Hana Hafizah menjadi perempuan paling tidak beruntung ketika ayah dan ibu memintanya untuk menikah, tetapi bukan dengan lelaki pilihannya. Ia menolak dengan tegas perjodohan itu. Namun, karena rasa sayang yang dimilikinya pada sang ayah, membuatnya menerima perjodohan ini.
•••
Gadibran Areksa Pratama. Dosen muda berumur 27 tahun yang sudah matang menikah, tetapi tidak memiliki kekasih. Hingga kedua orang tuanya berkeinginan menjodohkannya dengan anak temannya. Dan dengan alasan tidak ingin mengecewakan orang yang ia sayangi, mau tidak mau ia menerima perjodohan ini.
•••
“Saya tahu, kamu masih tidak bisa menerima pernikahan ini. Tapi saya berharap kamu bisa dengan perlahan menerima status baru kamu mulai detik ini.”
“Kamu boleh dekat dengan siapapun, asalkan kamu tahu batasanmu.”
“Saya akan memberi kamu waktu untuk menyelesaikan hubungan kamu dengan kekasih kamu itu. Setelahnya, hanya saya kekasih kamu. Kekasih halalmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYusra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
| 28. Aku Kekasih Halalmu – After That |
Hana melempar plastik sampah yang masih ia genggam itu pada wajah Galang dengan kasar.
“Sampah!” gumamnya, lalu meninggalkan laki-laki yang sudah resmi menjadi mantannya itu di sana.
Sedangkan Dibran, dia sangat puas dengan sikap istrinya yang tidak menye-menye saat mengetahui jika kekasihnya berselingkuh. Tidak ada tindakan meraung-raung ataupun drama yang terjadi. Hana bahkan berani menampar bolak-balik laki-laki itu tanpa gentar.
Speechless!
Ketika mengikuti jejak Hana hingga ke kamar, Dibran menemukan Hana yang duduk dipinggir kasur sambil menumpukan kedua sikunya di atas lutut. Tangannya berada di kening dengan mata tertutup.
Galang laki-laki yang baik
Hana merasakan sesak di dadanya. Air mata yang menetes tanpa isakan cukup menjelaskan la;au sakitnya tak hingga.
Semua hal yang sudah dilakukannya untuk laki-laki itu ternyata sia-sia. Kepercayaan yang selalu diberikannya nyatanya disia-siakan oleh Galang dengan cara yang paling murahan.
Tapi dia tidak baik untuk putri Papa
Berselingkuh disaat ia berjuang mati-matian perjodohannya dengan laki-laki lain dibatalkan. Bahkan ia rela membohongi papanya demi Galang –agar mereka tetap bisa bersama.
Tetapi ternyata ... Semuanya ...
Galang baik, tetapi nggak buat kamu
Isakanya mulai menggema. Namun masih sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak terbuang percuma untuk laki-laki brengsek seperti Galang.
Semua perkataan papa-nya tentang Galang terbukti hari ini. Semuanya jelas. Papa tidak pernah salah untuk menentukan hal yang tebaik untuknya. Membuat ia semakin kecewa, patah, pecah, hancur dan berantakan.
Hana kecewa pada dirinya. Hana kecewa karena meragukan ayahnya. Hana …
Menyerah.
Hana tidak sanggup. Hana meledak. Suaranya menggema diseluruh kamar. Melengking kencang hingga memecah kesunyian kamar dimalam hari, membuat tenggorakannya seperti akan rusak.
Kedua matanya melotot dengan air mata yang ikut turun serta mulut yang terbuka lebar tanpa kata. Dengan kedua tangan yang terkepal kuat, ia mengambil lalu melempar lampu, ponsel, buku-buku, dan apapun yang bisa ia gapai untuk meluapkan kemarahannya.
Hingga sebuah pelukan menghentikan pergerakan Hana. Tidak hanya berhenti, Hana bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri kalau saja Dibran tidak menahannya.
Dibaran menahan Hana lalu membawanya ke pinggir tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya.
Sedangkan Hana, perempuan itu menjatuhkan air matanya didada bidang laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Laki-laki itu mencium kening Hana dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan agar istrinya itu tidak lagi histeris. Membelai rambut sang istri dengan lembut dan mempererat pelukan.
