Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.
Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.
Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.
Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.
Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
-GLENN-
Entah nasib buruk apa yang menimpaku hari ini. Bisa-bisanya nenek lampir yang bernama Sera itu menjadi sekretaris pribadiku. Apalagi, pekerjaan yang membutuhkan penanganan terpaksa membuatku terjebak dengannya lebih lama. Hingga saat aku sudah berada di dalam mobil dan bersiap pulang pun, Sera tetap membuntuti diriku layaknya ekor yang menggangu.
"Ngapain kamu?!" sentakku saat Sera dengan lancangnya memasuki mobil dan duduk di samping kiriku.
"Pulang," jawabnya sambil cengengesan. Jika Melati yang melakukan hal itu, mungkin aku akan segera menciumnya. Tapi, berhubung Sera yang melakukannya, perutku mendadak terasa mual.
"Keluar!" perintahku telak.
Rupanya, suaraku yang tajam dan penuh penekanan tak membuat nyali Sera menciut sama sekali. Tangannya malah dengan lancang melingkar ke lengan kiriku.
"Lepas!" sentakku cepat, membuatnya terhuyung dan keningnya terantuk dashboard. Aku tidak peduli.
"Kasar banget, sih, kamu!" protesnya.
"Keluar!" kataku sekali lagi.
Kugenggam seerat mungkin setir mobil untuk menyalurkan seluruh emosiku yang nyaris meledak. Andai aku bisa tidak peduli bahwa Sera adalah perempuan, sudah kuhajar dia!
"Nggak," balasnya santai, membuatku lantas menoleh dan menatapnya tajam.
"Mau lo apa, sih?!"
Sera tertawa. Tawa khas nenek lampir yang membuat indra pendengaranku berdenging. "Pak Glenn, ini masih di area kantor."
Aku mendengkus keras. "Keluar, Sera!" desisku.
"Nggak."
"Keluar."
"Nggak, Glenn."
"KELUAR!" Kali ini aku membentak. Masa bodoh jika nantinya gadis di sampingku ini meraung-raung sebab tidak terima dengan perlakuanku. Aku benar-benar sudah muak!
Dari ujung mata, aku tahu bahwa Sera tengah menatapku lamat-lamat. "Kenapa, sih, Glenn? Dulu kamu baik sama aku. Baik banget malah. Cuma karena beberapa tahun nggak ketemu, kenapa kamu bisa berubah sekasar ini?"
"Bukan urusan lo!" sergahku cepat.
"Glenn ... aku masih sayang sama kamu. Selama kita pisah, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
"Gue nggak peduli."
"Tolong, Glenn ... kasih aku satu kesempatan."
"Nggak akan."
"Please ...."
Aku menoleh sekilas. Hanya untuk melempar tatapan membunuh agar Sera tahu bahwa aku benar-benar membencinya. Sejak dulu memang kepribadiannya tidak pernah berubah: murahan!
"Glenn ...."
"Gue udah punya calon istri."
"Masih calon, 'kan? Belum jadi istri, 'kan?"
"Keluar, Sera. Saya mau pulang."
"Nggak bisa."
"Keluar, atau kamu saya pecat?"
"Kamu ngancam aku?"
Sekali lagi, kuputar kepalaku untuk menghadap ke arahnya sembari melayangkan tatapan dengan sarat menantang. "Iya."
"Apa, sih, istimewanya bocah itu, Glenn? Cantikan juga aku."
Emosi yang berhasil kuredam, kembali mencuat ke permukaan begitu Sera menyinggung calon istriku. Aku masih berusaha sabar. Tidak akan ada habisnya jika aku terus meladeni nenek lampir ini.
"Istimewanya Melati? Dia nggak pernah bersikap murahan cuma demi laki-laki," ujarku santai, tanpa berniat untuk melihat ekspresi wajahnya.
"Oke, fine! Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Setelah ini, hubungan kita benar-benar pure antara bos dan sekretaris."
"Bagus."
"Tapi, ada satu syarat."
"Apa?" sahutku cepat, berharap si nenek lampir segera enyah dari mobilku.
"Antar aku pulang."
Tiga kata itu membuatku lantas menoleh cepat. Sera malah unjuk senyum menggelikan miliknya. Jijik.
"Nggak."
"Kalau gitu, aku bakal terus ganggu ka ...."
"Oke fine!"
Dengan rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun, aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Melampiaskan segala rasa yang semula tertahan. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa berharap, semoga Sera tidak lagi berulah. Dan semoga, ini terakhir kalinya Sera mengusik hidupku.
"Di mana?"
"Apartemen Cempaka."
"What?!" pekikku kaget.
"Why?"
"Lo buntutin gue?!"
"Buntutin apa?"
"Itu juga apartemen tempat gue tinggal!"
Sera tersenyum semringah. "Oh, ya? Jangan-jangan kita jo ...."
"Jangan harap!"
Sesampainya di area parkir apartemen, aku segera keluar dari mobil dan meninggalkan Sera di belakang sana. Kupikir, setelah itu aku bisa benar-benar bebas dari si nenek lampir. Ternyata tidak! Saat aku memasuki lift, dia pun melakukan hal yang sama.
"Ngapain, lagi, sih?!" kesalku.
"Naik lift," jawabnya santai. Aku hanya bisa menghela napas pasrah.
