Takdir mempertemukan Deanda Federer yang hanya seorang gadis miskin dengan seorang Putra Mahkota Alvero Adalvino dari Kerajaan Gracetian. Negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut, di mana ucapan Raja adalah hukum mutlak.
Alvero dikenal tampan, cerdas, sekaligus sosok pengusaha hebat, namun juga dikenal keras, arogan, dingin, sekaligus dikenal playboy karena tidak pernah bersama dengan gadis yang sama lebih dari satu bulan. Namun beberapa rumor juga menyebutkan bahwa Alvero seorang gay. Untuk meredam rumor dan mempertahankan posisinya sebagai calon Raja sekaligus untuk dapat membalas dendam, Alvero sengaja menjebak Deanda untuk menikah dengannya.
Bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Kenapa harus Deanda yang dipilih oleh Alvero? Dan apakah Deanda bisa menerima Alvero dan jatuh cinta padanya dengan perbedaan status yang begitu jauh? Ikuti perjalanan cinta mereka yang penuh perjuangan sekaligus romantis.
Cerita ini hanya fiksi semata, maaf jika ada kesamaan tokoh, nama, dll
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JE270608, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBAIKANMU MEMBUATKU SEMAKIN TERPESONA
“Aturan Keluarga Federer tidak ada artinya bagiku, seorang Adalvino. Kamu tahu itu. Apapun yang menjadi aturan di keluarga Federer, sebagai keturunan dari Adalvino, aku bisa menghapuskan aturan itu dalam hitungan detik. Aku hanya ingin menikahi Deanda Federer, bukan gadis dari keluarga Federer lainnya, apalagi kakak tirimu yang jelas-jelas bukan dari Keluarga Federer,” Alvero berkata sambil kembali memberikan sebuah perintah kepada Erich melalui gerakan tangannya.
Erich yang mendapatkan perintah dari Alvero segera bergerak, meraih semua perhiasan yang tersebar di lantai, lalu menyerahkannya kepada Alvero yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Deanda, dengan matanya masih menunjukkan kemarahannya.
“Aku sudah pernah katakan padamu. Apapun yang aku berikan untuk calon istriku, itu adalah miliknya, dan jika dia tidak mau menerimanya, bukan berarti orang lain berhak untuk memilikinya,” Alvero berkata sambil melemparkan semua perhiasan yang ada di tangannya ke dalam sebuah bokor dengan api yang menyala yang baru saja dibawa oleh salah seorang pelayan di dekat kakinya.
Tindakan Alvero sontak membuat Olivia semakin ketakutan, sedang Deanda harus berusaha tetap tenang walaupun dalam hati dia sedikit merutuk kenapa Olivia begitu bodoh, berani sekali membuat gara-gara dengan Alvero. Bagaimana bisa Olivia begitu naif, berpikir bahwa dia bisa menggantikannya untuk menghadiri undangan minum teh Alvero. Mengingat itu ada rasa jengkel di hati Deanda terhadap tindakan ceroboh kakak tirinya, namun bagaimanapun Deanda tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Olivia mendapatkan hukuman dari Alvero.
“Katakan padaku Nona Deanda, apa aku juga harus membakar gaun yang dikenakan oleh kakak tirimu itu? Sekaligus orang yang sudah berani memakai gaun milik calon istriku?” Alvero berkata sambil melirik ke arah Olivia yang tubuhnya terlihat bergetar karena takut.
“Maaf Yang Mulia, semua salah saya, jangan menghukum kakak saya seperti itu,” Dengan cepat Deanda langsung menjawab perkataan Alvero.
“Dan kamu! Apa kamu pikir kamu akan terlihat cantik dengan gaun dan semua perhiasan itu? Semua itu sama sekali tidak cocok untukmu! Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otakmu sehingga tidak bisa digunakan untuk berpikir dengan baik! Berani-beraninya kamu menantangku!” Tangan Alvero bergerak cepat memberikan kode kembali kepada Erich yang langsung meraih sebuah tongkat yang dipegang oleh salah seorang pelayan yang berdiri di dekat Erich.
Melihat tongkat yang ada di tangan Erich, dengan cepat Deanda berlari ke arah Olivia, memeluk tubuh kakak tirinya dengan erat, menjadikan dirinya sendiri tameng agar tongkat yang sudah bersiap mengarah ke Olivia tidak mengenainya. Alvero yang melihat tindakan Deanda segera meraih lengan Deanda, menarik lengan Deanda, berusaha melepaskan tubuh Deanda dari Olivia, namun Deanda bersikukuh tetap memeluk Olivia untuk melindunginya dari pukulan tongkat di tangan Erich, membuat Alvero akhirnya melepaskan tangannya dari lengan Deanda.
