Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Jemput
Di paviliun malam itu.
Dena duduk di sana menikmati makan malam sambil menahan kesal.
Di hadapannya, sudah sejak tadi Alvaro terdengar ngomel nggak berhenti-berhenti.
Ngomelin Dena yang sore itu mendadak minta dijemput, padahal pas paginya udah bilang mau pulang sendiri.
Tadinya Alvaro sempat dibuat jengkel. Rasanya seperti mau tak acuh, tapi nggak tega.
Dan yah, daripada Dena beneran pulang jalan kaki, sore tadi dengan menekan segala ego, Alvaro akhirnya datang menjemput.
Iya beneran, tapi jemputnya lama banget. Seolah sengaja—Alvaro baru datang pas udah habis magrib.
Tadi aja Dena sampai bolak-balik disamperin orang lewat, dikira anak ilang. Sampai akhirnya Alvaro beneran datang sewaktu Dena lagi ditemenin orang.
"Saya bawa ya, Bu. Saya bukan penculik kok!" ucap Alvaro tadi petang, pada seseorang yang nemenin Dena duduk-duduk di halte. Ibu itu nggak tau siapa, tapi hatinya baik sekali.
Pas tadi ibu itu ngangguk aja, lega gadis yang dia pikir anak ilang itu ternyata nggak benaran ilang.
Dan akhirnya Dena dibawa pulang. Dijemputnya juga pake mobil sport yang suara mesinnya bikin kuping keder. Lalu ngebut-ngebutan di sepanjang jalan sambil laki-laki itu ngomel-ngomel.
Dan...
Sampai sekarang.
Di rumah.
Masih ngomel juga.
Di meja makan Paviliun. Alvaro terus ngomel.
Lama!
Mama Nita aja sampai heran, garuk-garuk tengkuk di bawah rambutnya yang disanggul mini. Sedang Mika cuma cekikikan merhatiin—sambil nyemilin buah rambutan.
Sampai akhirnya Mama Nita nanya langsung ke yang bersangkutan. Mama Nita penasaran, dan malah sempat nyalahin Alvaro.
Dena lalu jelasin. Sambil agak malu ia berterus terang. Itu bukan salah Alvaro tapi salahnya sendiri—udah kepedean nolak pas Alvaro nawarin jemput, alasannya karena Dena mau pulang naik angkot aja, dan Alvaro udah ngiyain.
Eh, nggak taunya Dena pulang sore-sore, gara-gara sempat ngobrol lama sama Renal di pojok parkiran.
Angkotnya ya udah pada abis, dan akhirnya Dena minta dijemput.
Dena meringis.
Malu, rasanya kayak pengen banget nyemplung ke dalam mangkuk sup itu.
"Kalau gitu, kenapa kamu nggak pulang bareng Mika aja sayang?" ujar lembut Mama Nita.
"Iya, tadi kenapa lo nggak nyariin gue aja sih, Den!" sambar anak itu.
Mika lalu ngedeketin wajahnya.
"Padahal kan gue belum pulang juga, masih ngikut ekstra nari di gedung kesenian."
"Tadi kita bisa pulang bareng harusnya. Bukannya ngasih kesempatan orang itu buat kelihatan jadi keren," bisiknya sambil bola matanya sedikit melirik ke arah Alvaro.
"Yang udah sok-sokan nggak mau jemput, tapi akhirnya jemput juga." Beraninya si adik itu mencibir kakaknya.
Alvaro tadinya cuma diem, tapi nggak lama...
Satu biji bakso.
Pluk!
Tiba-tiba udah nemplok aja di dahi Mika secara tidak terduga.
Mika langsung kesel. Mukanya kusut ngedumel-dumel.
"Lo kalau nggak ngerti nggak usah ngikut-ngikut!" dengus Alvaro, dan hampir terjadi perdebatan besar antar saudara itu, kalau saja nggak segera dilerai sang mama.
Sedang Dena menghela napas, panjang. Ia menatap Mika.
"Ya gue kan nggak tau kalau lo belum pulang, Mik. Seharian tadi aja kita nggak saling ketemu!" katanya.
"Atau lo emang sengaja nggak mau ketemu gue!" dengus Dena.
Mika nggak jawab apa-apa, sambil sibuk menyeka dahi, gadis itu cekikikan lagi.
"Berarti bukan salah gue kan?!" serobot Alvaro. Masih saja laki-laki itu sok-sokan ngomong dengan nada keras, romannya biar keliatan tegas pas lagi marah.
