Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tembakan
Malam ini terasa begitu panjang, seakan waktu berhenti berdetak dan menggiring mereka ke dalam simfoni ketegangan yang semakin mengeras.
Setiap napas terasa berat di paru-paru, suara detak jantung masing-masing terdengar jelas di antara hembusan angin yang menyelinap melalui celah-celah jendela cafè.
Ketegangan mencapai titik tinggi saat Sue mengangkat pistolnya dengan lengan yang mantap, arah peluru tepat menyongsong Orion.
Di sisi lain, Storm juga mengancungkan senjatanya ke arah Rex, jari jemarinya siap menekan pelatuk sewaktu-waktu.
Cahaya bulan yang menerobos kaca jendela menerangi logam hitam pistol mereka, memantulkan kilatan yang membuat hati berdebar.
Namun Rex seolah tak melihat ancaman yang mengancam nyawanya. Matanya yang dalam terpaku pada sosok wanita yang baru saja masuk—Maple, wanita yang telah ia cari tanpa lelah selama bertahun-tahun.
Di sisinya berdiri Rey, anak laki-laki yang wajahnya adalah cerminan kecil dari dirinya sendiri.
"Hallo Honey... Sudah lama kita tidak bertemu." Suara Rex terdengar lembut namun penuh emosi, memecah kesunyian yang menusuk tulang.
Ia berdiri dengan postur tegap, mata tak pernah lepas dari wajah Maple yang kini tampak terkejut namun berusaha menjaga ketenangan.
Maple mengeratkan pegangan pada tangan Rey, jari-jarinya menekan kulit anaknya sebagai bentuk perlindungan dan juga untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia berdiri kokoh seperti batu yang tak bisa digoyahkan, meskipun hatinya sedang bergelora dengan berbagai emosi.
"Pergi dari sini sekarang juga. Kalau tidak, kami akan menembak." Sue bersuara dengan nada tegas dan dingin, pandangannya tajam seperti pisau saat melihat Orion yang masih mengangkat tangan ke atas.
"Tenang saja, Baby. Kami benar-benar tidak datang dengan maksud jahat." Orion bisik perlahan, wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi dibuat-buat, meskipun matanya tetap waspada memantau setiap gerakan Sue.
Tanpa menghiraukan Storm yang masih mengarahkan pistol pada Rex, Rex seakan tak peduli dan mulai berjalan perlahan menuju Maple dan Rey.
Langkahnya stabil tanpa sedikit pun gemetar, seolah dia tahu bahwa tidak ada bahaya yang akan menyakitinya dari arah mereka.
"Hei! Jangan berani mendekati Maple! Kalau tidak aku akan menembakmu sekarang juga!" teriak Storm dengan suara yang sedikit bergetar, menandakan bahwa dia juga merasa tertekan oleh situasi yang semakin tak terkendali.
Rex tetap melanjutkan langkahnya tanpa membalas. Saat sudah berdiri tepat di depan Maple dan Rey, ia berjongkok dengan lembut agar tingginya sama dengan anak itu.
Tangannya yang besar menyentuh bahu Rey dengan lembut, lalu ia memberikan senyum yang hangat—senyum yang belum pernah Rey lihat sebelumnya.
"Aku tak menyangka, kau telah merawat anak kita dengan begitu kuat dan tangguh. Lihat saja, dia bahkan tidak sedikit pun bergeming atau terlihat takut walau dalam situasi seperti ini." Kata Rex dengan nada penuh kaguman, matanya berpindah dari Rey ke Maple.
"Hei, Son. Aku ayahmu." Rex berkata perlahan kepada Rey, sentuhan tangannya tetap ada di bahu anak itu, memberikan rasa aman yang tak terucapkan.
"B-bagaimana kau bisa menemukanku?" Maple akhirnya bersuara, suaranya sedikit bergetar namun tetap jelas.
"Kau memang pandai bersembunyi selama ini. Aku benar-benar tidak sengaja menemukanmu saat sedang mengunjungi daerah ini." Rex menjawab, matanya tetap menatap Maple dengan penuh rasa rindu yang telah terkubur lama.
