Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Sayang
“T Tuan Arga…”
Suara Reza mendadak melemah. Ia sama sekali tidak menyangka Arga akan muncul di saat seperti ini.
Sementara itu, Vara mengembuskan napas lega. Jika Arga tidak datang… ia bahkan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi.
Tatapan Arga begitu tajam dan dingin. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menegang. Cara ia menatap Reza membuat siapa pun bisa merasakan bahaya yang nyata.
“Tuan, dia bukan wanita baik-baik,” ucap Reza dengan napas tersengal, tetap berusaha membela diri.
Genggaman Arga pada pergelangan tangan Reza semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan halus. Reza meringis kesakitan, tetapi bukannya meminta maaf, ia justru kembali menyudutkan Vara.
“Wanita seperti dia biasanya hanya menggoda pria kaya. Tidak pantas berada di perusahaan ini, Tuan!”
Plak!
Satu pukulan keras mendarat tepat di mulut Reza. Tubuhnya terhuyung. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Lorong yang tadinya sunyi kini dipenuhi ketegangan.
“Apa hakmu berkata seperti itu?” suara Arga rendah, namun sarat ancaman. “Aku tahu siapa yang pantas berada di dekatku.”
Arga melangkah mendekat, menatap Reza tepat di matanya.
“Wanita yang kau hina itu… adalah istriku.”
Vara tertegun.
Dadanya terasa hangat sekaligus bergetar. Ia tidak menyangka Arga akan mengatakannya sejelas itu—di depan orang lain.
Reza membeku. “Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Namun rasa terkejutnya berubah menjadi amarah. Harga dirinya yang terluka membuatnya nekat. Ia melayangkan tinju ke arah Arga.
Dengan gerakan cepat dan terlatih, Arga mengelak. Pukulan Reza hanya menghantam udara.
“Nyali juga kau,” ucap Arga dingin.
Tanpa memberi kesempatan, Arga membalas. Satu pukulan telak menghantam perut Reza hingga pria itu terbatuk keras. Belum sempat bangkit, pukulan kedua mendarat di rahangnya. Tubuh Reza terjatuh ke lantai marmer dengan suara keras.
Namun Arga belum berhenti.
Ia menarik kerah baju Reza dan kembali menghantam wajahnya. Kali ini lebih keras. Darah menetes di lantai. Reza mencoba melawan, tetapi tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan.
Satu tendangan mengenai rusuknya. Reza mengerang kesakitan, meringkuk tak berdaya.
Beberapa karyawan yang berada di ujung lorong hanya bisa menyaksikan dengan wajah pucat, tidak berani mendekat.
“Erick. Urus dia.”
Suara Arga kembali tenang, seolah apa yang barusan terjadi hanyalah hal sepele.
Entah sejak kapan Erick sudah berdiri di belakangnya. Ia mengangguk singkat.
“Baik, Tuan.”
Erick memberi isyarat pada dua orang staf keamanan untuk membawa Reza pergi. Tubuh pria itu diseret menjauh dalam keadaan babak belur.
Arga segera berbalik menuju Vara.
Wajahnya yang tadi dipenuhi amarah kini berubah menjadi penuh kekhawatiran.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lembut.
Vara menggeleng cepat. “Tidak… aku tidak apa-apa.”
Tanpa ragu, Arga merangkul pundaknya dan membawanya pergi dari lorong itu.
Di sisi lain, Nita yang mulai khawatir karena Vara tak kunjung kembali dari toilet memutuskan menyusul.
Namun langkahnya terhenti saat hampir sampai.
Ia melihat Arga dan Vara berjalan beriringan. Tangan Arga melingkar protektif di pundak Vara. Di belakang mereka, Erick tampak memberi perintah kepada petugas keamanan untuk membawa seorang pria yang wajahnya babak belur—dan pria itu sangat dikenalnya.
“Vara! Kamu kenapa?” tanya Nita cemas saat mereka berpapasan.
Langkah Arga dan Vara berhenti.
“Aku tidak apa-apa, Nit,” jawab Vara pelan.
“Tapi… itu Pak Reza, kan? Kenapa dia—”
“Dia barusan diberi pelajaran,” potong Arga tenang, “karena bersikap kurang ajar pada istriku.”
Nita terdiam.
“Istri…?” ulangnya pelan, hampir tak percaya.
Vara hanya menunduk, wajahnya memerah.
“Sudah, kami permisi dulu,” ujar Arga singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah sambil tetap merangkul Vara.
“Aku duluan, Nit,” ucap Vara pelan sebelum menjauh.
Nita berdiri terpaku di tempatnya, mencoba mencerna semua yang baru saja ia lihat.
Tatapan Arga yang penuh amarah. Reza yang babak belur. Dan pengakuan yang mengejutkan itu.
“Istri?” gumamnya lagi.
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Vara… kau benar-benar berutang penjelasan padaku,” ucapnya pelan setelah keduanya menghilang di ujung lorong.
“Ayo duduk,” ucap Arga begitu mereka tiba di ruangannya.
Ia menuntun Vara ke sofa, memastikan istrinya duduk dengan nyaman. Setelah itu, Arga mengambil segelas air putih dan menyerahkannya.
“Minum dulu.”
“Terima kasih, Arga,” ucap Vara setelah menghabiskan airnya.
Arga menggeleng pelan. “Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tanggung jawabku.”