“Sst ... Tenang, ya, tenang,” kata Dibran dengan pelan pada Hana yang semakin terisak.
Perempuan itu meremas jas Dibran dengan erat melampiaskan emosi yang tidak tertahan di dadanya. Sesak itu masih menghimpit dadanya dengan hebat. Ia tidak menyangka jika laki-laki yang ia cintai dengan tega melakukan hal rendahan seperti ini.
Hana bahkan memukul-mukul dada Dibran dengan brutal sebagai pelampiasan. Tidak peduli dengan seseorang yang memeluknya saat ini akan merasakan sakit. Walaupun nyatanya, Dibran tidak masalah sedikitpun. Ia masih tetap dengan setia memeluk dan menenangkan Hana.
Hingga tidak terasa satu jam lamanya Hana menangis, dan berakhir tertidur dipelukan suaminya. Dibran hanya bisa menghela napas pelan saat melihat wajah sembab dari istrinya itu.
Dengan perlahan, Dibran membaringkan tubuh Hana diatas kasur dan menyelimutinya hingga batas dada. Sesaat sebelum beranjak, Dibran meneliti wajah Hana dengan intens. lalu mencodongkan badannya untuk mencium kedua mata, kedua pipi, hidung, dan yang terakhir kening Hana dengan lembut.
Sebelum beranjak mandi, laki-laki yang masih mengenakan pakaian kantor itu membereskan barang-barang yang sudah dihancurkan istrinya itu lebih dahulu. Selesai dengan itu, barulah ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
^^^
“Tuan ingin makan?”
Dibran mengangguk menjawab pertanyaan dari bi Ijah. “Tapi saya sama Hana makan dikamar saja, Bi.”
“Baik, Tuan. Akan Bibi siapkan.”
Laki-laki itu menggeleng. “Nggak usah, Bi. Saya aja. Pekerjaan Bibi udah selesai, jadi bisa langsung pulang.”
Bi Ijah mengangguk, tetapi ia tidak langsung beranjak dari sana. “Maaf Tuan, kalau Bibi lancang.”
Dibran menatap bi Ijah. Tangannya pun berhenti saat menyendok makan ke piring. “Kenapa, Bi?”
“Tadi Bibi dengar ada benda-benda yang dilempar, Tuan. Ada apa, ya? Terjadi sesuatu sama Non Hana, ya Tuan?”
Bi Ijah terlihat khawatir karena mendengar benda-benda pecah barusan. Mengingat hanya dirinya dan dua majikannya yang ditempat ini, jadi bi Ijah langsung berasumsi kalau majikan perempuan-nya kenapa-kenapa.
Dibran mengerti, tapi dia hanya bisa memberikan senyum tipis. “Bibi nggak perlu khawatir. Suasana hatinya memang lagi nggak baik. Tapi sekarang Hana juga lagi istirahat.”
Walaupun bi Ijah masih belum bisa tenang, wanita paruh baya itu berusaha untuk percaya saja, karena dirinya tidak punya wewenang lebih untuk bertanya lagi.
Bi Ijah pun beranjak dan bersiap untuk pulang, karena pekerjaannya memang hanya dari jam enam pagi hingga delapan malam. Beliau juga diantar jemput oleh supir. Serta tempat tinggal yang sudah disediakan Dibran tidak jauh dari apartemen miliknya ini.
“Bibi ijin pulang, Tuan.”
Dibran hanya mengangguk, dan setelah menyelesaikan makanan untuknya dan Hana, laki-laki itu segera beranjak menuju kamar.
Tidak terlalu sulit, setelah membuka pintu kamar menggunakan satu tangan kiri, Dibran menutup pintu menggunakan kakinya. Kemudian mendekati kasur dan meletakkan nampan berisi makanan diatas nakas.
Dengan pelan, Dibran duduk samping istrinya yang masih tertidur dengan pulas namun nampak tak tenang. Dengan penuh kelembutan, Dibran menggosok kening Hana yang mengkerut itu dengan lembut menggunakan jempol. Bermaksud agar kerutan itu menghilang.
