papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengakuan zavira
Sudah satu minggu penuh berlalu, dan suasana antara Zavira dengan Nadin terasa membeku layaknya es. Mereka tidak menyapa, tidak bertukar cerita, bahkan jika berpapasan pun Nadin akan langsung memalingkan wajah dengan kesal atau berjalan menjauh. Rasa rindu dan sesak di dada Zavira semakin hari semakin berat. Ia tidak tahan lagi dengan suasana canggung ini. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk menyelesaikan masalah ini hari ini juga.
Di sebuah lorong sekolah yang cukup sepi, jauh dari keramaian kelas, Zavira melihat Nadin sedang berdiri bersama Freya. Mereka tampak sedang mengobrol santai, namun suasana berubah seketika saat Zavira melangkah mendekat.
"Nad..." panggil Zavira pelan, suaranya terdengar ragu dan gemetar sedikit.
Nadin dan Freya langsung berbalik badan. Freya menatap Zavira dengan tatapan khawatir, seolah takut akan terjadi pertengkaran hebat lagi. Sedangkan Nadin? Ia hanya menatap Zavira dengan tatapan malas, mata menyipit penuh selera dan kekecewaan. Tanpa berkata apa-apa, Nadin berniat menarik tangan Freya untuk pergi meninggalkan Zavira begitu saja.
Namun, langkah mereka terhenti karena tangan Zavira dengan cepat menahan lengan Nadin.
"Gue mau ngomong, Nad," ucap Zavira tegas, kali ini suaranya lebih mantap.
Nadin mendengus kasar, melepaskan tangan Zavira dengan kasar. "Hah? Ngomong apa? Ngomong kalau lo mau ngambil orang yang gue suka? Atau mau pamer kalau lo deket banget sama Youjin?" ceplosnya sinis, nada suaranya tajam menusuk hati.
Freya di sampingnya hanya bisa menelan ludah, gelisah melihat kedua sahabatnya ini saling berhadapan. "Nad, Vi... jangan berantem dong..." cicit Freya pelan tapi tak didengarkan.
"Gue mau jelasin semuanya!" seru Zavira.
"Jelasin apa lagi sih, Vi? Jelasin kalau lo emang suka sama dia? Atau jelasin kalau lo emang lebih milih dia daripada persahabatan kita?" tanya Nadin terus menerus, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi.
"Enggak gitu! Gue nggak mau hubungan kita hancur cuma karena satu cowok!" balas Zavira berusaha menenangkan situasi.
Nadin terdiam, tapi wajahnya masih tertutup awan mendung. Ia menunggu Zavira bicara lebih lanjut.
Dengan napas yang tertahan, Zavira mencoba berkata jujur namun setengah berbohong demi menyelamatkan segalanya. "Gue tahu... kedekatan gue sama Youjin selama ini bikin lo sakit hati, Nad. Dan gue minta maaf banget soal itu. Tapi gue mau lo tahu satu hal... gue... gue nggak punya perasaan apa-apa sama Youjin. Serius. Gue anggap dia cuma temen biasa."
Kata-kata itu keluar dari mulut Zavira dengan berat. Rasanya sakit sekali mengingkari perasaannya sendiri, tapi ia harus melakukannya demi Nadin.
Namun, Nadin justru terkekeh sinis, jelas sekali ia tidak percaya. "Oh ya? Nggak punya perasaan? Mata lo kalau liat dia itu bersinar banget tau nggak? Lo kira gue bodoh apa, Vi? Jangan boong deh lo!"
"GUE NGGAK BOONG!" Zavira kehilangan kesabaran. Ia mendengus kasar, kepalanya pusing memikirkan cara agar Nadin percaya. Matanya berkeliling panik mencari alibi, hingga tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok tinggi besar yang berjalan santai di ujung lorong.
Itu Elvaro.
Cowok itu berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana, earphone menempel di telinganya, wajahnya datar dan cuek seolah dunia ini miliknya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan konsekuensi, dorongan emosi dan kepanikan membuat Zavira bertindak nekat.
"HEH, EL!!"
Zavira berlari kecil menyambar langkah Elvaro. Dengan gerakan cepat dan paksa, ia menarik lengan bidang cowok itu hingga Elvaro terhenti mendadak dan menoleh dengan kaget. Musik di earphonenya langsung ia cabut.
"Lo apaan sih, Vi?!" seru Elvaro bingung, matanya menatap tajam ke arah Zavira. "Ngapain lo tarik-tarik gue?"
Semua orang yang ada di situ—Nadin, Freya, —tertegun melihat pemandangan itu. Mereka bingung, kenapa Zavira bisa bertingkah seberani itu pada Elvaro yang terkenal dingin dan galak?
Belum sempat Elvaro mengeluh lebih jauh, tiba-tiba Zavira melakukan hal yang lebih mengejutkan. Ia melingkarkan tangannya erat ke lengan Elvaro, menempelkan tubuhnya sangat dekat, bergelayut manja padahal biasanya mereka selalu berantem.
Elvaro melongo. Tangannya kaku, matanya menyipit menatap Zavira dengan tatapan campur aduk antara sinis, bingung, dan curiga. ''Cewek ini lagi ada masalah otak apa gimana?'' batinnya.
Nadin dan Freya pun sama terkejutnya, mulut mereka sedikit terbuka tidak mengerti arah pembicaraan ini mau dibawa ke mana.
Dan di tengah keheningan yang mencekam itu, Zavira mengangkat dagunya, menatap Nadin dengan mata yang berapi-api, lalu berkata dengan suara lantang, tegas.
"DIA SUAMI GUE."
...
BRUK!
Seperti ada petir yang menyambar di siang bolong.
Elvaro sontak terkejut setengah mati. Matanya yang tadinya tajam kini terbuka lebar sempurna, kepalanya menoleh cepat menatap profil wajah Zavira di sampingnya. Ia kira salah dengar.
"Hah?!" pekik Elvaro dalam hati, jantungnya berdegup kencang bukan main karena kaget.
Begitu juga dengan Nadin dan Freya. Wajah mereka pucat, kaku, dan syok luar biasa mendengar pengakuan gila itu.
"Suami...?" gumam Freya pelan, nyaris tak terdengar.
Nadin terpaku, semua emosi dan kemarahannya seketika lenyap digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa.
di tunggu up berikutnya 🙏🏼
Wkwkwkwk 😁