Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Keyakinan Tentang Sesuatu.
"Nduk, bangun! Buka matamu! Ada apa?" pinta Mayang terus menerus. Namun mata Mesha masih terpejam, meski air mata mulai menetes dari kedua netra yang tertutup itu.
"Bangun, Nduk! Bangun!" Giliran Bagas memanggil-manggil Mesha.
Beberapa saat kemudian, perlahan Mesha membuka kedua matanya. Tangisnya semakin kencang saat melihat wajah kedua orang tuanya yang khawatir.
"Sudah, sudah ... mimpi buruk, to? Sudah ndak apa-apa, ada bapak sama ibu di sini, Nduk," hibur Mayang sambil mengusap punggung Mesha. Ia merapikan anak rambut putrinya yang basah karena keringat.
"Bu, Echa mimpi tentang laki-laki berpakaian serba hitam. Sebenarnya, apa mau dia?" terang Mesha.
Bagas dan Mayang saling berpandangan saat mendengar pertanyaan Mesha.
"Sudah, Nduk. Itu cuma bunga tidur, ndak usah dipikirkan. Sekarang tidur lagi saja. Kan kamu juga masih berangkat kerja." Bagas berusaha meyakinkan putri semata wayangnya.
Setelah Mesha kembali tenang, Bagas dan Mayang keluar dari kamar.
"Duh, gimana to ini, Pak? Mesha kenapa masih membahas makhluk itu lagi? Perasaanku jadi ndak enak," ungkap Mayang.
"Sudah to, Bu. Ndak usah mikir macam-macam. Nanti bapak cari jalan keluarnya. Yuk tidur lagi, ini masih gelap."
Sementara di kamar, Mesha masih belum bisa memejamkan mata. Gadis itu membolak-balikan badan untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Namun hasilnya, nihil. Hingga suara ayam jantan berkokok, mata indahnya masih saja terbuka.
Mesha memutuskan untuk bangkit dari ranjang. Ia mencuci muka dan menggosok gigi. Baju tidur yang dipakainya sudah berganti dengan kaos berlengan panjang dan celana training. Mumpung masih pagi, gadis itu bermaksud menghirup udara pagi di luar sambil jogging. Beberapa tetangga yang sudah beraktifitas di luar, menyapanya saat berpapasan.
Setelah cukup jauh berjalan dan puas menghirup udara segar, Mesha merasa lapar. Saat perjalanan pulang, ia melihat seorang penjual bubur beras. Ia memesan tiga bungkus bubur yang disiram kuah sayur santan. Kemudian kembali berjalan pulang.
"Ibu mau bikin sarapan?" tanya Mesha saat melihat sang ibu sudah sibuk di dapur. "Echa beli bubur, Bu. Ibu tidak usah memasak," lanjutnya.
"Ya sudah, ibu cuma bikin kopi saja buat bapakmu, kalau begitu. Kamu mau teh manis juga?" sahut Mayang sambil meraih beberapa piring dan sendok lalu diberikan kepada Mesha.
"Gampang, Bu. Nanti kalau Echa mau, bikin sendiri."
"Yowis kalau begitu."
Mesha mengeluarkan bungkus bubur tersebut, lalu menuangkan ke dalam piring dan menatanya di meja.
Mayang dan Mesha mulai menikmati bubur mereka masing-masing.
"Mmm ... ini tukang bubur yang mangkal di bawah pohon Mahoni, Cha?"
"Iya, Bu."
"Apa nggak antri banget?"
"Lumayan, Bu."
"Jaman ibu masih muda juga suka beli di situ, rasanya nggak berubah. Enak!"
Dengan lahap Mayang menyantap bubur di piringnya.
"Lagi pada asik makan apa, nih? Bapak kok nggak diajak?" Bagas baru saja keluar dari kamar mandi. Di tangannya masih ada handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Itu, Echa juga beli buat Bapak, kok." Mesha menunjuk piring di hadapannya.
"Wah, terima kasih, Nduk."
Ketiga orang di ruangan tersebut sibuk dengan makanan masing-masing. Mesha bangkit setelah piringnya terkuras habis. Ia berjalan ke arah bak cuci piring. Kemudian ia melihat kedua orang tuanya sudah selesai makan.
"Biar Echa aja yang nyuci," usul gadis tersebut.
"Ya sudah. Nanti kamu mau dimasakkin apa, Nduk?"
"Terserah Ibu saja." Tangan Mesha dengan cekatan membereskan dan mengangkut piring yang kotor.
