NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Riak di Dalam Sekte

Kemenangan Lin Feng di Arena Batu menyebar seperti api di padang kering. Belum sehari berlalu, kabar itu sudah sampai ke setiap sudut Sekte Langit Biru—dari aula latihan para murid baru, hingga ruang-ruang meditasi para murid inti.

Nama Lin Feng, yang sebelumnya hanya disebut sebagai kutukan, kini bergema di setiap percakapan setiap penghuni sekte.

“Benarkah dia mengalahkan Zhao Liang dengan tubuhnya sendiri?”

“Aku dengar dia berhasil menghancurkan Penjara Angin milik Zhao Liang dari dalam. Mana mungkin? Jurus itu terkenal tak bisa ditembus.”

“Tubuhnya memang aneh. Ada yang bilang itu kutukan, tapi sepertinya lebih seperti berkat tersembunyi.”

Bisikan-bisikan itu tidak hanya berisi kekaguman. Banyak juga yang memandangnya dengan iri.

“Hmph, mungkin itu hanya keberuntungan. Kalau Zhao Liang tidak lengah, Lin Feng pasti sudah tumbang.”

“Benar, jangan terlalu meninggikan dia. Sekte ini punya banyak murid hebat. Dia bukan apa-apa dibanding Liu Tian atau murid inti lainnya.”

Riak besar mulai terbentuk. Seseorang yang tadinya dianggap hina tiba-tiba melonjak ke atas, membuat keseimbangan status di antara murid goyah.

***

Di kediaman keluarga Zhao, suasana mencekam. Zhao Liang berbaring di ranjang dengan tubuh penuh perban, wajahnya pucat namun matanya masih menyala merah. Di sekelilingnya, beberapa tetua keluarga berdiri dengan wajah masam.

“Memalukan!” salah satu tetua menghentakkan tongkat ke lantai. “Bagaimana mungkin pewaris keluarga Zhao kalah dari seorang kutukan? Ini mencoreng nama kita di seluruh sekte!”

Zhao Liang mengepalkan tangan hingga darah merembes dari luka di telapak tangannya. “Aku akan membalas, Paman. Aku bersumpah akan menginjak Lin Feng di depan semua orang!”

Tetua lain berdehem pelan. “Hati-hati. Anak itu punya tubuh aneh. Jika dibiarkan, ia bisa menjadi ancaman bagi keluarga kita.”

Seorang tetua yang berambut putih menatap tajam. “Kalau begitu, jangan biarkan dia tumbuh. Sekte ini penuh intrik, tidak semua harus diselesaikan di arena.”

Ucapan itu membuat Zhao Liang menyeringai kejam. “Ya… kalau aku tidak bisa menjatuhkannya di arena, maka akan ada cara lain.”

***

Di aula latihan murid baru, kerumunan ramai membicarakan Lin Feng. Ada yang diam-diam mengaguminya.

“Andai aku bisa setegar itu. Dipukul berkali-kali tapi tetap berdiri.”

“Benar. Dia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya soal jurus megah, tapi tekad untuk bertahan.”

Namun di sisi lain, ada kelompok murid yang cemberut. Mereka berasal dari keluarga berpengaruh, merasa status mereka terganggu oleh nama Lin Feng yang tiba-tiba melejit.

“Dasar sampah beruntung,” kata salah satu dari mereka. “Kita lihat saja, berapa lama dia bisa bertahan. Kalau dia bertemu lawan yang lebih kuat dari Zhao Liang, dia pasti roboh dalam sekejap.”

Suasana mulai terbelah—antara mereka yang mulai menghormati Lin Feng, dan mereka yang membencinya lebih dalam.

***

Sementara itu, di kediaman murid inti, Liu Tian duduk bersila di paviliunnya yang megah. Suasana di sekitarnya sunyi, hanya suara angin yang lewat di antara pepohonan pinus.

Beberapa murid datang menemuinya, memberi kabar tentang kemenangan Lin Feng.

“Senior Liu Tian, semua murid kini membicarakan Lin Feng. Mereka mulai menganggapnya hebat.”

“Ya, bahkan ada yang berkata dia bisa menjadi salah satu murid inti terbaik di masa depan.”

Ucapan itu membuat mata Liu Tian menyipit. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun bukan senyum kebahagiaan.