Tanganku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Namun, saat ponsel sudah berada dalam genggamanku, Sera kembali berulah. Enggan kembali berurusan dengannya, aku membungkuk, bermaksud untuk memungut ponselku. Belum sempat aku berdiri, seseorang menghantam tubuhku. Saat aku menoleh, kedua mataku melotot lebar. Bibir Sera—entah sengaja atau tidak—menyentuh bibirku.
"Kak Glenn ...?"
Suara itu ... suara itu ....
Melihat pintu lift yang terbuka, aku segera keluar. Berlari sekuat tenaga untuk mengejar Melati yang tadi menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Ah! Mengapa tiba-tiba hujan?!
"Mel, tunggu!" teriakku, namun gadisku itu seolah tuli. Dia terus berlari. Hingga pada akhirnya, aku melihatnya tergeletak.
Sambil berlari sekuat tenaga, dalam hati aku bersumpah, jika terjadi sesuatu pada Melati, tidak akan ada kata ampun untuk Sera.
***
-MELATI-
"Mel ... ini Papa, Sayang."
"Bangun, dong, Mel ...."
"Mel, ini gue."
"Please, jangan bikin aku khawatir gini."
"Mel ...."
Suara-suara itu, perlahan mengumpulkan kesadaranku. Saat kelopak mataku perlahan terbuka, titik-titik putih merambat, semakin banyak dan membentuk sebuah objek yang jelas. Begitu indra pengelihatanku kembali normal, aku melihat wajah papa, Tita, dan ....
"Argh!" ringisku sambil menangkup kepala mengunakan tangan kananku. Kepalaku terasa pening. Sangat. Dan, aku dapat merasakan dahi bagian kiriku diperban. Sepertinya, kepalaku membentur sesuatu saat pingsan tadi.
Aku dapat mendengar suara papa dan Tita beradu. Papa meminta Tita memanggil dokter, sementara Tita bergegas melakukannya. Saat mataku terpejam erat, dapat kurasakan seseorang menggenggam tangan kiriku yang bebas.
Ketika aku membuka mata untuk melihat si pelaku, aku segera mengempas genggaman tangannya. Apa yang Pak Glenn lakukan itu sungguh menyakitkan. Ternyata, julukan bastard yang kuberikan selama ini memang sudah menjadi karakternya. Bahkan, sosok Kak Nio yang sejak kecil kukagumi pun tak lagi tampak.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas putih dengan name tag Dr. Roland Ajisaka datang menghampiri dan memeriksaku. Aku ingat, dia adalah dokter yang sama. Dokter yang saat itu membuat duniaku hancur lebur dengan vonisnya.
"Kondisinya stabil, pasien bisa pulang setelah infusnya habis," ucap dokter Roland.
"Makasih, Dok," sahut papa yang dijawab anggukan serta senyum singkat oleh sang dokter.
Sebelum benar-benar pergi, dokter Roland menoleh ke arahku. Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk menatapnya lekat-lekat. Berusaha menyampaikan pertanyaan penting yang tidak bisa kulisankan. Saat dokter Roland mengangguk, kedua ujung bibirku lantas terangkat. Untung saja.
"Makasih, Dok," ucapku yang mengandung berjuta makna.
"Sama-sama," balasnya yang kemudian segera pergi meninggalkan ruang perawatan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya papa sembari mengusap puncak kepalaku dengan tangannya yang hangat. "Kata Glenn, kamu hujan-hujanan sampai pingsan di tengah jalan."
Aku tersenyum singkat. Menunjukkan pada papa bahwa aku baik-baik saja. "Nggak apa-apa, Pa. Cuma kecapekan aja."
"Yakin?"
Aku mengangguk mantap.
"Lo laper nggak, Mel?" Suara Tita membuat pandanganku beralih menatapnya. "Mau gue beliin sesuatu?"
"Nggak usah, makasih."
"Mau minum?" Kali ini, suara om-om bastard itu yang terdengar.
"Nggak," ketusku.
Bunyi dering ponsel membuat perhatian seisi ruangan tertuju ke benda pipih di atas nakas. Ponsel papa. "Papa angkat telepon dulu, ya?"
Papa keluar ruangan. Dilanjut dengan Tita yang berdalih ingin ke kamar mandi. Kini, hanya ada aku dan Pak Glenn. Suasana hening nan canggung lantas menguar begitu hebat.
"Kamu salah paham, Mel," katanya, memecah lamunanku yang semula menyatu dengan kesunyian.
"Salah paham?"
*
*
*
*
*
Hai, semuanya!
Apa kabar? Semoga kalian semua baik, ya.
Gimana part ini? Suka? Kesel nggak sama Sera? Wkwkwk.
Kira-kira, kalau ada di posisi Melati, kalian bakal ngasih kesempatan Pak Glenn jelasin nggak?
By the way, aku turut berdukacita atas musibah di tanggal 9 Januari kemarin. Semoga korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Oh, ya! Author curhat dikit boleh, ya?
Banyak hoax yang beredar tentang kecelakaan pesawat kemarin. Bukan apa-apa, cuma miris aja lihatnya. Ini kita semua, khususnya keluarga korban sedang berduka lho. Jangan cuma karena konten, bikin sesuatu yang sebenarnya nggak pernah terjadi. Kalian anak tiktok pasti paham, 'kan? Ehehe.
Makasih untuk kalian semua yang udah mampir dan meninggalkan jejak di sini. Bagi yang baru mampir, jangan lupa like, vote, rate, komen, and share kalau berkenan.
See you, All! :)
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
ngilu bayang kan nya..