***
Bagas sudah menunggu Mesha di halaman rumah. Setelah berpamitan dan mengecup tangan sang ibu, gadis itu berlari keluar untuk membonceng bapaknya.
Mayang melambaikan tangan kepada kedua orang yang dicintainya tersebut. Tiba-tiba bulu tengkuknya terasa meremang. Hawa dingin seperti melingkupi tempat di mana ia berdiri. Sekilas, perempuan itu seperti melihat sosok seseorang berdiri di belakangnya. Namun saat ia melihat ke arah itu lagi, tidak ada seorang pun di sana. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.
Sementara di seberang jalan, sosok pria berbaju serba hitam mengawasi rumah itu dari kejauhan.
***
Suasana masih begitu sepi saat Mesha tiba di tempatnya bekerja. Untuk kesekian kalinya, gadis itu melihat hal yang mencurigakan di ruangan tempat penyimpanan arsip.
"Tak salah lagi, Pak Bejo yang memanipulasi laporan tersebut," gumam Mesha. Ia bermaksud mencari laporan yang asli lagi nanti.
"Ada apa, Mbak?" Suara laki-laki mengagetkan Mesha yang masih berdiri di depan pintu.
"Eh, Pak Paijo. Nggak ada apa-apa, Pak." Mesha tersenyum lalu masuk ke dalam kantor.
Laki-laki itu melihat ke arah yang dilihat Mesha tadi lalu mengangkat kedua bahunya. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang kebun.
Mesha baru saja duduk saat Sakha masuk ke dalam kantor. Ia menyapa gadis tersebut dengan sopan, lalu terkejut saat melihat pakaian yang dikenakan Mesha.
Sakha terus-terusan tersenyum saat tahu bahwa gadis itu memakai pakaian yang dibelikannya. Meskipun dalam hatinya tidak mengharapkan sesuatu yang lain, ia begitu bahagia melihat bahwa gadis yang mengguncang hari-harinya, menghargai pemberiannya.
"Lihatin terussss! Sampai capek!" celetuk Radit tepat di sebelah telinga Sakha.
"Hisssh! Hampir saja gendang telingaku pecah." Sakha menggerutu. Namun perkataannya malah disambut tawa ledekan dari rekan kerjanya itu.
Sementara Mesha, ia masih sibuk di depan layar komputer untuk merekap semua laporan yang ia handle.
"Ada kesulitan, Dek? Kalau ada, tanya saja, nanti saya bantu." Sakha kebetulan melewati meja Mesha dan mampir sejenak. Seketika, Marisa dan Radit terkejut saat mendengar panggilan "Dek" keluar dari mulut laki-laki tersebut. Radit tersenyum usil lalu melontarkan sebuah kata godaan, "Ikhiiiiirrr!"
Berbeda hal dengan apa yang dirasakan Marisa. Ia semakin emosi mendengar panggilan tersebut. Buku-buku jarinya mencengkeram ujung taplak meja. Gadis itu mengatupkan giginya, lalu bangkit hingga menabrak meja di hadapannya.
"Aduh!" teriak kesakitan meluncur dari mulutnya.
"Ada apa, Mbak Risa?" tanya Sakha.
"Nggak ada apa-apa, Mas."
Sebenarnya, usia Marisa pun tak jauh berbeda dengan Mesha. Namun Sakha memanggil "Mbak" kepada semua pegawai perempuan yang lebih muda untuk penghormatan. Maka, semakin bertambah rasa jengkel Marisa.
Marisa keluar dari kantor dengan amarahnya. Ia terus saja menggerutu tidak jelas. Kemudian ia beranjak ke dapur untuk menyeduh teh.
Sementara itu, Mesha dan Sakha masih berdiskusi tentang laporan yang sedang dikerjakannya.
Saat makan siang, Mesha membicarakan apa yang dilihatnya kepada Sakha.
"Apa begini saja, Dek. Biar nanti kita cari lagi sama-sama saat jam kerja sudah usai?" usul Sakha.
"Tapi sebelumnya, aku akan melaporkan ini kepada Pak Lurah, Mas."
"Baiklah."
***
Mesha mengangguk dengan yakin saat sang Lurah menanyakan kembali.
"Kamu yakin, Nduk?"
"Yakin, Pak. Ada yang tidak beres dari laporan tersebut setelah saya meneliti semuanya."
"Ada bukti?"
"Belum, Pak."
"Kalau tidak ada bukti, aku ya nggak bisa melakukan apa-apa."
"Saya akan buktikan, Pak," cetus Mesha dengan yakin.
Bersambung ....
Thanks thor 🙏😘💗