NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGKHIANATAN DARI DALAM

Malam di Desa Qinghe biasanya sunyi, hanya dihiasi suara jangkrik dan desir angin yang membelai rumpun bambu. Namun, di dalam kediaman sederhana keluarga Fang, suasana terasa begitu berat. Fang Han duduk bersandar di kursi kayu, rambut putihnya yang baru didapat akibat pertarungan di Puncak Menangis tampak kontras dengan cahaya redup lampu minyak. Di sampingnya, Mu Chen, sang alkemis muda yang setia, tampak sangat kelelahan. Kelopak matanya terasa seberat timah setelah berhari-hari bertaruh nyawa.

Mu Chen mencoba memejamkan matanya sejenak di atas amben bambu. Ia ingin mencuri waktu istirahat sebelum besok pagi kembali merawat Paman Fang Zhou. Namun, baru saja ia memasuki ambang alam mimpi, sebuah sensasi panas yang membakar tiba-tiba meledak di balik jubahnya, tepat di atas dadanya.

"AAAKKKH!" Mu Chen terlonjak bangun, tangannya meraba ke dalam kerah baju dan menarik keluar sebuah kepingan giok berwarna hijau tua yang kini berpendar merah darah.

Token Kehidupan. Itu adalah benda suci milik Klan Mu yang terhubung langsung dengan garis darah pemimpin klan—ayahnya. Giok itu tidak hanya berpendar, tapi juga mengeluarkan suara retakan halus yang memilukan, seolah-olah ada jiwa yang sedang menjerit di dalamnya. Warna merah itu berdenyut kencang, menandakan bahwa sang pemilik sedang berada di ambang kematian yang sangat dekat.

"Ayah... Tidak... Ini tidak mungkin!" gumam Mu Chen, suaranya bergetar hebat. Air mata seketika menggenang di sudut matanya yang merah karena kurang tidur.

Fang Han yang berada di sudut ruangan langsung berdiri, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi. "Mu Chen? Apa yang terjadi? Token itu... kenapa warnanya berubah menjadi merah darah?"

Mu Chen menatap Fang Han dengan tatapan kosong yang penuh ketakutan. "Klan Mu... Ayahku... Mereka dalam bahaya besar, Han-er! Token ini tidak pernah berbohong. Jika

warnanya semerah ini, berarti klan sedang dikepung atau Ayah sedang menghadapi musuh yang tak tertandingi! Aku harus pulang... aku harus kembali sekarang juga!"

Mu Chen terhuyung-huyung berdiri, mengabaikan kakinya yang masih lemas. Ia segera menyambar tas obatnya dan kotak kayu cendana yang berisi sisa-sisa bahan herbal. Gerakannya panik, napasnya tersengal-sengal seolah oksigen di ruangan itu telah lenyap.

"Tunggu, Mu Chen! Kau tidak bisa pergi dalam kondisi seperti ini! Tubuhmu belum pulih!" teriak Tabib Lu yang baru saja masuk ke ruangan setelah memeriksa kondisi Paman Fang Zhou.

Mu Chen menoleh ke arah Tabib Lu dengan wajah yang hancur oleh kesedihan. "Tabib Lu... aku berhutang budi padamu, tapi aku tidak bisa tinggal di sini sementara keluargaku dibantai! Ayahku adalah segalanya bagiku. Jika Klan Mu jatuh, aku tidak akan punya tempat untuk kembali!"

Paman Fang Zhou, yang berbaring di ranjang dengan kondisi yang mulai stabil berkat kelopak bunga pertama, mencoba mengangkat tangannya yang kurus. "Mu Chen... Nak... pergilah. Keluarga adalah akar dari jiwa kita. Jangan biarkan akar itu dicabut oleh musuh."

Mu Chen bersujud di depan ranjang Paman Fang Zhou sebagai tanda hormat terakhir. "Paman Fang, maafkan aku jika aku harus pergi di saat kau belum sembuh total. Han-er, jagalah pamanmu. Aku harus berangkat sekarang... maut tidak akan menunggu kepulanganku!"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mu Chen berlari menuju pintu keluar. Namun, sebuah tangan yang kuat mencengkeram bahunya. Itu adalah tangan Fang Han.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian ke tempat pembantaian itu?" tanya Fang Han. Suaranya rendah, namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan.

