Nadine dijadikan jaminan oleh ayahnya kepada seorang mucikari…namun takdirnya ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Pria pertama yang datang bukan orang sembarangan.
Ia adalah pewaris TX internasional, tampan, kaya raya, dan berhati dingin. Dalam hitungan detik, Nadine terikat dalam sebuah kontrak sebagai istri bayaran.
Akankah ia melawan… atau tenggelam selamanya dalam jebakan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Undangan makan malam
Tak lama kemudian, mobil hitam milik Leon tiba. Ia turun dan langsung masuk ke rumah, menaiki tangga menuju kamar. Begitu pintu terbuka, langkahnya mendadak terhenti.
Di dalam, Nadine sedang bersiap. Gaun yang dikenakannya belum sepenuhnya rapi resleting di bagian belakang masih terbuka. Nadine menoleh dan langsung terkejut melihat Leon berdiri di ambang pintu.
“Apa yang kamu lakukan?!” serunya panik.
Leon terpaku sesaat.
“Kenapa nggak ketuk pintu dulu?” Nadine menegurnya kesal. “Cepat keluar, aku belum selesai.”
Leon tersenyum tipis. “Kenapa aku harus keluar dari kamarku sendiri?” katanya santai sambil melangkah masuk dan menutup pintu.
“Apa...” Nadine panik, refleks memegang bagian belakang gaunnya.
Leon melonggarkan dasinya perlahan, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka nyaris tak ada. Ia berhenti tepat di hadapan Nadine. Tatapannya jatuh lurus ke wajahnya yang tenang dan dingin seolah sedang menunggu Nadine yang lebih dulu goyah.
“Kamu mau apa?” suara Nadine gelisah.
Leon tidak langsung menjawab. Ia meraih pergelangan tangan Nadine, membuat gadis itu terkejut, lalu memutar tubuhnya hingga membelakanginya
“Diam,” bisik Leon.
Dengan gerakan singkat, ia menaikkan resleting gaun itu sampai rapi, lalu melepaskan tangannya.
“Sudah,” katanya dingin. “Cepat selesaikan. Kita tidak boleh terlambat.”
Leon melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Nadine yang berdiri terpaku marah, malu, dan entah kenapa jantungnya berdetak tidak karuan.
Saat di dalam mobil, Nadine duduk diam. Sejujurnya, dadanya masih berdebar sejak kejadian di kamar tadi. Ekspresi Leon saat itu terus terulang di kepalanya, mengganggu tanpa diminta.
"Ugh, aku benci wajah dia kalau sudah seperti itu… ", gerutunya dalam hati.
Tanpa sadar, Nadine melirik ke samping. Leon tampak menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Justru sikap itulah yang membuat Nadine kesal dan semakin membuatnya sulit menenangkan dirinya sendiri.
“Jangan menatapku seperti itu.”
Deg.
“Siapa yang menatapmu?” Nadine langsung memalingkan wajahnya, suaranya terdengar ketus.
Leon menoleh sedikit. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis senyum yang membuat Nadine semakin yakin satu hal, pria itu sadar betul sejak tadi ia sedang diperhatikannya.
Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah mewah nenek Leon. Leon turun lebih dulu, disusul Nadine beberapa langkah di belakangnya. Baru saja Nadine hendak melangkah maju, Leon berbalik dan menghampirinya.
“Jaga sikapmu,” ucap Leon pelan.
“Aku mengerti,” jawab Nadine singkat, lalu kembali melangkah.
Tiba-tiba Leon menarik tangannya.
“Apa lagi?!” bisik Nadine kesal.
Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya diam sesaat, lalu merangkul pinggang Nadine. Gadis itu terkejut, tubuhnya refleks menegang.
“Kita harus terlihat romantis saat di rumah nenek,” ucap Leon datar
Nadine menelan ludah. Senyum terpaksa terpasang di wajahnya, sementara jantungnya berdetak jauh lebih cepat.
Mereka masuk ke dalam rumah, disambut para pelayan yang menunduk sopan. Leon menggenggam tangan Nadine, langkah mereka seirama, dari luar tampak seperti pasangan pengantin baru yang tengah dimabuk cinta.
“Mari, Tuan,” ujar salah satu pelayan, “Saya antar langsung ke ruang makan, Nyonya besar sebentar lagi akan turun.”
Nadine tersenyum tipis, sementara Leon masih menggenggam tangannya, terlalu erat untuk disebut sekedar sandiwara.