"Ya... Itu benar, aku yang mengajak Rex kesini. Aku sedang mempertimbangkan untuk membeli kawasan sekitar sini untuk pengembangan bisnis." Orion menyela dengan wajah yang kembali santai, seolah tidak ada masalah yang sedang terjadi.
Ia kemudian memalingkan pandangannya ke arah Sue yang masih memegang pistol dengan posisi siap tembak. "Baby, bisakah kau turunkan senjatamu? Kami sungguh tidak punya niat jahat terhadap kalian semua. Percayalah padaku." Ucap Orion dengan ekspresi yang bagi Sue terlihat sangat menyebalkan.
"Jangan sekali-kali memanggilku dengan panggilan menjijikan seperti itu!" Sue marah, wajahnya memerah karena kemarahan yang semakin memuncak.
"Aku akan tetap memanggilmu begitu, Baby. Karena bagi ku, panggilan itu sangat cocok dengan dirimu." Orion menjawab dengan nada yang tetap santai, membuat Sue semakin kesal.
"Kau...!" Sue ingin melanjutkan perkataan, namun akhirnya hanya bisa menghela napas dalam-dalam untuk menahan emosinya.
"Sepertinya kalian semua sudah terbiasa memegang senjata. Dan terlihat juga bahwa kalian telah terlatih dengan baik dalam membaca dan menghadapi situasi seperti ini." Rex mengomentari, menyadari bahwa Maple dan orang-orang di sekitarnya terlihat berbeda.
"Pergilah, Rex. Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan saat ini." Maple berkata dengan nada yang lebih dingin, seolah ingin mengusir Rex dari kehidupannya kembali.
"Baiklah, tapi mari kita pulang bersama." Rex menjawab dengan tegas.
"Apa?" Maple terkejut, matanya melebar sedikit.
"Ya... Kau, aku, dan putra kita. Kita harus hidup bersama seperti keluarga yang sebenarnya." Ucap Rex dengan keyakinan yang kuat.
"Aku tidak mau. Hidupku sudah baik-baik saja tanpa kamu." Maple menolak dengan tegas, menggerakkan tubuhnya sedikit ke belakang seolah ingin menjauh.
"Kalau itu keputusanmu, maka aku akan tinggal di sini." Rex memberikan pilihan lain, matanya menunjukkan bahwa dia benar-benar bersedia untuk itu.
"Rex, kita tidak punya hubungan apapun untuk bisa tinggal bersama. Jalani hidupmu sendiri. Aku sudah terbiasa dengan hidupku selama ini." Maple tetap gigih menolak.
"Itu untuk dirimu sendiri. Bagaimana dengan Rey? Dia juga butuh sosok ayah di kehidupannya. Kau tidak akan terus bersembunyi seperti ini bukan? Apakah kau tidak memikirkan masa depan Rey? Aku adalah ayahnya dan aku punya hak untuk berada di sisinya." Suara Rex menjadi sedikit lebih keras dan mengancam, padahal di dalam hatinya ia hanya ingin Maple mau menerima dirinya kembali.
*
DOR... PYARRR... Suara tembakan keras menerobos saat mereka masih sedang berbicara, menghancurkan kaca jendela cafè dengan suara yang menusuk telinga.
Seketika semua orang menunduk dan berlindung. Rex dengan sigap membentangkan tubuhnya untuk melindungi Maple dan Rey di belakangnya.
Orion juga dengan cepat menjulurkan badannya untuk menutupi Sue, sementara Storm langsung melompat dan bersembunyi di balik tumpukan meja dan kursi yang kokoh.
"Masuk ke dalam rumah belakang sekarang juga! Aku akan melindungi kalian dari sini!" teriak Storm sambil mulai membalas tembakan ke arah luar, tidak jelas siapa yang menyerang mereka dari kegelapan malam.
Dor... Dor.. Dor...
Suara tembakan saling bertukar, suara logam yang menyengat memenuhi udara. Tak seorang pun tahu dengan pasti dari mana arah serangan datang, namun saat ini yang penting adalah mencari tempat yang aman.
