NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Steven

Suasana di halaman luas itu mendadak mencekam, hanya menyisakan debu yang beterbangan dan erangan kesakitan. Zoe memijit pangkal hidungnya dengan napas memburu, berusaha menahan pening yang menghantam kepalanya secara tiba-tiba.

Di sampingnya, Nindi mematung dengan mulut menganga lebar, matanya tak berkedip menatap kekacauan di depan mereka. Steven tidak hanya sekadar memenangkan pertarungan--- dia telah membantai tim lawan sekaligus melumat rekan setimnya sendiri hingga tak bersisa, seolah ingin meneriakkan pada dunia bahwa dialah satu-satunya penguasa di sana.

"Cukup!" Zoe bangkit dengan gerakan kasar. Kakinya melangkah lebar menembus kepulan debu, mengabaikan Papow yang tampak meringkuk menjauh karena takut terkena imbas pukulan tuannya.

"Apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu, Rubah?!" bentak Zoe, suaranya melengking tajam karena emosi yang sudah di ubun-ubun. "Seharusnya kau menunjukkan kemampuanmu untuk bekerja sama, bukan malah menjadikan rekanmu sendiri sebagai sasaran pukul! Ini bukan ajang pamer kekuatan!"

Steven berdiri tegak di tengah reruntuhan, menatap Zoe dengan tatapan dingin dan penuh keangkuhan. "Aku bisa melindungi tempat ini dengan kekuatanku sendiri tanpa perlu bantuan dari sampah-sampah lemah itu," jawabnya enteng, suaranya terdengar meremehkan. "Mereka hanya akan menjadi penghalang. Cukup aku, dan hanya aku saja yang kau butuhkan di sini. Jadi, usir saja mereka sekarang juga sebelum aku benar-benar melenyapkan mereka dari pandanganku."

Nindi dan Zoe tersentak, mata mereka membulat sempurna mendengar kalimat angkuh itu. Zoe tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan kejengkelan.

"Heh, dengar ya, rubah buluk! Buka telingamu lebar-lebar!" Zoe menunjuk wajah Steven dengan telunjuk yang gemetar karena marah. "Kita di sini sedang melakukan pencarian pekerja baru yang kompeten untuk menjaga dan melindungi keamanan seluruh mansion ini, untuk semua orang yang tinggal di dalamnya, bukan hanya untuk melayani egomu yang setinggi langit itu!"

Seketika, atmosfer di tempat itu membeku. Mata Steven dan Papow membelalak nyaris keluar dari kelopaknya. "R-rubah buluk?" Steven mengulang kata-kata itu dengan nada yang rendah namun bergetar hebat. "RUBAH BULUK? KAU BERANI MEMANGGILKU RUBAL BULUK DI DEPAN WAJAHKU?!" teriaknya kemudian, suaranya menggelegar hingga membuat burung-burung di sekitar mansion terbang menjauh.

Papow hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia memberikan jempol untuk keberanian Zoe. Gadis ini benar-benar nekat, dia baru saja menyentuh harga diri seekor monster, batin Papow takjub.

"Kau—" Steven hendak merangsek maju, namun Zoe memotongnya dengan lebih cepat dan tajam.

"Apa?!" tantang Zoe, dagunya terangkat tinggi. "Ingat ini baik-baik, di sini akulah yang memegang kendali. Aku yang memutuskan siapa yang berhak tinggal dan siapa yang harus pergi. Dan untukmu... kau TIDAK LOLOS!"

Tanpa menunggu balasan, Zoe memutar tubuhnya dan melengos pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah, meninggalkan Steven yang masih terpaku karena syok.

"Nindi, cepat obati mereka semua. Pastikan tidak ada yang cacat permanen, aku yakin gigi mereka pasti hancur berantakan karena ulah rubah sialan itu," perintah Zoe tanpa menoleh.

"R-rubah? Zoe, apakah mungkin dia..." Suara Nindi tercekat di tenggorokan, kakinya mendadak lemas.

"Ya, dia orangnya," sahut Zoe singkat dengan nada berat. "Pemilik kekuatan asli yang saat ini bersemayam di dalam tubuhku."

Nindi langsung membekap mulutnya sendiri, tubuhnya gemetar hebat seolah seluruh energinya tersedot keluar. Ia melirik ke belakang, ke arah Steven yang masih berdiri tegak dengan tatapan tajam yang seolah bisa melubangi punggung mereka. Sementara itu, Papow mendekat perlahan sambil terus menggelengkan kepalanya.