Dibran ingin membangunkan istrinya, tetapi tidak tega. Tetapi ia juga semakin tidak tega ketika membiarkan istrinya untuk tidak makan malam sebelum tidur. maka dari itu, ia dengan terpaksa membangunkan Hana dengan mengelus kepala dan pelipis Hana.
“Hana?” Panggil Dibran dengan pelan.
Laki-laki itu juga mengelus pundak Hana dengan lembut. “Han, bangun dulu. Kamu belum makan.”
Dengan perlahan, mata yang tertutup itu bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu terbuka dengan sempurna sembari menyesuaikan cahaya dengan retina matanya.
Hana melenguh. “Hm?” perempuan itu nampak linglung.
“Bangun dulu, kamu belum makan. Nanti tidur lagi,” kata Dibran yang semakin membuat Hana bingung.
Ada apa?
Secepat ia bertanya, secepat itu ia bisa mnejwabnya. Ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Jadi itu bukanlah mimpi?
Hana menghela napas pendek. Tiba-tiba dadanya kembali sesak, napasnya memburu. Bajingan sialan!
“Udah jangan pikirin apapun dulu. Sekarang makan dulu, yuk.”
Ucapan dari Dibran mengalihkan atensinya. Ia kemudian menatap suaminya itu dalam diam. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya saat ini.
“M-mas ...”
Seketika panggilannya untuk Dibran langsung berubah. Hal yang juga membuat Dibran langsung menghentikan kegiatannya yang akan menjangkau makanan untuk Hana. Tak lama, laki-laki tersenyum tipis sambil menatap Hana.
“Hm? Kita makan dulu,” ucap Dibran yang diangguki Hana. Ia kemudian duduk dibantu sang suami.
Dibran mengambil piring makan untuk Hana.
“Aku suapi?” Hana terdiam. Ia sedikit bingung dengan sikap Dibran saat ini. Kenapa Dibran tiba-tiba menjadi lembut seperti ini?
“Hey.” Hana tersentak, dan hal itu sontak membuat tawa pelan muncul dari laki-laki itu. Hal yang semakin membuat Hana terpaku. Apakah ini Dibran? Pikir Hana.
“Kamu mau aku suapi?” Hana lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Ia mengambil piring itu.
Dibran mengangguk lalu ikut mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka mulai makan dengan keheningan dikamar itu.
“Aku mau ketemu Papa,” ucap Hana tiba-tiba. Ia menatap Dibran yang sedang mengambil air. Setelah meminumnya, laki-laki itu lalu menatap Hana dengan senyuman tipis.
Dibran mengangguk. “Besok kita ke sana.”
Tersenyum lagi
“Kamu udah selesai makannya?” tanya Dibran pada perempuan yang didepannya itu.
“Udah.”
Dengan cekatan Dibran mengambil piring ditangan Hana dan ditaruhnya diatas nampan tadi. Ia juga mengambilkan minuman itu Hana, yang diterima baik oleh perempuan itu.
Setelah selesai, Hana meletakkannya kembali ke nampan tadi.
“Sekarang kamu bersih-bersih, gih. Ganti baju juga, terus lanjut tidur. Aku antar ini ke dapur dulu.”
Tanpa menunggu respon Hana, Dibran langsung berdiri sambil membawa nampan berisi piring kotor itu keluar kamar. Hana memperhatikan punggung tegap Dibran dengan pandangan berbeda.
Dia ... Berbeda.
Tetapi, Hana juga melakukan hal yang dikatakan Dibran. Ia membersihkan diri dan mengganti baju dengan piyama.
Setelah selesai, ia kembali beranjak ke kasur dan berbaring menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang mengenai fakta yang baru saja ia ketahui dari Galang. Ia sama sekali tidak menyangka dengan kelakuan laki-laki itu padanya. Berselingkuh.
Apa yang kurang darinya? Apa yang salah darinya? Kenapa Galang memilih menduakannya?
Pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu menjadi tanda tanya yang besar dikepalanya. Tetapi salam sekali tidak mendapatkan jawaban.
Papa ...
