Mengisahkan tentang seorang PNS Muda sekaligus Pengusaha dengan gelar Playboy yang sedang berjuang meluluhkan Hati seorang wanita yang berprofesi sebagai Dokter Hewan ..
Seorang Pria yang biasa dikejar dan di idolakan banyak wanita.. sekarang malah sedang berusaha mengejar seorang wanita cuek. dingin. dan mempunyai kekasih ...
nyeseekkk oiii...
but saya hanya seorang pemula.. yang menyukai novel and I want to try .. ✌️
I hope you guys like it ...😍
selamat membaca dan tinggalkan kritik dan saran ya .. 😎👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chupiidd's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
"Kakak Jahat !!!! aku benci Kak Adit dan Ayah !! dan satu hal lagi, gak perlu repot-repot kak ngambil hati orang tua aku dan gak perlu repot-repot kak ngejar aku kayak gini, karena Aku tidak pernah mau di jodohkan, Aku menolak perjodohan ini !!!!", teriak Aira dan cairan bening yang ditahannya sedari tadi itu mengalir dari pelipisnya
"Maksud kamu?", tanya Adit yang benar-benar penasaran arti ucapan Aira
"Cukup Kak, gak usah Pura-pura gak tau kayak gini, kakak pikir Aku akan menerimanya", Tegas Aira
"Aku bener-bener gak ngerti maksud ucapan kamu Ra, kalau soal perjodohan aku juga gak tau kalau anak rekan kerja Papa dan orang yang mau di jodohin sama Aku itu kamu!", jelas Adit karena ia sendiri memang tidak mengetahuinya
"Bohong!!! kakak sama Ayah itu sekongkol kan, munafik, Aku benci Kak Adit !!!!!!", Teriak Aira dan menyetop taksi kemudian berlalu dari hadapan Adit
"Argh. apa sih maksudnya. sekongkol apaan, kenal juga baru tadi sama Om Hendra dan Tante Nia" gumam Adit dan berjalan masuk cafe dengan wajah masam
"Loh, kok balik sendiri, Aira mana Dit", Tanya Bu Nia
"Aira..." Jawaban Adit terputus,' ia harus jawab apa nih" batinnya..
"Kemana Aira Dit, kenapa tidak masuk kembali bersama kamu", tanya Pak Wijaya
"Ooh, tadi waktu Aira keluar ia dapat telvon dari Klinik Tante, jadi tadi kita ngobrol sebentar aja di depan" Jawab Adit berbohong
"Ooh begitu, jadi kamu udah kenal Dit sama Aira ?", tanya Arumi
"Sudah Ma, udah beberapa bulan sih, cuma gak tau kalau Aira anaknya Om dan Tante ", ucap Adit sambil menatap Pak Hendra dan Bu Nia
"Wah, bagus dong, jadi kita gak perlu susah-susah buat ngedeketin mereka ya Rum, hubungan kamu sama Aira baik kan Dit", Tanya Bu Nia
"Haha, baik ko Tan, walaupun sedikit cuek", ucap Adit
"Memang Aira anaknya begitu, kamu harap maklum ya, tapi kami harap kamu tidak menyerah Dit, ya kan bu ", Ucap Pak Hendra
"Iya Dit, kami harap kamu bisa segera menikah dengan Aira, soal pacaran-pacarannya nanti aja sehabis nikah.."Ucap Bu Nia antusias
"Ta.. tapi Tan...", Ucapan Adit terputus
"Gak ad tapi-tapian lagi Dit, kami udah setuju semua, tinggal kamu aja gimana ngeyakinin Aira", Ucap Pak Wijaya
Adit hanya diam, ia bahagia tau cewe yang akan di jodohkan dengannya adalah Aira, cewe yang sama yang pengen ia nikahi, tapi di satu sisi melihat sikap Aira tadi, ia tau Aira sangat tidak suka dengan perjodohan ini, dan lagipula sepertinya Aira sayang banget sama Teo, walaupun ia belum tau gimana Teo di belakangnya", Batin Adit
"Dit, Gimana kamu setuju kan", Tanya Pak Hendra
"Dit" ucap Pak Wijaya
"Kak, eh beruang kutub, ngelamun aja, ditanyain tuh" teriak Adisty memukul lengan Adit sehingga ia tekejut
"Ah, iya Ra, eh maaf iya Om ", ucap Adit gelagapan
hahahahaha. semua tertawa melihat Adit yang salah sebut nama, .
