pamit pulang ke kampung untuk bicara sama Ibu." Ucap Rafael serius.
"Kalau begitu, mari kita turun. Kau bicara dengan Laras, supaya awan mendung tidak terus menggantung di wajahnya." Pak Yafeth merasa lega. Respon Rafael memberikan jalan keluar bagi persoalan keluarganya.
"Iya, Pak. Saya akan bicara dengan Laras."
"Ingat, keputusanmu bukan karna Laras anak kami. Tapi hatimu bisa menerima solusi yang ditawarkan Laras." Ucap Pak Yafeth sambil mengusap punggung Rafael.
...~•••~...
...~•○♡○•~...