Sepanjang koridor, Leon merasa ada yang tidak beres. Rumah itu terlalu sunyi untuk ukuran acara makan malam keluarga. Tak ada suara lain selain langkah mereka.
Ia menoleh pada pelayan, “Ke mana yang lain?”
Pelayan itu tampak bingung. “Maksud Tuan?”
“Keluarga lain, apa mereka datang terlambat?”
Pelayan berhenti melangkah, lalu membalikkan badan dengan sikap hormat, “Acara makan malam ini khusus untuk Tuan Leon dan Nyonya. Tidak ada keluarga lain yang diundang.”
Deg.
Langkah Leon terhenti sesaat. Wajahnya menegang, raut wajahnya berubah tipis sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. Nadine yang berdiri di sampingnya langsung menyadari itu.
Leon menarik napas dalam, lalu kembali memasang wajah datar. Tangannya justru mengerat di pinggang Nadine, seolah menguatkan sandiwara mereka.
Mereka duduk berhadapan di meja makan panjang. Hidangan mewah tersaji rapi aroma daging panggang dan saus hangat langsung menggoda. Nadine menatap hidangan di depannya matanya berbinar tipis, menahan diri agar tidak langsung menyentuh makanan itu.
Sementara itu, Leon justru melamun. Pikirannya berputar pada satu hal yang sama kejanggalan ini. Ia mengenal neneknya terlalu baik. Jika suasananya setenang ini, berarti badai belum dimulai.
Langkah kaki pelan terdengar dari arah lorong. Nadine mendongak. Nenek Leon muncul, dipapah oleh dua asistennya, senyum cerah menghiasi wajahnya.
“Selamat datang, cucu-cucu kesayanganku,” ucap nenek dengan nada girang.
Nadine refleks berdiri, disusul Leon di sampingnya.
“Selamat malam, Nek,” ujar Nadine sopan, menunduk sedikit.
Leon mengangguk. “Malam, Nek.”
Nenek memperhatikan mereka berdua dari ujung kepala hingga kaki tatapannya lembut berhenti pada mereka yang terlihat mesra.
“Hm,” gumam nenek pelan, lalu tersenyum lebih lebar. “Duduklah. Kita makan sambil mengobrol.”
Nenek duduk dengan tenang, lalu mengangkat tangan memberi isyarat. Kedua asisten itu segera meninggalkan ruang makan.
“Bagaimana kabar kalian?” tanya nenek lembut.
“Kami baik, Nek,” jawab Leon sambil tersenyum.
“Aku bertanya pada Nadine.”
Senyum Leon langsung memudar. Nadine tampak sedikit canggung.
“Ah… saya? Saya baik-baik saja, Nek,” jawab Nadine cepat.
Nenek menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Syukurlah, sekarang lebih baik kita makan dulu.” Tatapannya beralih ke Nadine. “Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk makan malam, benar kan, Nadine?”
Nadine sedikit terkejut. “Eh… i-iya, Nek,” jawabnya sambil tersenyum canggung.
Leon hanya diam, memperhatikan neneknya. Ada sesuatu yang terasa janggal, tapi ia memilih tidak bertanya.
Nadine mulai makan. Dan benar saja makanan itu sangat lezat. Rasanya ia hampir ingin menangis karena terlalu enak.
Nenek memperhatikannya, " Kamu menyukai makanannya Nadine?"
Nadine menoleh kaget. “I-iya, Nek."
Leon akhirnya membuka suara, “Sebenarnya… ada apa Nenek mengundang kami makan malam?”
Nenek tersenyum kecil. “Kenapa? Memangnya nenek tidak boleh mengundang cucunya sendiri?”
Leon tidak menjawab. Ia kembali menunduk ke makanannya.
“Nadine,” ucap nenek pelan, “Aku dengar kemarin kamu keguguran?”
Nadine menoleh, sempat melirik Leon sekilas.
“Ah… soal itu…” jawabnya gugup.
“Nadine baik-baik saja, Nek,” potong Leon cepat. “Saat itu aku memang sibuk dengan pekerjaan, jadi aku tidak menjaganya dengan baik.” Ia menarik napas . “Aku sangat menyesal.”
Nenek mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang, " Begitu, ya… kamu sibuk bekerja,” ulangnya pelan, “Atau... karena Nadine bukan istri sungguhan?”