"Belum apa-apa udah kepikiran ya Kak", Goda Disty
"Apaan Sih, diem lu" umpat Adit
Disty menahan tawa dan melanjutkan makannya, setelah makan dan berbincang banyak hal dan mendapat angin segar, Adit dan keluarga nya pamit pulang, begitupun dengan Ibu dan Ayah Aira..
Sesampainya dikediaman Bapak Hendra, Bu Nia langsung menuju kamar anaknya..
TokTokTok
"Ra, kamu udah tidur", tanya Bu Nia dari luar dan membuka handle pintu kamar Aira "Dikunci" gumamnya
"Ra...", Panggil Bu Nia
Aira diam, saat ini iya tidak ingin ketemu Ibu dan Ayahnya..
Akhirnya Bu Nia memilih kembali ke kamarnya..
"Dimana Aira", tanya Pak Hendra
"Sepertinya sudah tidur Yah, kita bicara besok saja", Ucap Nia
Setelah membersihkan diri, Merekapun tidur...
Sementara Aira dikamarnya masih menangis tanpa jeda, tidak ada alasan untuk tidak kecewa dengan orang yang ia sayang selama ini, Ayah Ibu, bahkan Teo sekali pun..
"Dimana kamu Bg, Aku benar-benar tidak ingin dijodohkan dengan orang yang aku benci", gumam Aira serak
Disisi lain, Adit tengah duduk di balkon kamarnya, "Apa maksud Aira aku bersekongkol dengan Ayahnya, Aku saja baru pertama kali bertemu Om Hendra, apa Ayahnya tau gimana brengseknya Cowo yang sekarang menjadi kekasih Aira", Gumam Adit
tiba-tiba ponselnya berbunyi...
"Fanya" batin Adit
-Telpon Terhubung-
"Halo Fan", ucap Adit
"Adit lo dimana", tanya Fanya serak
"Gue dirumah Fan, lo kenapa, Vano mana ??", Tanya Adit
"Vano gak datang hari ini", Jawab Fanya
"Trus lo sendirian, Alex gimana?", tanya Adit
"Alex cuma mampir tadi siang, Dit gue mau minta tolong", Ucap Fanya lirih
"lo kenapa Fan, baik-baik ajakan, minta tolong apa", tanya Adit lembut
"Besok lo kesini ya Dit temenin gue kontrol, dan juga banyak hal yang mau gue ceritain", ucap Fanya
"Iya, besok gue kesana, lo udah makan, vitaminnya di minum terus kan", tanya Adit
"Minum kok Dit, eh iya gimana tadi acara makan malam nya, lancar? "Tanya Fanya
"Alhamdulillah lancar Fan, Tapi...", ucapan Adit terputus
"Tapi apa, lo gak suka cewe yang mau di jodohin sama lo atau calon mertua lo galak ya", goda Fanya
"Bukan itu, ah besok deh gue ceritain, udah larut nih, tidur sana.. kasian bayi lo", tutur Adit
"Hahaha ngeles nih, baiklah.. lo juga istirahat sana.. ", balas Fanya
"hehe, iya Fanya, good night" ucap Adit
"Good night too Dit", Fanya mematikan telpon dan menghela nafas panjang
"Andai waktu dapat diputar kembali ya Dit, Aku gak akan pernah nyia-nyiain kamu, bodohnya Aku", batin Fanya sendu dan tanpa sadar ia pun menangis
Sementara itu, Adit tidak langsung tidak langsung tidur ia memilih untuk bermain PlayStationnya, karena jika keluar rumah tentu tidak mungkin lagi sudah jam 01.00 dini hari..