“Deanda Federer!” Kali ini Alvero menyebutkan nama Deanda dengan nada tinggi, membuat Lionel berusaha bergerak mendekat ke arah Deanda, namun gerakan Lionel langsung terhalang oleh sosok Ernest dan dua orang pengawal lain yang langsung menghadangnya.
“Tuan Lionel, tolong jangan ikut campur dengan urusan ini kalau tidak ingin dianggap menentang penguasa Kerajaan Gracetian,” Ernest berkata pelan, untuk mencegah Lionel bertindak lebih jauh.
“Yang Mulia…, berikan hukuman itu pada saya. Tapi tolong bebaskan Kakak saya Olivia,” Akhirnya Deanda melepaskan pelukannya kepada Olivia, dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Alvero, membungkukkan tubuhnya di depan Alvero dengan sikap memohon, membuat Alvero mendengus kesal.
“Apa kamu yakin akan menggantikan kakak tirimu untuk mendapatkan hukuman?” Alvero berkata sambil melirik ke arah Olivia yang dilihatnya tetap diam, tanpa ada niat untuk membela Deanda sama sekali.
“Saya siap Yang Mulia. Hukum saya, tapi jangan hukum kakak saya. Mohon bebaskan dia dari semua hukuman. Saya yang akan menanggungnya. Mohon Yang Mulia berbelas kasihan, kakak saya hanya seorang gadis lemah. Saya bersedia menggantikan hukuman itu,” Deanda berkata dengan tubuhnya tetap membungkuk di depan Alvero.
“Kalau begitu aku akan mengabulkan keinginanmu. Bawa keluar mereka berdua sekarang juga! Sebelum aku berubah pikiran! Biarkan Deanda yang menggantikan hukuman itu,” Tanpa menunggu diperintah dua kali, beberapa pengawal yang berjaga di sudut lain ruangan itu segera berlari mendekat ke arah mereka yang ditunjuk oleh Alvero, Lionel dan Olivia. Para penjaga itu langsung mendorong tubuh Lionel dan Olivia agar segera keluar dari area penthouse Alvero dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan Alvero, Erich dan Ernest di sana bersama Deanda.
“Terima kasih Yang Mulia,” Deanda langsung mengucapkan terimakasihnya begitu melihat Olivia sudah keluar dari ruangan itu.
“Deanda Federer. Kamu lihat kakak tirimu yang begitu pengecut meninggalkanmu, tidak berusaha membantumu sama sekali. Apa kamu tetap tidak keberatan menggantikannya menerima hukuman?” Deanda yang sudah berdiri dengan posisi normal namun dengan kepala tertunduk langsung mengangguk.
Melihat jawaban dari Deanda, dengan cepat Alvero meraih tongkat yang ada di tangan Erich, memegangnya dengan erat. Melihat tangan Alvero yang terangkat dengan tongkat di tangannya, bersiap memukulkannya ke arah Deanda, Deanda hanya bisa terdiam dengan kedua tangan terkepal, bersiap menerima pukulan tongkat dari Alvero, namun sedetik kemudian Alvero melempar tongkat itu ke lantai dengan begitu keras.
“Gadis bodoh!” Alvero berkata sambil langsung meninggalkan Deanda yang masih berdiri di tempatnya, berjalan menghilang ke ruangan lain tanpa menoleh ke arah Deanda lagi.
Untuk beberapa saat Deanda tetap berdiri di tempatnya sampai Ernest berjalan mendekat ke arahnya. Dengan sikap hormat Ernest berdiri di samping Deanda.
“Nona, sebaiknya sekarang saya mengantar Nona pulang ke rumah,” Deanda langsung menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan dari Ernest.
“Saya bisa pulang sendiri Tuan Ernest, jangan merepotkan diri Anda karena saya,” Deanda berkata sambil memandang ke arah Erich yang lebih memilih untuk segera pergi dari hadapan Deanda dengan wajah datarnya yang tanpa senyum, sepertinya tindakan Deanda membuat Erich yang merupakan pengawal pribadi Alvero ikut marah.
“Nona, jangan membuat Yang Mulia semakin marah. Percayalah pada saya, biarkan saya mengantar Nona Deanda pulang. Saya pikir itu akan bisa mengurangi emosi Yang Mulia jika beliau tahu paling tidak Nona pulang dengan selamat bersama saya,” Mendengar penjelasan Ernest, akhirnya Deanda hanya bisa mengangguk mengiyakan, berharap apa yang dikatakan oleh Ernest memang benar, bisa mengurangi sedikit kemarahan Alvero kepadanya.
# # # # # # #
“Nona Deanda…,” Deanda yang sedang sedikit melamun sambil mengamati ramainya jalanan malam ini melalui jendela mobil yang ada di samping kanannya langsung menoleh mendengar panggilan dari Ernest.