Hana menjadi ingat akan papanya mengenai hal ini. Jadi ini maksud dari ucapan papanya beberapa bulan yang lalu? Hana menghela napasnya pendek, kemudian menyampingkan badannya sambil memeluk guling.
Perempuan itu menutup mata yang menyebabkan air matanya menetes tanpa terasa. Mengapa sesak ini tidak kunjung hilang? Hana terisak tanpa bisa ditahan. Ia kembali menangis entah untuk kelakuan bejat Galang, atau karena kepekaan sang papa perihal kebahagiaan nya. Ia memeluk guling dengan erat, melampiaskan emosi yang masih tertahan ditubuhnya.
Seseorang kemudian membelai wajahnya dengan lembut, lalu menghapus air mata yang menetes disudut matanya.
Hana membuka mata dan menemukan Dibran tengah menatapnya tanpa senyuman. Ia bahkan tidak mengetahui laki-laki ini masuk ke kamar.
“Nggak capek nangis terus, hm?” tanya laki-laki itu yang tidak dijawab Hana.
“Mas kenapa tiba-tiba berubah kayak gini?” tanya Hana pelan, suaranya juga parau karena tangis.
Dibran tersenyum lembut. Ia lebih mendekatkan tubuhnya dengan Hana. Tangannya juga tidak lepas dari pipi sang istri yang sangat lembut sembari mengelusnya dengan jempol.
“Nggak ada yang berubah. Karena sejujurnya, waktu itu aku hanya sedang menahan diri untuk tidak menyentuhmu sama sekali.”
Kening Hana mengkerut. “Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin berhubungan dengan seseorang yang masih sibuk dengan orang lain dihatinya,” jawab Dibran dengan jelas, membuat Hana terdiam.
“Dan setelah melihat kejadian tadi dan perkataan kamu mengenai hubungan kalian sudah selesai secara langsung, mulai detik ini aku akan nunjukin bagaimana seharusnya sikap seorang suami pada istrinya. Mungkin dengan hal-hal yang seperti ini misalnya?”
Hana hanya menatap bola mata Dibran secara bergantian. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat karena sentuhan dan tatapan lembut laki-laki itu padanya.
“Mas nggak marah?”
“Mengenai?”
“Kejadian tadi.”
“Aku lebih marah saat kamu memilih berbohong dibanding bilang hal yang sebenarnya, ketika aku tanya tentang hubunganmu dengan laki-laki lain seminggu sebelum pertunangan kita –didalam mobil.”
Hana nampak menegang. Ia terkejut. “M-mas tahu kalau aku bohong?” Dibran mengangguk.
“Bagaimana mungkin?”
Dibran kembali tersenyum. “Setelah aku ngantarin kamu pulang dimalam pertemuan pertama kita, aku nanya sama Papa soal kamu. Papa bilang, ide perjodohan kita itu dari Papa kamu. Walaupun Papa kamu tahu kalau kamu udah punya pacar, tapi hal itul yang jadi alasan kenapa Papa mau jodohin kita.”
“Karena Papa udah tahu semuanya?”
Dibran menggeleng. “Tapi setelah itu, aku izin sama Papa kamu untuk cari tahu tentang kamu. Karena yang akan jalanin hubungan ini aku, jadi aku berhak tahu tentang kamu dulu. Mulai dari sana, aku mulai cari tahu. Dan menemukan hal-hal yang bikin aku yakin untuk menjadikan kamu sebagai pendamping aku seumur hidup.”
“Apa itu?”
“Aku sering melihat Galang bertemu dengan perempuan yang berbeda-beda. Pada saat dibandara –pertama kali aku sampai di Jakarta. Dan perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan yang kamu lihat didepan tadi. Di kampus, bahkan waktu dijalan aku juga pernah melihat Galang membonceng perempuan yang aku yakin itu bukan kamu. Karena kamu ada sama aku waktu itu.”
“M-maksud Mas?” Hana semakin tercekat mendengar penuturan Dibran yang sangat lugas. Sehingga sulit bagi Hana untuk mempercayai jika suaminya itu sedang berbohong saat ini.
“Kamu ingat aku yang melamun dilampu merah sampai-sampai diklaksonin sama pengendara lain?”