Begitupun dengan Aira yang masih memikirkan pertemuan keluarga nya dengan keluarga Adit tadi dan kemana perginya Teo, sampai sekarang ia tidak pernah menghubungi Aira..
"Bagaimana ini, kenapa semua seperti ini sekarang, Aku rindu kedamaian hidup seperti sebelum aku mendengar kata perjodohan .. ", Gumam Aira dan memeluk guling stitch nya kuat..
"Aku rindu kamu Bg Teo", batinnya
Keesokan paginya di meja makan di kediaman Bapak Hendra..
"Aira mana Bu, kenapa tidak ikut sarapan bersama kita", Tanya Pak Hendra
"Mungkin masih siap-siap Yah", Ucap Bu Nia
"Setelah ini, panggil dia Bu, Ayah mau bicara", tegas Pak Hendra
Tidak lama kemudian Aira turun dengan mata sembab karena ia menangis semalaman dan tidak tidur, ia memilih untuk tidak sarapan dan langsung pamit untuk pergi ke klinik..
"Yah, Ibu aku langsung ke Klinik", Ucap Aira menunduk agar Ayah dan Ibunya tidak melihat matanya yang bengkak
"Tunggu, Ayah mau bicara", kata Pak Hendra
"Apa Yah", Tanya Aira masih berdiri di tempat sebelumnya
"Apa kamu akan bicara tidak sopan seperti itu sekarang sama Ayah, kesini", pinta Pak Hendra
"Yah, tenang, ngomongnya pelan-pelan ya", ucap Bu Nia memperingati Pak Hendra agar tidak terlalu emosi saat berbicara dengan Aira, karena akan memperumit masalah
Aira kemudian mendekat dan duduk di depan Ayahnya...
"Apa mau mu Ra, kamu sudah mempermalukan keluarga kita dua kali", Kata Pak Hendra lantang
Aira dan Bu Nia kaget..
"Maksud Ayah apa?", Tanya Aira
"Kamu mengacaukan lagi Pertemuan malam tadi dengan keluarga Pak Wijaya, kenapa kamu pergi begitu saja, Ayah tau kamu tidak pergi ke Klinik seperti ucapan Adit semalam, Tidak sopan !! ", getir Pak Hendra menahan amarahnya
"Apa? kenapa Kak Adit malah bicara aku pergi ke Klinik, apa ia pikir aku akan simpati padanya karena telah membela ku, hah aku malah semakin membenci mu kak!", Batin Aira
"Aira, jawab Ayah", Ucap Pak Hendra
"Iya, benar Aku memang melarikan diri semalam, karena aku tidak menerima perjodohan ini Yah, Aku udah besar dan Aku punya pilihan", Suara Aira bergetar menahan tangisnya, ntah kenapa ia bisa melontarkan kata-kata itu di hadapan Ayah dan Ibunya
"Sejak kapan kamu menjadi tidak sopan dan kurang ajar seperti ini, kamu masih memilih laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu, laki-laki yang suka mempermainkan hati wanita yang tulus sama dia, Ayah tidak akan pernah menerimanya dan Ayah akan tetap jodohkan kamu!!!!", tegas Pak Wijaya
"Cukup Yah, Aku tau selama ini Ayah bersekongkol dengan Kak Adit untuk menjauhkan Aku dari Bg Teo kan? Ayah sengaja kan mengirim Kak Adit untuk memata-matai hubungan Aku sama Bg Teo!", Kata Aira menahan air matanya
"Maksud kamu", Pak Hendra menyeringit kan dahinya tidak mengerti
"Persis, bisa sama gitu ya respon Ayah sama Kak Adit, luar biasa Yah skenario yang Ayah buat, Aku kecewa sama Ayah!!!", Bentak Aira
ntah setan apa yang merasuki nya sekarang sampe ia berteriak dan berbicara seperti itu kepada Ayahnya
Pak Hendra tersulut emosi dan berdiri di samping Aira..