“Kenapa Nona memberikan semua hadiah dari Yang Mulia Alvero kepada kakak tiri Nona?” Deanda menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan Ernest.
“Tuan Ernest, bagiku tidak ada yang lebih berharga daripada keluarga. Sejak papa meninggal, yang aku miliki hanya ibu dan kakak tiriku, selain Uncle Marcello. Walaupun awalnya ayahku menikahi Nyonya Lilian karena kasihan dan sudah terlanjur berjanji kepada almarhum suami Nyonya Lilian yang telah meninggal untuk menjaga istri dan anaknya, namun aku tidak pernah menganggap mereka orang lain. Aku masih berumur 6 tahun ketika mamaku meninggal. Jadi saat ayahku memutuskan untuk menikah lagi dan bahkan tiba-tiba saja aku memiliki seorang kakak, aku merasa bahagia sekali,” Ernest tersenyum mendengar penjelasan dari Deanda yang menunjukkan bahwa gadis yang sedang duduk di sampingnya saat ini merupakan sosok gadis yang luar biasa, semakin dia mengenalnya, Ernest semakin salut padanya.
“Nona, anda orang yang benar-benar baik. Saya perlu banyak belajar dari Anda,” Deanda langsung tertawa kecil mendengar pujian dari Ernest.
“Tidak Tuan..., aku tidak sebaik itu. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Jika aku membalas setiap yang jahat dengan kejahatan, bagaimana dunia ini menjadi lebih baik? Bagiku asal orang-orang di dekatku bahagia, itu cukup bagiku,”
“Apa orang yang ada di dekat Nona termasuk saya?” Tawa Deanda semakin lebar mendengar pertanyaan dari Ernest.
“Tentu saja Tuan. Sejak awal bertemu saya tahu Anda orang yang baik. Saya akan ikut bahagia jika Anda bahagia,” Ernest langsung membalas perkataan Deanda dengan senyuman ramah di wajahnya, seperti biasanya.
“Apa Yang Mulia Alvero juga termasuk?” Begitu Ernest menyebutkan nama Alvero, tawa di bibir Deanda langsung menghilang, ingatannya langsung melayang kepada kejadian tadi di mana Alvero hampir saja membiarkan Erich memukul tubuh Olivia, bahkan dengan tatapan marahnya yang jelas dilihat oleh Deanda, Deanda sempat mengira bahwa Alvero benar-benar akan memukulnya untuk menggantikan Olivia.
“Nona…,”
“Eh, iya Tuan Ernest?” Deanda langsung menjawab panggilan Ernest yang memanggilnya begitu dilihatnya Deanda langsung terdiam setelah Ernest menyebutkan nama Alvero.
“Nona…, mohon jangan bersikap seperti itu terhadap Yang Mulia. Jangan menantang Yang Mulia sekeras itu. Bagi Yang Mulia yang merupakan seorang Putra Mahkota, dilahirkan dengan sendok emas di mulutnya dan tongkat gada di tangannya, bukanlah hal mudah bagi beliau membiarkan harga dirinya diremehkan seperti yang terjadi hari ini. Hari ini sebenarnya bukan tentang Nona Deanda tidak memperdulikan undangan minuman teh Yang Mulia yang membuat Yang Mulia marah besar. Karena Yang Mulia sudah tahu bahwa undangan itu telah disabotase oleh ibu tiri Nona. Tapi yang membuat Yang Mulia benar-benar kecewa adalah tindakan Nona yang dengan mudah menyerahkan semua hadiah pemberian Yang Mulia kepada kakak tiri Nona. Bukan tentang harga semua barang itu, yang bagi Yang Mulia bahkan tidak akan menghabiskan keuntungan perusahaan dalam hitungan detik. Tapi, semua hadiah itu, Yang Mulia sendiri yang sudah memilihnya untuk Nona, bahkan Yang Mulia rela mengunjungi toko perhiasan dan gaun, memilihnya selama berjam-jam agar bisa mendapatkan barang yang dianggapnya sesuai dengan Nona. Karena itu Yang Mulia begitu kecewa begitu Nona memberikan semua hadiah itu kepada orang lain,” Deanda tersentak kaget mendengar penjelasan dari Ernest.
Untuk orang sepenting dan sekaya Alvero, bukan hal sulit untuknya memerintah orang lain untuk menyediakan apapun yang dia inginkan dengan cepat tanpa harus dia sendiri yang turun tangan untuk mengurusnya. Deanda menahan nafasnya sebentar sambil mengalihkan wajahnya dari jangkauan mata Ernest agar dia bisa memejamkan matanya sebentar, karena rasa bersalah yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya saat ini.