Tapi emang jadi kedengeran lebih tegas sih, tapi Dena tau. Alvaro itu nggak lagi beneran marah. Bahkan, ia yakin seratus persen. Alvaro pura-pura marah cuma untuk meledeknya.
Nggak percaya?
"Iya, saya yang salah, Om," sahut Dena manyun-manyun. Udah empet juga dari tadi diomelin mulu. Iyain aja lah biar diem.
Mau didebat juga nggak bakalan aja ujungnya, dan andai cuma lagi berduaan, Dena pasti udah ikutan ngomel nggak ada takut-takutnya.
Alvaro akhirnya diam, sambil laki-laki itu malah nyocolin kentang gorengnya ke dalam mangkuk saus, udah gitu dia langsung nyengir.
Kayak amarahnya yang membara tadi langsung pergi gitu aja, dan terbukti kan? Alvaro sebenarnya nggak marah.
Sekarang laki-laki itu malah tertawa. Persis, seperti yang Dena duga.
"Makanya jadi orang jangan sok-sokan!" cibir Alvaro.
Dena jadi tambah jengkel. Bibirnya spontan mecucu, lucu.
Alvaro lalu jejelin kentang goreng ke mulut yang mecucu itu.
"Kalau gue nawarin apapun, jangan sekali-kali lo tolak!" kata Alvaro setelahnya.
"Lo sendiri kan yang rugi!" tambahnya.
"Iya tau."
"Sekarang siapa yang malu?"
"Saya."
"Masih mau diulang?"
"Enggak," sahut Dena sebenarnya malas. Lalu abis itu ia lanjut makan, dengan lahapnya menyantap semua yang ada, gara-gara tadi nggak diajak Alvaro mampir jajan. Dena jadi kelaperan.
"Yaudah, mulai besok lo nggak usah sok-sokan mau naik angkot. Selain akhirnya cuma bikin gue repot, di sini angkot jarang lewat!" ujar Alvaro, kali ini dengan lebih serius.
"Bukan jarang lagi, Varo. Memang nggak ada," timpal Mama Nita.
"Iya, makanya mulai besok Dena dijemput aja!" imbuh Alvaro.
Dena yang lagi ngunyah mendongak tiba-tiba. Ketika ia mendengar perkataan Alvaro, rasanya seperti itu bukan pilihan yang bagus.
"Dijemput?" Dena melongo.
Alvaro mengangguk sembari mengisap secangkir kopi. Ada lah beberapa detik terjeda, sampai akhirnya Dena ngomong lagi.
"Dijemput sama, Om?"
Alvaro menggeleng sambil menaruh kembali secangkir kopinya, "Ya nggak selalu. Cuma kalau gue pas nggak lagi sibuk aja," sahutnya.
"Dan kalau gue lagi nggak bisa jemput, masih ada trio wek-wek yang bisa gantiin," katanya lagi.
Dena mendadak mengerinyit. Saat, sebutan itu rasanya nggak cocok banget keluar dari mulut Alvaro
"Siapa trio wek-wek?"
...***...
Sehabis selesai menyantap makan malam.
Di halaman depan dekat pancuran. Dena dihadapkan langsung kepada tiga orang pria berbadan tinggi besar, berlengan kekar, seram, tapi berwajah tampan-tampan.
Yang kalau dilihat-lihat lagi, usia mereka juga belum lebih dari kepala tiga. Beda tipis lah dengan Alvaro—masih di usia akhir dua puluhan.
Mereka salah tiga dari segitu banyaknya orang-orang kepercayaannya Alvaro.
"Ini trio wek-weknya, Om?" tanya Dena merhatiin.
Yang dua di antaranya sih Dena udah hafal. Mereka, si pria berambut pirang yang disisir kebelakang, dan yang satunya lagi pria gondrong yang suka mainin tutup korek api.
Mereka adalah yang waktu itu datang ke kosan untuk menjemputnya.
Alvaro mengangguk.
"Donald dan Douglas."
Alvaro lalu memperkenalkan nama mereka kepada Dena untuk kali pertama. Keduanya langsung menunduk sopan di hadapan Dena, sambil tersenyum tipis seperti sengaja ditahan-tahan, mereka ngasih sapa.
"Salam kenal, Nona."
Dena mengangguk sekali, lalu deketin wajahnya ke telinga Alvaro.
"Mereka kembar ya, Om?" bisiknya setelah merhatiin lebih teliti, mumpung dikasih kesempatan. Ya wajah mereka emang terlihat sangat mirip.