Vara tersenyum lembut. Tatapannya tidak lepas dari wajah Arga yang kini duduk di sampingnya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Arga heran.
“Aku bersyukur… Tuhan memberiku suami sepertimu,” ucap Vara pelan. “Setelah semua yang aku alami, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.”
Arga menggenggam tangan Vara erat. “Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Seperti yang sudah kukatakan, selama ada aku, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi.”
Mata Vara mulai berkaca-kaca. Setelah luka dan kekecewaan yang pernah ia rasakan, kini ia merasakan perlindungan yang nyata.
“Jangan bersedih lagi,” bisik Arga sambil mengusap lembut pipi Vara.
Tatapan mereka saling bertaut. Wajah mereka semakin mendekat. Hembusan napas terasa hangat satu sama lain. Bibir mereka nyaris bersentuhan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Erick masuk tanpa mengetuk pintu.
“Arga, aku” Erick terdiam, membeku melihat pemandangan di depannya. “Eh… maaf! Aku tidak sengaja!”
Dengan wajah panik, Erick segera menutup pintu dan pergi sebelum Arga sempat berkata apa pun.
“Awas kau, Erick…” gumam Arga geram.
Sementara itu, Vara menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
Suasana menjadi canggung.
“Aku merindukan Luna,” ucap Vara tiba-tiba, berusaha mencairkan suasana.
“Iya, aku juga,” jawab Arga lebih santai. “Nanti kita hubungi dia. Sejak pergi, dia belum memberi kabar. Sepertinya dia melupakan kita.”
Vara tersenyum tipis.
Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Arga, mencoba bersikap lebih natural sebagai seorang istri. Arga menoleh dan tersenyum, ia bisa merasakan perubahan besar pada sikap Vara.
Namun tanpa sadar, tangan Vara menyentuh lengan Arga.
Arga meringis pelan.
Vara langsung mengangkat kepala. “Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Arga cepat.
“Kamu jangan bohong.”
Vara segera menggulung sedikit lengan baju Arga. Terlihat bekas sayatan yang masih dibalut rapi.
“Arga… ini kenapa?” tanya Vara khawatir.
“Kamu terlihat sangat khawatir. Padahal itu cuma luka kecil,” goda Arga, menghindari pertanyaan Vara.
“Tentu saja aku khawatir. Aku istrimu,” jawab Vara tanpa ragu.
Arga tersenyum lembut. “Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.”
“Ayo kita pulang,” ajak Arga, sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap membuka sisi gelap hidupnya pada Vara.
Vara masih penasaran, tetapi ia tahu terus memaksa tidak akan membuat Arga menjawab. Akhirnya, ia mengangguk dan mengikuti Arga.
Sesampainya di rumah, mereka bergantian mandi untuk menyegarkan diri.
Begitu Arga keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, ia menatap Vara yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
“Mau makan malam di luar?” tawarnya tiba-tiba.
“Makan di luar?” Vara balik bertanya.
“Ya. Semenjak menikah kita belum pernah keluar bersama,” ucap Arga santai.
Vara tersenyum. “Boleh juga.”
Dan kini mereka telah tiba di sebuah restoran mewah dengan ruangan VIP yang tertutup dan tenang. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat. Meja makan tertata elegan.
Sepanjang makan, suasana terasa nyaman.
Arga sesekali menyuapi Vara. Vara pun membalas dengan menyuapi Arga, membuat suasana semakin hangat dan intim.
Tanpa mereka sadari, dari luar ruangan VIP yang sedikit terbuka, seseorang memperhatikan dengan tatapan tidak suka.
“Itu wanita yang kemarin bersama Tante Melani…” gumam Julia pelan. “Kenapa mereka terlihat begitu mesra? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh kalah dari wanita itu.”
Tatapan Julia dipenuhi ambisi.
Setelah selesai makan, Arga dan Vara sepakat untuk langsung pulang.
Saat mereka hendak masuk ke mobil, terdengar suara memanggil.
“Arga!”
Arga terdiam sejenak, tetapi tidak langsung menoleh.
Julia sudah berdiri di hadapan mereka.
“Mau apa kau?” tanya Arga datar.
“Kenapa kamu bersikap seperti itu? Tadi aku melihatmu keluar dari restoran bersama… dia,” ucap Julia, melirik Vara dari ujung kepala hingga kaki. “Aku hanya ingin menyapa. Sudah lama kita tidak bertemu.”
Lalu Julia tersenyum tipis. “Hai, perkenalkan. Aku Julia, sahabat Arga. Kami berteman sejak kecil.”
Nada suaranya terdengar seolah ingin menunjukkan kedekatan yang istimewa.
Vara menerima uluran tangan Julia dengan tenang. “Salam kenal. Aku Vara.”
“Sayang, aku lelah,” ucap Vara lembut sambil melingkarkan tangannya di lengan Arga.
Sikapnya halus, tetapi jelas menunjukkan posisi.
Arga tersenyum pada Vara. “Ia sayang, ayo kita pulang.”
Ia segera membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Sebelum masuk, Vara sempat menoleh. “Julia, kami duluan.”
Arga bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Mobil melaju meninggalkan area parkir.
Julia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Awas, Vara. Aku pastikan kau tidak akan bisa memiliki Arga dengan mudah.”
Tatapannya berubah tajam.