CERITA MASIH ACAK-ACAKAN AKAN AUTHOR REVISI SATU PER SATU.
-DALAM PROSES REVISI -
Sejak kecil Rania hidup bersama keluarga yang telah mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Segala hal akan Rania lakukan agar keluarganya bangga terhadap Rania, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
Sampai kakak tirinya divonis tidak bisa memiliki anak. Sejak itu Rania ditunjuk untuk menikahi suami dari kakak tirinya agar bisa memiliki keturunan. Tetapi dengan perjanjian setelah memberinya anak Rania akan diceraikan.
Apakan Rania menyanggupi permintaan kakak tirinya? atau Rania memilih untuk pergi menghilang dari keluarga yang telah mengadopsinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 (revisi)
"Ran buruan, sudah telat ini" teriak Dimas
Rania sedikit berlari keluar. Dimas memelotot melihat hal itu, "jangan lari-lari begitu!" Dimas melihat Rania dari atas sampai bawah, tidak pernah dirinya melihat Rania memakai dress seperti itu.
Rania bersungut-sungut kesal, "katanya disuruh cepetan, tapi pas lari malah dimarahin. Maunya gimana sih!" Rania melipat kedua tangannya didada
"gak usah pake lari kan bisa" Dimas mengelus pipi Rania dengan lembut, "kamu dandan ya?"
Rona merah dipipi Rania terlihat jelas. Ia menepis tangan Dimas, "iya dong, rasanya udah lama aku gak dandan lagi. Semenjak berhenti kerja, gak pernah keluar rumah selain kedokter kandungan doang"
"kalau mau jalan-jalan kan tinggal bilang saya"
Rania tersenyum, "kalau tiap harinya kamu sibuk sama Ka Salsa, mana sempat aku ngutarain keinginan aku"
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ya kalau kamu bilang juga pasti bakal saya kabulin kan kok. Lagipula mana mungkin saya tidak mengabulkan keinginan anak saya" ucap Dimas sembari mengelus perut Rania yang mulai besar
"ya sudah, hayuk berangkat keburu telat"
"bentar" Dimas jongkok dihadapan Rania, "anak ayah jangan bikin bunda mual lagi ya. Yang sehat ya nak didalam sana" ucap Dimas lalu mencium perut Rania
Rania tersenyum bahagia, "iya ayah" jawab Rania dengan suara seperti anak kecil
Dimas tertawa, "sudah ayuk berangkat, kasian Salsa nunggunya lama" Dimas menggandeng tangan Rania membawanya ke garasi
Begini toh rasanya memiliki keluarga yang bahagia. Walaupun tidak tahu kedepannya seperti apa, yang penting saat ini aku bahagia.
.
.
.
.
Turun dari mobil, Dimas tetap menggandeng tangan Rania. Tapi, saat memasuki kafe Dimas langsung melepasnya. Rania tidak bertanya, ia sudah paham Dimas akan selalu mementingkan dan mengedepan- kan perasaan seorang Salsa daripada Rania.
Rania tidak terlalu mempermasalahkan nya, toh dia harus tahu diri. Ia hanya seorang istri siri dan istri kedua. Ia akan tahu tempat untuk dirinya.
Walaupun ia merasa sedikit sakit hati. Sedikit ya benar-benar sedikit!
"Raniaaa" Arkan langsung memeluk Rania
Dimas terbelalak, dengan cepat ia menarik Rania agar terlepas dari Arkan. Ia tidak suka miliknya dipegang oleh orang lain. Egois memang.
"apaan sih, ganggu aja deh" Arkan kembali menarik Rania dan mendudukan paksa Rania agar tetap berada disampingnya
"tidak, Rania duduk disamping saya" tegas Dimas, sepertinya ia lupa keberadaan Salsa.
