Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keindahan Danau Tinggi dan Refleksi Hati
Setelah meninggalkan desa adat yang penuh kenangan itu, perjalanan Nono dan Ayu selanjutnya membawa mereka menuju sebuah danau vulkanik yang terletak di ketinggian, terkenal dengan kejernihan airnya dan pemandangan sekitarnya yang memukau. Jalanan menuju ke sana semakin menanjak dan berkelok, tapi pemandangan yang terbentang di sepanjang perjalanan membuat rasa lelah seketika hilang.
Di dalam mobil, suasana pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya. Nathan dan Nara tertidur pulas di kursi belakang, kelelahan setelah seharian bermain dan beraktivitas di desa adat kemarin. Ayu duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela sambil menikmati angin pagi yang sejuk dan beraroma tanaman hijau.
"Indah banget ya pemandangannya, Mas," bisik Ayu pelan agar tidak membangunkan anak-anak. "Hutan-hutannya rindang banget, dan udaranya segar banget. Rasanya kayak di surga."
Nono yang sedang memegang setir mobil dengan santai melirik ke arah istriya sambil tersenyum lembut. "Iya, Yu. Indonesia emang luar biasa indahnya. Aku makin bangga jadi orang Indonesia. Dan aku makin bersyukur bisa lihat keindahan ini bareng kamu dan anak-anak."
Tiba-tiba, Ayu menoleh dengan tatapan sedikit tajam, meski suaranya tetap lembut. "Eh, tapi Mas, ingat ya, nanti pas sampai di sana, kita harus jaga kebersihan dan ketertiban. Jangan sampai kita buang sampah sembarangan atau merusak tanaman di sana. Kan kita harus menjaga keindahan alam ini biar tetap terjaga buat generasi selanjutnya, termasuk buat Nathan dan Nara nanti."
Nono tertawa renyah pelan. "Ya ampun, Tuan Putri. Baru sampai setengah jalan udah kasih perintah moral dulu. Iya deh, iya deh. Aku janji kita bakal jadi wisatawan yang paling tertib dan bertanggung jawab. Kamu kan tahu aku juga sayang banget sama alam. Puas?"
Ayu mendengus pelan tapi tersenyum manis. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis. Oke deh, aku percaya sama kamu."
Beberapa jam kemudian, mereka pun akhirnya tiba di tepi danau yang menjadi tujuan mereka. Pemandangan yang terbentang di depan mata mereka sungguh tak terlupakan. Danau itu luas dan airnya sangat jernih, berwarna biru kehijauan yang indah. Di tengah danau, ada sebuah pulau kecil yang tertutup pepohonan rindang. Dan di sekeliling danau, terdapat perbukitan hijau yang tinggi dan megah, dengan puncaknya yang kadang tersembunyi di balik awan putih yang lembut. Angin di sana bertiup sejuk, membawa suasana yang sangat tenang dan damai.
"Wah, Bunda! Air danau ini jernih banget ya! Kelihatan sampai ke dasar, kayaknya," seru Nathan yang baru saja bangun tidur dan langsung terbelalak kagum melihat pemandangan itu.
Nara yang juga sudah bangun pun ikut berseru. "Indah banget, Bun! Kayak kaca gitu airnya."
Nono dan Ayu pun turun dari mobil, membiarkan anak-anak mereka menikmati pemandangan itu dengan bebas. Mereka berjalan beriringan menuju tepi danau.
"Yu, lihat deh, airnya tenang banget. Bisa memantulkan wajah kita kayak cermin," kata Nono sambil berjongkok di tepi danau, menyentuh airnya yang dingin dan segar.
Ayu ikut berjongkok di sebelahnya. "Iya, Mas. Indah banget. Rasanya tenang banget lihat air danau yang tenang gitu. Jauh banget dari hiruk-pikuk kota dan kesibukan usaha kita."
Mereka pun menghabiskan waktu di sana dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan. Mereka berjalan-jalan mengelilingi pinggir danau, menikmati udara segar, dan mengambil foto-foto indah. Tentu saja, kegiatan memotret ini tidak lepas dari perdebatan kecil yang khas.
"Eh, Mas Nono, jangan dong fotonya dari bawah gitu! Nanti kelihatan lehernya pendek dan mukanya bulu. Coba deh cari sudut pandang yang bagus, yang bikin aku kelihatan anggun," seru Ayu sambil menatap layar ponsel yang dipegang Nono dengan wajah sedikit kesal.
Nono tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya ampun, Bu Nono. Ini udah bagus kok. Kamu kan emang cantik, jadi di foto dari mana aja pasti bagus. Tapi iya deh, iya deh. Aku coba foto ulang dari sudut yang lebih bagus. Puas Tuan Putri?"
Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang suka ngeyel tapi manis."
Sore harinya, saat matahari mulai turun perlahan, mereka duduk di sebuah gazebo kayu yang ada di tepi danau. Mereka membawa bekal makanan dan minuman, dan menikmati waktu santai sambil menatap pemandangan danau yang mulai berubah warna karena pantulan langit senja.
"Yu," panggil Nono pelan, memecah keheningan yang manis itu. "Aku lagi mikir nih, perjalanan kita ini udah lumayan lama ya. Kita udah lewatin banyak tempat, banyak pengalaman, dan banyak cerita. Rasanya kayak kita lagi nulis buku baru yang tebal banget."
Ayu mengangguk setuju, matanya berkaca-kaca karena terharu. "Iya, Mas. Aku juga ngerasa gitu. Perjalanan ini bikin aku sadar betapa luas dan indahnya dunia ini, dan betapa kecilnya kita di hadapan alam. Tapi di saat yang sama, aku juga sadar betapa besarnya rasa sayang kita satu sama lain. Semua tantangan yang kita lewatin bareng-bareng cuma bikin kita makin kuat."
Nono meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Benar juga kata kamu, Yu. Ingat nggak dulu kita sering ribut soal hal-hal kecil yang sepele? Sekarang, kita masih sering ribut, tapi rasanya beda. Sekarang, perdebatan kita itu jadi bukti kalau kita sama-sama peduli dan sama-sama mau yang terbaik buat kita semua."
Ayu tersenyum lebar, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu Nono. "Iya, Mas. Aku bersyukur banget kita bisa tumbuh bareng-bareng. Dari dua orang yang beda pendapat terus, jadi satu tim yang solid, jadi suami istri yang saling sayang, dan jadi orang tua yang hebat buat anak-anak kita."
Nono mencium puncak kepala Ayu lembut. "Aku sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya."
"Aku juga sayang banget sama kamu, Mas. Selamanya," jawab Ayu pelan.
Di tepi danau yang indah dan tenang itu, di bawah langit senja yang berwarna-warni, hati mereka penuh dengan rasa syukur dan kedamaian. Mereka tahu, perjalanan keliling Indonesia ini belum selesai, masih banyak tempat lain yang akan mereka kunjungi. Tapi momen di danau ini menjadi salah satu momen paling berharga yang mengajarkan mereka untuk lebih menghargai hidup, alam, dan satu sama lain. Dan mereka yakin, bab-bab selanjutnya dalam perjalanan dan kehidupan mereka akan tetap indah dan penuh dengan cinta.