"Tuan-tuan..." desah Papow penuh penyesalan. "Kau baru saja menghancurkan segalanya. Karena kesombonganmu, kita gagal mendapatkan pekerjaan yang sangat kita butuhkan ini."

"Tutup mulutmu, Papow! Aku tidak pernah gagal dalam hal apa pun!" Steven tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Tidak lolos? Dia pikir dia itu siapa sampai berani-beraninya memerintah dan menolak keberadaan ku? Dia akan menyesal telah menyebutku rubah buluk."

Sore itu, halaman luas Mansion Erlangga tampak kacau. Erangan kesakitan terdengar dari beberapa pria yang kini tengah diobati, akibat serangan Steven beberapa saat lalu.

Namun, Steven seolah tuli. Ia duduk bersandar dengan kaki menyilang di kursi rotan mewahnya, menatap kosong ke arah taman mawar yang mulai layu.

Steven menarik napas panjang, lalu mendesah pelan hingga membuat pundaknya merosot. "Papow... coba kau perhatikan struktur wajahku baik-baik. Menurutmu, apa ada yang salah? Apa aku kurang tampan untuk standar mata kasar manusia?"

Papow yang sedang asyik meneguk sisa tehnya seketika tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk-batuk kecil. Ia buru-buru mengelap bibirnya. "T—tidak, Tuan. Tuan ini tampan... bahkan sangat tampan! Kalau ada skala satu sampai sepuluh, Tuan berada di angka sebelas. Garis rahang Tuan bahkan lebih tajam dari pedang pusaka kita," jawab Papow dengan nada meyakinkan, meski hatinya sedikit lelah dengan kenarsisan tuannya.

"Tapi kenapa gadis bernama Zoe itu sama sekali tidak tertarik padaku?" Steven mulai mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, alisnya bertaut heran. "Aku ini bukan sekadar rupawan, Papow. Aku adalah idola di antara para siluman. Puluhan, bahkan ratusan siluman single rela mengantre dan bersujud hanya untuk mendapatkan lirikan mataku. Tapi dia? Dia menatapku seolah aku hanyalah angin lalu. Kenapa pesonaku tidak mempan padanya?"

Papow menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mencari kalimat yang aman. "Mungkin... selera dia sedikit berbeda, Tuan. Maksud saya, kita harus ingat fakta bahwa dia itu manusia dan Tuan adalah seekor rubah. Mungkin saja di matanya yang terbatas itu, Tuan hanya dianggap sebagai seekor hewan yang kebetulan bisa bicara. "

Seketika, aura di sekitar mereka mendingin. Steven menegakkan tubuhnya, memberikan tatapan maut yang membuat Papow hampir ingin menghilang dari tempat duduknya. Steven menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh rencana licik.

"Tidak bisa dibiarkan. Harga diriku sebagai penguasa tidak boleh diinjak-ingat oleh seorang gadis manusia," ucap Steven dingin. Ia berdiri, merapikan setelan jasnya yang tak berdebu. "Aku harus memikirkan cara agar dia bertekuk lutut. Aku akan membuatnya gemetar ketakutan padaku... atau, aku akan membuatnya sangat tertarik padaku sampai dia sendiri yang memohon agar aku sendiri yang mengambil kekuatan itu."

Papow menelan ludah, firasatnya mulai tidak enak. "Tuan, apa sebenarnya yang sedang Tuan rencanakan? Wajah Tuan terlihat... sangat mencurigakan."

Steven terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat percaya diri. "Tentu saja rencana yang sempurna, Papow. Aku akan membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya padaku. Akan kubuat dia terbuai dengan pesonaku sampai dia kehilangan kewarasannya. Setelah dia menyerahkan kekuatanku secara sukarela karena cinta... saat itulah misi berakhir. Aku akan mendapatkan kekuatanku kembali, dan terakhir, aku akan membuangnya begitu saja seperti sampah."

Steven berlalu pergi dengan langkah tegap dan senyum kemenangan yang sudah terpatri di wajahnya.

Sementara itu, Papow hanya terdiam menatap punggung tuannya. Ia teringat sorot mata Zoe yang tajam dan tak tergoyahkan. Dalam hati, Papow bergumam, "Tuan, aku ragu rencana ini akan berhasil. Gadis itu bukan tipe yang akan tunduk pada wajah tampan... aku takut justru Tuan yang nanti akan berakhir mengenaskan."

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!