“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Usai mandi dan menunaikan sholat dzuhur berjamaah di kamar hotel itu, suasana terasa jauh lebih tenang.
Cahaya matahari siang masuk melalui tirai tipis yang setengah terbuka, membuat ruangan VIP itu terasa hangat dan damai.
Aroma makanan dari kotak-kotak yang baru saja diantar oleh room service memenuhi ruangan.
Hanan memang sengaja memesan makanan untuk dimakan di kamar. Ia tahu Kayla tidak mungkin keluar hotel hari ini. Tentu saja, hal itu di karenakan sesuatu yang sulit di jelaskan namun sudah pasti bisa tertebak di pikiran para readers setia Mommy.
Pepatah yang mengatakan ‘Diam diam menghanyutkan,’ benar benar menyatu dengan sosok ustadz di depan Kayla.
Sungguh, penampilan nya sangat menipu, tidak seperti kekuatan nya saat hanya berdua dengan kayla semalam penuh.
Dan kini, di sebuah meja kecil dekat jendela, Kayla duduk santai dengan rambut yang masih sedikit lembap setelah mandi.
Hanan duduk di seberangnya. Sesekali ia memperhatikan Kayla yang sedang makan dengan tenang. Kayla menyuapkan nasi perlahan, lalu meneguk minuman dingin di tangannya.
“Mas…” Hanan yang sejak tadi menatapnya dengan lembut langsung menjawab.
“Iya…” jawab Hanan lembut. Kayla memainkan sendoknya sebentar sebelum akhirnya bertanya.
“Kita kapan pulang?”
Hanan mengangkat alisnya sedikit. Ia lalu menaruh gelas di meja.
“Kamu maunya kapan? Kemana?” tanyanya santai.
“Kemana?” Kayla mengerutkan dahi menatap Hanan bingung.
Hanan tersenyum kecil melihat ekspresi polos itu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu dengan lembut mengusap sudut bibir Kayla yang masih basah karena minum.
Gerakan itu begitu natural dan penuh perhatian. Kayla langsung menegang sedikit karena gugup.
“Maaf ya,” ucap Hanan lembut, “rumah yang aku siapkan belum selesai renovasi. Jadi, untuk saat ini kita hanya ada dua pilihan, kamu mau kembali ke Jakarta atau ikut ke Pondok.”
Ucapan itu membuat Kayla terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Sekilas bayangan wajah kedua orang tuanya muncul di kepalanya.
Jakarta…
Tempat yang dulu ia anggap rumah, tapi sekarang terasa begitu jauh. Ia sudah tidak ingin kembali ke sana.
Tidak ingin bertemu dengan orang tuanya. Tidak ingin kembali pada kehidupan yang dulu membuatnya merasa kosong. Kayla menunduk sejenak. Lalu dengan suara pelan ia berkata,
“Ke rumah eyang dulu, gimana? Setelah itu baru ke pondok,” jawab Kayla ragu dan lirih.
Hanan memperhatikan wajah istrinya dengan tenang.
“Kamu mau tinggal di rumah eyang?” tanya Hanan lembut.
“Bukan!” Kayla cepat menggeleng. “Aku… cuma mau mengambil beberapa baju saja.”
Nada suaranya pelan, hampir seperti anak kecil yang meminta izin. Hanan memahami maksudnya. Ia pun segera mengangguk pelan.
“Baiklah,” jawabnya hangat. “Besok kita ke rumah eyang dulu sebelum ke pondok.”
Mata Kayla langsung sedikit berbinar. “Terimakasih Mas.”
“Sama-sama, sayang…” jawab Hanan tersenyum.
Deg!
Wajah Kayla langsung terasa panas. Sejak tadi ia memang belum terbiasa dipanggil seperti itu. Setiap kali Hanan menyebutnya sayang, ada perasaan aneh yang bermekaran di dadanya.
Hangat.
Lembut.
Dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kayla menunduk, pura-pura fokus pada makanannya agar Hanan tidak melihat wajahnya yang semakin merah.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan di pintu kamar memecah suasana tenang di dalam ruangan. Kayla yang sedang duduk di kursi langsung mendongak. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap pintu kamar itu, lalu beralih menatap Hanan yang juga ikut menoleh.
“Mas, kamu pesan layanan kamar?” tanya Kayla penasaran.
“Tidak,” jawabnya singkat seraya menggelengkan kepala. Ia segera berdiri, “Kamu lanjut makan saja, biar aku buka,”
Kayla mengangguk, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia tidak benar-benar melanjutkan makan.
Matanya mengikuti langkah Hanan yang berjalan menuju pintu kamar. Beberapa detik kemudian, Kayla akhirnya ikut berdiri.
Pelan-pelan ia berjalan mengekor di belakang suaminya. Ketika Hanan membuka pintu… Keduanya sama-sama terdiam. Di depan pintu berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan wajah tegas dan tatapan yang sulit ditebak.
Rambutnya sudah mulai dipenuhi uban di beberapa bagian, namun aura wibawanya masih terasa kuat.
Kayla yang berdiri di belakang Hanan langsung membeku. Matanya melebar. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
“Papa…” gumam Kayla pelan.
Suara itu hampir seperti bisikan yang keluar tanpa sadar dari bibirnya. Hanan yang mendengar langsung sedikit terkejut.
Ia segera menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan wajah Kayla yang tiba-tiba pucat. Barulah Hanan menyadari siapa laki-laki yang berdiri di depan mereka.
Damar.
Ayah kandung Kayla. Sosok yang kemarin bahkan tidak datang ke acara akad nikah putrinya sendiri. Suasana di depan pintu itu langsung berubah tegang. Damar menatap pasangan suami istri baru itu dengan wajah datar.
Tidak ada senyum. Tidak ada ekspresi hangat seorang ayah yang baru menemui anaknya setelah menikah. Tatapannya justru terlihat kaku dan dingin.
“Papa mau bicara sama kamu,” ucapnya singkat.
Kayla menelan ludah. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
Beberapa detik kemudian, Kayla menoleh kepada Hanan. Tatapan mereka bertemu.
“Mas… aku mau bicara sama Papa dulu sebentar,” ucap Kayla pelan.
Hanan menatap wajah istrinya dengan lembut. Meski ia tahu hubungan Kayla dengan ayahnya tidak baik, ia tidak ingin ikut campur dalam percakapan itu. Ia hanya mengangguk.
“Baiklah,” jawabnya tenang.
Hanan lalu sedikit mundur memberikan ruang. Ia bahkan membuka pintu lebih lebar. Kayla berjalan keluar kamar dengan langkah yang sedikit ragu.
Sementara Hanan memilih kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu perlahan agar Kayla bisa berbicara dengan ayahnya dengan lebih leluasa.
Kini Kayla dan Damar berdiri di koridor hotel yang sepi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Kayla menatap ayahnya dengan perasaan campur aduk. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka berbicara dengan baik.
“Untuk apa Papa ke sini?” tanya Kayla datar.
Nada suaranya dingin. Hampir tanpa emosi. Pertanyaan itu membuat Damar menghela napas panjang.
Dadanya naik turun menahan sesuatu yang seolah ingin meledak keluar. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, berusaha menahan emosi yang mulai membakar di dalam dada.
“Kayla…” suara Damar terdengar berat. Lalu ia menatap tajam putrinya. “Apa kamu benar-benar anakku?” tanya Damar geram.
Pertanyaan itu membuat Kayla sedikit mendongak. Beberapa detik ia hanya menatap ayahnya.
Lalu sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. Namun senyum itu bukan senyum bahagia. Senyum itu terasa pahit.
Sangat pahit.
“Lalu, menurut Papa…” ucap Kayla perlahan, “apa Kayla benar anak Papa?”
“KAYLA AURORA!!” bentak Damar.
jangan banyak pikiran Kayla nanti takutnya ngaruh ke kandungan mu 🤭
semoga nanti persalinannya lancar ya Kayla..
lanjut Mom..❤❤