"Yah,", Bu Nia panik dan mencoba mencegah Pak Hendra
"Apa yah, Benerkan apa yang aku bilang Ayah sekongkol dengan Kak Adit untuk merusak hubungan Aira dengan Bg Teo, selain itu apa Yah, Ayah bisa mendapat keuntungan lebih kan dari Pak Wijaya jika Ayah berhasil membuat Aku menikah dengan anaknya Pak Wijaya", Tantang Aira yang juga sudah tersulut emosi
ia yang dulunya selalu menurut ntah kenapa pagi ini ia bisa membantah dan berdebat dengan Ayahnya...
"Aira!!!!", Teriak Pak Hendra dan Plakkk satu tamparan berhasil mendarat di pipi kanan Aira sehingga membuat pipi mungil itu menjadi merah
"A-A-Ayah", lirih Aira dan cairan bening yang ia tahan sedari tadi mengalir dipipinya
Bu Nia yang melihat kejadian itu langsung menarik Aira dan memeluk nya", Sayang,", Ucapnya menatap Pak Hendra tak percaya
"Bu", Lirih Pak Hendra melihat tangan yang ia pakai menampar putri kesayangannya untuk pertama kalinya
"Ayah jahat !!!!!", Teriak Aira dan berlari menuju kamarnya
Bu Nia yang akan mengejar Aira menghentikn langkahnya, melihat Pak Hendra yang merintih memegang dadanya, Tidak lama Pak Hendra pun pingsan..
Bu Nia panik dan memanggil supir nya..
"Pak Jun, tolong Pak" teriak Bu Nia
Pak Jun yang melihat langsung berlari menghampiri Bu Nia dan Pak Hendra yang tegeletak kemudian membopong nya ke mobil dan menuju rumah sakit..
"Pak Jun, lebih cepat Pak", Teriak Nia
"Iya, buk ini udah cepat lagian ini macet Buk ", Ucap Pak Jun
Bu Nia berusaha membangunkan Pak Hendra " Pak, bangun Pak ", kata Bu Nia
Sesampainanya nya dirumah sakit, Pak Hendra langsung di bawa ke UGD..
Sementara itu Aira masih tidak menyangka ia akan mendapat perlakuan seperti ini dari Ayahnya, ia berdiri dan melihat bekas tangan ayahnya yang memerah di pipinya di cermin..
"Sakit", Gumamnya pelan
Setelah beberapa menit di periksa, Pak Hendra akhirnya sadar, ",Bu", Ucapnya lirih dan melihat Bu Nia menangis di samping ranjangnya..
"Yah, Alhamdulillah.. ", ucap Nia dan memeluk Pak Hendra
"Dimana Aira Bu", Tanya nya
"Aira dirumah Yah, Dokter bilang Ayah harus dirawat dulu, karena jantung ayah masih belum stabil", Ucap Bu Nia sendu
"Maafkan Ayah Bu, Ayah bener-bener terbawa emosi tadi", Ucap Pak Hendra lemah
"Ibu ngerti Yah, sekarang Ayah istirhat aja dulu, besok Ibu coba ngomong sama Aira ya Yah", ucap Bu Nia
Beberapa menit kemudian Pak Hendra pun tertidur..
Bu Nia mencoba menghubungi untuk memberitahu keadaan Ayahnya, namun ia tidak pernah mengangkat telponnya ..
"Kemana kamu nak ??", gumam Bu Nia mondar mandir di dalam kamar inap Pak Hendra
.
.
.
bersambung..
.
.
Happy Reading
semoga selalu suka ya sama ceritanya,jangan lupa tinggalin jejak, like koment dan Vote ya.. masukan nya sangat di perlukan.. terimakasih banyak .
huft... btw gue suka ceritanya krn foto dan ada gif nya jadi berasa beneran ya...
congratulation Thor... terus berkarya dan semoga sukses...