Hana mengangguk.
“Saat itu aku lagi lihat seorang laki-laki yang aku ingat seorang mahasiswa di kelas aku yang juga pacar kamu.”
Dibran dengan segera memeluk Hana ketika perempuan itu kembali menangis sesenggukan. Ia menyingkirkan guling yang menghalangi sehingga tubuh mereka tidak terhalang apapun untuk bersentuhan.
Dibran membiarkan Hana menangis dipelukannya lagi. Mengelus rambut serta memberikan tepukan pelan dipunggung perempuan itu.
^^^
| 28. Aku Kekasih Halalmu –
After That |
***
Hana melempar plastik sampah yang masih ia genggam itu pada wajah Galang dengan kasar.
“Sampah!” gumamnya, lalu meninggalkan laki-laki yang sudah resmi menjadi mantannya itu di sana.
Sedangkan Dibran, dia sangat puas dengan sikap istrinya yang tidak menye-menye saat mengetahui jika kekasihnya berselingkuh. Tidak ada tindakan meraung-raung ataupun drama yang terjadi. Hana bahkan berani menampar bolak-balik laki-laki itu tanpa gentar.
Speechless!
Ketika mengikuti jejak Hana hingga ke kamar, Dibran menemukan Hana yang duduk dipinggir kasur sambil menumpukan kedua sikunya di atas lutut. Tangannya berada di kening dengan mata tertutup.
Galang laki-laki yang baik
Hana merasakan sesak di dadanya. Air mata yang menetes tanpa isakan cukup menjelaskan la;au sakitnya tak hingga.
Semua hal yang sudah dilakukannya untuk laki-laki itu ternyata sia-sia. Kepercayaan yang selalu diberikannya nyatanya disia-siakan oleh Galang dengan cara yang paling murahan.
Tapi dia tidak baik untuk putri Papa
Berselingkuh disaat ia berjuang mati-matian perjodohannya dengan laki-laki lain dibatalkan. Bahkan ia rela membohongi papanya demi Galang –agar mereka tetap bisa bersama.
Tetapi ternyata ... Semuanya ...
Galang baik, tetapi nggak buat kamu
Isakanya mulai menggema. Namun masih sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak terbuang percuma untuk laki-laki brengsek seperti Galang.
Semua perkataan papa-nya tentang Galang terbukti hari ini. Semuanya jelas. Papa tidak pernah salah untuk menentukan hal yang tebaik untuknya. Membuat ia semakin kecewa, patah, pecah, hancur dan berantakan.
Hana kecewa pada dirinya. Hana kecewa karena meragukan ayahnya. Hana …
Menyerah.
Hana tidak sanggup. Hana meledak. Suaranya menggema diseluruh kamar. Melengking kencang hingga memecah kesunyian kamar dimalam hari, membuat tenggorakannya seperti akan rusak.
Kedua matanya melotot dengan air mata yang ikut turun serta mulut yang terbuka lebar tanpa kata. Dengan kedua tangan yang terkepal kuat, ia mengambil lalu melempar lampu, ponsel, buku-buku, dan apapun yang bisa ia gapai untuk meluapkan kemarahannya.
Hingga sebuah pelukan menghentikan pergerakan Hana. Tidak hanya berhenti, Hana bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri kalau saja Dibran tidak menahannya.
Dibaran menahan Hana lalu membawanya ke pinggir tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya.
Sedangkan Hana, perempuan itu menjatuhkan air matanya didada bidang laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Laki-laki itu mencium kening Hana dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan agar istrinya itu tidak lagi histeris. Membelai rambut sang istri dengan lembut dan mempererat pelukan.
“Sst ... Tenang, ya, tenang,” kata Dibran dengan pelan pada Hana yang semakin terisak.
Perempuan itu meremas jas Dibran dengan erat melampiaskan emosi yang tidak tertahan di dadanya. Sesak itu masih menghimpit dadanya dengan hebat. Ia tidak menyangka jika laki-laki yang ia cintai dengan tega melakukan hal rendahan seperti ini.
