Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Para Dewa, Neraka Bagi Manusia
...Chapter 26...
"Kota-kota darat sudah tidak aman lagi bagiku," ujar Ling Xu sambil sesekali menunduk ke bawah, di mana hamparan daratan dengan desa-desa dan kerajaan-kerajaan kecil terlihat seperti papan catur yang mulai usang, "tapi kabar baiknya, aku telah memetakan puluhan kota udara selama kita di gua dulu—dari pengakuan para nelayan yang kuselamatkan sebelum wabah menyebar, dari peta-peta curian yang kuraih dari mayat panglima berjubah biru itu."
Ia mengeluarkan gulungan kain tipis dari balik jubahnya, membentangkannya di udara sambil terus terbang, dan di atas kain itu—dengan tinta yang sudah luntur di beberapa tempat tetapi masih bisa dibaca—tergambar pola titik-titik cahaya yang tersebar di langit seperti bintang-bintang yang enggan tidur, puluhan kota udara dengan nama-nama yang terdengar seperti nyanyian.
Tianzhu, Yonglan, Feixue, Qianji, dan puluhan lainnya, semuanya melayang di ketinggian yang berbeda, dihubungkan oleh jembatan-jembatan cahaya yang hanya bisa dilalui oleh kultivator dengan tingkat tertentu.
Huan Zheng bersiul kecil melihat peta itu, matanya yang malas tiba-tiba berbinar dengan sesuatu yang mirip rasa hormat—atau setidaknya, rasa hormat versi dirinya yang tidak pernah mudah terkesan.
"Kau melakukan semua ini sambil terbaring dengan luka di sekujur tubuh?"
Ling Xu tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata.
Ia hanya tersenyum—senyum yang tidak lagi pahit seperti dulu, tetapi juga belum sepenuhnya manis, senyum yang terletak di antara dua dunia seperti dirinya sendiri—lalu menggulung kembali peta itu dan menyelipkannya di balik jubah dengan gerakan yang begitu cepat sehingga Huan Zheng hampir tidak percaya bahwa gadis yang sama pernah tergeletak lemas di atas tumpukan puing dengan napas yang nyaris padam.
"Perbandingan antara kota darat dan kota udara," ucapnya akhirnya, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih serius, lebih terukur, seperti seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran penting kepada murid yang paling bandel sekaligus paling berbakat, "bagaikan membandingkan bumi dan langit, Huan Zheng—maaf, Zheng Huan. Jumlah kota udara saja sudah tiga kali lipat dari kota darat, dan itu belum seberapa. Infrastruktur mereka, bangunan-bangunan mereka, sistem pertahanan mereka... semuanya berada di tingkat yang bahkan kota darat terbesar sekalipun tidak akan pernah bisa capai dalam seribu tahun."
Ia menunjuk ke arah barat laut, di mana dari balik kabut tampak secercah cahaya keemasan yang berkedip-kedip seperti mata raksasa yang sedang mengawasi dunia dari ketinggian,
"Itu Tianzhu, kata para nelayan. Kota udara terbesar kedua belas di dunia ini. Temboknya terbuat dari kristal yang bisa memantulkan serangan Qi, jalan-jalannya dihiasi lentera yang tidak pernah padam, dan di pusat kotanya—"
Ia berhenti, menelan ludah seperti menelan ramuan pahit yang harus ia minum untuk kesekian kalinya.
"Di pusat kotanya, ada patung kemenangan para Dewa atas manusia. Tingginya seratus meter. Terbuat dari emas dan batu darah. Dan setiap hari, di kaki patung itu, para manusia rendahan yang tertangkap dieksekusi di depan umum, sebagai hiburan, sebagai peringatan, sebagai... seni."
Huan Zheng—sekarang Zheng Huan—tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya mengepalkan tangannya di balik jubah hitamnya yang longgar, lalu melepaskannya lagi, berulang kali, seperti sedang melatih otot-otot jarinya untuk sesuatu yang belum ia putuskan.
"Maka kita akan menyusup ke Tianzhu," ucapnya akhirnya, suaranya datar tetapi matanya—yang tersembunyi di balik bayangan tudung—menyala dengan api biru pucat yang sama seperti malam di Perkemahan Xuelan, "bukan sebagai Ling Xu dan Huan Zheng, tetapi sebagai Lin Xue dan Zheng Huan. Sebagai tabib keliling yang tidak dikenal, yang tidak punya masa lalu, yang tidak punya dendam, yang hanya ingin menyembuhkan luka dan mengumpulkan keping—sampai saatnya tiba."