“Murid inti terbaik?” katanya pelan. “Kalian terlalu tinggi menilai dia. Dia hanyalah anak yang baru bisa berdiri setelah tersandung.”

Namun dalam hatinya, kebencian membara. Lin Feng adalah saudara seperguruan, murid yang diambil oleh guru yang sama. Seharusnya ia yang selalu berdiri paling tinggi, tak tertandingi. Kehadiran Lin Feng, dan sorak-sorai yang ditujukan padanya, terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya.

Ia teringat saat di arena tadi, ketika ia memberi ucapan selamat yang pura-pura. Tatapan Lin Feng yang tidak tunduk padanya masih melekat di ingatan.

“Hmph… baguslah,” gumamnya. “Semakin dia bersinar, semakin indah saat aku menghancurkannya. Aku akan pastikan semua orang menyaksikan perbedaan antara aku dan dia.”

***

Di aula pertemuan para tetua, diskusi serius berlangsung. Tetua Mo yang menyaksikan langsung duel itu berbicara dengan nada berat.

“Tubuh Lin Feng bukanlah kutukan. Aku menduga itu tubuh langka yang dapat menyerap tekanan energi dan memperkuat pemiliknya.”

Seorang tetua lain menimpali, “Itu justru lebih berbahaya. Jika tubuh itu berkembang tanpa kendali, dia bisa melampaui batasan manusia biasa. Kita harus waspada.”

Tetua ketiga menggeleng. “Bukankah itu bagus untuk sekte? Memiliki murid dengan bakat luar biasa bisa memperkuat nama Sekte Langit Biru.”

Tetua Mo menatapnya dalam. “Kau terlalu naif. Kekuatan besar selalu mengundang bencana. Anak itu tidak bisa dilepaskan begitu saja.”

Namun sebelum perdebatan makin panas, Yunhai yang duduk di ujung meja akhirnya bicara.

“Lin Feng adalah muridku. Selama aku ada di sini, tak seorang pun boleh mengusiknya. Jika kalian ingin menyentuhnya… kalian harus melewati aku lebih dulu.”

Suasana mendadak hening. Para tetua saling pandang, tak ada yang berani membalas langsung. Yunhai dikenal keras kepala, dan tidak ada yang ingin berhadapan dengannya tanpa alasan kuat.

***

Di kediaman sederhana yang ditempatinya, Lin Feng duduk bersandar di ranjang bambu. Luka-lukanya masih perih, tapi ia menolak untuk berbaring terlalu lama. Dalam hatinya, kemenangan itu bukanlah akhir, justru awal dari tekanan baru.

Mei Xue duduk di sampingnya, mengganti perban dengan hati-hati. “Sejak duel itu, semua orang membicarakanmu. Ada yang kagum, ada yang benci. Aku khawatir, Lin Feng.”

Lin Feng tersenyum lemah. “Aku sudah terbiasa dibenci. Bedanya sekarang… ada juga yang percaya padaku.”

Mei Xue menunduk, lalu berkata pelan, “Jangan terlalu keras pada dirimu. Kau sudah melangkah terlalu jauh.”

Lin Feng terdiam sejenak. Kata-kata gurunya terngiang kembali di kepalanya: ‘Kemenanganmu akan membuat banyak mata tertuju padamu, baik yang mendukung maupun yang ingin menghancurkanmu.’

Ia mengepalkan tangan. “Aku tidak akan mundur. Jika semua orang ingin melihatku jatuh, aku akan berdiri lebih kuat. Aku akan buktikan bahwa aku pantas berada di sini.”

***

Malam itu, Sekte Langit Biru tampak tenang dari luar. Namun di dalamnya, riak-riak kecil mulai berubah menjadi gelombang.

Keluarga Zhao merencanakan langkah balas dendam. Para tetua berdebat tentang bahaya tubuh Lin Feng. Liu Tian, saudara seperguruan yang paling berbakat, menyimpan senyum dingin penuh kebencian.

Dan Lin Feng sendiri, meski tubuhnya penuh luka, mulai menapaki jalannya dengan tekad bulat.

Di langit, bulan pucat menggantung di antara awan tipis. Seolah menjadi saksi, bahwa badai besar sedang bersiap melanda Sekte Langit Biru.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!