Megan hancur setelah mengetahui pengkhianatan Sawyer, mencurahkan rasa sakit dan penyesalannya kepada Brenda melalui telepon. Di tengah percakapan emosional itu, tragedi terjadi—sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Klakson keras menggema, Megan panik dan menginjak rem, namun semuanya terlambat. Benturan dahsyat tak terhindarkan, kaca pecah berhamburan, dan kepalanya menghantam setir sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Sementara itu, Sawyer merasakan kegelisahan aneh tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Marshall
"Ini aku, pamanmu, Marshall," terdengar suara dari ujung telepon.
Ekspresi Megan langsung berubah saat mendengar suara Marshall. "Kenapa kau meneleponku? Ada apa?" tanyanya, nadanya waspada.
Marshall menghela napas, merasakan penolakan Megan. "Kenapa kau bersikap begitu kasar? Tidak bisakah kau berbicara dengan baik kepadaku?" tanyanya.
"Aku tidak berutang percakapan baik padamu. Katakan saja apa yang ingin kau katakan, kalau tidak aku akan menutup teleponnya," jawab Megan dengan tegas
Seketika, sikap Marshall melunak. "Aku minta maaf, Megan. Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu. Keluarga membutuhkanmu kembali," pintanya.
"Keluarga membutuhkan aku kembali? Keluarga yang mana?" Megan tertawa sinis.
"Keluargamu, Megan. Apa kau sudah lupa? Apa kau sudah lupa rumahmu sendiri?" desak Marshall, nadanya memohon.
"Keluargaku adalah ibu dan ayahku, dan mereka sudah tidak ada. Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku bukan bagian dari keluargamu," jawab Megan dingin, nadanya tegas.
"Aku mengerti, aku tahu kau merasa dikhianati dan terluka, tapi percayalah, Megan, ini bukan tentang pernikahan atau apa pun. Keluarga sedang menghadapi beberapa masalah, dan kami tahu kau sangat hebat dalam bisnis untuk membuat perubahan tertentu, kan? Kau bisa melakukannya lalu pergi," jelas Marshall.
"Oh, bagus. Apa aku ini orang yang tugasnya hanya datang dan memperbaiki sesuatu setelah kalian menghancurkannya? Apa aku terlihat seperti pembantu di matamu?" Megan membalas dengan kesal.
Marshall menggertakkan giginya dengan marah, tapi ia tidak bisa menunjukkannya. Ia memaksa dirinya melanjutkan, "Tidak, kau salah paham, Megan. Selama kau bisa memperbaiki semuanya dan bahkan masih ingin mengambil alih sebagai kepala perusahaan, kenapa tidak? Kau bisa melakukannya," katanya, mencoba terdengar meyakinkan.
Megan menghela napas, tidak yakin harus menjawab apa.
Suara Marshall kembali terdengar, "Kami juga tidak sempat merayakan ulang tahunmu. Kami tahu itu sudah lewat beberapa waktu lalu, jadi tolong datang. Kita akan menyelesaikan semuanya. Tidak ada yang akan memaksamu melakukan apa pun. Kau melakukan semuanya atas keinginanmu sendiri," katanya, masih berpura-pura.
"Sku tidak bisa datang. Sku mencintai hidupku di sini. Selesaikan masalah kalian sendiri," tegas Megan, menolak permohonan pamannya.
Tetapi Marshall tetap bersikeras. "Megan, tolong, dengarkan aku. Ingat saat kau masih kecil, dan orang tuamu masih bersama kita? Aku biasa mengajakmu ke taman setiap hari Minggu, dan kita piknik bersama. Kau sangat menyukai hari-hari itu, bukan? Kau selalu tersenyum, tanpa beban."
Tekad Megan sedikit goyah saat kenangan indah itu membanjiri pikirannya. "Ya, aku ingat."
"Kita bisa memiliki hari-hari itu lagi, Megan. aku merindukan menghabiskan waktu bersamamu, melihatmu bahagia. Tolong, beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pinta Marshall.