Hana bahkan memukul-mukul dada Dibran dengan brutal sebagai pelampiasan. Tidak peduli dengan seseorang yang memeluknya saat ini akan merasakan sakit. Walaupun nyatanya, Dibran tidak masalah sedikitpun. Ia masih tetap dengan setia memeluk dan menenangkan Hana.
Hingga tidak terasa satu jam lamanya Hana menangis, dan berakhir tertidur dipelukan suaminya. Dibran hanya bisa menghela napas pelan saat melihat wajah sembab dari istrinya itu.
Dengan perlahan, Dibran membaringkan tubuh Hana diatas kasur dan menyelimutinya hingga batas dada. Sesaat sebelum beranjak, Dibran meneliti wajah Hana dengan intens. lalu mencodongkan badannya untuk mencium kedua mata, kedua pipi, hidung, dan yang terakhir kening Hana dengan lembut.
Sebelum beranjak mandi, laki-laki yang masih mengenakan pakaian kantor itu membereskan barang-barang yang sudah dihancurkan istrinya itu lebih dahulu. Selesai dengan itu, barulah ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
^^^
“Tuan ingin makan?”
Dibran mengangguk menjawab pertanyaan dari bi Ijah. “Tapi saya sama Hana makan dikamar saja, Bi.”
“Baik, Tuan. Akan Bibi siapkan.”
Laki-laki itu menggeleng. “Nggak usah, Bi. Saya aja. Pekerjaan Bibi udah selesai, jadi bisa langsung pulang.”
Bi Ijah mengangguk, tetapi ia tidak langsung beranjak dari sana. “Maaf Tuan, kalau Bibi lancang.”
Dibran menatap bi Ijah. Tangannya pun berhenti saat menyendok makan ke piring. “Kenapa, Bi?”
“Tadi Bibi dengar ada benda-benda yang dilempar, Tuan. Ada apa, ya? Terjadi sesuatu sama Non Hana, ya Tuan?”
Bi Ijah terlihat khawatir karena mendengar benda-benda pecah barusan. Mengingat hanya dirinya dan dua majikannya yang ditempat ini, jadi bi Ijah langsung berasumsi kalau majikan perempuan-nya kenapa-kenapa.
Dibran mengerti, tapi dia hanya bisa memberikan senyum tipis. “Bibi nggak perlu khawatir. Suasana hatinya memang lagi nggak baik. Tapi sekarang Hana juga lagi istirahat.”
Walaupun bi Ijah masih belum bisa tenang, wanita paruh baya itu berusaha untuk percaya saja, karena dirinya tidak punya wewenang lebih untuk bertanya lagi.
Bi Ijah pun beranjak dan bersiap untuk pulang, karena pekerjaannya memang hanya dari jam enam pagi hingga delapan malam. Beliau juga diantar jemput oleh supir. Serta tempat tinggal yang sudah disediakan Dibran tidak jauh dari apartemen miliknya ini.
“Bibi ijin pulang, Tuan.”
Dibran hanya mengangguk, dan setelah menyelesaikan makanan untuknya dan Hana, laki-laki itu segera beranjak menuju kamar.
Tidak terlalu sulit, setelah membuka pintu kamar menggunakan satu tangan kiri, Dibran menutup pintu menggunakan kakinya. Kemudian mendekati kasur dan meletakkan nampan berisi makanan diatas nakas.
Dengan pelan, Dibran duduk samping istrinya yang masih tertidur dengan pulas namun nampak tak tenang. Dengan penuh kelembutan, Dibran menggosok kening Hana yang mengkerut itu dengan lembut menggunakan jempol. Bermaksud agar kerutan itu menghilang.
Dibran ingin membangunkan istrinya, tetapi tidak tega. Tetapi ia juga semakin tidak tega ketika membiarkan istrinya untuk tidak makan malam sebelum tidur. maka dari itu, ia dengan terpaksa membangunkan Hana dengan mengelus kepala dan pelipis Hana.
“Hana?” Panggil Dibran dengan pelan.
Laki-laki itu juga mengelus pundak Hana dengan lembut. “Han, bangun dulu. Kamu belum makan.”
Dengan perlahan, mata yang tertutup itu bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu terbuka dengan sempurna sembari menyesuaikan cahaya dengan retina matanya.
