𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥 𝐚𝐧𝐝 𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐚𝐳𝐲.
𝐁𝐮𝐭 ... 𝐒𝐡𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞𝐬 𝐡𝐢𝐦.
Bagaimana perasaanmu ketika dipaksa menjadi istri dari pria yang tidak dikenal?
Diperlakukan kejam, diklaim sebagai miliknya, dan dihina dengan kalimat-kalimat sarkas.
Elva mengalami semua hal itu setelah menikah dengan CEO sosiopat bernama Zeyan Kai.
Awalnya Elva berpikir akan segera bebas dari belenggu pria itu jika ia memberitahukan hal yang sebenarnya---kalau dia bukan lah perempuan yang seharusnya menikah dengan Zeyan.
Akan tetapi semua ucapannya selalu dianggap omong kosong belaka di mata pria tersebut. Elva menerima kenyataan jika identitasnya dianggap sebagai orang lain oleh Zeyan. Tapi kenyataannya ... pria itu sudah mengetahuinya segalanya tentangnya.
Zeyan berbohong dengan alasan kalau pria itu menyukai Elva setelah beberapa bulan tinggal bersama.
Di satu sisi Elva merasa kecewa dan marah, namun di sisi lain dia juga merasakan perasaan tabu padanya. Terlebih lagi masalah selalu berdatangan dan menentang mereka untuk hidup bersama.
Kesalahpahaman, ego, dan latar belakang menjadi tembok pemisah di antara mereka berdua.
(JUDUL AWAL ISTRI TAWANAN)
Genre : Romance, Young adult, Action.
copyright©2020
By : Kadewa Gregoria Hanum/Gege Hanum
Ig @i_kadewa
#KARYA HANYA ADA DI NOVELTOON/MANGATOON!!
#TIDAK MENOLERANSI SEGALA BENTUK PLAGIARISME
#JADWAL UP SESUAI MOOD PENULIS!!
[ KALO MAU CEPET UPDATE, VOTE+HADIAH DAN KOMEN BANYAK-BANYAK 🐣🐥 ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gege Hanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MWS : PART XXIX
...JANGAN LUPA KOMEN 💬 DAN LIKENYA👍 INGAT, JADI SILENT READER ITU BENER2 GAK MENGHARGAI PENULIS🦋❤️ AWAS TYPO👋🙏...
...<•🦋•>...
Elva menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Matanya sembab karena mengeluarkan banyak air mata. Dia tahu mungkin tidur satu ranjang dengan Zeyan bukan pertama kali baginya. Hanya saja … melihat pakaiannya sudah terganti begitu pula Zeyan yang hanya memakai handuk kimono, membuat beberapa pemikiran negatif berseliweran di kepalanya.
Sebagai gadis 21 tahun yang belum pernah berpacaran, tentu hal seperti ini membuatnya takut serta merasa hina. Yeah, Elva mengakui akhir-akhir ini Zeyan lumayan bersikap baik dan lebih lembut padanya. Tapi untuk merampas sesuatu yang ia jaga, apakah tidak keterlaluan?
“Katakan, apakah kau mempe*kosaku?” Gadis itu mengulangi pertanyaannya.
Zeyan terdiam, membisu untuk kesekian kali melihat lelehan air mata yang keluar dari sudut mata gadis yang kemarin malam mabuk dan hampir membuatnya kelepasan.
“Aku tidak menyentuhmu sama sekali,” suara Zeyan terdengar serak.
“Lalu kenapa bajuku bisa diganti? Dan kenapa aku berakhir di ranjangmu?” Elva benar-benar marah padanya.
Meskipun nada bicara gadis itu tidak seperti membentak, namun Zeyan bisa menyadari bahwa dia telah mengecewakan hatinya.
“Aku tahu kalau kamu masih menganggapku sebagai istrimu. Tapi tanpa seijinku … kamu tidak berhak menyentuhku seperti ini!”
Tangisan Elva semakin keras. Zeyan berdecak lalu beranjak dari tempat tidurnya. Lelaki itu mendekat, memperlihatkan bajunya kemarin malam yang terkena cairan muntahan berbau busuk.
“Kau lihat bajumu?” tanya Zeyan mendablangkan baju Elva di depan matanya. “Kemarin malam kau mabuk, muntah di bajumu dan juga bajuku.”
Zeyan melemparkan kembali baju itu ke dalam keranjang cucian. Berkacak pinggang di depan perempuan yang kini menatapnya dengan mata sembab.
“Terus yang menggantikan baju aku siapa?”
“Tentu saja pelayan di rumah ini.”
