Luna harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui jika suaminya yang baru saja menikahinya memiliki hubungan rahasia dengan adiknya sendiri.
Semuanya bermula saat Luna yang memiliki firasat buruk di balik hubungan kakak beradik suaminya (Benny dan Ningrum) yang terlihat seperti bukan selayaknya saudara, melainkan seperti sepasang kekasih.
Terjebak dalam hubungan cinta segitiga membuat Luna pada akhirnya harus memilih pada dua pilihan, bertahan dengan rumahtangganya yang sudah ternodai atau memilih menyerah meski perasaannya enggan untuk melepas sang suami..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy2R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Luna kenapa bisa sampai dirawat di UGD, Mas? Apa sebenarnya yang terjadi pada Luna?" tanya Benny sesaat setelah ia sampai di rumah sakit.
"Alerginya Luna kambuh, Benn. Saat aku sampai di rumah kalian, aku menemukan sekotak makanan yang sepertinya ada campuran seafoodnya. Luna kan tak bisa makan-makanan seperti itu. Dia alergi," kata Adam.
"Sekotak makanan? Dari mana Luna mendapatkannya? Apa Luna memesannya?" tanya Benny.
Adam mengedikkan bahu, "Kita tanya Luna saja setelah dia siuman nanti." ucapnya.
***
Selang tak berapa lama setelah seorang dokter menyuntikkan obat alergi ke infus Luna, wanita cantik itu akhirnya kembali membuka matanya.
"Luna," panggil Benny dengan nada lembut. Pelan, ia mengelus kepala Luna sambil mendekatkan wajahnya. "Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" tanyanya penuh perhatian.
Namun, Luna malah memalingkan wajahnya. Tampaknya Luna kesal kepada Benny tanpa suaminya itu tahu apa penyebabnya.
"Kamu masih marah sama aku gara-gara kejadian tadi?" tanya Benny.
"Iya!" bentak Luna. Ia balik menatap Benny dengan tajam, "Juga gara-gara kamu, aku jadi begini. Kamu itu benar-benar suami yang jahat, Mas!" teriaknya.
Luna menitikkan air matanya. Beberapa detik kemudian, tetesan air matanya itu berubah menjadi tangisan yang terdengar pilu.
Benny mundur ke belakang, dia menghembus napasnya panjang sambil memalingkan wajahnya pelan.
"Bisa-bisanya kamu pesankan aku makanan yang ada campuran seafoodnya," ucap Luna. "Kamu tahu kan kalau aku alergi seafood? Tapi kenapa kamu malah memesankanku makanan itu? Kamu sengaja ya mau mencelakakanku, Mas?"
Kedua bola mata Benny seketika membulat sempurna usai mendengar ucapan Luna. Ia tampak terkejut.
"Makanan? Siapa yang memesankanmu makanan? Aku seharian sibuk bekerja di kantor, Lun. Baru mau pulang tadi, aku kepikiran kamu. Tapi waktu aku chat, kamu tak ada respon sama sekali. Di waktu yang bersamaan, mas Adam menghubungiku dan memberitahuku mengenai keadaanmu," jelasnya.
Tak ingin dituduh seperti itu, Benny pun lantas menunjukkan ponselnya yang sedang berada di dalam aplikasi WhatsApp. Benny menunjukkan pesan-pesannya yang tak dibalas oleh Luna, dia juga menunjukkan riwayat panggilannya.
"Terus kalau bukan kamu yang pesan, siapa dong?" tanya Luna.
Benny seketika diam. Membisu. Pikirannya tiba-tiba saja merujuk pada sang adik angkatnya.
"Coba kamu cek cctv di pos satpam, Mas, dan tanya sekalian ke satpam yang berjaga mengenai orang yang mengantar makanan itu," perintah Luna.
"Iya, Lun. Aku bakalan usut nanti,"
"Jangan nanti, Mas. Sekarang saja,"
"Kalau sekarang, kamu bagaimana? Siapa yang menemanimu di sini?" tanya Benny.
"Mas Adam mana?" tanya Luna balik. Wanita cantik itu celingukan ke sana kemari mencari sosok kakaknya.
"Mas Adam pulang buat jemput bunda Eni sama ayah Rosyid," jawab Benny.
"Kenapa harus dijemput? Kan ada supir di rumah,"
Benny mengedikkan bahu.
Luna tak langsung percaya begitu saja jika suaminya itu tak tahu alasan kenapa mas Adam yang pergi meninggalkannya berdua di rumah sakit bersama Benny.
Luna tahu pasti kakaknya itu sudah bersekongkol dengan suaminya di saat dirinya tengah tak sadarkan diri.
"Terus mau kapan kamu menyelidiki orang yang sudah memberiku makanan seafood itu?" tanya Luna.
"Secepatnya," jawab Benny. "Kamu tenang saja ya, aku pasti bisa mencari tahu siapa dalang di balik pemesanan makanan seafood itu,"
"Kalau seandainya si Ningrum dalangnya, kamu mau apa?" tanya Luna.
"Sekalipun itu Ningrum, aku tak akan segan-segan memarahinya dan membawanya kemari untuk meminta maaf padamu," jawab Benny.
Luna mendengus sambil membuang muka, "Cih! Sok-sokan." cibirnya.
Mendapatkan tanggapan yang tak menyenangkan dari Luna, tak membuat Benny kesal apalagi marah. Dia paham kalau saat ini istrinya itu tengah dilanda kecemburuan, itu sebabnya Benny memilih untuk tak banyak berkomentar daripada salah paham dan ribut lagi.
Benny: [Cepat kalian selidiki dan cari tahu siapa dalang yang mengantar makanan ber-seafood ke rumah baru saya. Saya minta kurang dari 12 jam, tugas itu sudah harus selesai.]
Diam-diam Benny mengirimkan pesan kepada seorang bodyguard-nya yang tengah berjaga di ruang tunggu, depan ruang inap Luna.
Tling.
+62xx: [Siap! Laksanakan, Bos!]
Balas si bodyguard.
"Bagaimana keadaanmu, Luna? Apakah kamu sudah membaik?" tanya Benny, mengalihkan pembicaraan.
Lelaki tampan itu kembali mendekati Luna. Dengan lembut, ia mengusap kepala Luna sambil terus memandangi wajah istrinya itu.
"Sudah," jawab Luna.
"Kamu mau pindah ruang inap ke kelas Vip atau bagaimana? Kalau mau biar aku urus ke depan sebentar," ucapnya.
"Iya, pindahkan aku ke kelas Vip, Mas. Aku merasa tak nyaman di ruang ini,"
"Ya sudah, kalau begitu.. aku keluar sebentar ya. Nanti aku kembali ke sini sekalian sama petugas rumah sakitnya," pamit Benny.
"Iya, Mas."