Hana melenguh. “Hm?” perempuan itu nampak linglung.
“Bangun dulu, kamu belum makan. Nanti tidur lagi,” kata Dibran yang semakin membuat Hana bingung.
Ada apa?
Secepat ia bertanya, secepat itu ia bisa mnejwabnya. Ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Jadi itu bukanlah mimpi?
Hana menghela napas pendek. Tiba-tiba dadanya kembali sesak, napasnya memburu. Bajingan sialan!
“Udah jangan pikirin apapun dulu. Sekarang makan dulu, yuk.”
Ucapan dari Dibran mengalihkan atensinya. Ia kemudian menatap suaminya itu dalam diam. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya saat ini.
“M-mas ...”
Seketika panggilannya untuk Dibran langsung berubah. Hal yang juga membuat Dibran langsung menghentikan kegiatannya yang akan menjangkau makanan untuk Hana. Tak lama, laki-laki tersenyum tipis sambil menatap Hana.
“Hm? Kita makan dulu,” ucap Dibran yang diangguki Hana. Ia kemudian duduk dibantu sang suami.
Dibran mengambil piring makan untuk Hana.
“Aku suapi?” Hana terdiam. Ia sedikit bingung dengan sikap Dibran saat ini. Kenapa Dibran tiba-tiba menjadi lembut seperti ini?
“Hey.” Hana tersentak, dan hal itu sontak membuat tawa pelan muncul dari laki-laki itu. Hal yang semakin membuat Hana terpaku. Apakah ini Dibran? Pikir Hana.
“Kamu mau aku suapi?” Hana lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Ia mengambil piring itu.
Dibran mengangguk lalu ikut mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka mulai makan dengan keheningan dikamar itu.
“Aku mau ketemu Papa,” ucap Hana tiba-tiba. Ia menatap Dibran yang sedang mengambil air. Setelah meminumnya, laki-laki itu lalu menatap Hana dengan senyuman tipis.
Dibran mengangguk. “Besok kita ke sana.”
Tersenyum lagi
“Kamu udah selesai makannya?” tanya Dibran pada perempuan yang didepannya itu.
“Udah.”
Dengan cekatan Dibran mengambil piring ditangan Hana dan ditaruhnya diatas nampan tadi. Ia juga mengambilkan minuman itu Hana, yang diterima baik oleh perempuan itu.
Setelah selesai, Hana meletakkannya kembali ke nampan tadi.
“Sekarang kamu bersih-bersih, gih. Ganti baju juga, terus lanjut tidur. Aku antar ini ke dapur dulu.”
Tanpa menunggu respon Hana, Dibran langsung berdiri sambil membawa nampan berisi piring kotor itu keluar kamar. Hana memperhatikan punggung tegap Dibran dengan pandangan berbeda.
Dia ... Berbeda.
Tetapi, Hana juga melakukan hal yang dikatakan Dibran. Ia membersihkan diri dan mengganti baju dengan piyama.
Setelah selesai, ia kembali beranjak ke kasur dan berbaring menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang mengenai fakta yang baru saja ia ketahui dari Galang. Ia sama sekali tidak menyangka dengan kelakuan laki-laki itu padanya. Berselingkuh.
Apa yang kurang darinya? Apa yang salah darinya? Kenapa Galang memilih menduakannya?
Pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu menjadi tanda tanya yang besar dikepalanya. Tetapi salam sekali tidak mendapatkan jawaban.
Papa ...
Hana menjadi ingat akan papanya mengenai hal ini. Jadi ini maksud dari ucapan papanya beberapa bulan yang lalu? Hana menghela napasnya pendek, kemudian menyampingkan badannya sambil memeluk guling.
Perempuan itu menutup mata yang menyebabkan air matanya menetes tanpa terasa. Mengapa sesak ini tidak kunjung hilang? Hana terisak tanpa bisa ditahan. Ia kembali menangis entah untuk kelakuan bejat Galang, atau karena kepekaan sang papa perihal kebahagiaan nya. Ia memeluk guling dengan erat, melampiaskan emosi yang masih tertahan ditubuhnya.