“Dan kenapa aku sampai tertidur di kamar yang sama denganmu?”
“Apa aku harus menjelaskannya?”
Elva melotot, “Kamu harus!”
Zeyan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. Pagi-pagi disambut dengan teriakan dan banyak pertanyaan bukan lah hal yang Zeyan inginkan. Ia menempatkan diri duduk di samping Elva, menahan bahu gadis itu kemudian menatap matanya lekat.
Seolah-olah, tatapannya mengisyaratkan kepadanya, bahwa semua pikiran negatif yang ia pikirkan sama sekali tidak terjadi.
Tuk
Zeyan mengetuk kening Elva lalu mendengus pelan. Sudut bibirnya tertarik sedikit melihat Elva yang mengusap-usap keningnya dengan muka cemberut.
“Sebelum menuduhku melakukan hal itu padamu, seharusnya kau berpikir dulu.” Zeyan memberi nasihat. “Kalau aku menyentuhmu, bukankah bagian bawahmu akan terasa nyeri? Tapi aku memakluminya karena kau adalah gadis yang bodoh. Jadi tidak perlu minta maaf, aku sudah memaafkanmu.” ujar Zeyan yang mana malah membuat Elva semakin emosi.
Zeyan melotot saat tubuhnya ditimpuk bantal guling oleh Elva. Gadis ini benar-benar deh. Sudah diperlakukan sebaik mungkin, malah semakin berani. Jangan sampai Zeyan benar-benar menyiksanya nanti.
Menyiksa di kamar tidur tentunya.
“Tck! Berhenti melempariku bantal bodoh!” peringat Zeyan. Elva tak mendengarkan. Mau tak mau Zeyan ikut naik ke ranjang, mengambil guling lalu memukul kepala Elva tak kalah keras.
Laki-laki itu tertawa penuh kemenangan ketika lawannya terjengkang. Karena Elva itu cengeng, dia langsung menangis saat punggungnya membentur lantai.
Tak tega, Zeyan merangkak mendekatinya. Mengulurkan tangannya mencoba membantu Elva supaya kembali naik ke tempat tidur. Akan tetapi gadis cengeng itu merubah ekspresinya, tersenyum licik lalu menarik lengan Zeyan supaya ikut tersungkur bersamanya.
Tapi apa ini?!
Spontan kedua bola mata mereka melebar saat bibir mereka kembali menyatu. Bukan hanya itu, Elva mendadak kaku ketika salah satu tangannya yang bebas menyentuh sesuatu yang bulat semacam kue mochi di bawah sana.
Knyut
Zeyan mengerang samar karena dua bola kembarnya ditekan tak sengaja. Mencoba melepaskan diri, kedua manusia yang berpose ambigu itu terkejut saat pintu kamar terbuka tiba-tiba. Menampilkan Fabian yang melongo di ambang pintu dengan mulut menganga. Sedetik kemudian, lelaki bermarga Marley itu bersiul menggoda.
“Waw! Film p*rno di pagi hari.” Fabian tertawa, menyilangkan kedua lengannya sambil melirik ke arah yang harusnya disensor emot burung. “By the way, Zeyan. Ukuranmu masih kalah jauh dengan punyaku.” tunjuk lelaki itu ke dalam celananya yang menggembung.
Sialan! Fabian malah ikut-ikutan er*ksi melihat mereka begini.
...••🦋••...
“Nyonya, tadi pagi aku mendengar teriakanmu di—”
“Bukan aku!”
Mia mengerutkan alisnya. Aneh! Padahal suara teriakan yang ia dengar sama persis seperti suaranya. “Tapi Nyonya aku lihat kamu keluar dari kamar—”
“Bukan aku!” Elva melemparkan spons cuci piring ke dalam wastafel. Mia yang kaget bertanya-tanya dalam hati apakah Nyonya-nya ini salah minum obat atau apa. “Aku bilang bukan aku!!” teriak Elva frustasi.
“Tapi aku belum bertanya.” Mia bingung harus bagaimana menghadapinya. Elva mendelik, meniup poninya dengan kesal. Pipinya berubah warna seperti kepiting rebus yang baru saja dimasak.
Gadis yang rambutnya dikuncir ke belakang itu menjedotkan kepalanya ke tembok beberapa kali. Berharap apa yang ia lakukan sekarang bisa menghapus kejadian memalukan tadi. ****! Keningnya malah sakit. Mia menggaruk kepalanya tanpa tahu cara menghentikan Elva.
“Arghhh!!” Elva berteriak kencang. Membuat beberapa pelayan di sekitaran situ menatapnya keheranan.