Mu Chen mencoba melepaskan cengkeraman itu. "Han-er, ini urusan klanku! Kau sudah cukup menderita karena Puncak Menangis! Kau harus tinggal di sini, pulihkan dirimu, dan jaga pamanmu! Musuh Klan Mu bukan musuhmu!"

Fang Han menatap Mu Chen dengan mata abu-abunya yang dingin namun penuh persaudaraan. "Mu Chen, dengarkan aku. Kau telah menemaniku mendaki gunung kematian itu. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk paman yang bahkan bukan keluargamu sendiri. Jika aku membiarkanmu pulang sendirian untuk mati, maka aku tidak lebih baik daripada sampah yang baru saja kita bunuh di kaki gunung."

"Tapi pamanmu... dia butuh kau di sini!" sela Mu Chen dengan suara serak.

Fang Han menoleh ke arah Tabib Lu dan Paman Fang Zhou. "Tabib Lu adalah alkemis senior yang mumpuni. Dia sudah tahu cara mengolah bunga itu berkat catatan yang kau berikan. Paman Zhou... Paman, apakah kau mengizinkanku pergi membantu saudaraku?"

Paman Fang Zhou tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kebanggaan. "Seorang pria yang melupakan budi adalah pria yang tidak memiliki masa depan. Pergilah, Han-er. Bawa saudaramu kembali dengan selamat. Aku akan menunggu kalian di sini dengan sup jagung yang hangat."

Fang Han mengangguk mantap. Ia menyarungkan kembali pedang Sunya Long ke punggungnya. Pedang itu seolah merasakan haus akan darah baru, bergetar pelan di dalam sarungnya.

"Ayo, Mu Chen. Kita tunjukkan pada siapa pun yang berani menyentuh klanmu, bahwa mereka telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka," ucap Fang Han.

Sementara itu, ratusan mil dari Desa Qinghe, kediaman megah Klan Mu yang biasanya harum oleh aroma obat-obatan kini berbau amis darah dan asap hitam. Gerbang utama yang terbuat dari kayu ulin suci telah hancur berkeping-keping, terbakar oleh api hitam yang aneh.

Di tengah lapangan utama, Mu Tian, pemimpin Klan Mu sekaligus ayah dari Mu Chen, berdiri dengan tubuh yang penuh luka. Zirah hijau zamrudnya telah retak di banyak bagian. Di depannya berdiri seorang pria berjubah hitam dengan lambang ular melingkar di dadanya—Tetua Agung Mu Rong, adik kandung Mu Tian sendiri yang telah berkhianat.

"Menyerahlah, Kakak. Berikan 'Kitab Esensi Seribu Obat' itu kepadaku, dan aku akan membiarkan garis keturunanmu tetap hidup sebagai budak," ucap Mu Rong dengan senyum licik yang memuakkan.

Mu Tian terbatuk, memuntahkan darah segar yang membasahi jenggot putihnya. "Kau... kau bekerja sama dengan Sekte Racun Langit?! Kau menjual martabat leluhur kita hanya demi sebuah kitab?!"

Mu Rong tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di antara mayat-mayat pengawal klan yang bergelimpangan. "Martabat tidak akan memberiku keabadian, Kakak! Dengan kitab itu dan dukungan Sekte Racun Langit, aku akan menjadi alkemis terhebat di seluruh kekaisaran! Lihatlah sekelilingmu... istrimu, selirmu, dan para tetua yang setia padamu sudah tidak berdaya. Di mana putra kesayanganmu, Mu Chen? Mungkin dia sudah menjadi mayat di suatu tempat di pegunungan!"

"Mu Chen... dia akan kembali... dan dia akan menghancurkanmu," desis Mu Tian sambil mencoba mengangkat pedang pendeknya yang sudah patah.

Di sekeliling mereka, para murid Klan Mu yang masih setia dikepung oleh pasukan bayaran dan murid Sekte Racun Langit. Mereka dipaksa berlutut, sementara pedang-pedang dingin menempel di leher mereka. Suasana sangat mencekam, hanya diiringi isak tangis dan suara api yang melahap bangunan-bangunan bersejarah klan.

Tepat saat Mu Rong mengangkat pedangnya untuk memberikan serangan terakhir pada kakaknya, sebuah ledakan energi abu-abu menghantam gerbang belakang klan dengan kekuatan yang sangat dahsyat.

BOOOOOMMM!

1
Langit Biru (Ig: cholil.gtg)
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!