Seseorang kemudian membelai wajahnya dengan lembut, lalu menghapus air mata yang menetes disudut matanya.
Hana membuka mata dan menemukan Dibran tengah menatapnya tanpa senyuman. Ia bahkan tidak mengetahui laki-laki ini masuk ke kamar.
“Nggak capek nangis terus, hm?” tanya laki-laki itu yang tidak dijawab Hana.
“Mas kenapa tiba-tiba berubah kayak gini?” tanya Hana pelan, suaranya juga parau karena tangis.
Dibran tersenyum lembut. Ia lebih mendekatkan tubuhnya dengan Hana. Tangannya juga tidak lepas dari pipi sang istri yang sangat lembut sembari mengelusnya dengan jempol.
“Nggak ada yang berubah. Karena sejujurnya, waktu itu aku hanya sedang menahan diri untuk tidak menyentuhmu sama sekali.”
Kening Hana mengkerut. “Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin berhubungan dengan seseorang yang masih sibuk dengan orang lain dihatinya,” jawab Dibran dengan jelas, membuat Hana terdiam.
“Dan setelah melihat kejadian tadi dan perkataan kamu mengenai hubungan kalian sudah selesai secara langsung, mulai detik ini aku akan nunjukin bagaimana seharusnya sikap seorang suami pada istrinya. Mungkin dengan hal-hal yang seperti ini misalnya?”
Hana hanya menatap bola mata Dibran secara bergantian. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat karena sentuhan dan tatapan lembut laki-laki itu padanya.
“Mas nggak marah?”
“Mengenai?”
“Kejadian tadi.”
“Aku lebih marah saat kamu memilih berbohong dibanding bilang hal yang sebenarnya, ketika aku tanya tentang hubunganmu dengan laki-laki lain seminggu sebelum pertunangan kita –didalam mobil.”
Hana nampak menegang. Ia terkejut. “M-mas tahu kalau aku bohong?” Dibran mengangguk.
“Bagaimana mungkin?”
Dibran kembali tersenyum. “Setelah aku ngantarin kamu pulang dimalam pertemuan pertama kita, aku nanya sama Papa soal kamu. Papa bilang, ide perjodohan kita itu dari Papa kamu. Walaupun Papa kamu tahu kalau kamu udah punya pacar, tapi hal itul yang jadi alasan kenapa Papa mau jodohin kita.”
“Karena Papa udah tahu semuanya?”
Dibran menggeleng. “Tapi setelah itu, aku izin sama Papa kamu untuk cari tahu tentang kamu. Karena yang akan jalanin hubungan ini aku, jadi aku berhak tahu tentang kamu dulu. Mulai dari sana, aku mulai cari tahu. Dan menemukan hal-hal yang bikin aku yakin untuk menjadikan kamu sebagai pendamping aku seumur hidup.”
“Apa itu?”
“Aku sering melihat Galang bertemu dengan perempuan yang berbeda-beda. Pada saat dibandara –pertama kali aku sampai di Jakarta. Dan perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan yang kamu lihat didepan tadi. Di kampus, bahkan waktu dijalan aku juga pernah melihat Galang membonceng perempuan yang aku yakin itu bukan kamu. Karena kamu ada sama aku waktu itu.”
“M-maksud Mas?” Hana semakin tercekat mendengar penuturan Dibran yang sangat lugas. Sehingga sulit bagi Hana untuk mempercayai jika suaminya itu sedang berbohong saat ini.
“Kamu ingat aku yang melamun dilampu merah sampai-sampai diklaksonin sama pengendara lain?”
Hana mengangguk.
“Saat itu aku lagi lihat seorang laki-laki yang aku ingat seorang mahasiswa di kelas aku yang juga pacar kamu.”
Dibran dengan segera memeluk Hana ketika perempuan itu kembali menangis sesenggukan. Ia menyingkirkan guling yang menghalangi sehingga tubuh mereka tidak terhalang apapun untuk bersentuhan.
Dibran membiarkan Hana menangis dipelukannya lagi. Mengelus rambut serta memberikan tepukan pelan dipunggung perempuan itu.
^^^
suexxx gak mudeng aku lama2 sama para karakter di novel ini.