“Kenapa aku harus menyentuh itunya? Dan kenapa juga dia tidak memakai celana dal*m, boxer ataupun semacamnya?!” tanya Elva seperti orang gila yang berbicara sendiri. Tak mau tertular, diam-diam Mia ngacir meninggalnya. Membiarkan beberapa tumpukan piring kotor dikerjakan sendiri oleh Elva. “Apa laki-laki itu gila? Orang mana yang tidur tanpa memakai celana dal*m? Dan bagaimana bisa dia tenang-tenang saja setelah kejadian memalukan seperti itu?!”
Elva membasuh piring kotor dengan perasaan kesal plus malu. Seumur hidup ia belum pernah memegang apalagi menyentuh kebanggaan seorang pria. Ditambah, ada Fabian juga di sana. Pria itu pasti akan selalu mengganggunya setelah ini. Elva benar-benar ingin menggali lubang yang dalam, lalu masuk dan mengubur dirinya hidup-hidup.
Gadis itu melirik ruang tamu. Di sana ada Zeyan yang sedang berbincang dengan Fabian. Merasa diperhatikan, Zeyan menengokkan kepalanya. Tersenyum tipis seraya memangku sebelah pipinya saat mengetahui siapa orang yang diam-diam meliriknya.
“Apa yang dia senyumkan?” Elva mendesis jijik kemudian membuang mukanya kembali. Walaupun begitu, jantungnya langsung berdebar keras tak karuan.
Di sisi lain, Zeyan mendegus geli melihat tingkah Elva. Fabian yang mengikuti arah pandangan teman satu kampusnya itu memutar bola matanya malas. Berdehem singkat, Fabian menirukan gerakan muntah saat Zeyan mulai terkekeh.
“Cuih! Rasanya pagi-pagi ini perutku sangat mual.” Fabian menyindir. Potongan biskuit cokelat di depan meja langsung ia sambar dengan cepat. Berdecih dikala Zeyan malah cuek bebek terhadapnya.
“Zeyan,” panggil Fabian.
“Hmm?”
“Kalau aku panggil seharusnya kau menoleh,”
Zeyan menolehkan kepalanya, “Apa?” tanya laki-laki itu singkat.
“Di matamu, kau anggap apa Kak Elva?” Fabian bertanya penasaran. “Kalau kau tahu kak Elva itu bukan gadis yang harusnya kamu nikahi, kenapa tidak memberitahunya saja? Well, ini memang bukan urusanku sama sekali. Tapi Elva itu terlihat seperti gadis lugu. Kuharap kau jangan membohonginya terus-menerus. Ingat, kebohongan itu pasti akan terbongkar suatu saat, dude!”
Zeyan terdiam, perkataan Fabian membuatnya berpikir sejenak. Benar juga, Zeyan sudah lama membohongi gadis itu. Yang Elva tahu, Zeyan masih menganggap dirinya sebagai anak dari keluarga Surya dan juga istrinya. Bahkan, hampir lima bulan Elva tinggal di rumahnya. Namun gadis itu sama sekali tidak tahu kalau Zeyan sudah mengetahui identitasnya sejak lama.
“Ingat dude, perempuan paling benci yang namanya dibohongi.” Fabian menepuk pundaknya lalu menegak minuman soda. Zeyan mungkin lupa akan janjinya semalam untuk membuat perhitungan karena Fabian menaruh bir di rumahnya.
“Apa yang harus aku lakukan?” Wajah Zeyan seakan cemas jika halnya Elva mungkin akan mengamuk karena ia sudah membohonginya.
“Aku tidak percaya Zeyan Kai tengah meminta pendapat padaku.” goda Fabian menaik-turunkan alisnya.
“Kalau begitu lupakan, aku bisa menelpon tuan Marley sekarang.”
Fabian terkekeh kecil, “Baiklah aku hanya bercanda padamu. Just kidding, okay? Ini sederhana. Yang pertama-tama aku harus bertanya padamu,” Kalimat Fabian terputus. Pria itu mendekatkan diri kepada Zeyan. Seperti sedang merundingkan sesuatu hal yang sangat penting. “Kau tanya pada dirimu sendiri, apakah kau menyukai Elva ataukah tidak?” tanya Fabian setelahnya.
“Menurutmu?” Zeyan balik bertanya.
“Ya aku mana tahu sialan!” rutuk Fabian gereget. Ditanya serius, malah bertanya balik. Fabian curiga orang di sampingnya ini benar Zeyan yang IQ-nya tinggi itu atau bukan.