Rex menggendong Rey dengan satu lengan dan menarik tangan Maple dengan cepat, bergerak sembari menunduk menuju pintu belakang yang menghubungkan cafè dengan rumah tinggal mereka. Sue yang masih memegang pistol juga segera mengikuti, ingin membantu melindungi Maple dan anaknya.
Namun saat hendak menembaki musuh di luar, Orion dengan cepat namun lembut merebut pistol dari tangan Sue. "Serahkan padaku saja. Kau masuk bersama Maple dan yang lain sekarang juga." Ucap Orion dengan wajah yang sangat serius, lalu segera menembak ke arah luar ke beberapa sosok yang mulai muncul dari balik pagar.
Rex, Maple, Sue, dan Rey berhasil masuk ke dalam rumah, diikuti kemudian oleh Storm dan Orion yang masih terus memantau situasi luar.
Tanpa berlama-lama, Sue dan Maple bergerak dengan cekatan ke arah beberapa lemari tersembunyi di dalam rumah.
Mereka masing-masing mengambil senjata dan perlengkapan yang sudah disiapkan jauh hari, wajahnya penuh fokus saat memeriksa setiap bagian senjata dan memastikan peluru terpasang dengan benar.
"Storm!" panggil Sue, lalu melemparkan sebuah pistol dan tas kecil berisi peluru dengan akurat ke arah adiknya.
Orion yang melihat ketiganya bekerja dengan tenang dan terampil dalam situasi darurat seperti ini, merasa semakin terpikat pada Sue. Wajahnya menunjukkan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan.
"Kau tidak memberiku senjata?" ucap Orion sambil memandangi Sue dengan tatapan yang penuh harapan.
"urus dirimu sendiri." Jawab Sue dengan nada dingin, tanpa mau melihatnya.
"Kakak ipar!" panggil Storm dengan suara tenang, lalu melemparkan senjata lain ke arah Orion.
"Thanks!" Orion tersenyum bangga, kemudian melihat Sue dengan ekspresi yang sedikit genit. Namun Sue seolah tidak melihatnya sama sekali, fokus pada persiapan yang sedang dilakukan.
Sementara itu, Maple mendekati Rex dengan langkah cepat. "Kau tidak membawa senjata?" tanyanya dengan cemas.
"Beri aku satu." Jawab Rex singkat namun jelas.
Maple mengangguk dan segera memberikan salah satu pistol padanya.
"Rey, kamu harus selalu berada di dekat Mommy? Jangan pernah menjauh dari mommy." Ucap Maple dengan lembut, lalu memakaikan jaket tebal pada sang putra karena mereka harus segera meninggalkan tempat ini—rumah dan cafè yang dulunya menjadi tempat perlindungan kini sudah tidak aman lagi.
Setelah itu, Rex dengan lembut memeluk Rey dalam pelukan yang hangat. "Tenang saja, aku akan melindungimu dan ibumu." Ucap Rex dengan nada yang menenangkan.
Rey hanya mengangguk perlahan, matanya yang tadinya penuh kebingungan kini mulai menunjukkan rasa percaya pada lelaki yang baru saja mengaku sebagai ayahnya.
"Orion, kita akan berpisah di sini. Kita bertemu saja nanti di markasmu." Ucap Rex pada Orion.
"Ok." Jawab Orion dengan serius.
Ia kemudian menarik tangan Sue dengan lembut, ingin mengajaknya pergi dari sana sambil tetap siap menembak jika ada musuh yang menghalangi. "Storm, kau juga ikut denganku saja." Ucap Orion.
"Tidak! Bagaimana dengan Maple dan Rey?" Sue menolak.
"Tenanglah, Rex akan menjaga mereka dengan baik. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti orang yang ia sayangi." Orion menjelaskan dengan yakin, lalu menarik pelan Sue menuju pintu belakang, diikuti oleh Storm yang siap siaga.
Sementara itu, Rex membawa Maple dan Rey melalui pintu samping rumah, menuju mobil yang terparkir di depan cafè.
Cahaya lampu jalan yang redup menerangi jalan mereka, sementara suara tembakan masih terdengar dari kejauhan—pertempuran belum selesai, namun mereka harus segera pergi mencari tempat yang lebih aman.