Megan ragu-ragu. "Aku akan memikirkannya," akhirnya ia berkata.
Marshall berpura-pura lega, menyembunyikan niat aslinya di balik rasa terima kasih palsu. "Terima kasih, Megan. Itu saja yang aku minta. Luangkan waktumu, tapi ketahuilah bahwa kami ada untukmu kapan pun kau siap.”
Setelah panggilan itu, Megan duduk, pikirannya dipenuhi berbagai konflik. Haruskah ia kembali ke keluarganya dan menghadapi masa lalu, atau tetap di tempatnya dan melanjutkan hidupnya sendiri?
Sementara itu, di Market Square di kantor Lisa, Stella duduk di sana dengan air mata mengalir di wajahnya. Lisa, temannya, mencoba menenangkannya, tetapi Stella tidak bisa menghilangkan perasaan hancur itu.
"Berapa lama lagi kau akan terus menangis? Tidak bisakah kau melupakan ini?" tanya Lisa, nadanya campuran antara kesal dan khawatir.
Stella terisak dan mengusap air matanya, tetapi air mata itu terus mengalir. "Aku mencintainya dan melakukan segalanya untuknya. Bagaimana dia bisa melakukan itu kepadaku?" keluhnya.
Lisa menghela napas. "Ini salahku. Aku seharusnya tidak memberitahumu bahwa aku melihatnya di hotel," akuinya, penyesalan terdengar jelas.
Stella menggeleng tegas. "Kau melakukan hal yang benar. Dia yang bodoh. Bagaimana dia bisa membayar seseorang $30,000 hanya untuk berhubungan intim?" serunya.
"Apa? $30,000? Kau yakin?" tanya Lisa, terkejut sama seperti Stella.
"Ya, $30,000," tegas Stella, nadanya pahit. "Bisakah kau bayangkan? Sebanyak itu yang dia bayarkan pada wanita jalang itu."
Mata Lisa membesar karena tidak percaya. "Itu gila! Apa yang dia pikirkan?" serunya, menggelengkan kepala. "Dia sudah kehilangan akal."
Stella mengangguk, "Aku tidak tahu apa yang merasukinya sampai melakukan hal seperti itu. Aku pikir kita punya sesuatu yang nyata.”
Lisa meraih dan meletakkan tangan di bahu Stella. "Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada seseorang yang mengkhianatimu seperti itu," hiburnya. "Kau akan menemukan seseorang yang benar-benar menghargaimu."
Stella memberikan senyum lemah, bersyukur atas dukungan Lisa. "Terima kasih," bisiknya.
Dengan mata yang menyala oleh amarah, Stella menyatakan, "Aku akan memastikan mempermalukan wanita yang tidur dengan Dylan."
Lisa mengernyit, khawatir terlihat di wajahnya. "Apa yang akan lakukan?" tanyanya.
"Aku mengambil fotonya," ungkap Stella, nadanya dingin. "Aku akan menggunakannya untuk mempermalukannya."
Lisa menggelengkan kepalanya, "aku rasa itu bukan ide yang baik," katanya. "Itu bisa memperburuk keadaan.”
"Aku tidak peduli," balas Stella, "Setelah apa yang dia lakukan, dia pantas dipermalukan. Dia menghancurkan hubunganku, jadi aku akan memastikan menghancurkan miliknya juga."
~ ~ ~
Samuel juga masih beristirahat, pikirannya terganggu oleh kejadian yang menimpa Sawyer. Saat ponselnya kembali berdering, ia melihat nama penelepon: Isabella Roseborough.
Ia mengernyit, berpikir.
"Siapa semua wanita ini yang menelepon putraku? Semoga mereka tidak memiliki niat buruk terhadapnya karena selain Megan aku tidak akan menerima wanita lain." Sambil mengatakan ini, ia menekan tombol jawab.
Suara ceria Isabella terdengar di ujung telepon, "Halo Sawyer, aku ingin tahu, bisakah kita bertemu dan makan malam bersama malam ini?”
mungkin maksudnya kepada Dylan ya, bukan ke Sawyer.