Zeyan berdehem singkat. “Aku tidak tahu. Yang kutahu, saat melihatnya … rasanya aku ingin sekali memilikinya. Baik itu tubuh atau hatinya, semuanya adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun membuatnya pergi dariku. Karena tanpa kehadirannya, aku merasa kehilangan sesuatu. Aku merasa saat aku menutup mata, dia tiba-tiba meninggalkan sendiri.” jelas Zeyan sungguh-sungguh.
Dulu, mungkin Zeyan bisa menerima Hiromi pergi darinya hingga beberapa tahun lamanya. Namun untuk yang sekarang, Zeyan pastikan ia tidak akan kehilangan orang yang benar-benar ia butuhkan dalam hidupnya.
“Jadi … apa ucapanku tadi sama maknanya dengan rasa suka?” Zeyan menatap serius wajah Fabian.
“Lebih tepatnya, 70 persen kau memang menyukai kak Elva. Dan 30 persen lainnya, sebagian besar adalah nafsumu,” Fabian mengedikkan bahunya ke atas. “It's oke, itu tidak masalah 'kan? Kita ini pria, tentu memiliki naf*u pada wanita bukan?” Fabian kembali menepuki bahu temannya itu.
“Sejujurnya Zeyan, akan lebih gampang lagi kalau kamu menyentuh dadamu saat berdekatan dengan kak Elva. Jika jantungmu berdebar kencang, itu tandanya kau menyukainya. Namun jika tidak, itu berarti kebalikannya. Bisa saja kak Elva bukan jodohmu, melainkan jodohku yang akan menyelamatkanku dari Marley.” Fabian nyengir dipelototi Zeyan. Kedua orang itu langsung menjadi akrab dalam beberapa hari karena Fabian sering memberi Zeyan petuah.
Sayang sekali, Zeyan ini lupa jikalau Fabian adalah buaya darat yang menjelma sebagai lelaki rupawan. Meminta nasihat kepada seorang playboy, Zeyan akan menyesal suatu hari nanti.
“Tuan, aku melihat mobil ayahmu baru saja masuk tadi.” Salah satu pelayan paruh baya menghampiri mereka.
Zeyan mengepalkan tangannya kuat. Mau apa lagi si tua bangka Noren itu? Jangan sampai, dia datang kemari hanya untuk membawa keributan di rumahnya.
“Noren …,” Fabian berpikir, “Noren itu ayahmu bukan?”
“Hm,” Zeyan beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu berjalan menuju pintu depan. Mengumpat dan memaki 'sialan' saat tahu orang yang datang lebih menyebalkan dari Noren sang ayah.
Dia … Kiara. Perempuan yang dipilihkan Noren untuk menjadi tunangannya.
...BERSAMBUNG...
UPDATENYA SATU-SATU SUPAYA GREGET 😴😴😪 AND YEAH, INI CERITA MEMANG SEDIKIT MEMBINGUNGKAN. GENRENYA AJA MISTERI, YA JELAS ALURNYA SEDIKIT BELIBED. KALAU ALURNYA MUDAH DITEBAK KAN GAK SERU YEOROBUN. DIKIRA SINETRON YANG BIKIN TERMEHEK-MEHEK APA!
OH YA, KALO MAU KOMEN TOLONG JANGAN DIHAPUS LAGI KECUALI YANG PROMO. MAU ITU KOMEN PEDES, ATAU BIKIN ENAK HATI, SILAHKAN KOMEN AJA SEMAUNYA👍🙏
BUAT YANG MIKIR CERITA INI LAMA UP, ATAU GARING AND BOSENIN, SORRY, AKU BUAT CERITA BUTUH PEMIKIRAN MATANG 😀 BAGIKU, MENULIS ITU BUTUH PEMIKIRAN KERAS. BUKAN ASAL MENUANGKAN IDE KITA SECARA ASAL😆 ITUNG-ITUNG AKU BELAJAR EYD DAN PUEBI WALAU MASIH ADA CACATNYA.
KALO KALIAN NYARI CERITA HOT, UP LANCAR, YANG LAIN BANYAK KOK😴 CUMA DI LAPAK INI PENULISANNYA GAK BIKIN SAKIT MATA (pede gila😂) KASIAN GURU BAHASA INDO KALO MELIHAT NOVEL2 JAMAN SEKARANG 🦋🦋
...SAMPAI JUMPA NANTI MALAM🦋...
semoga makin seru dan tx ad pelakor..!! yaa aku berharap alur di novel ini sedikit berbeda dr novel lainnya..!!🙏
senangnya liat anak muda yg berprestasi...
kutunggu up nya thor....