NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:39.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aksa baru saja keluar dari kantor. Dia tidak lembur, tapi hatinya sedang gelisah. Dia terus memikirkan bagaimana cara menghadapi Jasmine di rumah.

"Masa bodoh," gumamnya sambil menjalankan mobil. Dia ingin cepat sampai.

Di tengah jalan, mobilnya terhenti karena lampu merah. Saat menunggu, mata Aksa tidak sengaja melihat seorang penjual bunga di pinggir jalan. Ada mawar merah yang terlihat masih segar.

Aksa teringat kata-kata Bara tadi siang tentang memberikan sesuatu yang manis untuk meminta maaf. Aksa terdiam cukup lama sambil memandangi bunga-bunga itu.

"Apa aku harus melakukan itu?" tanyanya dalam hati.

Egonya masih tinggi, tapi rasa bersalahnya jauh lebih besar. Tanpa pikir panjang lagi, Aksa turun dari mobil. Dia menghampiri penjual itu dan membeli satu buket bunga mawar yang paling bagus.

"Kartu ucapannya mau ditulis apa, Mas?" tanya sang penjual sambil menyiapkan kertas kecil.

Aksa tampak terdiam cukup lama. Dia bingung harus merangkai kata-kata seperti apa. Baginya, mengungkapkan perasaan lewat tulisan adalah hal yang sangat asing.

"Maaf saja," jawab Aksa singkat.

Penjual itu mengangguk dan menuliskan kata sederhana tersebut di atas kartu. Aksa kembali ke mobil dengan perasaan canggung. Dia meletakkan bunga itu di kursi sampingnya, berharap kata maaf yang singkat itu cukup untuk memperbaiki suasana malam ini.

Aksa sampai di depan pintu penthousenya. Ia tidak langsung masuk, melainkan berdiri diam cukup lama sambil memandangi buket bunga di tangannya. Ia menghela napas panjang. Dulu, memberikan bunga seperti ini bukanlah hal sulit baginya saat mereka masih bersama sebagai suami istri. Namun sekarang, semuanya terasa begitu canggung dan berat.

Akhirnya, Aksa memberanikan diri untuk masuk. Suasana di dalam sangat sepi. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, namun tidak menemukan sosok Jasmine di sana.

Aksa melangkah pelan menuju pintu kamar Jasmine. Ia berdiri di depan pintu kayu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya mengetuknya dengan pelan.

TOK!! TOK!! TOK!!

"Jasmine? Apa kamu sudah tidur?" tanya Aksa.

Tidak ada jawaban dari dalam. Aksa kembali menatap bunga di tangannya, merasa ragu.

Di dalam kamar, Jasmine tersentak mendengar suara Aksa. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya dengan ujung kaos. Jasmine kemudian berdiri di depan cermin, mengamati wajahnya yang kuyu.

"Semoga saja dia tidak sadar," gumamnya cemas sambil menepuk-nepuk pipi, berusaha menutupi matanya yang sedikit bengkak akibat menangis berjam-jam.

Jasmine menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum memutar kunci. Ia membuka pintu sedikit, hanya menampakkan separuh tubuhnya saja.

"Ada apa, Tuan?" tanya Jasmine dengan suara yang agak serak, berusaha menghindari tatapan langsung Aksa.

Aksa yang tadinya hendak berbalik, sedikit terkejut melihat pintu tiba-tiba terbuka. Ia tampak salah tingkah sambil memegang buket bunga di balik punggungnya.

"Ahh, ini..." Aksa menyodorkan bunga itu sedikit ragu.

"Tadi tak sengaja ketemu penjual bunga di jalan. Jadi saya kepikiran membelinya untukmu."

Jasmine menatap bunga itu datar, tanpa ada binar bahagia di matanya. "Tapi tak perlu repot, Tuan. Saya tidak membutuhkan itu."

"Tak repot sama sekali. Tadi juga karena macet, jadi saya turun sebentar," balas Aksa cepat, berusaha mencari alasan agar tidak terlihat terlalu peduli.

Jasmine masih bergeming di ambang pintu, tangannya tidak terulur untuk menerima pemberian itu. Melihat reaksi dingin Jasmine, Aksa langsung menyodorkan buket itu lebih dekat ke arahnya.

"Terimalah. Daripada terbuang sia-sia," paksa Aksa.

Jasmine akhirnya sedikit mendongak dan mengambil bunga itu dengan perlahan. "Terima kasih, Tuan. Lain kali tidak perlu repot-repot."

Saat itulah, dalam jarak yang cukup dekat, Aksa terpaku. Ia melihat dengan jelas mata Jasmine yang merah dan sembab.

"Kamu menangis?" tanya Aksa.

Jasmine tersentak. Ia langsung membuang muka, menghindari tatapan tajam Aksa. "Tidak, Tuan. Saya hanya mengantuk," jawabnya singkat sambil mundur untuk menutup pintu kamarnya.

Namun, sebelum pintu itu tertutup rapat, Aksa dengan cepat menahannya menggunakan tangan. Kekuatannya jauh lebih besar, membuat Jasmine tidak bisa mengunci diri di dalam.

"Jasmine, tatap saya. Jangan berbohong," tuntut Aksa, tidak membiarkan wanita itu menghindar lagi.

Jasmine sekuat tenaga menahan pintu dengan bahunya.

"Saya tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya lelah dan ingin istirahat. Tolong lepaskan," ucapnya dengan nada gemetar.

Namun, Aksa tidak menyerah. Baginya, penolakan Jasmine justru mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah. Dengan satu dorongan kuat Aksa berhasil masuk.

Jasmine mundur beberapa langkah, memegang buket bunga itu erat-erat di dadanya sebagai tameng. Suasana kamar yang remang hanya diterangi lampu tidur, membuat wajah sembab Jasmine terlihat semakin jelas.