Alvaro mengangguk, "Donald yang rambutnya pirang, dan yang satunya Douglas. Itu cara bedain mereka."
"Oh... beneran kembar ternyata."
Tak lama Alvaro banjur nunjuk satu orang lagi di sana.
Berdiri di sebelah Douglas. Laki-laki itu sedikit lebih pendek beberapa senti, tapi dari awal, dia yang paling kelihatan garang. Tatapannya selalu dingin, dan satu kacamata hitam, nangkring secara esteti di atas kepala.
Intinya dia keren, cuma saja dari tadi kelihatan diam.
"Ini Denis," sambung Alvaro.
"Yang paling ganteng?" bisik Dena tanpa sadar.
Alvaro sontak melengos, nyaris jarinya mau nyentil-in kuping mungil Dena yang barusan nyeletuk tiba-tiba.
"Lo sadar barusan ngomong apa di depan suami lo?!" dengusnya
Dena langsung nyengir.
"Eh, enggak Om. Maaf, bukan ada maksud," cicitnya.
Alvaro ngangguk aja, lalu kembali bicara.
"Intinya begini, gue sengaja ngenalin lo ke mereka, biar lo tau namanya. Dan kalau lo mau, nantinya mereka yang bakal jemput lo," kata Alvaro.
"Setiap hari?" Dena langsung nangkep di awal. Iya, soalnya pas tadi makan, Alvaro udah menyinggung itu.
"Kalau lo mau aja, kalau enggak ya udah," kata Alvaro, agaknya ia masih membiarkan Dena mengambil keputusannya sendiri.
Dena terdiam sebentar setelah mendengar penjelasan Alvaro.
"Kalau semisal saya nggak mau gimana, Om?" ujarnya sambil bergantian melihat tiga orang di depannya.
Dena lalu menghela napas kecil.
"Lagian..." gumamnya pelan.
Semua langsung nengok.
"Itu bukannya justru bikin saya kelihatan beda, Om?" lanjut Dena, kali ini lebih jelas.
"Saya yang biasanya pulang sendiri, masak tiba-tiba ada yang jemput setiap hari."
"Apalagi dijemput Mas-Mas keren ini..."
"Nggak cocok banget buat saya, Om," ujarnya.
Hening sebentar.
Donald dan Douglas sempat saling lirik tipis. Sedangkan Denis tetap diam, tapi matanya sempat bergerak sedikit ke arah Alvaro.
Dan Alvaro, cuma menatap Dena tanpa ekspresi.
"Lo nolak?" tanyanya singkat, terdengar datar.
Dena mengangguk.
"Iya."
Ia lalu menambahkan, meski agak ragu.
"Karena saya takut nantinya orang-orang malah jadi mikir yang aneh-aneh, Om."
"...dan itu bikin saya jadi nggak nyaman," sambungnya pelan.
Dena menunduk sebentar, lalu mengangkat bahunya sedikit, nyengir.
"Saya masih pengen jadi Dena yang biasa aja."
Kalimat itu keluar ringan tapi jujur.
Dan justru karena itu—Alvaro mendengarkan tanpa memotong.
Sampai akhirnya Alvaro mengangguk.
"Yaudah," sahutnya singkat.
Dena langsung mendongak, alisnya naik sebelah. "Yaudah apa?"
"Gue nggak maksa," kata Alvaro.
"Kalau lo mau hidup seperti biasanya lo hidup, suka-suka lo aja," lanjutnya.
Dena spontan nyengir, rasanya begitu lega saat masih diberi kebebasan.
"Nah, gitu dong, Om," gumamnya puas.
"Iya."
Tapi di sudut lain yang terlepas dari pengamatan Dena. Denis tiba-tiba sedikit menunduk, ada gurat senyum tipis di sana.
Donald pun menghela napas pelan. Sedangkan Douglas nyaris tertawa pelan.
Seolah mereka bertiga ngerti sesuatu... yang Dena belum sadar.
Mereka tau, Alvaro tidak mungkin semudah itu mengiyakan sebuah penolakan.
"Mulai besok, lo pulang sendiri," kata Alvaro santai.
"Terserah mau naik apa, intinya lo cuma harus pulang ke rumah ini," imbuhnya.
Dena ngangguk-ngangguk, "Iya, Om."
Alvaro lalu menatapnya, kali ini lebih dalam, bikin Dena tegang di detik kemudian.
"Tapi..." ujarnya sambil membalik badan.
"Lo harus lebih hati-hati. Di luar sana... Aura masih belum menyerah buat dapetin apa yang dia mau."
dan semangat buatnya 💪