"ck, apaan sih mas. Duduk disamping aku!" Dimas terkejut saat mendapati istrinya (Salsa) sedang memelototi dirinya, "kalian kenapa sih, cuma gara- gara ini perempuan jadi berebutan gitu" kesal Salsa lalu memandang sengit Rania
"tuh pawanglu marah!" ejek Arkan
"enggak kok sayang, tidak seperti itu"
Meninggalkan pasangan yang sedang bertengkar tersebut. Kini Arkan menatap Rania dengan lekat membuat perempuan itu sedikit malu walaupun lebih ke risih, "ka Arkan ngeliatnya biasa aja dong, Rania jadi malu" Rania mengesampirkan rambutnya menutupi kegugupan
"kamu makin cantik deh" Arkan memandang perut Rania, "apa karena kamu sedang hamil ya, jadi auranya berubah gitu. Tidak seperti yang aku lihat terakhir kali" Arkan seakan sengaja mengencangkan suara agar Dimas cemburu
"power rangers kali pakai berubah segala" ucap Dimas pelan
"apaan sih ka? jadi malu aku" Sahut Rania dengan lucu membuat Arkan semakin dibuat gemas melihatnya
"malu-malu kucing! gak inget apa sedang ada suaminya" ucap Dimas lagi membuat Rania mendelik kesal
Salsa menginjak kaki Dimas, "kamu kenapa sih!" Salsa menunjuk Rania dari atas sampai bawah, "kamu cemburu sama dia?"
Seakan tersadar, Dimas langsung membawa Salsa ke pelukannya, "ngapain saya cemburu, sementara disamping saya ada seorang malaikat yang begitu indah untuk dipandang"
Rania tersenyum kecut, ia memainkan sedotan di minuman miliknya. Berusaha tidak memperdulikan kedua manusia yang dihadapannya, tapi tetap saja kemesraan tersebut terpampang langsung dimatanya.
Arkan seakan sadar Rania yang sedang cemburu, "Ran, gue boleh pegang perutnya gak. Pengen tau perut orang hamil tuh seperti apa"
Rania mengangguk setuju, dirinya tidak mempermasalahkan orang-orang yang ingin memegang perutnya. Selama tidak membahayakan anaknya, dirinya tidak merasa dirugikan juga, "sekalian di do'a-do'a in gitu ya ka"
Dimas yang melihatnya hanya bisa menahan emosi. Ia tidak bisa apa-apa karena Salsa sedang bergelayut manja dengan dirinya. Dikit saja ia membuat kesalahan, Salsa pasti akan langsung marah pada dirinya.
Arkan menyentuh perut Rania, tangannya sedikit gemetar. "yang sehat-sehat ya diperut Rania. Jangan menyusahkan mamah kamu, kalau kamu tidak ada yang urus saya siap untuk menganggap kamu seperti anak saya sendiri"
"eh maksud lu apa!" Dimas sudah tidak tahan mendengar omongan Arkan
Arkan mencebik, "ya kan gue bener, kalau suatu saat Salsa hamil lu gak mungkin anggap anak Rania anak lu kan. Ya gue akan siap untuk mengganti posisi lu" jawab Arkan santai
Salsa menahan tangan Dimas yang ingin memukul Arkan, "tahan emosinya mas" kini Salsa beralih menatap Arkan, "gak bisa gitu dong. Anak Rania akan selamanya menjadi anak saya dan Dimas. Rania tidak ada haknya sama sekali"
"pada gak punya hati ya kalian" kini Arkan yang ingin memukul Dimas tetapi ditahan oleh Rania
Rania menggeleng dengan wajah yang memerah menahan tangis, "memang bener kok perkataan mereka"
"memang jahat ya kalian berdua, tinggal tunggu karma yang berbalik kepada kalian" Arkan tidak tahan lagi, ia langsung beranjak keluar kafe meninggalkan Salsa dengan senyuman sinis, Dimas yang menatap sendiri Rania serta Rania yang menahan tangisannya, berusaha kuat.
😡😡😡😈😈😈
😡😡😡
😡😡😡
tokoh laki-laki.y juga gampang dibohongin pokok.y nambah beban pikiran dah
plis deh jangan goblok 😩 gak usah cari penyakit fokus aja ke karir Ama si kembar😑