Aksa menutup pintu di belakangnya dengan rapat. Ia melangkah mendekat. Matanya menatap lekat ke arah mata Jasmine yang merah.

"Siapa yang membuatmu menangis sampai seperti ini?" tanya Aksa dengan suara berat dan tajam. "Apa karena ucapanku tadi siang? Atau karena pria di telepon itu?"

Jasmine hanya menunduk, tidak berani menatap balik. Kehadiran Aksa di dalam kamarnya yang sempit membuat napasnya terasa sesak.

"Jawab saya, Jasmine!" tuntut Aksa lagi.

"Kenapa kamu menangis?".

Aksa tidak tahan lagi melihat Jasmine yang terus menghindar. Ia meraih tangan Jasmine, menuntunnya dengan lembut ke tepi tempat tidur. Aksa mendudukkan Jasmine di sana, sementara ia sendiri memilih untuk berlutut di lantai, tepat di hadapan wanita itu. Posisi ini membuat mereka sejajar.

"Kenapa, hmm?" tanya Aksa lembut, tangannya mencoba meraih jemari Jasmine yang gemetar.

Bukannya menjawab, pertahanan Jasmine justru runtuh. Tangis yang tadinya ia tahan kembali pecah. Ia menunduk dalam, membiarkan air matanya jatuh.

Melihat itu, hati Aksa mencelos. Ia merasa sesak melihat kesedihan yang begitu dalam dari wanita di depannya.

"Apa aku menyakitimu? Apa karena perbuatanku tadi siang?" tanya Aksa bertubi-tubi.

"Apa ciuman itu membuatmu merasa terhina? Atau kata-kataku yang keterlaluan?"

Jasmine hanya menggelengkan kepala sambil terisak, membuat Aksa semakin tidak tenang. Ia mendesak Jasmine untuk berbicara.

"Bicaralah, Jasmine. Jangan hanya diam dan menangis seperti ini," paksa Aksa sambil menggenggam kedua tangan Jasmine erat.

"Apa ada orang lain yang mengganggumu? Apa ini soal pria itu? Atau ada hal lain yang tidak aku ketahui?"

Aksa terus menghujani Jasmine dengan pertanyaan, suaranya terdengar frustrasi sekaligus khawatir. "Katakan sesuatu! Aku tidak bisa memperbaikinya kalau kamu tidak bilang apa masalahnya. Kenapa kamu menangis sejadi-jadinya begini?"

Jasmine menggelengkan kepalanya dengan kuat, isakannya kini berubah menjadi raungan pilu yang memenuhi kamar. Ia tidak lagi peduli pada bunga yang jatuh tergeletak di lantai.

"Biarkan aku pergi, Aksa!" teriak Jasmine di sela tangisnya.

"Biarkan aku hidup bebas di luar sana. Jangan jadikan aku sebagai tahanan seperti ini. Aku tidak bisa... aku tidak sanggup lagi!"

Aksa terpaku, tangannya yang tadi menggenggam jemari Jasmine kini terasa kaku. Ia ingin membantah, tapi melihat Jasmine yang begitu hancur membuatnya kehilangan kata-kata.

"Ini semua salah... Ini salahku!" teriak Jasmine lagi. Suaranya mulai meninggi, terdengar histeris.

"Seharusnya aku tidak pernah ada di sini! Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu lagi! Biarkan aku pergi... aku tak tahan hidup seperti ini!"

Tiba-tiba, Jasmine mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya, seolah ingin menghilangkan rasa sakit dan ingatan yang menyiksa batinnya. Ia terus meracau tentang kebebasan, terlihat sangat frustrasi dengan keadaannya yang terkunci dalam obsesi Aksa.

"Hentikan, Jasmine! Jangan sakiti dirimu sendiri!" seru Aksa panik.

Aksa langsung bangkit dan menangkap kedua tangan Jasmine, menahannya dengan kuat agar wanita itu berhenti menyakiti dirinya. Ia menarik Jasmine ke dalam pelukannya, mendekapnya erat meski Jasmine terus memberontak dan menangis histeris di dadanya.

"Lepaskan! Aku mau pergi! Lepas!" jerit Jasmine dalam pelukan Aksa.

Aksa hanya diam, memejamkan mata rapat-rapat sambil terus memeluk Jasmine.

1
sunaryati jarum
Clarissa lebih baik sekutu dengan Aksa.Terus terang dan minta perlindungan padanya
olyv
nah benar g usah buang² tenaga buat meladani wanita gila itu tunggu aja kehancuran mu clarissa
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kelakuan mu aksa
olyv
eh apaan ni aq ngakak 🤣🤣
olyv
Wkwkwkwk aksa g ada sopan² nya pd tuan rumah 🤣
olyv
hayoloh aksa nurut aja mau dapat restu g sih 🤣
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ aksa cebakur
olyv
Wkwkwk tanya² dulu aksa, bakal susah nih dapat restu kakak ipar 😁
Lilik Juhariah
kasihan juga Clarisa di tempat didikan yg salah, knp aku Melo banget ada anak yg nasibnya sprt clarisa
olyv
👍👍
olyv
nah itu lebih baik 😑👍
Oma Gavin
up rutin kak ceritanya bagus sayang kalau loncat" up nya
Redmi Nam
GK sabar liat Sonia ketangkep
Uning Sodik
duuuujh...
olyv
hhmm sabar y jasmine
olyv
astagah 🤣
Redmi Nam
thor up nya lama banget...
sekali up 1 aja
Lilik Juhariah
semangat kak
Lilik Juhariah
hemmm si emak tiri minta di pindah ke dunia lain kayknya
olyv
aska kalang kabut 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!