Nah perjalanan Ling Xu dan Huan Zheng ke setiap kota udara sendiri diwarnai beberapa keunikan dan petualangan yang mengundang rasa penasaran—sekaligus menarik perhatian para musuh, dimana:
Langit Tianzhu ternyata tidak seindah yang dibayangkan dari kejauhan—atau mungkin keindahannya justru terlalu sempurna hingga terasa palsu, seperti lukisan yang dilapis pernis terlalu tebal sehingga kehilangan denyutnya sebagai sebuah karya hidup.
Awan-awan di sini tidak bergerak secara alami melainkan diatur oleh formasi Qi raksasa yang berputar lambat di bawah kota, menciptakan ilusi pergantian siang dan malam yang terlalu teratur untuk disebut misterius, sementara di permukaan, jalan-jalan dari kristal biru pucat memantulkan cahaya lentera yang jumlahnya ribuan hingga seluruh kota terasa seperti berada di dalam permata yang terus menyala.
Ling Xu—kini Lin Xue—berdiri di tepi alun-alun pusat dengan tudung menutupi hampir seluruh wajahnya, matanya yang waspada mengamati kerumunan para kultivator yang datang dari berbagai penjuru, semuanya berbondong-bondong menuju panggung raksasa yang didirikan di tengah lapangan, di mana sebuah pengumuman baru saja selesai dibacakan oleh seorang tetua berjubah putih.
Permainan tarik bendera antar tim, katanya, akan menjadi ujian masuk bagi siapa saja yang ingin direkrut oleh sekte-sekte terkemuka di kota udara ini.
"Ini gila," bisik Ling Xu pada Huan Zheng yang berdiri di sampingnya dengan mata setengah terpejam, tangannya sudah terlipat di dada seperti sedang bersiap untuk tidur berdiri, "kita datang ke sini untuk bersembunyi, bukan untuk ikut-ikutan permainan yang akan menarik perhatian semua orang."
Namun sebelum Huan Zheng sempat menjawab—atau lebih tepatnya, sebelum ia sempat menguap untuk kesekian kalinya—keduanya sudah ditarik oleh tangan-tangan asing ke arah yang berlawanan, terpisah oleh arus kerumunan yang terlalu padat untuk dilawan, dan ketika Ling Xu sadar, ia sudah berdiri di tengah-tengah tim yang dipimpin oleh seorang wanita muda dengan rambut biru keperakan dan aura kultivasi Lintang Esa Tingkat Kedua Puluh—sementara di seberang lapangan yang luas, ia bisa melihat bayangan Huan Zheng yang malas-malasan bergabung dengan tim lain, dikelilingi oleh para kultivator yang tampak antusias tetapi sayangnya tidak tahu bahwa anggota baru mereka adalah seorang pria yang lebih memilih tidur daripada bertarung.
"Jangan khawatir, Nonaku," ucap pemimpin tim wanita itu pada Ling Xu dengan senyum yang terlalu cerah untuk situasi yang sebenarnya, "kita akan menang. Aku sudah memenangkan permainan ini tiga kali berturut-turut."
Ling Xu hanya tersenyum tipis di balik tudungnya, tidak mengatakan bahwa ia lebih khawatir dengan anggota tim di seberang sana yang tampaknya sudah mulai merebahkan tubuh di atas rumput lapangan meskipun pertandingan belum dimulai.
Pertandingan berlangsung dengan kekacauan yang justru terasa seperti tarian yang terencana—puluhan kultivator dari berbagai tingkat berlarian di lapangan seluas lima hektar itu, saling menyerang, saling menghalangi, saling merebut bendera merah yang berkibar di tengah lapangan seperti jantung yang berdenyut di tengah arena gladiator.
Ling Xu, yang dipaksa oleh pemimpin timnya untuk bertahan di area belakang karena dianggap terlalu lemah dengan tingkat Lintang Esa Kedelapan Belas—padahal sebenarnya ia bisa meluluhlantakkan separuh lawan jika mau—hanya bisa berdiri di samping tiang bendera timnya sambil sesekali menangkis serangan-serangan kecil yang lolos dari lini depan, matanya terus mencari-cari bayangan Huan Zheng di antara hiruk-pikuk pertempuran.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Di sudut timur lapangan, di bawah pohon sakura buatan yang bunganya tidak pernah gugur karena diikat oleh mantra abadi, Huan Zheng—yang sekarang dipanggil Zheng Huan—terbaring telentang di atas rumput yang rimbun, kedua tangannya dijadikan bantal di belakang kepala, kakinya disilangkan dengan santai, dan matanya terpejam menikmati sinar matahari yang hangat seolah-olah tidak ada perang saudara yang sedang berkecamuk di sekelilingnya.
Bersambung….